ASMARA DIBALIK DENDAM MEMBARA Budhi, engkau hendak kemanakah? Kulup?Wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik jelita itu bertanya dengan suara lembut. Anak berusia sepuluh tahun bernama Budhi itu menahan langkahnya, lalu membalikkan tubuh memandang ibunya. Aku hendak memetik dawegan (kelapa muda) di tepi anak sungai itu, ibu. Dan juga buah-buah sawo di dekat sawah itu sudah banyak yang tua dan masak. Kalau tidak diambil, tentu akan didahului kelelawar, ibu. Ni Sawitri, ibu muda yang cantik jelita itu tersenyum dan memandang kepada puteranya dengan sinar mata penuh kebanggaan dan kasih sayang. Puteranya itu rajin sekali dan baru berusia sepuluh tahun tubuhnya sudah nampak berisi, jelas memperlihatkan hasil penggemblengan ayahnya dalam ilmu kanuragan. Kalau begitu, kau sekalian bantu ibumu, Budhi. Di dusun Gedangan di bawah itu terdapat beberapa orang anak yang sedang menderita penyakit murus. Aku harus mengobati mereka karena keadaan mereka gawat. Kau carikan pupus daun jambu biji, adas pulosari, kunyit dan temulawak secukupnya. Budhi membelelekkan matanya yang bersinar tajam, lalu menggelengkan kepalanya dan tertawa. Wah, ibu. Aku khawatir tidak dapat mencarikan itu semua. Selain terlalu banyak dan aku lupa lagi namanya, juga aku tidak mengenal rempah-rempah itu. Sebaiknya ibu ikut agar dapat memilih sendiri di ladang yang ibu tanami penuh dengan rempa-rempa itu. Ni Sawitri tertawa. Ih, engkau ini membikin malu ibu saja.Ibumu seorang ahli jamu akan tetapi puteranya tidak mengenal adas pulosari! Baiklah, aku pergi bersamamu agar engkau dapat belajar mengenal rempa-rempa itu. Akan tetapi kita pamit dulu kepada ayahmu. Budhidarma, anak itu, yang sudah berada di ambang pintu depan, masuk kembali mengikuti ibunyamenuju ke sebuah ruangan di bagian belakang yang menjadi sanggar pamujan di mana ayah- nya melakukan puja semadhi. Ni Sawitri mengetuk pintu kamar itu dan tak lama kemudian terdengar helaan napas panjang disambung suara seorang pria, Engkaukah itu, Diajeng? Benar, kakang Margono. Aku dan Budhi hendak pamit karena kami hendak pergi mencari rempa-rempa dan buah-buahan. Masuklah dulu, diajeng. Dan engkau juga,Budhi, aku ingin melihat kalian. Sepasang alis Sawitri agak berkerut karena ia merasa heran sekali mendengar ucapan itu.Ia segera menggandeng tangan puteranya dan didorongnya pintu kamar itu lalu keduanya masuk ke dalam. Mereka melihat Ki Margono sedang duduk bersila di atas tikar di lantai. Ada apakah, kangmas? Ni Sawitri juga duduk bersimpuh di depan suaminya dan Budhidarma juga duduk bersila di samping ibunya dan memandang kepada ayahnya. Ki Margono adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun, akan tetapi wajahnya kelihatan lebih tua dari usianya. Pada wajah yang tampan itu terdapat goresan-goresan penderitaan bathin dan sinar matanya sayu. Melihat betapa isterinya memandang kepadanya dengan khawatir, dia mencoba tersenyum. Tidak apa-apa, diajeng.Aku hanya ingin melihat kalian. Hatiku merasa tidak nyaman, karena itu jangan lama-lama kalian pergi. Ah, kalau begitu aku tidak jadi pergi saja! kata Ni Sawitri. Pergilah, diajeng. Engkau hendak mencari rempa-rempa untuk mengobati anak-anak di dusun Gedangan itu,bukan? Jangan sia-siakan tugasmu,diajeng. Akan tetapi aku khawatir....... Apa yang dikhawatirkan ? Di atas semua kekusaan masih ada kekuasaan tunggal yang tertinggi, yang menentukan segala yang akan terjadi di dunia ini. Aku telah memasrahkan diriku kepada kekuasaan Hyang Widhi, maka apapun yang terjadi akan kuterima sebagai kehendaknya. Apapun yang terjadi menimpa diri kita, yang baik maupun yang buruk bukan lain hanyalah buah hasil perbuatan kita sendiri, karena itu aku sudah siap dan rela menerimanya, diajeng. Perasaan khawatir akan terjadinya sesuatu yang akan menimpa diri kita hanya menunjukkan bahwa kita masih ragu dan kurang teguh iman kita kepada kekuasaan Hyang Widhi. Nah, pergilah, diajeng, pergilah melaksanakan tugas suci itu. Ni Sawitri mengangguk, akan tetapi ketiak ia hendak meninggalkan kamaritu, ia berpesan. Kakangmas,aku pergi takkan lama.Tinggallah di dalam kamar saja, kakangmas, jangan pergi kemana-mana dan tunggu sampai kami kembali. Ki Margono tersenyum dan mengangguk. Tentu, aku takkan pergi ke manapun. Dan engkau tahu bahwa aku cukup mampu menjaga diriku sendiri andaikata ada marabahaya. Nah,pergilah isteriku dan anakku yang terkasih. Ibu dan anak itu meninggalkan pondok mereka yang sederhana. Keluarga ini tinggal di pondok yang berdiri di lereng bukit itu, tanpa tetangga karena mereka memang sengaja hidup menyendiri di lereng bukit dekat anak sungai. Dusun yang menjadi tetangga mereka adalah dusun Gedangan yang nampak dari lerang itu,sebuah dusun kecil dengan hanya sekitar tiga puluh rumah. Sudah lima tahun keluarga yang terdiri dari tiga orang ini tinggal di lereng bukit itu, di ujung timur daerah Kerajaan Daha. Para penduduk dusun di sekitar tempat itu tidak ada yang tahu dari mana keluarga ini berasal, akan tetapi tidak ada yang berani bertanya karena suami isteri dengan seorang itu jelas bukan orang dusun. Hal ini jelas nampak dari sikap dan cara mereka bicara yang halus. Juga keterbukaan tangan mereka untuk menolong penduduk dusun, terutama sekali mengobati mereka yang sedang menderita sakit, membuat mereka sungkan dan menaruh hormat. Setelah meninggalkan rumahnya, Ni Sawitri merasa gelisah. Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, akan tetapi jantungnya seringkali berdebar. Apakah sudah waktunya mereka harus berpindah tempat lagi? Selama sepuluh tahun ini, ia dan suaminya berpindah-pindah tempat. Baru sekarang ini mereka tinggal menetap di sebuah tempat sampai lima tahun lamanya. Biasanya mereka berpindah-pindah dan tidak pernah tinggal di suatu tempat lebih lama dari setahun.Mereka hanya pindah lagi! Ia mengambil keputusan. Ia akan mengajak suaminya pergi dari situ dan pindah ke lain tempat lagi. Siapa tahu para pengejar itu telah berhasil menemukan tempat tinggal mereka. Ia bergidik. Budhi....... ! Ia memanggil puteranya. Budhi yang sedang memanjat pohon sawo dan mencari buahnya yang sudah tua,menjawab dari atas pohon. Ada apakah ibu? Turunlah kita pulang sekarang! Tapi aku baru mendapatkan sedikit...... Turunlah, nanti kita cari lagi. Kita harus pulang sekarang juga! Suara ibunya bergitu mendesak sehingga Budhidharma lalu turun dan mengumpulkan dawegan dan sawo yang telah dipetiknya. Kemudian dia memanggul keranjang berisi buah-buahan itu, dan bersama ibunya yang membawa rempa-rempa dia pulang. Ni Sawitri melangkah dengan cepat sekali sehingga puteranya harus setengah berlari agar tidak tertinggal. Tak lama kemudian sampailah mereka di pondok mereka. Sunyi saja di sekitar pondok seolah tidak terjadi sesuatu. Ni Sawitri menghela napas lega.Akan tetapi ketika mereka tiba di halaman depan pondok mereka, Ni Sawitri melihat banyak jejak kaki di atas tanah. Wajahnya seketika menjadi pucat sekali, matanya terbelalak dan berbisik, penuh kakhawatiran dan bisikannya gemetar, Kakang Margono......... ! kemudian berlarilah ia ke arah pintu depan pondoknya lalu menerjang daun pintu yang tertutup. Daun pintu terbuka dan ia melompat ke dalam. Budhidharma tercengang dan anak ini hanya berdiri memandang ibunya, tidak mengerti mengapa ibunya demikian gelisah. Kakang Margono........!! Teriakan melengking suara ibunya itu membuat Budhi melonjak kaget dan dia melepaskan keranjanganya lalu berlari memasuki pondok. Begitu melangkahi ambang pintu, Budhi tertegun terbelalak memandang ke dalam. Dia melihat ayahnya mandi darah, kepalanya di atas pangkuan ibunya yang merangkulnya sambil menangis. Saking terkejut dan bingungnya, dia hanya berdiri seperti patung, tidak mampu mengeluarkan suara, juga tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi dia memandang penuh perhatian. Dilihatnya ayahnya menggerakkan tangan kanannya yang yang berlumuran darah, merangkul dan menarik leher ibunya sehingga kepala ibunya menunduk, lalu terdengar suara ayahnya yang parau, seolah suara itu hanya sampai di lehernya ......me.....mereka .....datang ....Gagak Seto......ahhhh........ tangan itu jatuh kembali, kepala itu terkulai diatas pangkuan. Kakang Margono ...... ! Kakang .......!! Ni Sawitri memekik, suaranya melengking tinggi kemdian tubuhnya terkulai lemas, pingsan sambil merangkul suaminya! Melihat ini, Budhi berlari dan berlutut di dekat ayah ibunya, menangis. Ibu.......ayah.....! Dia mengguncang-guncang pundak ibunya dan dengan hati ngeri dia melihat betapa darah membasahi seluruh tubuh ayahnya. Ibu......bangunlah, ibu....... ! Ibuuu........ ! Budhi berteriak-teriak sambil menangis. Ni Sawitri bergerak, membuka mata dan terbelalak memndang suaminya, akan tetapi ketika ia melihat puteranya, ia kelihatan ketakutan, memandang liar ke kanan kiri, kemudian ia memegang kedua pundak Budhi sehingga pundak yang tak berbaju itu belepotan darah pula. Cepat, engkau harus cepat pergi dari sini! Budhi, engkau larilah, tinggalkan tempat ini! katanya dengan suara gemetar. Akan tetapi, kenapa, ibu...... ? Budhi memandang bingung. Ni Sawitri mengambil seluruh benda dari balik kembennya dan menyerahkannya kepada Budhi, Ini.... bawa ini......kalau engkau tertangkap, perlihatkan ini dan mereka tidak akan berani membunuhmu. Mereka siapakah ibu yang telah membunuh ayah dan membuat ibu ketakutan? Orang-orang perkumpulan Gagak Seto dari Gua Tengkorak di Gunung Anjasmoro......sudahlah, pergi sekarang, tinggalkan rumah ini cepat! Karena Budhi masih juga meragu, Ni Sawitri lalu menyambar lengannya dan menariknya keluar.Setelah tiba di halaman depan, wanita itu mendorang pundak Budhi. Cepat lari...... ! Tapi,ibu......! Budhi menangis, kebingungan. Pada saat itu, terdengar bunyi burung gagak yang parau dan nyaring.Goak,goak,goaaaak... ! Ni Sawitri terbelalak dan ia sudah mencabut sebatang keris dari ikat pinggangnya. Budhi, cepat lari ! Taatilah ibumu! Ia membentak dan sekali ini Budhi tidak berani membantah lagi. Dia meloncat dan melarikan diri, benda pemberian ibunya itu masih di gengamnya. Akan tetapi belum jauh ia lari.terdengar suara tawa bergelak dan ketika dia menengok ke belakang, dia melihat belasan orang berpakaian serba hitam berloncatan ke halaman pondoknya. Melihat ibunya dikepung belasan orang itu, Budhi tidak melanjutkan larinya. Dia mendekam di balik semak-semak yang rimbun dan mengintai dengan jantung berdebar. Ni Sawitri dengan keris di tangan menghadapi mereka dan memandang kepada seorang pria tinggi besar yang menjadi pimpinan gerombolan orang itu. Seperti juga anak buahnya, pria tinggi besar ini juga memakai pakaian serba hitam dan di bagian dadanya, baju itu terdapat gambar seekor burung gagak putih.Hanya bedanya, kalau semua anak buahnya memakai ikat pinggang berwarna putih, pria ini mengenakan ikat pinggang berwarna kuning gading. Hemmm, kiranya andika yang datang bersama pasukan Gagak Seto, kakang Klabangkoro! kata Ni Sawitri dan sepasang mata wanita ini berkilat penuh kemarahan. Tidak perlu kutanyakan lagi, tentu andika yang pula yang telah membunuh kakang Margono! Ha-ha-ha-ha! Selama sepuluh tahun lebih engkau dapt menyembunyikan diri bersama kekasihmu itu dan baru sekarang kami temukan tempat persembunyianmu. Benar, kami yang membunuh Margono si penghianat itu, atas perintah bapa Guru, pimpinan kami. Dan atas perintah beliau pula kami harus membunuhmu, Sawitri.pria tinggi besar yang berusia empat puluh tahun itu tertawa bergelak dan memandang kepada Sawitri dengan matanya yang besar. Berani andiaka bersikap begini terhadap aku, Klabangkoro! Ni Sawitri membentak marah. Ha-ha-ha-ha! Dahulu engkau menjadi adi-seperguruanku, kemudian menjadi ibu-guruku. Akan tetapi sekarang tidak lagi, Sawitri. Engkau bukan apa-apa bahkan engkau seorang pengkhianatyang sudah sepantasnya dihukum berat. Bapa guru memerintahkan aku untuk membunuhmu pula.Akan tetapi .......hemmm,setelah sepuluh tahun lamanya, engkau tidak kelihatan semakin tua bahkan menjadi semakin denok, semakin ayu manis. Sayang kalau dibunuh begitu saja,ha-ha-ha! Keparat Klabangkoro! Engkau telah membunuh kakang Margono. Aku tidak dapat mengampunimu. Engkau atau aku yang akan mengeletak di sini tanpa nyawa. Heiiiiiiittt......... ! Dengan tangkas sekali Ni Sawitri menerjang ke depan sambil menusukkan kerisnya ke arah dada yang bidang itu. Klabangkoro tidak berani menganggap rendah lawannya. Ni Sawitri pernah menjadi murid terkasih dari ketua perkumpulan Gagak Seto, dan biarpun dia pernah menjadi kakang seperguruan wanita itu, belum pernah dia dapat menandingi ilmu kesaktiannya. Bahkan dibandingkan Margono, tingkat kepandaian Ni Sawitri masih lebih tinggi. Akan tetapi selama ini Klabangkoro juga telah diberi ilmu baru oleh gurunya, yaitu ilmu cambuk yang disebut Pecut Dahono(Cambuk api). Biasanya dia bersenjata golok, dan sekarang pun dia memegang golok dan menghadapi tusukan keris di tangan Ni Sawitri, dia mengelak sambil memutar goloknya melindungi dirinya. Trang-trang-trang.......!! Tiga kali keris di tangan Ni Sawitri bertemu dengan tangkisan golok tergetar dan panas. Tahukah dia bahwa sampai sekarang dia masih kalah kuat, maka dia lalu berseru kepada anak buahnya. Kepung dan tangkap! Akan tetapi jangan membunuhnya, tangkap hidup-hidup! Tujuh belas orang anak buah gagak Seto itu lalu mengepung dengan senjata golok di tangan kanan.Mereka mengelilingi wanita itu dengan sikap mengancam. Akan tetapi Ni Sawitri tidak merasa takut, bahkan ia menjadi semakin marah dan bertekat untuk memmbunuh semua orang yang telah menewaskan suaminya itu. Majulah kalian semua,keparat-keparat busuk, manusia-manusia kejam berhati binatang. Akan kubasmi kalian semua! Ni Sawitri berdiri tegak dengan kaki terpentang, keris di depan dada dan tangan kirinya diankat ke atas dengan jari tangan terbuka, siap untuk melancarkan tamparan maut. Karena belasan orang itu masih meragu dan jerih untuk maju menangkap wanita yang mereka tahu amat perkasa itu,Ni Sawitri mendahului mereka, menerjang maju dan kerisnya berkelebatan menyambar-nyambar dan dalam beberapa gebrakan saja, dua orang roboh terkena tamparan dan seorang roboh berkelejotan dengan dada terluka tusukan keris! Tar-tar-tar.....!Cambuk panjang di tangan Klabangkoro meledak-ledak dan mematuk ke arah Ni Sawitri yang sedang menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Gagak Seto.Ia berusaha untuk mengelak, namun karena perhatiannya terbagi dan serangan cambuk itu cepat sekali, tetap saja tubuhnya dua kali disengat ujung cambuk dan kainnya terobek di dua tempat, juga kulitnya terasa panas seperti terbakar! Kain nya robek di bagian paha kiri dan pinggang kanan sehingga nampak kulit tubuhnya yang putih mulus. Ha-ha-ha! Menyerahlah saja, Wong ayu, dari pada tubuhmu menderita nyeri! kata Klabagkoro sambil tertawa bergelak. Ni Sawitri marah sekali dan menerjang ke arah pria tinggi besar itu, akan tetapi kembali anak buah Gagak Seto mengepungnya sehingga terpaksa ia menyambut mereka dan kembali merobohkan dua orang di antara mereka. Akan tetapi selagi ia mengamuk kembali cambuk di tangan Klabangkoro meledak dan melecut-lecut sehingga kain yang menutupi tubuh Ni Sawitri menjadi compang-camping, robek di sana sini membuatnya hampir telanjang. Tiba-tiba cambuk itu menyambar ke bawah dan tanpa dapat terhindarkan lagi,cambuk yang panjang itu sudah melibat kedua kaki Ni Sawitri, dari mata kaki sampai ujung lutut. Wanita itu terkejut,mencoba untuk meloncat, akan tetapi karena kedua kakinya terlibat kuat, iapun terpelanting dan roboh! Ha-ha-ha, cepat ringkus ia. Ikat kaki tangannya ! Ha-ha-ha! Melihat banyak tangan yang berotot kasar dijulurkan ke arahnya, tahulah Ni Sawitri bahwa perlawanannya telah berakhir.Tak mungkin ia mampu meloloskan diri dari tangan mereka dan ia tahu bahwa kalau sampai ia tertangkap hidup-hidup oleh Klabangkoro ia akan mengalami malapetaka yang lebih mengeriakn dari pada maut. Sejak lama Klabangkoro menaruh hati kepadanya, akan tetapi ia selalu menjauhkan diri. Tentu Klabangkoro mendendam sakit hati dan iri ketika ia melarikan diri bersama Margono dan kalau ia tertangkap hidup-hidup, tentu ia akan diperkosadan menderita penghinaan yang hebat. Kakang Margono, Tunggu aku, kakang.......! wanita itu memekik lantang, kemudian cepat sekali kerisnya sudah menghujam dadanya sendiri! Peristiwa itu cepat sekali terjadi sehingga tidak keburu dicegah oleh Klabangkoro dan anak buahya. Tahu-tahu tubuh Ni Sawitri sudah terkulai miring dan keris itu menancap di dada sampai ke gagangnya. Ibuuuu.....!! Budhidhama yang sejak tadi mengintai dengan jantung berdebar tegang,ketika melihat ibunya roboh kemudian terkulai mandi darah, tak dapat menahan diri lagi, meloncat keluar dari balik semak belukar dan lari menghampiri ibunya. Melihat ibunya rebah miring dengan pakaian koyak-koyak dan tubuh bagian atas bersimbah darah, Budhi menubruk dan merangkul tubuh ibunya. Ibu.....ibu.... ! Dia menangis sambil memanggil-manggil ibunya. Ni Sawitri membuka matanya dan menggerakkan lengan kanan dengan lemah, merangkul anaknya.Suaranya terdengar lirih dan lemah ketika ia berkata,seperti berbisik saja. ... anakku.... Budhidharma ...Larilah dan.... jangan.... jangan membalas dendam.... Mata itu terpejam kembali dan napasnyapun berhenti. Budhi menjerit dan merangkul jenazah ibunya. Heiii, ini anaknya! Bunuh saja! Terdengar bentakan di atasnya dan ketika mengangkat mukanya, dia melihat pria tinggi besar bernama Klabangkoro yang membunuh ibunya.Diapun meloncat berdiri dan dengan air mata masih bercucuran, dia menudingkan telunjuk tangan kananya ke arah muka Klabngkoro. Kau........kau .....Jahanam! Kau membunuh ayah ibuku! Setelah berkata demikian, dengan nekat Budhidharma menerjang ke arah Klabangkoro dengan kedua tangan terkepal. Biarpun dia hanya seorang anak berusia sepuluh tahun, kalau hanya orang dewasa biasa saja belum tentu akanmmampu menandinginya, Akan tetapi kini ia melawan Klabangkoro. Ibu dan ayahnya sendiri saja roboh dan tewas oleh raksasa ini, apalagi dia. Menghadapi serangan pukulan anak itu, Klabangkoro tertawa tergelak dan dengan mudah saja dia menagkis semua pukulan Budhi. Tangkisan itu membuat tangan Budhi terpental dan nyeri, akan tetapi anak ini sudah nekat dan terus menerus menyerang dengan kedua tangannya. Ha-ha-ha, setan cilik! Engkau sudah bosan hidup, ya? Kaki yang besar itu mencuat dalam tendangan. Dukkk! Tubuh Budhidharma terlepar sampai tiga meter jauhnya dan terguling-guling. Akan tetapi anak itu meloncat bangun lagi, dan lari ke depan untuk menyerang lagi,sama sekali tidak memperdulikan dadanya yang tersa nyeri sehingga napasnya sesak. Ketika Budhi memukul perutnya, Klabangkoro tidak menangkis dan menerima pukulan-pukulan itu dengan kekebalannya. Kedu tangan anak itu terasa nyeri seperti memukul batu ketika bertemu dengan perut itu. Merasa betapa pukualannya tidak mempan, Bhudhi lalu menggigit kulit perut itu dan sekali ini Klabangkoro berteriak dengan kesakitan. Raksasa ini dengan marahnya lalu mengangkat lututnya kuat sekali. Desss.....! Dada Budhi di hantam lutut seperti dihantam palu godam. Serasa pecah dada itu dan tubuhnya terjengkang dan terbanting keras. Saking nyeri rasa pada dadadnya, anak ini tidak mampu berdiri lagi, hanya bangkit dududk dan matanya saja yang melotot penuh kebencian memandang Klabangkoro. Melihat ketahanan dan kebandelan anak ini, Klabangkoro bergidik. Anak ini kelak akan berbahaya sekali kalau tidak dibunuh, pikirnya. Dia menyeringai buas lalu mencabut pecut Dahono yang terselip di ikat pinggangnya. Bocah setan keparat ! Akan kubikin lumat tubuhmu! Dia lalu menggerakkan cambuk itu di udara. Kemudian sambil mengeluarkan suara ledakan, cambuk itu menyambar turun dan melucuti tubuh Budhidharma. Tar-tar-tar-tar...... ! Ujung cambuk itu bagaikan moncong ular mematuk dan mematuk lagi ke arah tubuh Budhi yang sudah tidak mampu mengelak. Setiap kali ujung cambuk mematuk, tubuh itu tersentak dan bagian yang terpantuk itu bercucuran darah. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan anak itu. Agaknya Klabangkoro membatasi tenaganya sehingga cambuknya tidak sampai membunuh, melainkan mendatangkan luka yang panasdan pedih. Kedua paha, lambung, dada dan pundak Budhi sudah terluka, kulit dan dagingnya pecah sehingga mengeluarkan banyak darah. Dia hanya menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu di atas tanah itu.Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mengeluh, bahkan menangispun tidak dan sianr matanya masih berapi-api di tujukan kepada penyiksanya. Melihat ini, Klabnagkoro merasa ngeri dan diapun membentak, Bocah setan, sekarang akan kuhancurkan kepalamu. Mampuslah kau! Dengan sekuat tenaga dia mengayun cambuknya yang akan dipukulkan ke arah kepala anak itu. Siuuuuuuuuuttt..................plakk! Klabangkoro terkejut sekali ketika cambuknya tertahan di belakangnya . Dia cepat memutar tubuhnya dan melihat bahwa ujung cambuk itu dipegang oleh seorang kakek tua berpakaian serba putih yang entah kapan telah berdiri di situ. Sadhu-sadhu-sadhu.........seorang gagah perkasa menyiksa seorang anak kecil sungguh tidak tahu malu! Suara kakek itu lirih, akan tetapi jelas terdengar oleh mereka semua dan di dalam suara yang lembut itu terkandung wibawa yang kuat. Keparat, siapa andika, seorang tua bangka hendak mencampuri urusan kami! Klabangkoro membentak dan tanpa menanti jawaban lagi dia sudah merenggut cambuknya dan dengan buas diapun mengayun cambuk itu menghantam ke arah kepala kakek yang rambutnya sudah putih itu. Akan tetapi kakek itu tidak membuat gerakan mengelak atau menangkis, melainkan tangan kirinya mendorong ke arah Klabangkoro dan tubuh yang tinggi besar itu terlempar bagaikan sehelai daun kering terbawa angin. Melihat ini, anak buah Gagak Seto menjadi marah dan belasan orang itu sudah menggerakkan golok masing-masing dan menerjang dari empat jurusan. Akan tetapi, kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan ujung bagian bajunya mengeluarkan angin yang kuat sekali dan belasan orang itupun berpelantingan terdorong oleh kebutan angin yang kuat itu.Tentu saja semua orang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi Klabangkoro adalah seorang yang sudah terbiasa di taati dan ditakuti orang, maka setelah ia dapat meloncat bangun kembali, dia sudah menggenggam cambuknya dengan erat dan dia lalu menerjang maju, memukul dengan pengerahan tenaga sekuatnya.Cambuk itu menyambar dengan dahsyat, mengancam kepala kakek itu. Hemm, manusia budak nafsu yang berwatak kejam! Dia berseru lirih dan tangan kirinya menyambut cambuk yang meluncur ke arah kepalanya itu. Wuuuuttt...........setttt........ ! Cambuk itu telah ditangkap oleh tangan kiri dan dengan marah Klabangkoro berusaha untuk menarik senjatanya lepas dari pegangan tangan kiri lawan. Akan tetapi, betapapun dia berusaha sekuat tenaga, cambuk itu tidak dapat terlepas. Bahkan sekali renggut saja dengan perlahan, cambuk itu sudah terlepas dari pegangan Klabangkoro dan dapat dirampas kakek baju putih. masih tidak mau melihat kenyataan dan dia kini mencabut goloknya dan menerjang dengan ganas. Golok itu membacok ke arah ke arah leher kakek itu. Akan tetapi kakek itu menggerakkan cambuk rampasannya menangkis dan golok itupun terpental lepas dari tangan miliknya.Kini kakek itu memutar-mutar tubuhnya sambil mengembangkan kedua lengannya. Klabangkoro dan belasan orang anak buahnya tak mampu bertahan lagi,mereka terdorong roboh bergelimpangan dan barulah Klabangkoro mengakui bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti. Dia melarikan diri diikuti belasan orang itu, berlari cepat seperti dikejar setan. Kakek itu tidak mengejar, melainkan membuang cambuk rampasan dan memutar tubuhnya memandang ke arah Budhidharma yang masih tak mampu berdiri. Anak itu berhasil menggunakan sisa tenaga untuk dapat duduk dan dengan tubuh lemas dan nyeri,kepala pening, dia masih dapat mengikuti peristiwa pengeroyokan atas diri kakek berbaju putih itu. Tubuh Budhi sudah berlepotan darahnya yang keluar dari luka-luka dari paha dan pundaknya. Akan tetapi anak itu tidak menagis, bahkan tidak mengeluh sedikitpun juga dan hal ini membuat kakek itu memandang dengan sianr mata kagum bukan main. Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang bocah berusia kurang lebih sepuluh tahun yang seberani dan sekuat itu menahan nyeri. Setelah semua penjahat pergi, Budhi teringat lagi kepada ayah ibunya. Dia menoleh dan melihat jenazah ibunya masih menggeletak mandi darah, tiba-tiba dia seperti memperoleh tenaga baru. Dia bangkit berdiri, bahkan dapat berlari menghampiri jenazah ibunya, menubruk dan menangis. Ibuu........ ! Setelah memanggil-manggil ibunya sambil menangis, dia teringat ayahnya dan kembali dia bangkit dan lari memasuki pondok, menubruk jenazah ayahnya yang mengegletak di lantai pondok. Bapa.......ahh, bapaaaa...... ! Diapun menangis mengangguk dan bingung apa yang harus dilakukannya. Ayah dan ibunya mati dengan menyedihkan,dibunuh orang di depan matanya! Setelah dia menangis beberapa lamanya, terdengar suara yang lembut,Kulup, sudah cukup engkau menangisi kematian ayah dan ibumu.Akan tetapi mereka telah kembali ke alam asal, di panggil pulang oleh Yang Maha Kuasa dan tak seorangpun dapat menghidupkan mereka kembali. Tangis dan kesedihan anak mereka hanya akan menjadi penghalang bagi perjalanan mereka. Karena itu, hentikanlah tangismu dan marialh kita menghadapi kenyataan. Mendengar ucapan itu, Budhi menengok dan ternyata kakek yang menolongnya tadi telah berdiri di belakangnya.Karena dia sudah kehilangan segala-galanya, tidak adalagi manusia yang yang dapat menjadi teman hidupnya,maka kehadiran kakek itu membuka saluran baginya untuk mencurahkan perasaan hatinya. Dia menubruk ke arah kaki orang tua itu dan menangis. Aduh, eyang............! Bagaimana saya tidak akan berduka dan merasa hacur hati saya? Di dunia ini saya hanya mempunyai ayah dan ibu berdua dan sekarang tiba-tiba mereka dibunuh orang. Saya tidak mempunyai seorangpun keluarga lagi, tidak mempunyai siapa-siapa lagi..... Tidak ada orang yang hidup sebatang kara di dunia ini. Bukankah jutaan manusia lain inipun menjadi saudaramu? Sudahlah, nanti kita bicara lagi tentang diri dan masa depanmu.Sekarang yang terpenting adalah menyempurnakan jenazah ayah dan ibumu. Eyang katakanlah apa yang harus saya lakukan. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Hemm, jenazah ayah dan ibumu perlu mendapat perawatan sebagaimana mestinya ke- mudian diperbukan. Apakah engkau tidak mempunyai kenalan atau tetangga yang sekiranya dapat membantu kita? Tetangga kami hanyalah penduduk dusun di sebelah bawah lereng di sana itu, eyang. Bagus. Nah,pergilah engkau ke dusun itu dan beritahu mereka bahwa ayah ibumu terbunuh gerombolan penjahat dan mintalah bantuan mereka untuk mengurus jenazah ayah ibumu. Baik, eyang........Budhi lalu bangkit berdiri dan hendak berlari pergi. Akan tetapi baru belasan langkah dia berlari, dia mengeluh dan terguling roboh. Melihat ini kakek berbaju putih itu segera menghampiri Melihat anak itu pingsan, dia lalu membawa anak itu ke bawah sebatang pohon di samping pondok.Dia memeriksa tubuh anak itu dan menggeleng-geleng kepalanya dengan kagum.Tubuh anak ini mengalami siksaan yang hebat.Matang biru dan bengkak-bengkak, kedua paha dan pundak terluka. Kakek itu lalu menggunakan kedua tanganya untuk memijit-mijit menekan dan mengurut tubuh Budhi. Tak lama kemudian, Budhi mengeluh dan dia siuman. Ajaib, setelah dipijit dan diurut oleh kakek itu, Budhi merasa tubuhnya sehat kembali dan tidak terasa nyeri lagi. Bahkan luka-luka lecutan cambuk yang tadinya terasa pedih dan amat panas, kini tidak merasa nyeri lagi. Dia lalu bangkit duduk bersimpuh di depan kakek itu. Bagaimana rasanya sekarang, kulup? Apakah masih nyeri rasa tubuhmu? Terima kasih, eyang. Nyeri-nyeri pada tubuh saya tidak terasa nyeri. Nah, kalau begitu, pergilah memberi tahu kkepada penduduk dusun di bawah.Akan tetapi, katakanlah dulu kepadaku siapakah namamu? Nama saya Budhidharma, eyang. kakek itu tersenyum mengangguk-angguk. Bagus, bagus! Mudah-mudahan saja kelak sepak terjangmu akan sesuai dengan namamu. Nah, pergilah, kulup! Budhi lalu berlari pergi dari situ, menuruni lereng menuju dusun Gedangan. Ingatannya penuh lagi dengan bayangan ayah ibunya yang menggeletak mandi darah, maka tak tertahankannya lagi air matanya bercucuran ketika dia berlari itu. Penduduk dusun Gedangan terheren-heren melihat Budhi datang dengan berlari-lari sambil bercucran air mata.Biasanya anak ini selalu kelihatan cerah, bahkan suka berkelakar dan sifatnya periang. Segera mereka merubung Budhi dan bertanya-tanya. Ketua dusun yang sudah mengenal baik ayah ibu Budhi, bahkan pernah disembuhkan dari penyakit berat oleh Ni Sawitri, segera maju dan memegang pundak Budhi. Anakmas Budhidharma, apakah yang telah terjadi? Kenapa andika menangis? Paman......ah, paman.....tolonglah merawat......jenazah bapa dan ibu......mereka terbunuh gerombolan penjahat. Terdengar seruan di sana sini dan semua terbelalak dengan muka pucat. Kemudian berbondong-bondong mereka mengikuti Budhidharma menuju rumah yang terpencil di lereng itu. Setelah tiba di tempat tinggal anak itu. Mereka semua merasa ngeri melihat jenazh Ni Sawitri dan Margono yag mandi darah. Dan merekapun bertanya-tanya siapa adanya kakek yang berada di situ. Eyang ini yang menyelamatkan aku dari tangan penjahat itu, kalau tidak ada eyang ini, aku tentu tewas pula seperti kedua orang tuaku. Setelah mendapatkan keterangan dari Budhi, penduduk dusun bersikap hormat dan tidak lagi mencurigai kakek berpakaian serba putih itu. Atas permintaan Budhi sendiri, jenazah kedua orang tuanya tidak diperabukan melainkan dikubur di dalam tanah, di halaman depan rumah itu. Saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi, eyang. Biarlah kedua kuburan ini menjadi sisa peringatan bagi kedua orang tua saya.katanya. Hal ini boleh saja, Budhi. Jasmani ini memang terbentuk sebagian besar dari tiga zat itu,tanah,air,dan api. Oleh karena itu, setelah ditinggalkan rohnya, jasad dapat dikembalikan kepada salah satu di antaranya. Dibakar, dikubur, atau di larung ke samudera. Hanya saja, kalau dikubur dalam tanah, maka masih ada ikatan antara keluarganya dengan yang mati. kata kakek itu. Setelah Penguburan selesai dilakukan dan semua penduduk dusun sudah kembali ke Gedangan, Budhidharma masih saja berlutut di depan mamamayah ibunya.Kesedihan membuat anak ini lemas lunglai seperti kehilangan semangat dan biarpun dia sudah tidak menangis lagi,namun matanya masih selalu basah. Kakek itu duduk di atas batu besar, di lereng Budhi yang bersimpuh di depan makam. Dia membiarkan anak itu menenggelamkan diri dalam lamunan kesediahn beberapa lamanya, kemudian tiba-tiba tubuhnya melayang ke arah pohon di tepi halaman. Dipegangnya batang pohon sebesar tubuh orang dewasa itu dengan kedua tangannya, lalu diguncangnya pohon itu. Pohon bergoyang dan tergoncang keras seperti ditiup badai mengeluarkan bunyi yang berisik dan daun-daun rontok berterbangan. Budhi terkejut mendengar ini dan ketika dia memandang, diapun terbelalak keheranan. Sampai beberapa lamanya kakek itu menggoncang pohon.Budhi bangkit berdiri, menghampiri dan bertanya dengan suara mengandung keheranan. Eyang, apa yang eyang lakukan ini? Kenapa menggoncang pohon ini? Kakek itu tertawa dan menghentikan perbuatannya, lalu menggandeng tangan Budhi diajaknya anak itu duduk di atas batu besar. Budhi, lihatlah hati dan pikiranmu sekarang, saat ini. Apakah engkau masih berduka? Apakah engkau masih berduka? Apakah engkau masih ingin menangisi orang tuamu? Budhi adalah seorang anak yang cerdik. Dia segera mendapat kenyataan bahwa kedukaan itu sama sekali tidak adalagi, atau sudah terlupa olehnya.Yang ada hanyalah keheranan. Tidak, eyang. Saya hanya merasa heran dan sudah melupakan kedukaan saya. Akan tetapi eyang mengingatkan dan ......... Nah, kalau begitu engkau sudah mengerti sekarang bahwa kedukaan itu hanyalah per- mainan dari ingatan sendiri saja.Ingatan mengunyah-ngunyah keadaanmu yang kehilangan orang tua, seperti si rakus melahap makanan yang enak dan ahtimupun seperti ditusuk-tusuk rasanya. Hal itu menimbulkan duka. Begitu pikiran dikuasai oleh keadaan lain, duka yang tadinya membuat orang seperti kehilangan semangat hidup itupun akan lenyap tanpa bekas lagi.Kalau hati akal pikiran itu selalu ditujukan kepada apa yang terjadi saat demi saat, tidak mengingat-ingat hal yang telah lalu, maka orang tidak akan dicengkeram duka. Mengertilah engkau, kulup? Biarpun masih belum jelas benar, namun Budhi dapat mengerti. Memang kedukaan hatinya timbul lagi kalau dia kembali kepada alam ingatan, mengingat-ingat hal yang telah berlalu.Dan semua itu sudah tidak berguan lagi.Biarpun dia menangis air mata darah, ayah dan ibunya taidak dapt hidup lagi.Yang terpenting ialah sekarang, saat ini, apa yang haryus dialakukan setelah ia hidup seorang diri.Dan dia meliaht betapa kakek itu seorang yang sakti, seorang yang bijaksana dan baik budi, maka dia segera menghampiri dan berlutut menyembah ke arah kaki orang tua itu. Eh, ada apakah, Budhi? Apa artinya penghormatan ini dan engkau hendak bicara apa? Kakek itu menjulurkan tangannya,menarik lengan anak itu ke atas dan menyuruhnya duduk di dekatnya. Eyang, saya hidup seorang diri di dunia ini, bahkan kalau eyang tadi tidak meyelamatkan saya,sekarangpun saya tidak ada lagi di dunia ini. Karena itu, kalau eyang sudi menerimanya, satya mohon agar eyang mengijinkan saya ikut, menjadi murid eyang,saya akan melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu eyang. Kakek itu tersenyum mengelus jenggot putihnya yang tipis dengan tangan kiri dan menganguk-angguk. Baiklah, Budhi. Agaknya memang sudah ditentuakn oleh Hyang Widhi bahwa engakau berjodoh untuk menjadi muridku. Akan tetapi jangan dikira enak menjadi murid seorang tua miskin seperti aku. Aku berjuluk Bhagawan Tejolelono, pekerjaanku hanya berkelana, tidak memiliki kekayaan apapun. Tempat tinggalku tidak menentu. Langit atapku,bumi lantaiku dan pohon-pohon merupakan dindingku. Engkau akan menderita kelaparan kalau tidak mencari makan sendiri.Nah, kalau engakau ikut aku menjadi muridku, engkau harus rajin sekali, bukan saja untuk mempelajari ilmu dariku tetapi juga untuk bekerja mencari makan. Sanggupkah engkau, Budhi? Eyang, sejak kecil saya sudah biasa bekerja keras karena kami bukanlah keluarga kaya. Harap eyang tidak khawatir, saya akan bekerja keras dan rajin. Dan saya berjanji akan mentaati semua perintah dan petunjuk eyang. Tejoleleono mengangguk-angguk dan hatinya merasa gembira sekali. Sejak tadi dia merasa sudah mengambil keputusan untuk mengangkat bocah ini menjadi muridnya.Dia meliaht betapa Budhi memiliki keberanian, ketabahan dan kegagahan yang luar biasa.Selain hatinya yang teguh keras, anak inipun memiliki bakat yang maat baik untuk menjadi orang yang sakti mandraguna. Ketika jari-jari tangannyamemijit tubuh anak itu, dia mendapat kenyataan bahwa Budhi memiliki tulang yang baik. Nah, kalau begitu berkemaslah, Budhi. Kumpulkan barang yang akan kau bawa karena kta akan pergi sekarang juga. Akhirnya kakek itu berkata. Mendengar ini Budhidharma berpikir sejenak lalu berkata dengan hormat, Eyang, saya merasa sayang kalau rumah dan semua isinya ini saya tinggalkan begitu saja tidak terawat dan digunakan. Oleh karena itu, kalau eyang mengijinkan, saya hendak memasrahkan rumah ini dan semua isinya kepada seorang kenalan yang tinggal di dusun Gedangan. Dengan demikian, maka ruamh ini akan terpelihara, dan juga dapat bermanfaat baginya. Bhagawan Tejolelono mengangguk-angguk. Seorang bocah yang berpikir panjang. Baik, pergilah engkau ke dusun Gedangan.Aku akan menantimu di sini, Budhi. Budhi lalu pergi ke dusun Gedangan dan menemui seorang kenalan dan sahabat ayahnya bernama Karyosikun.Karyosiku hidup berdua dengan isterinya dan mereka tidak mempunyai ruamh, hanya tinggal mondok di ruamah seorang janda. Budhi sudah mengenal baik suami isteri yang miskin ini karena biasanya ayah dan ibunya kalau sedang repot membutuhkan tenaga bantuan, selalu menggunakan tenaga suami isteri ini. Tentu saja kunjungan Budhi disambut dengan heran oleh Kayosikun dan isterinya yang bernama Sawiji. Suami isteri inipun tadi ikut pula datang melayat. Ketiak meliaht mereka Budhi segera mengutaraka kehendaknya. Paman Karyosikun dan bibi Sawiji. Hari ini aku akan pergi mengikuti Eyang Bhagawan Tejolelono dan menjadi muridnya.Karena itu, lebih dulu aku ingin menyerahkan rumah kami dan semua isinya, juga kebun dan ladang kepada paman berdua. Eh, eh, apa maksudmu, Gus? tanya Karyosikun heran dan tidak mengerti. Begini,paman. Aku tidak ingin rumah itu kosong dan tidak terpelihara. Oleh karena itu, selama aku pergi, paman berdua tinggallah di rumahku. Sawah dan ladang kerjakanlah dan hasilnya untuk paman berdua. Rumah dan semua isinya pergunakanlah untuk keperluan hidup paman. Aku hanya ingin agar rumah itu, terpelihara dan rumah itu,beserta sawah ladangnya, baru paman kembaliakn kalau aku membutuhkannya. Wah.......,ini......bagaimana kami berani...... Karyosikun berseru gugup. Siapa yang mau percaya kepada kami? Jangan-jangan kami akan dituduh merampas rumahmu,Bagus Budhi! Jangan khawatir, paman karyo, marilah kita pergi ke rumah kepala dusun. Saya akan menyerahkan rumah dan sawah ladang kepadamu,disaksikan oleh kepala dusun. Melihat Karyosikun dan isterinya masih meragu, Budhi lalu memegang tangan oarang itu dan diajaknya pergi ke rumah kepala dusun. Kepala dusun Gedangan mengerti dan bahkan memuji tindakan Budhidharma itu.Memang sebaiknya kalau anak itu hendak pergi mengikuti gurunya, rumah itu dan sawah ladangnya diserahkan kepada seorang yang dapat dipercaya untuk mengurusnya, menikmati hasil sawah ladang dan memelihara rumah agar tidak menjadi rusak. Dan Karyosikun adalah orang yang dapat dipercaya untuk hal itu. Baiklah, kami yang menjadi saksinya dan engkau jangan khawatir kalau ada yang men- uduhmu yang bukan-bukan, Karyosikun .Kata kepala dusun itu. Suami isteri itu langsung saja diajak oleh Budhi untuk ikut dia ke rumahnya. Setelah menyerahkan segala harta milik peninggalan orang tuanya, Budhi lalu pergi bersama Bhagawan Tejolelono, diantar sampai ke luar halaman oleh Karyosikun dan Sawiji.Anak itu hanya membawa pakaian, dibuntal sehelai kain milik ibunya. Dan diapun membawa keris milik ibunya. Keris itulah yang oleh ibunya dipakai melakukan perlawanan terhadap gerombolan Gagak Seto kemudian dipakai membunuh diri karena ia tidak mau tertangkap hidup-hidup oleh Klabangkoro. Sambil melangkah di belakang Bhagawan tejolelono yang berjalan tanpa menoleh dan tanpa ragu-ragu bermacam kenangan menyelinap dalam kepala Budhidharma. Bayangan rumahnya, lalu ayah ibunya, memenuhi benaknya.Membayangkan kedua orang tuanya terkapar dengan mandi darah, membuat dia mengatupkan kedua bibirnya dan menggigit gigi sendiri. Kemudian terbayanglah wajah yang amat dibencinya itu, wajah klabangkoro yang tinggi besar seperti raksasa bermuka hitam. Selama hidupnya dia tidak akan pernah dapat melupakan wajah raksasa pembunh ibunya itu.Akan tetapi hatinya lebih sakit kalau dia mengingat bahwa Klabangkoro itu hanyalah seorang utusan saja dan pembunuh yang sebenarnya dari orang tuanya adalah yang mengutus Klabangkoro, yaitu ketua perkumpulan Gagak Seto setelah dia dewasa dan kuat, dia pasti akan mencari perkumpulan di Gunung Anjasmoro itu, membunuh ketuanya dan membasmi perkumpulan itu sampai ke akar-akarnya. Akan tetapi, teringat akan pesan yang terakhir, dia mengerutkan alisnya. Sebelum ibunya menghembuskan napas terakhir, dalam rangkulannya, ibunya berpesan agar dia tidak membalas dendam. Tidak membalas dendam? Bagaimana mungkin itu? Dia teringat ketika ibunya memberi sebuah benda kepadanya. Selama ini, benda itu disimpannya dan hampir dia melupakan benda itu.Kini teriangat akan semua itu, dia mengambil benda itui dari kantung bajunya dan mengamatinya, sebuah benda kecil,dari perak, berbentuk seekor burung Gagak Putih! Perlihatkan ini kalau engkau tertangkap dan mereka tidak akan berani membunuhmu! Benda apakah ini? Agaknya ada hubungannya dengan mereka yang menyerang dan membunuh ayah bundanya.Akan tetapi mengapa ibunya memiliki benda itu daqn mengapa ibunya tidak mempergunakannya untuk meyelamatkan nyawanya? Dia menjadi bingung. Tidak mengerti. Kemudian dia menghela napas dan menyimpan kembali benda itu. Biarlah aku harus bersabar. Kelak kalau akan mencari perkumpulan Gagak Putih di Gua Tengkorak gunung anjasmoro, tetu akan mengetahui semua rahasia ini. Budhidharma harus mengikuti Bhagawan Tejolelono, melakukan perjalan jauh menuju ke Gunung Kawi. Setelah mendaki gunung itu akhirnya mereka tiba di sebuah di antara puncak-puncak di gunung itu, terdapat sebuah rumah kediaman Bhagawan Tejolelono di mana dia hidup sebagai seorang pertapa. Mulai hari itu, tinggallah Budhidharma bersama Bhagawan Tejolelono di puncak Gunung Kawi Dengan tekun anak itu mulai mempelajari ilmu-ilmu dari pertapa yamh sakti itu, dan seperti biasa ketiak masih tinggal dengan ayah ibunya, anak ini dengan rajin sekali bekerja di ladang untuk kebutuhan makan mereka berdua. Sang Bhagawan merasa suka sekali kepada anak yang tahu diri dan amat rajin itu. Makin berkembanglah perasaan sayang di hatinya terhadap anak itu dan diapun mencurahkan segala kemampuannya untuk mendidik Budhidharma dengan semua ilmu yang dikuasainya. Di Puncak GunungAnjasmoro terdapat sebuah perkumpulan orang gagah bernama Perkumpulan Gagak Seto. Perkumpulan ini merupakan perkumpulan orang gagah disegani orang-orang gagah senusantara, dan ditakuti orang-orang yang biasa melakukan kejahatan seperti para perampok, bajak sungai dan pencuri. Orang-orang gagah dari Gagak Seto tidak pernah memberi ampun kepada mereka yang melakukan kejahatan. Apa yang membuat perkumpulan Gagak Seto menjadi perkumpulan kuat yang disegani kawan ditakuti lawan? Yalah karena ketuanya orang yang gagah perkasa, berilmu tinggi dan berwatak keras, adil dan pembasmi kejahatan.Ketua itu seorang laki-laki tionggi besar yang sekarang telah berusia limapuluh tahun. Seorang pria yang tidak dapat disebut tampan, bahkan segala yang ada padanya serba kasar dan besar. Namun dia memiliki watak yang jantan dan ghagah perkasa. Mula-mula dia membuka sebuah perguruan silat yang diberi nama Gagak Seto, diambil dari julukannya sendiri karena sejak muda rambutnya yang panjang berwarna putih sehingga dia mendapat julukan Gagak Seto. Lama-kelamaan perkumpulan silat ini menjadi semakin besar dan menjadi perkumpulan orang gagah yang ternama, dengan anak buah atau murid tidak kurang dari 500 orang jumlahnya. Ketua ini bernama Sudibyo, akan tetapi orang lebih mengenal nama julukannya, yaitu Gagak Seto. Dia tinggal di sebuah bangunan besar dan dikelilingi banyak bangunan-bangunan kecil yang menjadi tempat tinggal para muridnya. Puncak Anjasmoro yang menjadi pusat perkumpulan Gagak Seto ini sudah menjadi perkampungan yang cukup besar. Pada suatu hari, Sudibyo meneriam kedatangan kembali Klabnagkoro, seorang di antara para muridnya yang paling tangguh. Karena pentingnya tugas yang dilaksanakan oleh Klabangkoro, maka kedatangannya merupakan peristiwa penting bagi ketua Gagak Seto. Dia menyuruh para murid lain menyingkkir sehingga tinggal dia sendiri yang berhadapan dengan muridnya itu. Kedua orang pria yang bertubuh sama tinggi besarnya ini saling pandang dan dengan penuh ketegangan Sudibyo menegur muridnya. Bagaimana baritannya, Klabangkoro? Bagaimana hasil tugas yang kau laksanakan? Bapa guru, sukar bukan main mengikuti jejek mereka karena mereka itu selalu berpindah-pindah. Akan tetapi, akhirnya dapat juga saya menemukan tempat persembunyian mereka di Bukit Batok dekat dengan dusun Gedangan. Mendengar ini, Sudibyo terbelalak dan mencondongkan tubuhnya ke depan, memandang muridnya dengan sinar mata seolah hendak menelannya. Sudah dapat? Bagus! Lalu bagaimana.....bagaimana selanjutnya? Berhasilkah engkau membunuh si keparat Margono? Dengan wajahnya yang hitam itu berseri gembira Klabangkoro berkata, Berkat pengestu paduka saya telah berhasil membikin mampus keparat Margono itu, Bapa guru. Plakk.......! Tangan yang lebar itu menepuk pahanya sendiri sehingga terdengar suara nyaring. Bagus! HA-ha-ha-ha, bagus sekali! Keparat Margono itu memang sudah layak mampus. Dia seoarang yang tidak mengenak budi, tidak mengenal susila dan merusak pagar ayu! Dan bagimana dengan ia? Bagaimana dengan Sawitri ? Kenapa engkau tidak mengajak ia pulang bersamamu? Aku siap mengampuninya dan melupakan semua yang telah terjadi, di mana ia? Ampun, Bapa. Ia.......Ni Sawitri .......ia juga tewas .... kata Klabangkoro dengan suara agak gugup. Sepasang mata yang besar itu terbelalak, sehingga sinarnya berapi, dan wajahnya yang gagah perkasa itu nampak pucat sekali. Apa ......?Andika.......Andika telah membunuh Ni Sawitri? Tidak, Bapa, Mana saya berani membunuhnya? Seperti perintah Bapa, saya melaksanakan tugas, yaitu membunuh Margono dan membawa Ni Sawitri pulang. Saya, dibantu teman-teman, berhasil membunuh Margono. Ni Sawitri marah dan menyerang kami, akan tetapi kami berhasil meringkusnya. Saya telah merobohkannya dengan Pecut Dahono, akan tetapi ketika teman-teman hendak meringkusnya, Ni Sawitri menggunakan kerisnya sendiri untuk suduk sarira (bunuh diri dengan keris).Hamba tidak keburu mencegahnya dan iapun tewas di ujung kerisnya sendiri, Bapa Guru, Ampunkan saya karena saya sama sekali tidak menyangka ia akan melakukan suduk sarira sehingga tidak dapat mencegahnya. Kepala yang rambutnya sudah putih itu menunduk dalam-dalam, agaknya untuk menyembunyikan air mata yang mengalir menuruni pipinya, Klabangkoro melanjutkan ceritanya, merasa lega bahwa gurunya tidak melanjutkan kemarahnnya. Pada waktu itu, seorang bocah berusia sepuluh tahun menyerang kami. Bocah itu adalah putera Ni Sawitri. Karena kami tidak ingin kelak anak itu menimbulkan keributan, maka kami hendak membunuhnya pula. Akan tetapi, muncul seorang kakek yang sakti dan kami tak mampu menandinginya.Terpaksalah kami meninggalkan mereka. Akan tetapi agaknya Sudibyo tidak mendengarkan lagi, bahkan tubuhnya terkulai dan dia tergelimpang, roboh dari kursinya! Tentu saja Klabangkoro terkejut bukan main. Dia meneriaki anak buah Gagak Seto yang berlarian masuk dan beramai-ramai mereka mengangkat tubuh sang guru ke dalam. Sejak saat itu Sudibyo jatuh sakit-sakitan dan dia selalu menyendiri dalam kamarnya. Dia mengusir semua orang yang mencoba mendekati dan menghiburnya. Sudibyo, ketua perkumpulan Gagak Seto dapat menguasai dirinya dan bangkit lagi dari tempat tidurnya. Akan tetapi semenjak hari ia mendengar bahwa Ni Sawitri telah tewas, dia menjadi sakit-sakitan.Tubuhnya yang tinggi besar itu menjadi kurus, mikanya semakin pucat dan tubuhnya lemah. Dia tidak lagi bersemangat mengurus perkumpulan dan mengangkat Klabangkoro dan seorang murid lain bernama Mayangmurko untuk mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan perkumpulan Gagak Seto. Ki Sudibyo sendiri lebih sering duduk bersemadhi di dalam kamarnya atau duduk termenung mengenangkan semua peristiwa masa lalu ketika Ni Sawitri masih menjadi isterinya.Semua yang terjadi sepuluh tahun yang lalu itu terbayang seolah baru terjadi kemarin saja. Ketika itu, sudah lama dia mendirikan perkumpulan Gagak Seto dan sudah menerima banyak murid yang mempelajari ilmu kanuragan. Para muridnya bukan hanya kaum pria, karena ada pula beberapa orang murid wanita. Pada waktu itu Ki Sudibyo adalah seorang pria yang berusia empatpuluh tahun yang gagah perkasa ini memang belum pernah jatuh cinta. Akan tetapi setelah dia menjadi guru dan juga ketua perkumpulan Gagak Seto. Dia jatuh hati setengah mati kepada seorang muridnya sendiri dan waktu itu bukan lain adalah Ni Sawitri yang ketika itu berusia delapanbelas tahun. Bagaikan setangkai bunnga mawar, Ni Sawitri sedang mekar semerbak mengharum dan Ki Sudibyo menjadi seorang di antara para pria yang tergila-gila kepada Ni Sawitri. Ki Sudibyo tidak membuang banyak waktu dan dia lalu meminang Ni Sawitri kepada ibu gadis itu yang sudah menjadi janda.Ibu janda itu tentu saja menjadi girang dan meneriama pinangan itu dengan tangan terbuka. Ki Sudibyo terkenal sebagai seorang pria yang gagah perkasa dan suak menolong orang,disegani dan dihormati. Tentu saja ia meneriam pinangan itu dengan bangga. Pernikahan dilangsungkan dengan meriah.Akan tetapi, kalau pengantin pria merasa berbahagia sekali dengan pernikahan itu, sebaliknya pengantin wanitanya merasa berduak walaupun ia tidak berani memperlihatkan kedukaan hatinya di depan gurunya yang kini menjadi suaminya itu. Hal ini bukan karena pengantin pria itu kurang gagah atau kurang baik ,sama sekali tidak. Hnya karena Ni Sawitri telah menjalin hubungan dengan seorang saudara seperguruan yang bernama Margono, maka tentu saja pernikahannya itu menghancurkan hatinya.Akan tetapi Ni Sawitri tidak berdaya. Ibunya telah meneriama pinangan itu dan yang meminang adalah gurunya yang amat dihormatinya. Mulailah Ni Sawitri hidup dalam keadaan tersiksa hatinya. Ia menjadi isteri yang terhormat. Semua murid menganggap nya sebagai ibu guru yang patut dihormati. Akan tetapi, setiap hari ia bertemu dengan Margono, bahkan berlatih ilmu kanuragan bersama pemuda yang dikasihinya itu. Dan terjadilah peristiwa itu. Setelah tiga bulan menjadi isteri Ki Sudibyo, pada suatu senja ketika secara kebetulan Ki Sudibyo berjalan-jalan memasuki taman, dia meliaht dari jauh betapa isteriny menangis terisak-isak bersandar di dada yang bidang dari Ki Margono yang merangkulnya! Dapat dibayangkan betapa marahnya Ki Sudibyo ketika melihat isterinya yang tercinta ber- pelukan dengan seorang muridnya. Serasa akan meledak dadanya, dan seperti dibakar rasa hatinya.Akan tetapi Ki Sudibyo adalah guru perkumpulan Gagak Seto dan dia menjaga kehormatannya. Dia menahan diri sekuat mungkin, lalu dengan terhuyung seperti menderita luka hebat dia kembali ke dalam ruamahnya. Dia merasa bingung sendiri. Apa yang akan dilakukannya. Sudah jelas bahwa Sawitri mengkhianatinya, menyeleweng. Dan tahulah dia bahwa tentu sejak dahulu Ni Sawitri menjalin cinta kasih dengan Margono dan itulah yang membuatnya menyesal dan marah sekali. Kalau saja Ni Sawitri menolak pinangannya karena sudah mempunyai seorang pilihan hati, tentu dia dapat memakluminya dan tidak akan memaksanya menjadi isterinya. Akan tetapi sekarang, Sawitri telah menjadi isterinya, kenapa masih melanjutkan hubungan dengan pria lain? Itu penyelewengan namanya, pengkhianatan dan merupakan dosa yang besar. Dan Margono? Si keparat itu telah berani menghina gurunya, menginjak-injak kehormatan gurunya! Padahal, Sawitri dan Margono adalah murid-murid kesayangannya, merupakan dua orang murid yang terpandai di antara semua muridnya. Hati Ki Sudibyo terbakar hangus! Kebahagiaan yang baru dia nikmati selama tiga bulan itu kini telah hancur, bukan saja kebahagiaan itu lenyap, bahkan berubah bentuk menjadi siksaan batin yang hampir membuatnya menjadi gial. Kalau menuruti panasnya hati, ingin dia seketiaka itu membunuh dua orang manusia yang dianggapnya tidak mengenal budi, rendah budi dan kotor itu .Akan tetapi dia menjaga namanya, dan pula dia masih menaruh harapan tipis,harap-harap cemas barangkali Ni Sawitri akan memyadari kesalahannya dan dapat mengubah jalan hidupnya. Tak lama kemudian dia melihat isterinya melangkah masuk. Demikian lemah gemulai langkahnya ketiak memasuki ambang pntu. Rambut yang hitam panjang itu yang dia tahu pasti harum semerbak dengan harum melati, keliahatan mengkilap dalam cuaca senja yang remang-remang itu. Kulitnya yang lembut dan hangat itu juga nampak berkilauan. Akan tetapi segera terbayang olehnya betapa rambut itu kusut karena bersandar di dalam rangkulan pria lain! Dia merasa seolah mukanya dicoreng-moreng, perasaannya diinjak-injak. Dadanya terasa panas sekali dan dia tidak mampu bertahan lagi. Diajeng Sawitri.........! dia memanggil dan suara panggilannya itu mengejutkan hati Sawitri. Biasanya, guru nya yang kini menjadi suaminya itu kalau memanggil namanya, halus lembut dan penuh kasih sayang. Akan tetapi mengapa panggilan itu sekarang terdengar demikian kaku dan nyaring? Ya, kakang mas......... ! Ia menjawab dan dan memasuki kamar itu dengan jantung berdebar. Ia melihat suaminya duduk bersila, tak bergerak seperti patung di atas lantai, di depan kedua kakinya, nampak sebatang keris telanjang. Dalam keremangan di kamar itu, keris telanjang itu nampak mengeluarkan cahaya. Inilah keris pusaka milik suaminya yang disebut Sang Megantoro! Kenapa suaminya duduk bersama dengan keris pusaka itu telanjang di depannya? Rasa takut meayap ke dalam hati Ni Sawitri ketiak perlahan-lahan ia duduk bersimpuh di dekat ki Sudibyo, di atas tikar yang digelar di lantai itu. Kakang mas memanggil aku...... ? tanyanya lirih. Sampai lama tidak terdengar jawaban. Suasana semakin menegangkan sehingga Ni Sawitri seolah dapat mendengar degup jantungnya sendiri yang menembus kembennya. Kemudian terdengar suara suaminya, suara yang dingin dan kaku sekali. Diajeng, sudah bertahun-tahun kau menjadi murid Ggak Seto selain ilmu kanuragan engkau juga mempelajari tentang nilai-nilai kegagahan.Katakan, diajeng, apa hukumannya bagi pengkhianat yang mengkhianati kepercayaan orang orang kepadanya? Apa hukumannya bagi seorang yang menginjak-injak kehormatan kita, seorang yang membalas madu kebaikan kita dengan racun kebusukan? Jawablah, diajeng. Ni Sawitri merasa jantungnya berdebar tegang dan seluruh tubuhnya terasa gemetar. Kita .......kita harus membunuhnya, kakangmas Sudibyo........ Bagus,engkau masih ingat akan nilai kehormatan itu. Dan sekarang, jawablah sejujur- nya.Apakah engkau mencintai aku? Sawitri terkejut sekali dan memandang ke arah wajah suaminya. Suaminya tidak mem- andang kepadanya, akan tetapi melihat wajah suaminya itu dari samping saja sudah cukup menimbulkan kengerian di hatinya.Wajah itu kaku dan dingin seperti arca besi, penuh kemarahan terpendam. Aku.....tentu saja mencintaimu, kakangmas. Kenapa engkau tanyakan? Aku sudah menjadi isterimu, bukan? Itu saja sudah menandakan bahwa aku mencintaimu, kakangmas. Tidak ada madu semanis kata-kata bercumbu yang keluar dari bibir seorang wanita cantik, namun sayang, di situ pula bersarang kebohongan dan pengkhianatan.Kata ki Sudibyo lirih tanpa menoleh. Kakangmas.......... ! Apa .....apa .....maksudmu...... ? Sawitri bertanya dengan suara gemetar. Sudahlah, pergilah ke kamarmu, diajeng. Jangan terlalu lama di sini ! Pergi, cepat!! Ni Sawitri menjadi pucat wajahnya. Belum pernah ia mendengar suara suaminya membentak- bentak seperti itu, penuh kemarahan dan kebencian. Sambil menahan tangisnya, iapun keluar dari kamar itu. Perang hebat terjadi di hati akal pikiran Ki Sudibyo.Segala macam perasaan teraduk menjadi satu dalam pikirannya. Ada rasa kecewa, sedih, marah,dan cinta.Kalau menuruti dorongan nafsu kemarahannya karena dia merasa ditipu, dikhianati, dilanggar kehormatannnya, ingin rasanya dia membunuh orang itu. Akan tetapi perasaan cintanya kepada isterinya menjadi penghalang besar. Dia terlalu mecintai osterinya dan tidak ingin membunuh isterinya, tidak ingin melihat isterinya menderita sengsara. Setelah perang itu berkecamuk dalam hatinya selama semalam suntuk.Menjelang pagi barulah dia mengambil keputusan yang harus dipilihnya pada saat terakhir nanti. Dua keputusan itui adalah pertama : Memaafkan mereka dengan menyadari bahwa Ni Sawitri tidak mencintainya melainkan mencintai Margono, maka lebih tepat kalau mereka menjadi suami isteri dan meninggalkan Anjasmoro. Keputusan kedua, membunuh mereka berdua sebagai pelanggar-pelanggar kesusilaan dan pengkhianat. Dia bangkit dari duduknya, menyarungkan keris pusaka Megantoro, lalu melangkah keluar dari dal;am sanggar pamujan. Karena merasa dadanya sesak, dia lalu keluar dari dalam rumah. Setibanya di halaman depan, dia merasa betapa angin sejuk menerpa wajah dan dadanya. Segar rasanya seperti disiram air dingin. Dia mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup hawa sejuk itu sebanyaknya. Kepalanya ditengadahkan. Pagi masih remang-remang, bintang-bintang diangkasa masih tanpak.Ayam jantan sedang berkokok dan dia mengenal suara Si Jagal, ayam jagonya. Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Siapa itu! Bentak Ki Sudibyo sambil memutar tubuh ke kiri. Bayangan laki-laki tinggi besar berusia tiga puluh tahun menghampirinya. Ah, Bapa Guru. Kebetulan sekali, saya memang sedangencari Bapa Guru untuk melaporkan sesuatu. Katanya sambil memberi hormat. Hemm, kiranya engkau, Klabangkoro. Sepagi ini, apa yang hendak kaulaporkan kepadaku? Bapa, tadi saya melihat bayangan orang dua menyelinap keluar dari perkampungan kita. Karena curiga, saya lalu menghampiri, akan tetapidua bayangan itu bukan lain adalah adi Margono bersama........bersama...... Raksasa tinggi besar itu agaknya takut untuk melanjutkan laporannya. Api kemarahan yang tadinya sudah hampir padam itu mulai menyala lagi di dalam dada dan kepala Ki Sudibyo. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa yang melarikan diri bersama Margono itu. Akan tetapi untuk mendapatkan keyakinan, dia membentak, Hayo cepat katakan, bersama siapa Mrgono melarikan diri! Saya......saya takut.........kalau bapa marah...... Kalau tidak kau katakan, aku bahkan akan marah sekali dan menghancurka kepalamu! bentak Ki Sudibyo. Saya melihat dia bersama .........Ni Sawitri, bapa..... Keparat !! Sudibyo melompat ke dalam rumah, mencari isterinya di dalam kamar-kamar rumah itu. Tentu saja isterinya tidak ada, seperti yang sudah diduganya, dan diapun hanya inginmendapat kepastian saja. Dia lari lagi keluar dan melihat Klabangkoro masih berdiri di depan pintu. Di mana kau melhat mereka ? Tanyanya dengan suara tegas. Di sana , bapa. Mereka lari ke utara! Tubuh ketua Gagak Seto itu melesat ke arah utara dan kini keris Pusaka Megantoro telah terselip di pinggangnya. Pusaka itu diambil ketika mencari isterinya k dalam rumah tadi. Klabangkoro berdiri sambil menyeringai. Hatinya juga terasa sakit ketika melihat Ni Sawiti bergandengan tangan dengan Margono dan keduanya berlari ke utara. Sejak dahulupun dia tahu bahwa kedua adik seperguruannya itu saling mencintai.Akan tetapi Ni Sawitri ditarik menjadi isteri guru mereka. Dan dia hanya menjadi penonton yang iri hati. Sudah lama dia menaruh hati kepada Ni Sawitri, namun tak pernah ditanggapi gadis itu sampai akhirnya ia diambil isteri oleh Ki Sudibyo. Sekarang rasakanlah kalian semua! Hatinya bersorak, karena bukan dia seoranglah yang menderita karena gadis itu. Dengan hati panas terbakar Sudibyo melakukan pengejaran ke utara, namun dia tidak menemukan jejak dua orang yang melarikan diri itu.Setelah mencari dan melakukan pengejaran sehari lamanya, akhirnya dia pulang denagn tangan dan hati hampa. Dia mengutus Klabangkoro dan belasan orang murid lain untuk melakukan pengejaran dan pencarian, namun sampai bertahun-tahun mereka tidak pernah berhasil. Ki Margono dan Ni Sawitri seperti lenyap ditelan bumi. Kalau ada berita bahwa mereka berada di suatu tempat, cepat melakukan pengejaran, akan tetapi mereka sudah pergi lebih dulu. Sepasang burung itu telah terbang pergi meninggalkan pohon sewaktu para pemburunya berindap datang dengan busur dan anak panah di tangan! Bertahun-tahun pengejaran itu dilakukan dan akhirnya, pada hari itu Klabangkoro melaporkan bahwa muridnya telah berhasil membunuh Ki Margono. Bahkan Ni Sawitri juga telah tewas membunuh diri! Semua kenangan itu muncul dalam ingatan Ki Sudibyo seperti nonton sandiwara. Berulang kali dia menghela napas.Sebetulnya, dia tiadak menghendaki terbunuhnya Ki Margono, apa lagi sampai Ni Sawitri membunuh diri pula. Akan tetapi perbuatan mereka berdua itu sungguh menyakitkan hatinya, memadamkan semua gairah hidup dan kegembiraannya,melenyapkan semua kebahagiaannya. Dan kini setelah kedua orang itu tewas, tidak ada sedikitpun kepuasan terasa di hatinya. Dia tidak menjadi bahagia karenanya, bahkan sebaliknya, dia menjadi semakin bersedih. Kalau dia teringat akan saat-saat mesra penuh kasih sayang bersama isterinya, walaupun hanya sekitar tiga empat bulan yaitu sejak mereka menikah, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, Dia amat mencintai Ni Sawitri dan menurut perasaannya, Ni Sawitri juga amat mencintainya. Mengapa lalu timbul persoalan dengan Ki Margono itu? Dia merasa menyesal sakali harus membunuh mereka. Penyesalan yang ditebusnya dengan kesehatannya yang makin memburuk. Hanya demi kepentingan perkumpulan Gagak Seto, Ki Sudibyo masih mau hidup dan berusah mengatasi gangguan kesehatannya untuik memimpin perkumpulan itu. Akan tetapi, semua urusan keluar dia serahkan kepada ua orang murid kepercayaannya, Yaitu Klabangkoro dan Mayangmurko. Kalau saja dia mempunyai pandangan siapa yang pantas menggantikan kedudukannya sebagai ketua Gagak Seto, tentu hatinya akan terasa tenang. Akan tetapi dia belum melihat adanya pengganti itu. Klabangkoro terlalu kasar, sedangkan Mayangmurko memiliki kecondongan untuk berbuat culas dan licik. Demikianlah, semenjak Klabangkoro memberitakan tentang kematian Margono dan Sawitri, kehidupan Ki Sudibyo seperti kosong dan tidak ada artinya lagi. Dia telah banyak mengurung diri di dalam kamarnya, bersamadhi. Usianya baru limapuluh tahun, akan tetapi rambutnya sudah putih semua dan wajahnya yang penuh keriputan mambuat dia nampak jauh lebih tua. Urusan Gagak Seto dia serahkan kepada Klabangkoro dan Mayangmurko. Sudibyo sama sekali tidak tahu bahwa setelah kini dia tidak lagi langsung memegang kemudi perkumpulannya,perkumpulan Gagak Seto mulai meninggalkan garis-garis yang telah di ditentukan.Tadinya, perkumpulan Gagak Seto adalah perkumpulan orang gagah yang di segani prkumpulan orang gagah lainnya, dan ditakuti gerombolan-gerombolan yang menyusahkan rakyat.Akan tetapi kini, tidak jarang anak buah Gagak Seto bahkan melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, mengambil milik orang yang kebetulan lewat dengan paksa, bahkan menculik wanita-wanita cantik. Bukan para anak buahnya saja yang melakukan perbuatan maksiat, bahkan dua orang pemimpin mereka, Klabangkoro dan Mayangmurko, menerima ketika ada pendekatan dilakukan para pimpinan perkumpulan Jambuka Sakti ( srigala sakti ), sebuah perkumpulan lama dan besar dari segerombolan penjahat yang terkenal buas dan kejam. Dan semua peristiwa yang terjadi di luar kamarnya ini sama sekali tidak diketahui oleh Ki Sudibyo yang hanya membiarkan dirinya tenggelam ke dalam duka nestapa. Tidak jauh dari perkampungan Gagak Seto, kurang lebih sepuluh kilometer jauhnya, terdapat sebuah air terjun yang airnya jernih sekali dan air terjun itu membentuk sebuah telaga kecil sebelum air mengalir menjadi anak sungai dan menuruni dusun di kaki bukit. Air terjun ini oleh rakyat setempat dinamakan Grojokan Kluwung (Air Terjun Pelangi )karena di situ sering muncul pelangi ketika uap air yang terjun ditembusi sinar matahari. Pada suatu hari yang sunyi, Ki Sudibyo meninggalkan pondoknya dan seperti orang yang kehilangan semangat akhirnya tibalah ia di tepi gerojokan kluwung itu. Sampi lama dia berdiri memandangi air yang terjun dan menimpa telaga dan dia membayangkan betapa dahulu, ketiak masih brepengantin, dia sering mandi di telaga itu bersama isterinya Ni Sawitri. Seolah ada sesuatu yang mendatangkan rasa nyaman di hatinya ketika dia berada di tempat itu dan sejak hari itu, kurang lebih dua tahun semenjak ia menerima berita tentang kematian isterinya, Ki Sudibyo menemukan tempat baru untuk menghibur hatinya. Hampir setiap hari dia pergi ke tempat itu dan duduk dekat air terjun, melamun dan menenggelamkan semangatnya bersama air yang terjun. Sudah lebih dari satu bulan Ki Sudibyo ssetiap hari pergi keair terjun itu, bahkan pernah dia bermalam di situ, duduk bersila setengah tidur di bawah pohon beringin yang tumbuh di dekat air terjun. Pada suatu pagi, ketiak dia sedang duduk melamun di bawah pohon, dua pasang mata mengintainya. Pandang kedua pasang mata itu buas dan tajam, dan ternyata itu adalah dua pasang mata milik dua orang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang sedang mengintai dari balik semak-semak. Dua orang laki-laki yang membawa keris telanjang di tangan dan kini setelah saling memberi isyarat dengan kedipan mata , keduanya bergerak perlahan menuju ke arah bawah pohon beringin di mana Ki Sudibyo masih duduk bersila. Setelah dekat, seorang yang matanya agak juling bergerak lebih dulu. Dengan tangan kanan memegang keris, dia melompat keluar dari balik semak-semak dan lari menghampiri Ki Sudibyo yang masih bersila dan seolah tidak tahu bahwa dirinya diserang orang.Akan tetapi tentu saja ketua Gagak Seto itu sudah tahu dari tadi. Seorang yang sudah dapat menangkap suaraning asepi (suara kesunyian )tentusaja suadh dapat membedakan suara yang tidak lajim dan Ki Sudibyo tadi sudah mendengar gerakan kedua orang ini ketika mengintai mendekatinya. Ketika si mata juling menubruk dan menyerangnya dari belakang, mengjunjamkan keris ke arah punggungnya Ki Sudibyo merendahkan tubuh dengan membungkuk sehingga serangan tusukan keris itupun luput. Dan ketiak tubuh orang itu terdorong hempir menabraknya, Ki Sudibyo cepat mengangkat tangan kanannya, menangkis lengan yang memegang keris dan sekali mengerahkan tenaga, tubuh si mata juling itu telah mencelat ke depan! Akan tetapi si mat juling kiranya bukian penjahat sembarangan. Tubuhnya yang terlontar itu membuat gerakn jungkir balik beberapa kali sehingga dia dapat turun ke atas kedua kakinya tidak sampai terbanting. Sementar itu orang ke dua juga sudah menubruk dengan kerisnya, Akan tetapi, Ki Sudibyo kini sudah siap siaga. Kaki yang tadinya di lipat bersila kini telah di bukanya dan sebelum penyerang itu mampu mendekat, kakinya sudah mencuat mengirim tendangan. Dukk! Orang yang kumisnya tebal itu menangkis tendangan dengan lengan kirinya, akan tetapi kekuatan tendang itu membuat dia terhuyung ke belakang. Kini Ki Sudibyo bangkit berdiri dengan tenang dia memandang ke kanan kiri, ke arah kedua orang penyerang itu. Dia tidak mengenal mereka, maka merasa heran mengapa mereka itu hendak membunuhnya. Ki sanak, kalian siapakah dan mengapa pula kalian menyerang saya tanpa sebab?tanyanya dengan suara yang tenang berwibawa. Dua orang itu melangkah maju dari kanan kiri dan memainkan keris dengan sigapnya. Melihat gerakan keris mereka, Ki Sudibyo sebagai seorang pendekar besar yang berpengalaman lalu tersenyum. Hemm, kalau tidak salah kalian ini tentu Sepasang Keris Maut dari Nusa Barung. Kabarnya kalian pembunuh bayaran yang mahal. Siapakah sekali ini yang menyuruh kalian membunuh aku, dan dengan bayaran berapa mahalnya? Ketua Gagak Seto, bersiaplah untuk mampus di tangan kami! Haiiiit..........! Si mata juling sudah menerjang pula dari kanan. Serangan mereka memang hebat sekali, gerakan mereka cepat dan keris yang menusukkan itu mengeluarkan bunyi mencicit tanda bahwa tangan yang menggerakkannya mengandung tenaga yang dasyat. Namun dengan sigap pula Ki Sudibyo telah siap siaga. Tidak lari dari serangan kanan kiri itu , akan tetapi setelah kedua penyerangnya tiba dekat, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya di kembangkan menendang ke kanan kiri. Duuuk! Dukk! Kedua kaki itu dengan tepatnya mengenai ulu hati kedua orang penyerang- nya sehingga dua orang itu terjengkang keras dan merasa dada mereka seperti ditumbuk alu besi dengan amat kuatnya. Dua orang itu ternyata kebal juga. Hanya sejenak mereka terjengkang dan terbanting terengah-engah akan tetapi mereka segera dapat bangkit kembali dan keduany menyerang lagi lebih buas. Ki Sudibyo tahu bahwa dua orang itu hanya menjalankan tugas demi mencari upah besar, maka diapun tidak ingin membunuh mereka. Ketika mereka datang dekat, dengan berapa langkah kaki saja dia telah membuat tusukan-tusukan keris mereka mengenai tempat kosong,kemudian kedua tangannya bergerak cepat sekali bagaikan sambaran kilat,ke arah kedua orang pengeroyoknya.Akan tetapi dia membatasi tenaganya, hanya kurang lebih seperempat bagian tenaga saja yang dia pergunakan, akan tetapi dia menampar dengan aji Hasta Bajra (Tangan Kilat). Ilmu pukulan hasta bajra ini merupakan ilmu simpanan yang ampuh dari Ki Sudibyo dan biarpunhanya sebagian kecil saja dari aji ini dipergunakan,akan tetapi ketika tampatannya mengenai muka kedua orang lawannya, mereka terpelanting keras dan mengaduh-aduh. Aduhhh.......tobatttt........!! keduanya merangkak bangun lalu melarikan diri tanpa berani menoleh pula. Ki Sudibyo menggosok kedua telapak tangannya yang mengandung hawa panas, lalu mengusap sedikit peluh dari lehernya dan duduk kembali bersila di dekat air mancur seolah tidak pernah terjadi sesuatu kepadanya. Akan tetapi setelah duduk bersila kembali, Ki Sudibyo mengatur pernapasannya. Makin yakinlah dia bahwa cara hidupnya yang terendam duka dan semenjak mendengar berita tentang tewasnya Sawitri mendatangkan pukulan yang amat hebat di dalam dadanya dan membuatnya lemah sekali.Kemudian teringatlah dia. Melihat tubuhnya yang lemah itu, agaknya dia tidak dapat mempertahankan nyawanya berusia panjang. Dia tidak memikirkan diri sendiri.Kematian bukan apa-apa baginya, bahkan membebaskannya dari pada duka. Akan tetapi yang dipikirkan adalah perkumpulan Gagak Seto. Siapa yang akan menggantikannya?Dia tidak mempunyai keturunan dan juga tidak ada seorangpun muridnya, pria maupun wanita, yang pantas untuk dijadikan penggantinya. Kalau Gagak Seto kelak dipimpin oleh seorang yang tidak luhur budinya, tentu akan berbahaya sekali dan dapat dibawa menyeleweng. Tiba-tiba, ada gerakan di seberang danau kecil itu menarik perhatiannya. Tadinya disangka seekor binatang yang bergerak di sana. Akan tetapi ketika dia mengamati, ternyata bukan binatang, melainkan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu berpakaian compang-camping. Tubuhnya hanya tertutup sehelai kain berkemben yang sudah roberk-robek, rambutnya yang panjang terurai lepas dan di bagian pundaknya kelihatan berlepotan darah.Usia anak itu sekitar sepuluh tahun.Jantung Ki Sudibyo berdebar tegang. Anak itu berada di tebing, di atas danau yang berada di depannya itu. Tidak kurang dari lima belas meter tingginya dan tebing-tebing itu8 penuh dengan batu-batu yang tajam. Anak itu kini merangkak-rangkak, sikapnya ketakutan seperti hendak melarikan diri dari suatu yang ditakutinya. Heiii, hati-hati, engkau bisa jatuh! teriak Ki Sudibyo. Akan tetapi peringatan itu terlambat sudah. Terdengar anak itu menjerit dan tubuhnya tergelincir jatuh ke bawah! Byuuurrr........!!! Air telaga muncrat ke atas dan tubuh anak perempuan itu tertelan lenyap. Celaka.........! Ki Sudibyo sudah cepat bangkit dan meloncat ketelaga, lalu berenang secepatnya ke arah jatuhnya anak tadi. Di situ dia menyelam dan tak lama kemudian dia sudah muncul kembali sambil mengangkat tubuh anak perempuan itu dengan sebelah tangannya, sedangkan sedangkan dengan kakinya dan sebelah tangannya dia cepat berenang ke tepi danau. Anak itu tidak terluka parah, keadaannya tidak berbahaya, hanya pingsan. Setelah dirawat sebentar, anak itu siuman lalu menangis ketakutan. Diamlah, nini, jangan menangis. Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku yang telah menolongmu dari dalam telaga tadi. Tenaglah. Anak itu memang tadinya menangis karena takut. Mendengar ucapan itu, ia berhenti me- nangis, menurunkan kedua tangan dari depan mukanya dan kini sepasang mata memandang wajah Ki Sudibyo baru melihat kenyataan bahwa anak perempuan ini cantik sekali. Kulitnya halus kuning, rambutnya panjang hitam subu, matanya bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora. Hidungnya kecil mancung, bibirnya mungil dan manis sekali, seperti wajah puteri bangsawan. Benarkah, paman? Engkau.......engkau bukan seperti mereka yang jahat. Mereka yang membunuh.....ayahku......? Gadis cilik itu agaknya baru teringat akan ayah ibunya. Ia lalu menangis memanggil-manggil nama ayah ibunya. Tenangkan hatimu, nini. Aku bukan orang jahat dan aku akan membantu ayah ibumu kalau mereka terancam bahaya. Apakah yang telah terjadi dengan ayah ibumu? Siapakah mereka dan di mana mereka sekarang? Kembali anak itu berhenti menangis dan kini memandang kepada Ki Sudibyo dengan sinar mata penuh permohonan dan harapan. Paman, namaku adalah Niken Sasi Ki Sudibyo mendengarkan sambil mengobati luka di pundak anak itu dengan daun picisan dan widoro upas, karena hanya dua macam rempa-rempa itu yang bisa didapatkan di situ. Akan tetapi obat ini cukup mujarap, menghentikan keluarnya darah dan mendatangkan rasa dingin sejuk pada bagian yang terluka. Akan tetapi ketika anak itu melanjutkan penuturannya. Ki Sudbyo makin tertarik, bahkan kini dia memandang dengan mata terbelalak. Ayahku adalah Raden Mas Rangsang dan ibuku Dewi Muntari dan kami tinggal di kota raja......... Ayahmu Raden Mas Ramsang, mantu sang Prabu? Tanya Ki Sudibyo dengan hati kaget bukan main. Anak itu mengangguk. Ayah dan ibu mengadakan tamasya di sekitar gunung Anjasmoro, diiringkan belasan orang pengawal. Akan tetapi di lerenga gunung kami diserang oleh puluhan orang penjahat.......aku melihat ayah roboh mandi darah.......dan ibu.......ibuku dilarikan penjahat..... Anak itu menangis lagi, teringat kepada orang tuanya. Jagat dewo Bathoro.....! Ki Sudibyo berseru. Siapa berani mengganggu keluarga kerajaan Daha? Gusti Puteri, bagimana hal itu bisa terjadi? Bukankah ada belasan orang pengawal yang melinduangi paduka sekeluarga? Entahlah, para pengawal itu juga memberikan perlawanan, akan tetapi mereka segera melarikan diri meninggalkan ayah seorang diri melawan penjahat. Akan tetapi sebelum itu, ibuku menyuruh aku melarikan diri. Aku turun naik jurang, tubuhku luka-luka, pernah aku terguling ke dalam jurang. Untung tidak sampai mati.....dan dan aku tiba di sini, tergelincir masuk danau .....untung ada andika yang menyelamatkan aku, paman. Jangan khawatir, Gusti Puteri Paduka akan hamba antarkan kembali ke kotaraja dan tentu keluarga kerajaan akan mengirim pasukan untuk mencari ibunda paduka dan...... Jangan.......! Ah, paman, kasihanilah aku, jangan bawa aku ke istana. Setelah ayah meninggal dan ibuku lenyap, aku tidak berani kembali ke istana. Jangan bawa aku ke sana, paman. Dan biarkan aku tinggal disini bersama paman .......!Anak itu memegang tangan Ki Sudibyo dengan tangan gemetar ketakutan. Ki Sudibyo memandang heran. Harap paduka jangan takut, tidak akan ada orang yang berani mengganggu paduka, selama ada hamba di sini. Gusti puteri. Tidak, biarkan aku mati saja menyusul ayahku kalau engkau akan mengantar akau kembali ke istana! Tentu saja Ki Sudibyo terkejut dan heran bukan main. Seorang cucu Sang Prabu Jayabaya tidak mau diantar kembali ke istana! Sungguh aneh sekali. Akan tetapi kenapa, Gusti? Kenapa paduka tidak mau kembali ke istana ? Di sana tempat orang-orang jahat yang membenciku, yang membenci kami. Tidak, aku lebih senang tinggal di sini bersamamu, paman. Boleh, ya, paman Boleh , Ya? Suara anak itu demikian merengek manja sehingga Ki Sudibyo merasa tidak tega untuk membantah. Dn harap jangan sebut aku gusti puteri, jangan memberitahu kepada siapapun juga bahwa aku adalah cucu Eyang Prabu. Paman, aku ingin ikut paman, menjadi anak dusun biasa. Ki Sudibyo mengangguk-angguk. Tentu anak itu mempunyai alasan kuat sekali mengapa me- ngajukan permintaan aneh itu. Biarlah untuk sementara dia tidak membantah karena anak ini agaknya menalami guncangan batin yang hebat. Baiklah, Niken Sasi, mari engkau kuantar pulang dulu. Engkau perlu beristirahat di rumah kami dan aku akan mencoba mencari ibumu. Karena anak ini masih gemetar tubuhnya dan masih amat lemah, Ki Sudibyo lalu memon- dongnya dan membawanya pulang. Tentu saja para anggota dan murid Gagaki Seto merasa heran bukan main melihat ketua mereka pulang sambil memondong seorang anak perempuan yang agaknya pingsan atau tidur dalam pondongannya. Anak ini terpisah dari orang tuanya dan terjatuh ke dalam telaga. Coba tolong memberi kain kering kepadanya. Ktanya kepada beberapa orang murid wanita.Anak itu segera dibaringkan ke atas dipan dan mendapat perawatan para murid wanita. Setelah Niken Sasi terbangun. Ki Sudibyo berkata dengan lembut kepadanya. Niken Sasi, engkau istirahat dulu bersama para muridku. Engkau akan aman di sini. Aku akan mencoba mencari ibumu. Anak perempuan itu mengangguk-angguk, memandang kepada empat wanita yang gagah yang berada di situ, lalu memegang tangan KI Sudibyo. Paman, janagn lama-lama, ya paman. Aku.........aku takut kalau ditinggal paman............ Ki Sudibyo merasa hatinya tertusuk rasa haru. Gadis cilik ini agaknya jarang mendapatkan kasih sayang orang sehingga ia takut menghadapi orang-orang yang belum di kenalnya. Gadis itu percaya kepadanya karena sudah terbukti tadi bahwa dia menolongnya. Jangan khawatir, Niken Sasi. Aku pergi takkan lama,dan tidak ada seorangpun di sini yang berani mengganggumu. katanya sambil mengelus rambut kepala anak itu. Niken Sasi memandang kepadanya dengan mata yang bersinar-sinar kemudian mengangguk dengan punuh kepasrahan dan kepercayaan. Ki Sudibyo melupakan keadaan tubuhnya yang tidak sehat, bahkan ketika dia menuruni lereng bukit Anjas noro, dia merasakan sesuatu kegembiraan baru dalam hatinya. Dia seolah merasa seperti dahulu, di waktu kedukaan belum melanda hatinya, di waktu dia masih belum jatuh hati kepada Ni Sawitri, masih menjadi seorang pendekar yang suka melakukan perjalanan merantau seorang diri, menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadailan. Dengan melakukan perjalanan cepat, sambil berlari cepat, akhirnya tibalah dia di tempat yang diceritakan Niken Sasi tadi, di atas sebuah diantara lereng-lereng gunung Anjasmoro. Dan tidak sukar baginya menemukan jenazah ayah anak perempuan itu. Hanya ada satu saja jenazah menggeletak di situ, maka tidak ragu lagi bahwa ini tentunya jenazah Raden Mas Ramsang, mantu Sang Prabu Jayabaya di daha. Seorang laki-laki yang tampan dan matinya juga gagah, dengan tubuh penuh luka.Dia merasa heran sekali bagaimana bangsawan muda ini dapat mati dikeroyok sedangkan para pengawalnya yang belasan orang banyaknya itu tidak seorangpun tewas. Dan mengapa pula para pengawal yang melarikan diri itu lupa menyingkirkan jenazah bangsawan itu? Melihat jenazah orang muda itu menggeletak di tempat sunyi, Ki Sudibyo merasa iba. Kalau tidak diurusnya jenazah itu, tentu akan membusuk atau dimakan binatang buas. Dia lalu menggali lubang di bawah pohon kenanga, dan dikuburnya jenazah itu dengan sederhana. Kemudian, dia meletakkan sebuah batu sebesar gentong di atas kuburan sebagai tanda kalau-kalau kelak puteri Raden Mas Rangsang itu akan mencari kuburan ayahnya. Setelah selesai mengubur jenazah Raden Mas Rangsang dan hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap gerakan orang. Ki Sudibyo berdiri tegak dengan kaki terpentang. Dia tadi menanggalkan bajunya ketika menggali lubang dan menguburkan jenazah itu, dan kini bajunya itu masih belum dipakainya kembali, masih tergantung di pundak kirinya.Dia hanya memakai celana hitam sebatas lutut dan kain yang dipakainya dicincangkan ke atas. Rambut yang panjang dan bercampur putih itu diikatnya dengan kain hitam pula dan selebihnya, badannya tidak mengenakan pakaian lain. Tubuh itu nampak jangkung dan agak kurus, namun ketika di berdiri, dai nampak kokoh dan anggun penuh wibawa. Keris pusaka Sang Megantoro terselip di ikat pinggangnya. Tubuhnya yang berdiri tegak itu sama sekali tidak bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak perlahan, melirik ke kanan kiri penuh kewaspadaan. Dia bagaikan Sang Bima sena sedang menghadapi bahaya, begitu tenang, santai penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Tak lama kemudian nampak bermunculan belasan orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan mereka memegang sebatang golok telanjang yang berkilauan saking tajamnya. Bentuk golok ini semua sama, melengkung dan gagangnya terukir kepala anjing srigala, dengan ronce merah sebagai lidah kepala srigala itu. Dengan sikap beringas dan penuh ancaman, tigabelas orang itu sudah mengepung dan mengitari kI Sudibyo. Keparatterdengar Ki Sudibyo berkata dengan suaranya yang dalam parau dan berpengaruh. Gerombolan anjing dari mana berani mengacau daerah Anjasmoro yang di kuasai Gagak Seto? Tigabelas orang itu, seperti menanti sebuah komando,tertawa bergelak mendengar ucapan Ki Sudibyo itu. Dan berkat dengan suara garang.Bagus Ki Sudibyo. Engkau hendak menggertak kami dengan dengan nama Gagak Seto yang sebentar lagi akan kami hancurkan? Kami memang membiarkan engkau mengburkan jenazah itu, setelah itu engkau sendiri yang akan menggantikan jenazah itu, menggeletak di sini menanti datangnya binatang buas yang akan memangsamu, ha-ha-ha! Wajah Ki Sudibyo menjadi merah karena marahnya. Bukankah kalian ini anak buah kelom- pok Jembuka Sakti (Srigala Sakti) dari Lereng Bromo? Setahuku ketua kalian, Brotokeling, tidak pernah memusuhi Gagak Seto! Apa yang kalian kehendaki? Kami menghendaki nyawamubentak tigabelas orang itu dan mereka sudah menerjang maju dari segala jurusan, menyerang dengan golok mereka. Ki Sudibyo merasa heran, akan tetapi juga marah sekali. Baru saja, dia juga diserang oleh dua orang yang dikenalnya sebagai Sepasang Keris Maut dari Nusa barung, diserang tanpa sebab oleh dua orang tokoh yang dikenalnya sebagai pembunuh-pembunuh bayaran itu. Jelasa ada orang yang menghendaki kematiannya dan kenyewa dua orang itu. Untung dia dapat menandingi mereka dan membuat mereka melarikan diri. Dan sekarang tahu-tahu geroembolan. Jambuka Sakti dari lereng Bromo mengepung dan menyerangnya. Padahal, walaupun mungkin ketua mereka , Brotokeling yang terkenal jagoan, menganggap dia sebagai saingan. Dia tidak pernah bergaul dengan kelompok seperti Jambuka Sakti itu, karena dia tahu bahwa perkumpulan itu adalh perkumpulan para penjahat yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan. Akan tetapi, biarpun jalan mereka bersimpang, KI Sudibyo merasa belum pernah bentrok dengan mereka. Melihat gerakan tigabelas orang itu ketika memainkan golok, diam-diam Ki Sudibyo terkejut. Ternyat bukan anak buah rendahan yang datang menyerangnya, tentu merupakan murid-murid pilihan karena gerakan golok mereka cukup tangkas, cepat dan bertenaga sehingga terdengar suara berdesing berbisik ketika mereka semua menggerakkan golok. Tiga batang golok menyerang dari arah belakang. Ki Sudibyo menggerakkan tangan kirinya yang memegang baju hitamnya sambil memutar tubuh. Baju itu terkembang dan dan menangkis tiga batang golok. Para penyerang itu terkejut bukan main karena tangkisan baju itu membuat golok mereka terpental dan kalau mereka tidak cepat melompat ke belakang, tentu mereka akan kena hantaman baju yang ketika digerakkan oleh Ki Sudibyo berubah menjadi senjata yang amat kuat. Belasan orang itu menjadi marah dan menyerang serentak. Ki Sudibyo maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya, maka sambil memutar baju hitamnya dengan tangan kiri, diapun mencabut keris pusakanya. Ketika dia menggerakkan keris, nampak seperti ada awan aatau uap putih menyambar dan terdengar pekik seorang pengeroyok yang roboh dengan tangan berdarah. Kiranya Goloknya tadi patah dan terlempar ketika bertemu dengan keris dan tangannyapun terluka. KI Sudibyo terus mengamuk dengankeris. Sepak terjangnya mengerikan sekali. Dia seperti Bimasena mengamuk dengan Pancanaka-nya. Setiap kali ada kilatan keris Megantoro menyambar, tentu ada seorang pengeroyok yang roboh! Dalam waktu tak lama, sudah ada enam orang pengeroyok yang roboh, baik oleh kerisnya, maupun hantaman baju hitamnya. Para pengeroyok itu agaknya maklum bahwa mereka tidak akan menang, maka sambil menyeret tubuh kawan-kawan yang terluka merekapun melarikan diri dari situ. Ki Sudibyo masih berdiri tegak membiarkan mereka pergi melarikan diri.Tubuhnya mengkilap oleh keringat dan biarpun nampaknya dia tenag saja akan tetapi dari dadanya yang kembang kempis, perutanya yang naik turun dapat diketahui bahwa pendekar perkasa ini terengah-engah melalui hidungnya. Dia memejamkan kedua matanya dan setelah pernapasannya biasa kembali, barulah dia mengebut-ngebutkan bajunya dan mengenakan baju itu setelah menempelkan keris pada dahi dan dadanya lalu menyarungkannya. Dia menahan rasa nyeri pada dadanya. Aku harus menjauhkan diri dari perkelahian, pikirnya. Kalau dia bertemu dan bertanding dengan lawan tangguh, dia bisa celaka. Padahal dalam keadaan biasa belasan orang tadi sama sekali tidak ada arti baginya. Tubuhnya lemah sekali. Setiap kali mengerahkan tenaga sakti, tentu dadanya terasa nyeri dan pernapasannya memburu dan tertekan. Akan tetapi Ki Sudibyo masih mempertahankan diri dan dia melanjutkan usahanya mencari Dewi Muntari, ibu Niken Sasiyang menurut anak perempuan itu katanya ditangkap dan dialrikan diri penjahat. Akan tetapi sampai hari menjadi sore, dia tidak berhasil menemukan jejak wanita itu. Apakah Dewi Muntari ditangkap oleh gerombolan Jambul Sakti? Aku akan mengirim utusan dan minta dengan hormat kepada Ki Brotokeling agar membebaskannya, kalau benar wanita itu ditawannya. Tentu Brotokeling masih mau memandang kepadanya untuk memnuhi permintaannya. Kalau permintaannya ditolak, hemm, bagaimana nanti sajalah. Akhirnya dia kembali ke Anjasmoro. Kalau menuruti kata hatinya, andaikat dia seperti dahulu yang berwatak penuh semangat dan tubuhnnya tidak selemah ini, dia tentu langsung saja pergi mengunjungi Brotokeling dilereng Bromo! Setibanya di Anjasmoro, dia disambut oleh Niken Sasi yang berlari keluar menyambutnya. Diam-diam Ki Sudibyo kagum sekali. Anak itu kini sudah penuh semangat, tidak seperti ketika ditinggalkan. Ia sudah meniru dandanan para murid Gagak Seto, ringkas dengan celana, kain dan baju hitam, rambutnya diikat sutera merah. Nampak cantik manis dan gagah sekali. Paman, bagaimana, paman? Sudahkah paman dapat menemukan ibuku? Ki Sudibyo memegang tangan kanan anak itu dan hatinya sendiri merasa tertegun.Kenapa jantungnya berdebar begini tegang dan mengapa ada perasaan gembira dan bahagia menyelinap di hatinya ketiak melihat anak itu datang menyambutnya dan ketika tanganya memgang dan menggandeng tangan kecil itu? Dia menarik Niken Sasi ke dalam rumah sambil berkata singkat, Niken mari kita bicara di dalam. Anak ini rupanya cerdik pula. I teringat bahwa ia ingin menyembunyikan siapa dirinya yang sebetulnya, oleh karena itu, iapun tidak bertanya lagi dan mengikuti ketua Gagak Seto itu masuk ke ruangan dalam. Setelah tiba di ruanan dalam, kI Sudibyo membiarkan para muridnya yang bertugas melayaninya, menyediakan minum dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, dia lalu memberi isyarat kepada mereka untuk meninggalkan dia berdua saja dengan Niken Sasi. Niken Sasi, aku telah menemukan jenazah ayahmu dan telah menguburkannya dengan baik. Kuberi tanda dengan batu agar kelak engkau dapat mencari kuburan ayahmu itu. Pendekar itu lalu diam biarpun dia maklum betapa anak itu menanti kelanjutan ceritanya, terutama mengenai ibunya. Setelah agak lama Ki Sudibyo berdiam diri, Niken lalu bertanya dengan suara yang bening. Dan bagaimana dengan ibuku, paman ? Sudahkah paman menemukannya dan bagimana keadaan ibuku? Ki Sudibyo menghela napas panjang lalu memandang kepada anak itu dan menggeleng kepalanya. Sayang sekali aku tidak berhasil menemukan jejak ibumu, Niken. Dia melihat betapa sinar penuh duka dan kecewa menyelubungi pandangan mata nak itu, maka dia cepat berkat, Akan tetapi jangan putus asa dan jangan khawatir, Niken. Sekarang juga aku akan mengutus anak buahku untuk mencari di seluruh pelosok Anjasmoro ini. Mudah-mudahan saja anak buahku akan berhasil menemukan ibumu. Ah, terima kasih, paman! kata Niken dengan girang. Aku telah menyusahkan paman. Aku hanya ingin memperoleh kepastian tentang keadaan ibuku paman. Aku mengerti, Niken. Ki Sudibyo segera bertepuk tangan dan dua orang muridnya muncul.Panggil Klabangkoro dan Mayangmurko ke sini. Murid-murid wanita itu keluar dan taklama kemudian muncullah dua orang laki-laki yang selain menjadi murid juga menjadi wakil ketua itu selama bertahun-tahun ini. Selain orang-orang muda dari dusun yang masuk menjadi murid Gagak Seto mempelajari ilmu kanuragan juga terdapat banyak sekali gerombolan penjahat yang telah ditaklukan Gagak Seto kemudian menggabungkan diri dengan perkumpulan ini setelah bersumpah untuk mengubah jalan hidup mereka.Di antara para gerombolan itu terdapat Klabangkoro dan Mayangmurko ini. Dan Ki Sudibyo merasa puas melihat keduanya karena selama ini memperlihatkan sikap yang baik, taat dan setia kepadanya. Karena itu, mengingat bahwa di antara para muridnya, kedua orang ini yang paling tangguh ilmunya, dia mengangkat keduanya menjadi wakilnya. Setelah dua orang itu masuk ke ruangan itu, mereka memberi hormat kepada Ki Sudibyo dan Klabangkoro bertanya, bapa guru memanggil kami? Ada petunjuk apakah, Bapa guru? Klabangkoro dan Mayangmurko, engkau bawalah anak buah secukupnya dan carilah seorang wanita, ibu anak ini yang kabarnya ditangkap penjahat. Carilah ia sampai ketemu atau setidaknya sampai mendengar di mana ia berada dan bagaimana keadaan. Juga, perlu kalian ke lereng Bromo, menemui Ki Brotokeling. Ki Brotokeling ketua Jambuka Sakti, Bapa guru? Klabangkoro bertaya dan matanya yang lebar itu terbelalak. Benar. Kalian pergilah menghadap Brotokeling dan berikan suratku kepadanya, minta balasan. Baik, Bapa guru. Kapan kami berdua berangkat? Sekarang juga. Bawa perbekalan secukupnya. Dua orang pembantu itu memberi hormat dan keluar dari rumah itu untuk melaksanakan tugas mereka. Setelah kedua orang itu pergi Ki Sudibyo menoleh kepada Niken Sasi sambil tersenyum. Nah, engkau mendengar sendiri . Niken .Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencari ibummu. Niken Sasi tiba-tiba berlutut dan menyembah kepada pendekar itu. Ki Sudibyo terkejut sekali dan cepat-cepat dia mengangkat anak itu bangun. Anak perempuan itu adalah seorang puteri cucu Sang Prabu Jayabaya, bagaimana boleh menyembahnya? Ahhh, Niken! Apa yang kau lakukan ini? Engkau tidak boleh memberi hormat seperti itu kepadaku. Ingat, engkau seorang puteri! Paman. Harap jangan sebut itu lagi. Paman sudah berjanji akan merahasiakan asal-usul dariku. kata anak itu memperingatkan. Biarlah aku menjadi muridmu, paman. Perkenankan aku menyebut paman sebagai bapa guru,seperti para kakak yang berada di sini. Aku ingin mempelajari ilmu kanuragan agar kelak kemudian hari aku dapat..... Membalas dendam? Ki Sudibyo menyambung. Tidak, Bapa. Membalas kepad siapa ? Aku akan mempergunakan kepandaianku untuk menentang para penjahat, membela kaum lemah tertindas, mempertahankan kebenaran dan keadilan! Sudibyo tersenyum. Dia memang sudah merasa suka sekali kepada anak perempuan ini. Merasa iba dan juga kagum dan dua perasaan ini berkembang menjadi rasa kasih sayang. Kemudian dia teringat. Sudah lama dia merindukan seorang murid yang baik, seorang murid yang dapat dia wariskan seluruh ilmunya, seorang murid yang kelak akan menggantikan dia memimpin Gagak Seto, yang akan mengangkat tinggi namanya dan nama Gagak Seto. Mengapa tidak? Agaknya Niken Sasi memiliki bakat yang baik dan anak ini memiliki ketabahan, keberanian dan semangat. Hal ini tidak mengherankan karena di dalam tubuhnya masih mengalir darah bangsawan tinggi, tarahing kusumo rembesing madu. Keturunan Sang Prabu Jayabaya, seorang raja yang sakti mandraguna dan arif bijaksana. Tentun saja keturunannya, biarpun wanita, bukan orang biasa! Baiklah, Nini! Baiklah, dengan bangga dan girang sekali aku menerima permintaanmu dan mulai saat ini, engkau menjadi muridku! Engkau rajinlah belajar dan bersiaplah, niken, karena aku, gurumu akan mengajarkan semua ilmu yang kukuasai kepadamu, yang tak pernah kuajarkan kepada murid lain. Akan tetapi, ada satu hal yang ingin sekali kuketahui. Mengapa engkau tidak ingin kembali ke istana, di mana terdapat keluarga istana ,keluargamu? Padahal, semestinya, aku membawamu ke istana dan di sana engkau akan diteriam dengan baik, bahkan Gusti Prabu tentu akan berusaha mencari ibumu. Nah ceritakanlah kenapa engkau hendak menyembunyikan dirimu dan tidak ingin kembali ke istana ? Anak itu mengerutkan alisnya, menghela napas beberapa kali kemudian berkata, Sebetulnya tidak baik aku menceritakan semua ini kepadamu, paman. Akan tetapi kalau tidak aku ceritakan tentu paman bertanya-tanya. Baiklah, terus terang saja aku benci hidup di dalam istana, paman! Eh, kenapa? Bukankah eyangmu Sang Prabu Jayabaya adalah seorang raja yang agung biantara dan sakti mandraguna, juga arif bijaksana? Memang benar, akan tetapi beliau selalu sibuk dengan pekerjaan dan dikelilingi oleh para penjilat yang kesemuanya memakai bermacam-macam kedok. Ehh?, Memakai kedok? Benar, paman. Memang tidak ada yang melihatnya kecuali aku. Aku melihatnya betapa muka mereka selau dipasangi kedok kalau mereka menghadap Eyang Prabu. Dan dengan kedok itu mereka bersikap manis dan baik, dan bermuka-muka menjilat-jilat. Kautahu, paman, di istana aku selalu menerima penghinaan dan cemohan. Aku dikatakan gadis dusun, darah petani sama sekali tidak mempunyai darah bangsawan. Katanya, eyang puteri hanya anak pendeta, sedangkan ayahku juga hanya seorang biasa, bukan bangsawan, hanya seorang perwira muda yang karena jasa-jasanya lalu dinikahkan dengan ibuku. Katanya aku bocah dusun. Tidak, aku tidak sudi kembali ke istana. Bahkan sebelum meninggal dunia, ayah seringkali bicara dengan ibu tentang keinginannya pindah keluar istana. Aku lebih suka di isni, menjadi gadis petani, paman. Ki Sudibyo menghela napas panjang. Gadis ini masih kecil akan tetapi sudah mempunyai perasaan yang halus, memiliki harga diri yang tinggi dan dia pun diam-diam terkejut, tidak mengira bahwa di dalam istana, di mana tinggal keluarga bangsawan tertinggi yang penuh dengan tata-susila dan kebudayaan, ternyata terdapat perasaan iri hati dan persaingan, bahkan seperti kata Niken Sasi, menjadi sarangnya para penjilat yang memakai topeng palsu! Dan murid barunya ini, Niken Sasi yang baru berusia sepuluh tahun, ternyata telah mampu melihat topeng-topeng palsu yang dipakai manusia. Hal ini sungguh merupakan suatu kewaspadaan yang luar biasa bagi seorang anak sekecil itu. Maka mulai hari itu dia menggembleng anak itu dengan penuh kesunguhan hati, dengan tekun dan rahasia sehingga para murid lain tidak tahu bahwa baru sekali ini guru mereka menurunkan ilmu-ilmunya yang hebat ke-pada seorang murid. Karena mengira bahwa Niken sasi juga hanya menerima pelajaran ilmu kanuragan seperti yang mereka pelajari pula, maka bahkan Klabangkoro dan Mayangmurko tidak terlalu memperdulikan bocah itu. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Dewi Muntari, isteri Raden Mas Rangsang dan ibu Niken Sasi itu? Dewi Muntari adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik jelita dan nampak jauh lebih muda dari usia yang sebnarnya. Bagaikan buah, ia sedang masak-masaknya. Wajahnya yang bulat telur itu berdagu runcing manis. Kulit nya putih kemerahan seperti kulit bayi. Rambutnya hitam lebat dan panjang iakl mayang, ngandan-andan. Alisnya hitam kecil melengkung menjaga sepasang mata yang pandanganya sayu, sepasang mata yang jeli dan kedua ujung pelupuk mata agak menjungkat ke atas sehingga mata itu nampak indah menggairahkan. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya juga kecil, lebar sedikit saja dari hidungnya, dengan bibir yang selalu segar merah basah. Sungguh Dewi Muntari adalah seorang wanita muda yang cantik jelita. Kecantikan selalu mendatangkan berkah.Sejak masih perawan tanggung, Dewi Muntari sudah menderita karena kecantikan wajahnya. Para puteri istana lainnya merasa iri hati kepadanya. Padahal Dewi Muntari berwatak baik, rendah hati dan juga pandai membawa diri.Iapun menyadari bahwa dari pihak ibu, ia hanyalah keturunan sorang pertapa sederhana yang hidup melarat di puncak gunung.Ibu kandungnya puteri seorang pertapa, bahkan ibunya tidak sempat diboyong sebagai selir oleh Sang Prabu Jayabaya. Ibunya telah meninggal dunia di tempat pertapaan kakeknya, dan ketika dia berusia limabelas tahun, ia diantar kakeknya menghadap Sang Prabu Jayabaya. Ia lalau diakui oleh Sribaginda dan mulai saat itulah ia hidup di istana sebagai puteri raja. Akan tetapi, hal ini mendatangkan iri dalam hati para puteri lainnya. Apa lagi Dewi Muntari demikian cantik sehingga hampir semua pria muda di lingkungan istana memuji-muji kecantikannya. Empat tahun saja Muntari hidup sebagai puteri raja. Seorang perwira muda bernama Rangsang berjasa membasmi gerombolan pengacau di sebelah barat kota raja. Ramsang menerima anugerah dan di jodohkan dengan Dewi Muntari. Hal inipun merupakan hasil siasat para saingan Muntari yang melalui penasihat raja melaksanakan dendamnya kepada Muntari agar gadis ini menikah dengan Ramsang dan tidak lagi menjadi saingan dalam istana! Dewi Muntari adalah seorang puteri yang setia dan taaat kepada Sribaginda Raja. Ia sama sekali tidak memperlihatkan sikap menentang ketika soal perjodohan disampaikan padanya. Ia percaya sepenuhnya kepada ayahnya dan ia yakin tentu selalu ayahnyamenghendaki hal yang terbaik baginya. Dan kenyataannya memang demikianlah. Ternyata suaminya yang kini mendapat sebutan Raden Mas Rangsang itu adalah seorang pemuda yang baik hati, berwajah tampan dan gagah perkasa. Pendeknya seorang satria sejati! Dengan mudah Muntari dapat jatuh cinta kepada suaminya dan mereka hidup berbahagia. Sang Prabu Jayabaya yang suka menyayang Muntari kerena puterinya ini sudah kehilangan ibu dan sejak kecil hidup sebagai bocah petani di pegunungan, menahan puterinya itu dan membolehkan menempati beberapa ruangan di dalam istana bersama suaminya. Suami isteri yang saling mencintai itu setahun kemudian mendapatkan seorang anak perempuan yang mereka beri nama Niken Sasi. Penderitaan yang dirasakan Dewi Muntari karena kecantikannya, ternyata dirasakan pula oleh Niken Sasi yang sejak kecil sudah dapat merasakan hal ini. Anak yang mungil ini disayang oleh kakeknya, dan banyak pula yang menyayangnya, dan hal ini mendatangkan rasa iri dan dengki kepada mereka yang membenci Dewi Muntari. Inilah sebabnya Niken Sasi merasa tidak kerasan tinggal di dalam istana. Ia seringkali mendapat makian dan ejekan yang menghina dari para puteri lain. Dewi Muntari memang merencanakan untuk pindah dan meninggalkan istana, akan tetapi rencana ini tidak pernah dapat terlaksana karena Sang Prabu Jayabaya menyayang keluarga ini dan menahannya. Suami isteri ini tentu saja tidak berani berterus terang kepada Sang Prabu Jayabaya tentang permusuhan yang mereka hadapi, karena pelaporan seperti ini akan mendatangkan kesan buruk kepada mereka sendiri. Demikianlah, uantuk menghibur hati mereka ketika Niken Sasi sudah berusia sepuluh tahun, Raden Mas Rangsang mohon ijin kepada Sang Prabu Jayabaya untuk berpesiar bersama anak isterinya. Dia diijinkan dan disuruh membawa pasukan pengawal. Akan tetapi, agar tidak menimbulkan iri kepada pangeran lainnya yang juga memandang rendah kepadanya, Raden Mas Ramsang hanya membawa duabelas orang perajurit pengawal. Ketika pada pagi hari itu mereka tiba di penggunungan Anjasmoro, mereka menikmati keindahan gunung itu. Tiba-tiba bermunculan puluhan orang. Tidak kurang dari lima puluh orang mengepung mereka dan tanpa banyak cakap lagi mereka menyerang Raden Mas Ramsang. Tentu saja panglima muda ini mengamuk untuk mempertahankan diri dan membela anak isterinya. Juga selosin orang pengawalnya nampak menyambut serangan puluhan orang itu. Mungkin karena terdesak oleh jumlah lawan yang jauh lebih banyak, dua belas perajurit dah inipun mundur dan akhirnya melarikan diri. Tinggal Raden Mas Rangsang yang masih mengamuk dengan kerisnya. Hebat memang sepak terjang panglima muda ini. Bagaikan seekor singa yang membela anak isterinya dia berloncatan dan berkelebatan dengan cepat dan tangkas. Tidak kurang dari sepuluh orang sudah roboh terkena tikaman kerisnya, hantaman tangan kirinya atau tendangan kakinya. Akan tetapi, betapapun kuatnya, dia hanya seorang diri. Bagaimana mungkin dapat melawan puluhan orang lawan yang kesemuanya jelas merupakan orang yang sudah biasa berkelahi? Raden Mas Ramsang yang telah mendapat beberapa luka di tubuhnya, meneriaki isterinya agar membawa lari Niken Sasi. Dajeng, larilah! Bawa anak kita berlari.........! Dia berteriak, akan tetapi terpelanting ketika sebatang golok menyerempet pundak kirinya. Kakangmas......... ! Dewi Muntari menjerit melihat suaminya roboh. Ia mendorong punggung puterinya. Niken larilah! Cepat!! Didorong sampai terhuyung oleh ibunya dan mendengar ibunya berteriak agar ia melarikan diri, Niken Sasi yang biasanya taat kepada ibunya itu, kini menanatinya dan larinya anak inipun menantinya, dan larilah anak ini tunggang langgang. Sang ibu, bagaikan seekor singa betina, menerjang ke depan dengan sebatang keris kecil. Dengan kerisnya itu ia berhasil merobohkan dua orang pengeroyok. Akan tetapi tusukan kerisnya yang kedua itu terselip di antara tualang iga lawan dan sukar dicabutnya kembali, dan pada saat itu , sebuah tangan yang besar menangkap pergelangan tangannya, memutar pergelangan tangan itu sehingga ia terpaksa melepaskan kerisnya. Pada saat itu, tubuhnya sudah ditelikung dan dipondong seorang pria tinggi besar yang tertawa bergelak sambil memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Raden Mas Ramsang. Biarpun luka-luka di tubuhnya sudah membuat dia mandi darah tenaganya hampir habis, akan tetapi melihat isterinya dipondong seorang penjahat, Raden Mas Ramsang mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau dan diapun melompat maju untuk menyerang Si tinggi besar yang memondong isterinya. Akan tetapi dia disambut oleh lima orang yang menggerakkan golok mereka. Kerisnya dapat merobohkan seorang lawan, akan tetapi dia sendiri roboh dengan dada dan leher robek-robek! Kakangmas..............!! Dewi Muntari terkulai lemas dalam pondongan penawannya, pingsan karena duka dan ngeri melihat kematian suaminya. Gerombolan itu meninggalkan tempat itu sambil membawa teman-teman mereka yang terluka atau tewas, dan meninggalkan mayat Raden Mas Ramsang menggeletak di tempat yang kembali menjadi sunyi. Yang memondong tubuh Dewi Muntari adalah pimpinan rombongan, seorang raksasa ber- muka penuh bopeng yang tubuhnya kuat sekali. Mereka menuju ke balik bukit dan Dewi Muntari mulai siuman dari pingsannya. Ia menggeliat dan ketiak mendapatkan dirinya dalam pondongan lengan yang besar itu, ia terkejut dan segera teringat akan segala yang telah terjadi. Cepat ia mengepal tangannya dan menghantam ke arah leher orang yang memondongnya. Wuuuttt.......plakk.......!! Pukulan itu cukup kuat dan si raksasa bopeng terkejut bukan main,lehernya terasa nyeri dan terpaksa ia melepaskan wanita itu. Dewi Muntari sudah meloncat ke atas tanah dan biarpun ia sudah tidak memegang senjata, ia bertekat melakukan perlawanan sampai mati. Ia berdiri tegak. Kedua tangan terkepal dan siap melakukan bela diri. Ha-ha-ha.Kakang Blendu, engkau kena sepak kuda betina itu?. Ha-ha-ha! Yang menertawakan itu adalah seorang pria jangkung bermuka pucat, yang merupakan pembantu atau wakil dari Ki Blendu, pimpinan gerombolan itu. Hushh, jangan mengejek kau! Bentak Ki Blendu dengan suara geram dan dia mengusap-usap leher yang terpukul tadi. Kulitnya kebal dan tebal seperti kulit badak, dan biarpun pukulan yang dilakukan Dewi Muntari tadi mengandung kekuatan dan hawa sakti, namun hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit, sama sekali tidak melukainya. Setelah mengusap lehernya, Ki Blendu melangkah maju menghadapi Dewi Muntari dan dia tertawa. Tawanya sampai mengakak menyeramkan dan Dewi Muntari bergidik. Orang ini seperti bukan manusia, pikirnya. Mukanya penuh bopeng yang besar-besar, seperti kulit salak, dan matanya begitu besar seperti mendelik terus, hidung dan mulutnya juga besar. Otot melingkar-lingkar di seluruh tubuh pria ini yang usiany tentu tidak kurang dari empat puluh tahun. Hua-ha-ha-ha, bojleng-bojleng iblis laknat! Setiap mawar yang harum tentu mengandung duri ! Akan tetapi tamparanmu tadi bagiku seperti dipijat, wong ayu ! Terasa hangat,nyaman dan enak! Mari mari manis, mari kupondong lagi. Tak lama lagi kita kan sampai di tempat tinggalku dan engkau akan menjadi isteriku yang tersayang, terkasih, ha-ha-ha-ha! Keparat jahanam! Engkau kejam, engkau tidak berprikemanusiaan. Kalian mengeroyok dan membunuh suamiku Raden Mas Rangsang dan engkau hendak menagkap aku! Padahal di antara kita belum pernah saling mengenal atau ada urusan kenapa engkau bertindak begini kejam kepada kami? Ha-ha-ha, jangan salah mengerti, wong ayu. Aku, Ki Blendu, sama sekali tidak kejam, bah- kan amat menyayang wanita cantik jelita seperti andinda. Kami hanya menjadi orang-orang suruhan manis. Bukan kami yang bermaksud memusuhi keluargamu. Semua ini adalah untuk memnuhi keinginan Gusti Pangeran Panjiluwih. Ha-ha-ha-ha ! Ki Blendu merasa aman membuka rahasianya itu karena Raden Mas Rangsang kini telah terbunuh dan isterinya kini sudah berada di tangannya. Wajah Dewi Muntari menjadi pucat sekali dan kedua matanya terbelalak, tangan kirinya diangkat ke depan mulutnya yang ternganga saking terkejut dan herannya mendengar pengakuan raksasa itu. Pangeran Panjiluwih? Akan tetapi, pangeran itu adalah kakak sendiri lain ibunya. Kakak tirinya. Pangeran Panjiluwih juga seorang putera Sang Prabu Jayabaya yang lahir dari seorang selir yang bersal dari Blambangan. Akan tetapi kenapa? Selama ini hubungan di antara mereka baik dan biasa-biasa saja, bahkan keluarga Pangeran Panjiluwih juga agaknya memnadang rendah kepadanya sehingga diantara mereka taidak ada hubungan dekat. Dengan sendirinya tidak ada permusuhan di antara mereka. Mengapa kini pangeran itu menyuruh gerombolan untuk membunuh keluarganya? Terbayang di mata Dewi Muntari suaminya yang roboh mandi darah dan tewas, juga wajah puterinya yang melarikan diri entah ke mana. Jangan bohong kau! ia membentak karena masih juga belum dapat percaya. Ha-ha-ha-ha, wanita cantik itu memang biasanya bodoh! Ki Blendu tertawa lagi. Percaya atau tidak terserah wong ayu. Yang penting, kami sudah melaksanakan tugas dan menerima upahnya. Nah, sekarang ke sinilah, akan kupondong engkau agar kedua kakimu yang indah itu tidak menjadi kelelahan manis. Ki Blendu menubruk ke depan untuk merangkul Dewi Muntari. Akan tetapi sang puteri mengelak dan tangannya menampar ke arah muka raksasa itu. Ha-ha-ha! Ki Blendu menangkis dan langsung menangkap lengan itu. Dewi Muntari hanya belajar ilmu kanuragan dari suaminya setelah ia menikah maka tentu saja ilmunya tidak dapat dibandingkan dengan tenaga Ki Blendu yang besar. Ia sudah diringkus lagi dan meronta-ronta dalam pondongan dua lengan besar itu, ditertawakan oleh Ki Blendu dan anak buahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan menyeramkan. Suara tawa itu pendek-pendek, bukan seperti suara tawa melainkan seperti suara leher tercekik. "Kek-kek-kek-kekkk! Kerbau gendut tolol, Lepaskan ia!" Ki Blendu tiba-tiba merasa kedu lengannya seperti lumpuh sehingga di terpaksa melepaskan pondongannya dan Dewi Muntari cepat melompat ke dekat seorang kakek yang tiba-tiba saja muncul dan berada di situ. Melihat kakek ini, Dewi Muntari merasa ngeri juga. Muka kakek itu seperti muka tengkorak dibungkus kulit saja, demikian kurus. Apalagi sepasang matanya yang cekung ke dalam itu mengeluarkan sinar berapi-api. Usianya tentu sudah tua sekali, sedikitnya sembilan puluh tahun , pakaiannya juga hanya kain dilibat-libatkan tubuhnya yang kurus kering. Kain itu sudah kuamal dan kotor sehingga keadaan kakek ini menjijikkan, seperti seorang gembel tua berpenyakitan. Akan tetapi,tentu saja ia memilih dekat dengan kakek ini daripada dengan Ki Blendu dan anak buahnya, maka iapun lalu berdiri di belakang kakek itu untuk berlindung. "Kek-kek-kekkk.........laki-laki macam kalian ini tidak berharga untuk mendekati seorang dewi kahyangan, kek-kek-kekkk!" kakek itu menudingkan telunjuknya yang tinggal tulang terbungkus kulit dan kini Dewi Muntari melihat persamaan antara kakek ini dengan seorang tokoh pewayangan, yaitu seorang tokoh yang amat sakti, cerdik licik dan curang, yaitu bernama Begawan atau Danyang Durna! Tubuh yang kurus bongkok itu, muka yang seperti tengkorak, sungguh amat menyeramkan, akan tetapi karena kakek itu agaknya hendak melindunginya, maka Dewi Muntari memberanikan diri mendekat. "Babo-babo, kakek tuwek elek!" Bentak Ki Blendu marah sekali. "Siapa andika tua bangka mau mampus berani mencampuri urusanku dengan isteriku sendiri! Dia isteriku, jangan mencampuri urusan rumah tangga orang!" "Tidak, eyang..........saya bukan isterinya. Dia penjahat besar, dia bahkan telah membunuh suamiku!" kata Dewi Muntari. "Kek-kek-kekk......!. Tentu saja kerbau gendut ini berbohong. Ah, nini dewi, siapakah namamu ? "Nama saya Dewi Muntari, eyang. Harap suka menyelamatkan saya dari tangan para penjahat keji ini." "Kek-kek-kekk.........benar dugaanku. Engkau seorang dewi. Heh, kerbau-kerbau busuk, hari ini kalian bertemu. Kolokrendo, sama saja dengan bertemu Yamadipati, kalian akan mampus semua, kek-kek-kekkk!" Ki Blendu menjadi marah sekali. Dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerbu. Bunuh kakek tua bangka gila ini, biarkan aku menangkap kembali calon isteriku! Puluhan orang itu berbesar hati. Kalau cuma membunuh seorang tua bangka kerempeng seperti itu mudah saja. Sekali bacokpun beres. Tiga orang yang berada paling depan sudah mengayun golok mereka ke arah tubuh kakek itu. Kakek itu agaknya sama sekali tidak mengelak dan Dewi Muntari sudah merasa ngeri . Tulang-tulang kakek itu tentu akan berantakan diserang tiga batang golok yang bergerak cepat dan amat kuat itu. Krak-krak-kark...... ! Tiga batang golok itu bertemu tulang tangan terbungkus kulit dan patah-patah! Dan tiga orang itu terbelalak, lalu memekik mengerikan ketika jari-jari tangan yang panjang melengkung itu berturut-turut menancap di batok kepala mereka dan mereka pun terjengkang roboh dengan kepala berlubang-lubang, mengucurkan darah bercampur otak! Dewi Muntari sampai hampir muntah meliahat ini, akan tetapi para penjahat itu menjadi marah sekali. Merekapun seperti sekumpulan semuat maju mengeroyok dengan golok mereka. Bahkan Ki Blendu juga merasa penasaran, lalu sekali meloncat dia sudah berda di belakang kakek yang mengaku bernama Kolokrendo itu. Goloknya menyambar ke arah kepala kakek itu. Wuuuuuttt......plakkk! Kepala itu tepat dihantam golok dalam tangan Ki Blendu, akan tetapi bukan kepala itu yang pecah, melainkan Ki Blendu yang terhuyung ke belakang. Dia merasa seperti sedang membacok baja yang amat kuat. Dan selagi dia terhuyung, kakek itu membalikkan tubuhnya, tangan kirinya mencuat ke depan dan terdengar Ki Blendu menjerit mengerikan. Tangan kiri kakek itu ternyata sudah mencengkeram dada Ki Blendu dan jari-jari tangan yang kurus itu telah menencap dan masuk ke dalam dada yang bidang itu! Tangan itu mencengkeram ke dalam dan ketika ditarik keluar......jari-jari tangan yang berlepotan darah itu telah menggenggam sepotong jantung yang masih menggelempar hidup ! Keke-kek-kekkk........jamu obat kuat, obat muda, kek-kek-kekk! Kemudian Dewi Muntari menyaksikan penglihatan yang sedemikian mengerikan sehingga ia menutupi muka dengan kedua tangannya. Kakek kurus itu ternyata makan jantung yang segar itu dengan lahapnya, dan kaki tangannya terus bergerak ke sana sini dan terdengar pekik-pekik keskitan dari mereka yang nyawanya direnggut maut. Setiap tendangan atau setiap tamparan itu mematikan. Dalam waktu singkat saja duapuluh orang lebih telah tewas! Tentu saj kini yang lain menjadi ngeri dan ketakutan. Mereka hendak melarikan diri, akan tetapi kini kakek itu seperti dapat terbang ke sana sini, menyambar-nyambar dan sisa gerombolan itu roboh malang melintang dengan kepala pecah! Akhirnya, tidak seorangpun di antara mereka dapat lolos dari maut di tangan Kolokrendo! Bahkan mereka yang tadinya terluka oleh pengamukan Raden Mas Rangsang dan sedang dibawa oleh kawan-kawan mereka kini tidak terbebas dari pada maut yang lebih mengerikan lagi. Keke-kek-kek-kekkkk,.......! Kakek itu tertawa-tawa aneh dan menggunakan pakaian para korbannya untuk mengusap mulut dan kedua tangannya. Kemudian baru dia menghampiri Dewi Muntari. Wanita ini memang tadinya girang mendapat pertolongan kakek itu, akan tetapi ketika menyaksikian sepak terjang kakek itu, ia merasa ngeri dan ketakutan. Ia berhadapan dengan makhluk yang tidak seperti manusia lagi. Seorang iblis haus darah! Maka, ketiak Kolorendo maju menghampirinya, Dewi Muntari mundur-mundur dengan ketakutan. Kek-kek-kekkkk, mereka semua telah mampus, Dewi. Dewi Muntari merangkap kedua tangan memberi hormat. Terima kasih atas pertolongan eyang. Sekarang saya harus pergi dari sini! Bergegas diankatnya ujung kainnya agar ia dapat berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi. Hatinya sudah merasa tenang karena tidak terdengar suara apapun. Kakek ituagaknya mengejarnya. Akan tetapi ketika ia tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba saja ia terperanjat melihat kakek itu suadh berada di depan sana, berdiri membungkuk sambil mengeluarkan bunyi tawa seperti leher tercekik. Dengan jantung berdebar tidak karuan, badan panas dingin Dewi Muntari memutar tubuhnya dan berlari pergi kelain jurusan. Ia mengerahkan tenaga berlari secepat mungkin dan kini ia hampir yakin bahwa kakek itu tidak mengejarnya. Hampir putus napasnya dipakai berlari cepat itu. Akan tetapi, tiba-tiba kedua kakinya tertahan dan ia tidak mampu bergerak saking takutnya. Terdengar suara itu. Kek-kek-kek-kekkk.......!akan tetapi orangnya tidak nampak. Selagi memandanf ke kanan kiri, tiba-tiba terdengar suara dari atas. Dewiku, engkau tidak akan dapat pergi begitu saja. Engkau harus ikut denganku! Muntari memandang ke atas dan ternyata kakek itu sudah duduk ongkang-ongkang di atas sebatang dahan pohon. Eyang......ahh, biarkan saya pergi, eyang. Saya memohon.....biarkan saya pergi ...... katanya dengan suara lirih saking takutnya. Kek-kek-kekkk........ ! Enak saja.Andika harus menemani aku, mengusir kesepian hidupku, kek-kek-kekkkk! Kini tubuh kakek itu melayang turun dari atas dahan pohon. Dewi Muntari hendak lari, akan tetapi begitu tangan kakek itu menyambar dan menyentuh pundaknya,ia tidak lagi dapat bergerak dan berdiri saja seolah tubuhnya sudah berubah menjadi patung! Kek-kek-kekkk......., andika cantik, Dewiku! Jari-jari yang kurus dan keras itu membelai dagu dan Dewi Muntari masih dapat merasa betapa jari-jari tangan itu dingin seperti batang pohon pisang. Mengerikan sekali! Dan lebih mengerikan lagi, ketika ia berusaha untuk menghindarkan diri dari tangan itu, ia tidak mampu menggerakkan kepalanya! Seolah ada daya yang amat kuat yang membuat kepalanya menempel pada jari-jari tangan itu. Pada saat tangan yang berjari kurus kering itu hendak merayap lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara yang lebih menyeramkan lagi. Kalau suara tawa kakek itu seperti leher dicekik, suara tawa ini mengiki seperti suara siluman dari balik kubur. Hih-hih-hih-hih! Aneh sekali, kakek tengkorak hidup yang sakti mandraguna itu, begitu mendengar suara tawa ini, kelihatan terkejut sekali dan dijauhkannya tangannya dari tubuh Dewi Muntari, bahkan dia melangkah mundur. Matanya memandang ke arah satu tempat. Dewi Muntari memutar tubuhnya memandang dan iapun terkejut bukan main, merasa seolah ia tidak berada di dunia tempat tinggal manusia, melainkan di ambang neraka tempat tinggal jin setan iblis. Di depannya berdiri seorang nenek yang walaupun tidak lebih buruk dari pada Ki Kolokrendo, namun tidak kalah aneh dan mengerikan. Usia nenek itu sekitar delapan puluh tahun, tubuhnya pendk gendut. Wajahnya biasa-biasa saja, akan tetapi yang aneh dan menjadi mengerikan adalah betapa wajah ini tertutup bedak putih yang tebal, ditempat alis yang sudah tidak berbulu itu dicoreti penghitam alis yang panjang melengkung,dan pada pipi dan bibirnya diberi pemerah bibir yang menyolok sekali. Pakaiannya hanya merupakan kain yang dilibat-libatkan tubuh, akan tetapi kain itu terbuat dari pada sutera halus dan mahal! Dan gerak geriknya! Minta ampun! Lebih genit daripada seorang dara remaja! Akan tetapi saat itu agaknya nenek ini sedang marah sekali. Mulutnya menyeringai, tersenyum tidak cemberut pun tidak, hanya menyeringai seperti memamerkan giginya yang masih lengkap sehingga nampaknya semakin aneh.Mukanya yang ditutupi bedak putih seperti topeng itu tidak menuenjukkan perasaan apapun, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang ditujukan kepada kakek itu, tanda bahwa ia sedang marah. Keprat busuk kau Kolokrendo! Batas terakhir kau langgar, berarti engkau harus siap menerima kematianmu sebagai hukuman! Aneh sekali. Kakek yang demikian sakti mandraguna, yang membunuhi puluhan orang muda perkasa dengan amat mudahnya, kini menjadi pucat dan tubuhnya menggigil menghadapi wanita pendek gembrot itu.Dan demikian besar rasa takutnya sehingga diapun menjatuhkan diri berlutut sambil menangis! Dan tangisnya juga bersuara seperti leher dicekik, Kek-kek-kek-kekkk......! Ampunkan aku sekali ini, Ni Durgogini. Ampunkan aku.....aku belum ingin mati......... Hih-hi-hi-hik! Beberapa kali sudah engkau minta ampun seperti ini? Lupakah engkau yang terakhir kali ketika engkau menagkap dua orang gadis dusun itu? Aku masih mengampunimu dan mengatakan itu yang terakhir kalinya dan kalau engkau melanggar aku akan membunuhmu! Dan apa yang kau lakukan sekarang? Tetap saja engkau menyakitkan hatiku, tergila-gila seorang wanita muda yang cantik. Akan tetapi mengingat bahwa sudah banyak berjasa di waktu dahulu, aku memberi kesempatan kepadamu. Kalau engkau mampu menahan seranganku selama lima puluh jurus, engkau boleh bebas dan boleh pergi dari sini! Ahh, Ni Durgogini. Mana berani aku melawanmu? Ampunkan aku, aku sudah bertaubat, sungguh mati....... Sumpahmu tidak ada harganya secuil pun! Sejak dahulu engkau kuperlakukan dengan baik, kuberi pelajaran segala macam ilmu, bahkan kuberikan tubuhku kepadamu. Akan tetapi berulang kali engkau menyakiti hatiku. Sudahlah, bersiaplah untuk menghadapi seranganku selama limapuluh jurus, atau aku akan bunuh engkau seketika juga walaupun engkau tidak akan melawanku! Nenek itu berbicara dengan amat cepat dan cerewet sekali. Suaranya melengkin-lengkin. Akan tetapi, ada sesuatu pada nama itu. Terdengar tidak asing baginya, atau setidaknya, ia pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh ayahnya, Sang Prabu Jayabay. Ah, sekarang teringatlah ia.Terjadinya belasan tahun yang lalu. Ia berusia enambelas tahun ketika itu, dan belum lama datang dari gunung diantar kakeknya menghadap Sang Prabu Jayabaya dan diteriam sebagai seorang puterinya. Pada suatu pagi ia mendengar para pengawal dan para puteri bicara bahwa Sang Prabu Jayabaya semalam menerima seorang tamu yang aneh. Tamu itu seorang nenek yang tua dan penuh rahasia, kabarnya tahu-tahu berada di istana, tanpa ada yang mengetahui kapan masuknya! Tentu saja menimbulkan geger, akan tetapi Sang Prabu Jayabaya muncul dan melarang para pengawal untuk mengganggu nenek yang katanya hendak menghadap itu. Bahkan nenek itu diterima oleh Sang Prabu Jayabaya di ruangan dalam dan bercakap-cakap berdua saj. Dan nenek itupun tahu-tahu telah pergi, tanpa ada orang lain mengetahui kepergiannya. Hal yang aneh ini mengganggu pikirannya dan sebagai puteri baru yang lebih berani karena belum mengenal adat istiadat di istana. Dewi Muntari lalu bertanya kepada ayahnya tentang tamu yang penuh rahasia itu. Dan ketika itulah ayahnya menyebut nama Ni Durgogini! Menurut ayahnya, Ni Durgogini adalah seorang tokoh besar di dunia orang-orang sakti dan menghadapnya untuk menghaturkan sebatang keris pusaka. Menurut penuturan para penghuni istana, ayahnya adalah seorang raja yang sakti mandraguna dan mata bijaksana, sehingga banyak orang sakti di dunia ini tunduk kepadanya dan menyerah tanpa dipergunakan kekerasan. Kini Dewi Muntari menonton dengan hati penuh ketegangan. Biarpun kakek yang bernama Ki Kolokrendo itu ketakutan, akan tetapi ketika dia diserang, diapun cepat melompat, menghindar dan membalas serangan nenek itu. Dewi Muntari adalah seorang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dari mendiang suaminya. Karena itu ia tidak merasa asing dengan gerakan silat. Akan tetapi sekali ini ia hanya bengong, sama sekali tidak mampu mengikuti gerakan dua orang yang sedang bertanding itu. Hebat sekali pertandingan itu. Kalau tadi Ki Kolokrendo membunuhi puluhan orang dengan enak dan mudah seperti orang membubuti rumput saja, sekali ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk membela diri dari serangan wanita yang selama ini menjadi isterinya, juga gurunya! Mereka berdua menggunakan tenaga sakti sehingga di sekitar tempat itu dilanda angin yang mengemuk seperti badai, seolah-oleh dalam hutan itu terdapat banyak raksasa atau iblis yang mengamuk. Dan sambil berkelahi mati-matian, mereka berdua tetap mengeluarkan suara mereka yang khas. Kek-kek-kek-kekkkk.......... ! Hihi-hi-hi-hi-hik......... ! Dewi Muntari bersembunyi di balik sebatang pohon besar. Angin pukulan kedua orang itu terasa sekali olehnya, kadang ada hawa panas seperti apai menyergapnya dan terkadang ada hawa dingin seperti ampak-ampak. Dengan bersembunyi di belakang pohon besar ia merasa aman terlindung. Ia mengintai dan kedua orang itu telah lenyap bentuk tubuh mereka, yang nampak hanyalah bayangan dua orang saling kejar dan saling serang dengan dahsyatnya. Ia tidak tahu berapa jurus lamanya mereka bertanding.Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berhi-hi itu semakin nyaring dan suara berkek-kek makin lemah dan akhirnya ia mendengar bentakan. Mampuslah laki-laki tidak setia! Dewi Muntari melihat tubuh kakek itu melayang ke atas dan menabrak cabang dan daun pohon, lalu jatuh seperti sepotong batu ke atas tanah, tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia dapat melihat betapa kakek itu sama sekali tidak terluka, akan tetapi dari matanya, telinganya, hidung dan mulutnya bercucuran darah segar dan mata kakek itupun terpentang lebar. Dia sudah tewas! Kini nenek itu berdiri memandang tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu, kemudian terdengar dari mulutnya suara yangseperti tawa dan juga seperti tangis itu, Hi-hi-hi-hi-hi-hi.........! Ki Kolokrendo, kenapa engkau mati meninggalkan aku? Lalu bagaimana hidupku, siapa yanga akan menemaniku........ ? Hi-hi-hi-hi-hi............ ! Kini Dewi Muntari dapat menduga bahwa suara itu tetulah merupakan tangis dan ia merasa kasihan. Alangkah anehnya. Tadi mengamuk dan membunuh kakek itu, dan sekarang setelah mati ditangisi! Ia lalu melangkah keluar dari balik pohon besar dan gerakan ini dilihat oleh Ni Durgogini. Ia segera menghampiri Dewi Muntari dengan langkah lebar dan berhenti di depannya sambil memandang tajam penuh ancaman. Hemm, engkau! Ya, engkaulah yang membuat suamiku mati! Engkau harus menebusnya dengan nyawamu! Akan tetapi dalam saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawanya itu timbul keberanian dalam hati Dewi Muntari. Tidak percuma ia menjadi puteri Sang Prabu Jayabaya. Dalam tubuhnya mengalir darah satria linuwih. Dengan berdiri tegak ia menentang pandang mata yang mencorong itu, lalu ia berkata dengan suara tegas penuh ketenangan. Ni Durgogini, kalau engkau hendak membunuhku, tentu mudah kau lakukan. Akan tetapi, aku tidak takut karena kanjeng romo tentu tidak akan mengampunimu kalau engkau menggangu seujung rambutku saja. Hi-hi-hi-hik! Babo-babo keparat! Siapa takut kepada kanjeng romomu? Siapa dia? Akan kubuh sekalian! Datanglah ke kota raja Daha kalau engkau berani. Ayah kandungku adalah kanjeng romo Prabu Jayabaya! Sepasang mata yang tadinya mencorong itu terbelalak kepada Dewi Muntari penuh selidik. Ni Durgogini, aku mengetahui ketika belasan tahun yang lalu andika menghadap Kanjeng Romo untuk menyerahkan sebatang keris pusaka! Kini keraguan nenek aneh itu menghilang dan sikapnya berubah lunak. Tobil-tobil.....! Jadi andika ini puteri Sang Prabu Jayabaya? Si keparat Kolokrendo, pantas mati sretus kali, berani mengganggu puteri Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi, kenapa andika dapat berada seorang diri di tempat sunyi ini, gusti puteri? Ah, malapetaka telah menimpa keluarga kami, bibi. kata Dewi Muntari dan teringat akan suami dan puteri, tak tertahankan lagi ia menangis. Kini sikap Ni Durgogini sama sekali berubah. Dengan gerakan halus ia menghampiri dan mengelus rambut kepala Dewi Muntari. Hemm, tenanglah, gusti puteri. Apa yang telah terjadi? Ceritakanlah kepada Nini Durgogini dan akulah yang akan membasmi anjing dan tikus yang berani menggangumu. Dewi Muntari menahan tangisnya. Lalu ia menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya, betapa suaminya tewas ketika gerombolan penjahat menyerang mereka. Pasukan pengawal lari kocar-kacir, suaminya tewas dan puterinya mudah-mudahan dapat meloloskan diri. Aku sempat memberi perlawanan akan tetapi akhirnya tertangkap. Kemudian mucul.....dia itu.... Ia menuding ke arah jenazah Ki Kolokrendo. Dia membunuh semua gerombolan penjahat yang hendak memaksanya menjadi teman hidupnya. Aku lari sampai ke sini dan andika muncul menyelamatkan aku, bibi. Hemm, kalau begitu para penjahat itu sudah tewas semua.Dendammu sudah terbayar lunas. Juga Ki Kolokrendo sudah mampus. Apa yang hendak kau lakukan sekarang, gusti puteri? Bibi, pertama-tama kuharap andika tidak menyebut gusti puteri kepadaku. Kalau boleh, aku akan ikut denganmu, mempelajari ilmu kanuragan dan aji kesaktian. Aku ingin menjadi muridmu, bibi. Ehh? ? Hi-hi-hi-hi! Mana aku berani? Sang Prabu Jayabaya akan marah kepadaku kalau aku berani lancang mengambil murid puterinya. Sebaiknya paduka kuantarkan kembali ke istana gusti. Bibi Durgogini, namaku Dewi Muntari. Aku sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke istana. Banyak orang membenciku di sana, dan akupun curiga atas peristiwa yang menimpa keluargaku. Patut dicurigai bahwa yang mengatur semua ini berada di kota raja! Hi-hi-hi-hi-hik, begitukah? Biar aku yang menyelidikinya dan membekuk pelakunya! Tidak usah, bibi. Aku sendiri yang akan melakukan, akan tetapi tentu saja kalau bibi mau menerimaku sebagai murid. Kalau kanjeng romo kelak menegur, biarlah aku yang akan menghadapi dan siap meneriam hukuman! Akhirnya Ni Durgogini tak dapat menolak lagi. Baiklah, Dewi! Mulai sekarang namamu Dewi saja dan engkau akan kugembleng aji kesaktian. Muridku hanyalah Ki Kolokrendo seorang. Setelah dia kini mampus, engkaulah yamh menjadi penggantinya. Ia menggandeng tangan Dewi Muntari. Mari kita pergi! Wanita yang mulai sekarang menggunakan nama Dewi, memandang kearah jenazah kakek itu dan berkata, Akan tetapi, Bibi. Bagaimana dengan jenazah itu? Apakah tidak perlu disempurnkan dulu? Hi-hi-hi-hik, dia sudah mati, mau diapakan lagi? Dia hanyalah sebatang mayat, bukan lagi Kolokrendo. Hayo pergi! Sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan Dewi merasa betapa tubuhnya terayun seperti dibawa terbang! Ia pasrah. Ia sudah mengambil keputusan bulat.Ia akan mempelajari aji-aji kesaktian dan kelak ia sendiri yang akan melakukan penyelidikan dan membalas dendam kepada mereka yang mengatur jatuhnya malapetaka yang menimpa keluarganya. Tentang nasib puterinya, ia serahkan saja kepada Hyang Widhi.Tekatnya sudah bulat. Kembali ke istana ia sudah tidak mau. Hidup berdua dengan puterinya saja juga berbahaya karena ia tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi dai mereka berdua. Sang waktu melesat dengan cepatnya, melewati segala apa yang terdapat dan terjadi di alam maya pada ini. Tidak ada yang dapat mengalahkan Sang Waktu. Bagaikan Bathara Kalla Sang Waktu mencaplok dan melahap semua yang ada. Yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang muda menjadi tua, yang tua menjadi mati dan demikianlah semua itu terus menerus mengalir melalui Sang Waktu. Kita sudah biasa menjadi permainan waktu, dengan masa lalu yang mengalir pada masa kini untuk menuju masa depan. Kita hidup di dalam waktu, semua tergantung kepada waktu. Sebenarnya, apakah waktu itu? Masa lalu kini dan masa depan, benarkah ada hubungannya? Tentu saja berhubungan kalau hidup ini menjadi ajang dari kenangan dan pikiran. Pikiran adalah aku, maka selalu hendak mempertahankan keadaan dirinya. Dan tanpa waktu, keberadaan dirinya akan terancam musnah. Siapa aku ini tanpa masa lalu, masa kini dan masa depan? Justeru hidup lepas dari pada permainan waktu adalah hidup yang sejati. Hidup dari saat ke saat, tidak terpengaruh oleh masa lalu atau masa depan.Tidak ada dendam, tidak ada budi dihutang, yang ada hanyalah saat ini dan segala yang terjadi adalah wajar. Segala yang terjadi adalah kenyataan yang tak dapt dipungkiri lagi, lepas dri segala bentuk dendam maupun pamrih. Kalau begitu, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja. Kekuasaan Tuhan mengatur segalanya, melalui segala macam kekuatan yang ada di permukaan bumi ini. Juga melalui tenaga yang ada pada diri manusia. Semua itu menjadi alat Tuhan dan semua akan berjalan sesuai dengan alur dan jalurnya. Kalau orang memperhatikan jalannya waktu, maka akan ternyatalah bahwa waktu berjalan amatlah lambatnya, seperti siput. Kalau diperhatikan, sejam rasanya sehari, sehari rasanya sebulan, dan sebulan rasanya setahun. Akan tetapi kalau diperhatikan, waktu melesat lewat seperti anak panah dilepas sebuah gendawa sakti. Bertahun-tahun lewat seperti beberapa hari saja! Sepuluh tahun telah lewat sejak Budhidharma hidup sebagai murid Sang Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi.Bocah yang dulu berusia sepuluh tahun itu kini menjadi seorang pemuda berusia duapuluh tahun! Seorang pemuda dewasa yang bertubuh tegap dan kuat, dengan dada yang bidang dan kalau berdiri tegak dan kokoh seperti batukarang, kalau berjalan langkahnya gontai namun tegap seperti langkah seekor harimau. Gerak geriknya lembut dan tutur sapanya halus. Dari sikapnya saj tentu orang dapat menduga bahwa dia bukanlah pemuda dusun biasa, lebih mirip seorang pemuda bangsawan dari kota raja yang menyamar sebagai seorang pemuda dusun. Juga sikapnya yang rendah hati dan sama sekali tidak congkak ini sama sekali tidak membayangkan bahwa pemuda ini adalah seorang pemuda yang digdayadan sakti mandraguna! Dia lembut namun bukan berarti pendiam. Tidak, Budhidharma pandai bicara dan dipun pembawaannya lincah gembira sehingga semua orang di sekitar lereng Gunung Kawi, Yaitu rakyat yang tinggal di dusun-dusun sekitarnya mengenalnya dengan baik dan pergaulan mereka cukup akrab. Terutama sekali para perawan dusun, hampir semua tertarik dan tergila-gila kepada pemuda ini. Budhidharma memang seorang pemuda rupawan. Wajahnya tampan gagah, kulitnya kuning bersih. Rambut di kepalanya hitam panjang dan berombak. Sepasang alisnya berbentuk seperti golok, hitam tebal membayangkan kejantanan. Sepasang matanya begitu lembut akan tetapi kadang dapat mencorong seperti mata naga atau mata harimau di dalam gelap. Hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis, dagunya yang runcing itu agak berlekuk membuat wajah itu nampak jantan. Kalau dibuat perbandingan dalam tokoh pewayangan, Budhidharma bukan seorang satria tampan halus seperti seorang bambang misalnya Sang Arjuna atau Sang Lesmana, akan tetapi dia seorang satria yang lembut gagah ganteng seperti Sang Gatutkaca. Dalam hal kesaktian pemuda ini sudah digembleng siang malam selama sepuluh tahun oleh Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi. Sebelum pindah ke Gunung Kawi, Bhagawan Tejolelono tinggal di Gunung Kelud dan disana terkenal dengan julukan Sang Mbaurekso Gunung Kelud. Setelah belasan tahun yang lalau orang-orang sakti berdatangan ke Kelud untuk meperebutkan kedudukan sebagai datuk atau yang berkuasa atas Pnca Giri ( Lima Gunung) yaitu Semeru, Bromo, Kelud, Arjuna Anjasmoro, dia tidak mau terlibat dalam perebutan nama atau kekuasaan itu dan pergi pindah ke Gunung Kawi. Dia memilih sebuah lereng yang sunyi dan indah pemendangannya, lalau bertapa di tempat itu. Bhagawan Tejolelono yang sudah beberapa tahun tinggal di lereng Kawi, jarang meninggalkan tempat itu, ketika dia meninggalkan pertapaannya, menurutkan getarnya hati, lalu menyelamatkan Budhidharma, di menganggap bahwa sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa bahwa dia harus menjadi guru pemuda itu. Dia ternyata pilihannya yang tidak keliru. Budhidharma membuktikan dirinya menjadi murid yang berbakat dan rajin sekali, akan tetapi bahkan juga menjadi seorang cantrik yang berbakti dan sayang kepadanya. Anak itu bekerja rajin, mencukupi semua kebutuhan hidup sang bhagawan. Budhidharma memang seorang pemuda rupawan. Wajahnya tampan gagah, kulitnya kuning bersih. Rambut di kepalanya hitam panjang dan berombak. Sepasang alisnya berbentuk seperti golok, hitam tebal membayangkan kejantanan. Sepasang matanya begitu lembut akan tetapi kadang dapat mencorong seperti mata naga atau mata harimau di dalam gelap. Hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis, dagunya yang runcing itu agak berlekuk membuat wajah itu nampak jantan. Kalau dibuat perbandingan dalam tokoh pewayangan, Budhidharma bukan seorang satria tampan halus seperti seorang bambang misalnya Sang Arjuna atau Sang Lesmana, akan tetapi dia seorang satria yang lembut gagah ganteng seperti Sang Gatutkaca. Dalam hal kesaktian pemuda ini sudah digembleng siang malam selama sepuluh tahun oleh Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi. Sebelum pindah ke Gunung Kawi, Bhagawan Tejolelono tinggal di Gunung Kelud dan disana terkenal dengan julukan Sang Mbaurekso Gunung Kelud. Setelah belasan tahun yang lalau orang-orang sakti berdatangan ke Kelud untuk meperebutkan kedudukan sebagai datuk atau yang berkuasa atas Pnca Giri ( Lima Gunung) yaitu Semeru, Bromo, Kelud, Arjuna Anjasmoro, dia tidak mau terlibat dalam perebutan nama atau kekuasaan itu dan pergi pindah ke Gunung Kawi. Dia memilih sebuah lereng yang sunyi dan indah pemendangannya, lalau bertapa di tempat itu. Bhagawan Tejolelono yang sudah beberapa tahun tinggal di lereng Kawi, jarang meninggalkan tempat itu, ketika dia meninggalkan pertapaannya, menurutkan getarnya hati, lalu menyelamatkan Budhidharma, di menganggap bahwa sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa bahwa dia harus menjadi guru pemuda itu. Dia ternyata pilihannya yang tidak keliru. Budhidharma membuktikan dirinya menjadi murid yang berbakat dan rajin sekali, akan tetapi bahkan juga menjadi seorang cantrik yang berbakti dan sayang kepadanya. Anak itu bekerja rajin, mencukupi semua kebutuhan hidup sang bhagawan. Dari Bhagawan Tejolelono, Budhidharma menerima gemblengan lahir batin sehingga bukan saja tubuhnya amat kuat dan kebal, dan dia mengenal berbagai kesaktian yang menjadikan dia seorang lawan yang sukar dikalahkan, juga dia dituntun dalam hal pengertian hidup sehingga batinnya terbuka dan dia memiliki watak yang baik, pengertian yang mendalam dan waspada. Pada suatu pagi, tidak seperti biasanya, pagi sekali Sang Bhagawan Tejolelono telah dududk bersila di ruangan depan pondoknya lalu berseru halus memanggil muridnya yang sedang sibuk mempersiapkan sarapan dan minuman untuk gurunya. Dari dapur, Budhidharma menjawab panggilan gurunya dan karena sarapan memang sudah siap, dia lalu membawanya ke ruangan depan di mana gurunya sudah duduk bersial. Budhidarma menghidangkan sarapan itu di atas tikar. Pisang tanduk rebus, air the kental dengan gula kelapa. Silakan sarapan dulu, Eyang Bhagawan. katanya dengan lembut. Gurunya tersenyum. Anak ini selalu demikian penuh perhatian kepadanya. Bahkan pakaiannyapun diurus oleh Budhidharma. Wah, pisang rebus? Hemm, seperti pisang tanduk, ya? Benar, Eyang. Pemberian dari paman Suto........ Mari, kautemani aku sarapan, Budhi. Baik, Eyang. Eyang tadi memanggil saya? Ya, ada sesuatu yang penting hendak kusampaikan kepadamu, angger. Akan tetapi mari kita sarapan dulu, setelah itu baru kita bicara. Kakek dan pemuda itu lalu sarapan pisang.Hanya pisang rebus, akan tetapi pisang tanduk yang sudah tua merupakan makanan yang lezat sekali. Juga minuman air teh kental dengan gula kelapa juga nikmat sekali diminum di waktu pagi yang dingin. Setelah kenyang sarapan, Bhagawan Tejolelono membiarkan muridnya menyingkirkan sisa makanan dan membersihkan tikar, barulah dia menceritakan apa yang hendak dibicarakan tadi. Begini, angger. Tahukah andika, sudah berapa lama andika tinggal dan belajar ilmu di sini? Kalau tidak salah, sudah kurang lebih sepuluh tahun, eyang. Benar, dahulu usiamu sepuluh tahun dan sekarang engkau telah menjadi seorang pemuda perkasa berusia dupuluh tahun. Semua ini berkat bimbingan Eyang yang bijaksana dan saya tidak akan menyia-nyiakan semua yang telah Eyang ajarkan kepada saya. Bagus, semoga begitu adanya. Ketahuilah bahwa semua ilmu yang kumiliki telah kuajarkan kepadamu, angger. Sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuajarkan. Budhidharma menatap wajah kakek itu. Dia sudah dapat menduga apa yang dimaksudkan gurunya. Akan tetapi, Eyang. Saya masih mempunyai kewajiban yang amat penting, yaitu menemani dan menjaga Eyang sebagai Darmabakti seorang murid kepada gurunya tercinta. Darmabaktimu sudah cukup untukku, kulup. Darmabaktimu untuk Sang Hyang Tunggal, untuk rakyat dan kemanusiaanlah yang perlu kau lakukan. Oleh karena itu, mulai hari ini engkau harus mengambil jalan hidupmu sendiri kita harus berpisah. Ampun Eyang. Akan tetapi, tidak dapatkah saya mengikuti Eyang dan melayani Reyang yang sudah tua? Siapa yang akan mengurus keperluan hidup Eyang sehari-hari...... Ha-ha-ha-, aku menjadi seorang yang malas dan manja, Budhi. Aku masih dapat mengurus diriku sendiri dan aku kan pergi merantau, maka tidak mungkin kita pergi bersama. Dan aku mempunyai tugas bagimu yang kuharap dapat kaulaksanakan dengan baik karena inipun merupakan tugasmu untuk menentramkan jagat. Budhidharma menjadi girang sekali. Dia menyembah dan berkata, Hamba akan melaksanakan perintah Eyang sebaik-baiknya. Tugas apakah yang harus hamba kerjakan, Eyang? Kisahnya dimulai kurang lebuh seratus tahun yang lalu. Seabad yang lalu, ketika Sang Prabu Airlangga sudah merasa sepuh, beliau turun tahta dan hidup sebagi seorang pendeta dan terkenal karena kebijaksanaannya, Sang Mahaprabu Airlangga memakai nama julukan Resi Gentayu. Setelah beliau mengundurkan diri, banyak pusaka keraton yang diboyong ke pertapaan. Dalam keadaan perpindahan pusaka itu, terjadi geger karena hilangnya sebuah pusaka keris yang disebut Sang Tilam Upih! Pusaka ini merupakan keris pusaka yang ampuhnya menggiriskan dan mengandung hawa yang jahat sekali. Kabarnya, jangankan sampai melukai kulit orang baru diacungkan saja, hawa dan pengaruh yang berdaya kuat dari keris pusaka itu dapat membuat tubuh lawan menjadi melepuh seperti disiram air mendidih atau seperti disambar petir. Wah bukan main ampuhnya keris pusaka itu, Eyang! seru Budhi dengan kagum. buatan atau ciptaan siapakah pusaka itu, eyang? Saya belum pernah mendengarnya. Pusaka itu diciptakan oleh Empu Brobokendali, seorang empu yang terkenal ampuh di jaman negeri Medang Kamulan, delapan ratus tahunyang lalu. Menurut dongeng, ketiak menciptakan keris pusaka Tilam Upih itu, Empu Bromokendali kedatangan seorang perawan cantik dan dia tidak mampu menahan gejolak birahinya. Terjadilah perbuatan susila yang sebetulnya merupakan pantangan bagi Empu Bromokendali di waktu dia sedang membuat sebuah keris pusaka. Setelah kesemuanya terjadi, barulah dia mendapat kenyataan bahwa tubuh perawan itu dipergunakan oleh iblis untuk menggodanya. Dan dia telah melanggar pantangan berat. Akan tetapi Eyang dalam hal ini, sama sekali kita tidak boleh menyalahkan iblis yang menggoda. Menurut bimbingan Eyang bukankah sumber segala perbuatan tidak benar terletak di dalam hati akal pikiran sendiri? Memang benar demikian, kulup. Dan iblis yang memang pekerjaannya menggoda manusia, tahu akan kelemahan hati akal pikiran manusia itu. Dia tahu di mana letak kelemahan itu dan dselalu mempergunakan kesempatan untuk menggoda manusia melalui kelemahannya itu. Justeru kelemahan Empu Bromo kendali terletak kepada nafsu birahinya, maka iblis lalu mempergunakan tubuh perawan itu untuk menjatuhkannya. Budhidharma menganguk-angguk. Menurut petunjuk Eyang, manusia tidak mungkin dapat melawan nafsu daya rendah yang menghuni hati akal pikiran kita sendiri. Satu-satunya kekuasaan yang mampu menundukkan daya rendah itu hanyalah kekuasaan Tuhan! Dan setiap orang akan dilindungi oleh kekuasaan Tuhan ini apabila dai dengan sepenuh jiwanya menyerahkan diri dengan penuh keikhlasan, penuh keimanan kepada Hyang Widhi Wasa. Tepat sekali, kulup. Akan tetapi sayang, Empu Bromokendali lengah dan setelah semuanya terjadi, ada hawa yang jahat menyusup ke dalam keris pusaka Tilam Upih yang sedang dibuatnya. Setelah keris itu jadi, tahulah sang empu bahwa keris pusaka itu mengandung pengaruh dan hawa yanga amat jahatnya, yang kelak dapat membahayakan kehidupan manusia. Oleh karena itu, sang empu mempergunakan kesaktiannya, membungkus pusaka itu dengan daun pisang kering, lalu melarungkannya (membuang) ke Lautan Kidul. Jadi setiap benda buatan manusia itu akan terpengaruh oleh keadaan batin pembuatnya pada saat membuat benda itu , Eyang? Tentu saja! Karena itu, segala macam benda itu merupakan bahaya besar karena mengandung daya pengaruh yang amat kuat. Hanya batin orang yang benar-benar pasrah dan menyerah kepada Tuhan sajalah yang akan dapat terhindar dari pengaruh daya benda. Kembali kepada keris pusaka Sang Tilam Upih. Tentu tidak akan timbul akibat lain setelah keris pusaka itu dibuang ke Lutan Kidul kalau saja di waktu mudanya Sang Mahaprabu Airlangga bersama patihnya yang juga amat sakti dan setia yaitu Raden Narottama tidak melakukan tapabrata di tepi Lautan Kidul. Dalam pertapaan itulah Sang Mahaprabu Airlangga mendapat ilham sehingga beliau mengetahui adanya sebauh keris pusaka ampuh di dasar samudera. Beliau lalu mengutus patihnya untuk mengambil pusaka itu. Raden Narottama yang sakti lalu menyelam dan berhasil mengeluarkan keris Pusaka Tilam Upih itu. Wah, hebat sekali ilmu kepandaian patih itu, Eyang. Tentu saja. Ki patih Narottama yang sejak mudanya menjadi sahabat Sang Mahaprabu Airlangga memmang seorang yang sakti mandraguna, bahkan seperguruan dengan Prabu Airlangga. Akan tetapi raja yang sakti mandraguna itu melihat betapa keris pusaka itu mengeluarkan hawa pengaruh yang amat jahat, maka beliau lalu memperbaikinya, mengisinya dengan hawa pengaruh yang baik, bahkan mengubah sedikit bentuknya. Setelah diisi pengaruh kebaikan oleh sang Prabu Airlangga, keris pusaka itu kini memiliki daya pengaruh dua macam. Kalau pusaka itu jatuh ketangan seorang yang budiman, maka keris pusaka itu akan amat berguna bagi nusa dan bangsa. Akan tetapi sebaliknya kalau tejatuh ke dalam tangan seorang yang pada dasarnya berwatak kotor, maka keris itu akan mendatangkan malapetaka bagi nusa dan bangsa. Wah, gawat kalau begitu, Eayng. Ketika Sang Prabu Airlangga mengundurkan diri menjadi pertapa, dalam kesibukan itu, keris pusaka Tilam Upih lenyap. Yang menerima tugas untuk mencari pusaka itu adalah eyang guruku yang bernama Ki Empu Dewaraga. Akan tetapi Ki Empu Dewaraga gagal menemukan kembali kerena menurut perhitungannya, keris pusaka itu terjatuh ke dalam tangan seorang yang sakti mandraguna dan amat jahat. Keris pusaka itu dijadikan senjata untuk mendirikan sebuah kerajaan di barat, jauh di pesisir Lautan Kidul. Saking sedihnya karena tidak mampu menemukan keris pusaka itu seperti diperintahkan Sang Mahaprabu Airlangga yang telah menjadi Sang Resi Gentayu, eyang guruku Empu Dewaraga merasa berduka yang mengakibatkan kematiannya. Wah, kasihan sekali eyang buyut itu! Kata Budhidharma. Gurunya menghela napas panjang. Semua yang terjadi sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang perlu disesalkan. Sang Prabu Jayabaya adalah seorang yang sakti mandraguna bijaksana dan menguasai aji meneropong tirai rahasia alam. Beliau itu weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Beliau mengumumkan perhitungannya dengan pasti bahwa keris pusaka Ki Tilam Upih itu tidak akan muncul kepermukaan bumi, dalam arti kata ditemukan orang, sebelum satu abad lamanya semenjak hilang. Dan sekaranglah tiba saatnya keris pusaka itu akan muncul. Berita tentang ini terdengar oleh seluruh orang gagah, maka orang-orang sakti mandraguna bermunculan untuk berlomba mencari dan menemukan keris pusaka Tilam Upih itu. Untuk dihaturkan kembali kepada Sang Prabu Jayabaya, Eyang? Kembali kakek itu menghela napas panjang. Hemm, tentu ada yang berpamrih demikian. Akan tetapi akau khawatir bahwa sebagian besar di antara mereka berlomba mencari keris pusaka itu untuk dirinya sendiri, untuk dimilikiny sendiri. Ketahuilah, kulup, bahwa keris pusaka yang ampuh mempunyai pengaruh dan kekuasaan. Dan siapa orangnya yang tidak akan tertarik kalau ada kemungkinan kekuasaan jatuh pada dirinya? Karena itulah, kulup. Andika kuberi tugas, yaitu mewakili aku mencari keris pusaka itu agar dapat kita kembalikan kepada Sang Parbu Jayabaya. Bagaimanapun juga, menjadi tugas kita untuk dapat menemukan pusaka itu, sebagai pemenuhan tugas dahulu yang gagal dilakukan eyang guruku Empu Dewaraga. Timbul kegembiraan dalam hati Budhidharma. Dia sebetulnya tidak takut hidup menyendiri, terpisah dari gurunya. Yang membuat dia ragu adalah permulaan dari hidup sendiri itu. Tanpa tujuan, dia harus pergi ke mana? Kini dengan adanya tugas itu, maka perjalanannya mempunyai satu tujuan tertentu dan ini amat menggembirakan hatinya. Saya akan melaksanakan perintah eyang! Akan tetapi, saya mohon petunjuk eyang. Kemanakah saya harus mencari pusaka Tilam Upih itu dan bagaimana pula bentuk dan rupanya agar kelak saya tidak mendapatkan barang yang palsu? Ingat baik-baik, kulup. Keris pusaka Tilam Upih adalah sebatang keris berlekuk tiga, dan setelah diubah bentuknya oleh mendiang Mahaprabu Airlangga maka dapur keris menjadi dapur Mahesa suka, yaitu badan lebar panjang sedang, dengan rincian: Lambe Gajah Lamba, Kembang Kacang, sogokan panjang. Mata keris bagian bawah amatlah tajamnya karena di situ terletak pengaruh jahat itu. Sehelai rambut yang diletakkan di atas mata keris itu lalau ditiup akan putus seperti dijilat apai. Akan tetapi mata keris bagian atas berbeda dengan bagian bawah. Pamor di bagian atas seperti perak mencorong, akan tetapi pamor bagian bawah menghitam seperti angus. Ke mana mencarinya? Kulup, keris pusaka itu dahulunya di Lautan Kidul, di sebelah barat Nusa Barung. Nah, mulailah dari ujung timur, dari Balmbangan sampai ke Teluk Prigi, Kulup. Demikianlah, setelah menerima banyak wasiat dan wejangan dari gurunya, tiga hari kemudaian berangkatlah Budhidharma meninggalkan Gunung Kawi. Kalau dahulu, sepuluh tahunyang lalu, dia naik ke Gunung Kawi sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun, kini dia menuruni lereng gunung itu sebagai seorang pemuda dewasa yang gagah dan tampan. Dia menuruni lereng dari sebelah selatan karena dia akan langsung saja melaksanakan perintah gurunya, yaitu menuju pantai selatan untuk menyelidiki dan mencari keris pusaka Tilam Upih itu. Tugasnya yang ke dua adalah pribadinya yang tidak pernah dia lupakan semenjak dia berada di Gunung Kawi. Yaitu, mencari pembunuh ayah ibunya, gerombolan Gagak Seto dan terutama sekali ketuanya. Tidak, hatinya tidak diracuni dendam. Dia sudah menerima genblengan batin yang mantap dari gurunya sehingga hatinya tidak cengeng dan selemah itu. Dia maklum bahkan kematian setiap orang sudah ditentuakn oleh kekuasaan Sang Hyang Syiwa, karena itu tidak semestinya kalau dia mendendam. Pelaku pembunuhan atas ayah ibunya itu hanya merupakan alat yang kebetulan dipergunakan oleh Sang Hyang Syiwa untuk mencabut nyawa ayah ibunya. Hal itu terjadi karena karma mereka. Dia ingin mencari ketua dan gerombolan Gagak Seto untuk bertanya, apa sebabnya mereka melakukan pembunuhan itu. Hal ini haruslah jelas dan untuk melihat pula bagaimana sesungguhnya keadaan gerombolan Gagak Seto. Kalau memang gerombolan penjahat, dia tidak akan ragu lagi untuk membasminya, dan kalau ketuanya memang jahat, dia tidak akan ragu untuk menumpasnya. Inilah kewajiban seorang satria, bukan membunuh karena balas dendam! Dengan langkah tegap Budhidharma menuruni lereng Gunung Kawi. Kita tinggalkan dulu Budhidhrma yang turun gunung mulai memasuki dunia ramai, dan marilah kita menengok keadaan lain di Gunung Anjasmoro! Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketua Gagak Seto yaitu Ki Sudibyo yang menderita sakit batinnya sehingga tubuhnya menjadi lemah dan sakit-sakitan, tidak begitu memperhatikan urusan perkumpulan. Untuk perkumpulan Gagak Seto dia serahkan kepada dua orang pembantu utamanya, yaitu Ki Klabangkoro dan Ki Mayangmurko. Adapun dia sendiri lebih banyak berada di dalam sanggar pamujan atau di ruangan tertutup di bagian belakang yang menjadi tempat beristirahat dan berlatih silat baginya. Akan tetapi, sejak dia mengangkat Niken Sasi menjadi murid, muridnya itulah yang selalu menemaninya. Niken Sasi bukan hanya menjadi murid tersayang, akan tetapi juga gadis cilik ini melayani segala keperluan gurunya yang dianggapnya sebagai pengganti ayah ibunya. Kemudian, dia mendapatkan kenyataan bahwa murid barunya ini ternyata memiliki bakat yang hebat sekali! Sama sekali sukar dapat dipercaya bahwa dalam tubuh yang mungil dan lemah gemulai, yang luwes itu tersimpan tenaga sakti yang hanya butuh dilatih dan dikembangkan. Kemudian dia teringat bahwa bagaimanapun juga, gadis kecil ini adalah cucu SangPrabu Jayabaya yang sakti mandraguna! Maka, tentu saja Ki Sudibyo girang bukan main dan diapun melatih gadis itu lebih tekun lagi. Bukan hanya semua ilmu dan aji kesaktian diajarkan kepada gadis itu, bahkan aji simpanannya, yaitu Aji Has-bajra [Tangan Kilat] yang selama ini tidak pernah diajarkan kepada murid lain, kini diajarkan kepada Niken Sasi, setelah gadis itu menjadi seorang gadis dewasa. Hati Ki Sudibyo merasa terhibur. Dia masih merasa hidupnya penuh penderitaan kalau teringat akan penyelewengan dan pengkhianatan isterinya tercinta, kalau dia teringat betapa dia hidup seorang diri tanpa keluarga, tanpa isteri dan tanpa anak. Akan tetapi kini dalam diri Niken Sasi dia menemukan seorang murid, sekaligus seorang anak yang amat membanggakan dan menyenangkan hatinya. Bukan kehebatan Niken Sasi dalam mewarisi semua aji kesaktiannya saja yang membuat Ki Sudibyo bahagia dan bangga. Akan tetapi keahliannya dalam ilmu lain, terutama sekali kecantikannya. Niken Sasi yang kini telah menjadi seorang gadis yang memiliki kecantikan sebanding dewi-dewi kahyangan! Wajahnya yang bulat telur, rambutnya yang hitam panjang ngandan-andan, alisnya yang hitam kecil melengkung, matanya yang redup jeli kadang mencorong, hidungnya yang kecil mungil dan terutama sekali mulutnya yang menggairahkan, semua itu masih diperindah pula oleh bentuk tubuhnya yang padat ramping dan kulit putih kekuningan. Di samping kecantikannya yang membuat semua pria di Anjasmoro dan sekitarnya terpesona, juga gadis ini amat pandai dalam kesenian berjoget, bertembang dan lain kesenian kaum wanita. Jelas sekali nampak trahing kusumo rembesing madu mengalir dalam darah yang lembut berisi ini. Namun, Niken Sasi tetap bersikap sederhana, seperti para perawan dusun pada umumnya. Ia sudah melupakanbahwa dirinya adalah cucu sang Prabu Jayabaya, dan menganggap dirinya seorang perawan dusun murid dan anak anagkat Ki Sudibyo yang amat dihormati dan disayangnya. Biarpun pakaian dan gerak geriknya sederhana tidak ada bedanya dengan para perawan dusun, namun apabila ia berada di antara mereka, semua orang melihat kepandaiannya, seolah seekor merak berada di antara sekumpulan bebek! Pada suatu sore Ki Sudibyo memanggil muridnya ke dalam ruangan belakang yang tertutup. Dia kini telah menjadi seorang laki-laki yang kelihatan tua sekali. Usianya memang sudah enampuluh tahun, akan tetapi dia nampak jauh lebih tua. Tubuhnya jangkung kurus, rambutnya sudah putih semua, dibiarkan terurai panjang, demikian pula jengkot dan kumisnya yang sudah putih dibiarkan tak terpelihara. Namun dia mesih tetap kelihatan bersih dan anggun. Niken Sasi mengenakkan kain bercorak hitam dan kemben berwarna hijau pupus. Pinggangnya ramping sekali dan ia nampak seperti setangkai mawar. Jambon yang segar dan semerbak mengharum. Mendengar panggilan gurunya, Niken Sasi cepat menghadap dan memberi hormat dengan sembah. Pertama kali disembah oleh puteri bangsawan cucu raja ini, Ki Sudibyo merasa rikuh sekali. Akan tetapi kini dia sudah terbiasa dan dia menerima penghormatan itu dengan tersenyum dan mengamati wajah murid terkasihnya itu sambil mengangguk-angguk. Sembahmu sudah kuterima, dan keadaanku sehat-sehat saja hari ini, Niken. Duduklah, aku ingin bercakap-cakap denganmu. Perintah dan petunjuk apakah yang akan Bapa Guru berikan kepada saya? Saya siap melaksanakan semua perintah bapa. kata Niken Sasi dengan suara merdu dan mantap. Ki Sudibyo mengelus jenggotnya dan tersenyum gembira sekali. Sepasang matanya sejenak bersinar-sinar dan dia mengangguk-angguk. Tiada habisnya aku menghaturkan Hyang Agung yang sudah mengaruniaku seorang murid seperti andika ini di hari tuaku, Niken. Hatiku gembira sekali, apalagi ketika pagi tadi aku melihat bahwa latihanmu mempergunakan aji Hasta Bajra telah mencapai titik tertinggi. Nah, sekarang aku ingin melihat aji itu dengan menggunakan tenaga sepenuhnya, seolah engkau sedang berhadapan dan bertanding melawan seorang yang tangguh. Aku sendiri akan mengujimu menggunakan aji itu, Niken. Niken Sasi nampak khawatir. Akan tetapi, Bapa, bertanding dengan aji itu amat berbahaya karena sekali dikeluarkan bagaimana kita dapat mengendalikannya sehingga tidak membahayakan lawan? Memang tidak dapat dikendalikan begitu saja. Bagaikan menyambarnya kilat, akibatnya tergantung dari kuat atau tidaknya lawan menerimanya. Akan tetapi aku bukan hendak mengujimu bertanding aji itu, Niken Sasi. Andika tahu sendiri bahwa tenagaku sudah habis, digerogoti penyakitku. Aku tidak mampu lagi mengerahkan tenaga Hasta Bajra. Karena itu, aku akan menyerangmu dengan lemparan balok-balok kayu yang sudah kupersiapkan ini. Semua lemparan balok-balok ini sambutlah dengan aji Hasta Bajra. Jangan batasi tengamu karena kau ingin melihat sampai di mana tingkatmu dalam aji itu. Ah, begitukah, Bapa? kata Niken Sasi dengan hati lega. Baiklah, akan kulaksanakan perintah Bapa Guru. Ia meloncat ke tengah ruangan itu dan memasang kuda-kuda. Tubuhnya memasang kuda-kuda miring menghadapi gurunya, kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang agak ditekuk, kedua lengannya di angkat ke atas dengan telapak tangan menghadao ke arah atas seperti sedang menyangga langit. Tubuhnya tegak, matanya memandang tajam ke depan, pernapasannya menjadi lambat dan panjang karena ia mulai menyalurkan tenaga Hasta Bajra ke dalam kedua tangannya. Saya sudah siap, Bapa! Katanya dengan sikap gagah. Ki Sudibyo memang tidak berani lagi menggunakan aji Hasta-bajra karena penggunaan tenaga sakti itu terlalu kuat bagi tubuhnya yang sudah ringkih. Maka, dia sejak pagi tadi telah mengumpulkan belasan potongan balok yang cukup besar, dan beberapa bongkah batu gunung. Kini, dia lalu mengangkat balok-balok itu, satu demi satu dan dilontarkan ke arah muridnya dengan sekuat kemampuannya. Biarpu dia sudah berpenyakitan, akan tetapi karena bekas pendekar perkasa, lontarannya itu masih cukup kuat dan potongan balok itu menyambar dahsyat ke arah muridnya. Siyyyttt.............wirrrrrr........ ! Blok pertama menyambar ke arah kepala Niken Sasi. Hyattttt........ahhhhh! Gadis jelita ini menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka menghantam ke arah balok itu. Nampaknya tidak terlalu keras ia menghantam, akan tetapi ketika tangannya menyambar batu, terdengar suara keras. Brakkkkk......... ! Dan balok itupun berantakan, pecah menjadi beberapa potong dan berhamburan ke dinding ruangan menimbulkan suara gaduh. Balok ke dua, ke tiga dan ke empat menyusul, cepat sekali. Niken Sasi bergerak, memainkan ilmu silat Hasta Bajra, kedua tangannya seperti sepasang golok menyambar-nyambar ke arah balok dan batu yang datang susul-menyusul. Balok-balok itu pecah dan ketiak batu-batu mulai menyambar, batu-batu itupun porak-poranda terkena hantaman tangan yang berkulit halus itu. Kini dari ruangan itu terdengar suara hiruk-pikuk karena pecahan kayu dan batu menghantam dinding, ditambah lagi menyambarnya hawa pukulan Hasta Bajra yang mengguncangkan seluruh ruangan! Para murid Gagak Seto terkejut bukan main ketika dari ruangan tertutup itu terdengar suara hiruk-pikuk ditambah lagi didnding ruangan itu tergetar seperti dilanda angin badai yang mengamuk. Akan tetapi Klabangkoro dan Mayangmurko yang juga sudah berada di luar ruangan itu saling pandanga dan Klabangkoro berbisik, Bagaimana Bapa Guru dapat berlatih sehebat itu? Bukankah dia sakit dan lemah....... ? Setelah suara gaduh itu berhenti, Klabangkoro lalau mengetuk daun pintu ruangan itu sambil berteriak memanggil gurunya, Bapa Guru........ ! Apakah yang terjadi? Harap suka membuka pintu dan mengijinkan kami masuk....! Agak lama tidak ada jawaban, kemudian pintu terbuka dari dalam dan yang muncul adalah Niken Sasi, adik seperguruan mereka termuda. Niken Sasi tersenyum melihat Klabangkoro, Mayangmurko dan Gajahpuro, aeorang pemuda tampan dan gagah putera Klabangkoro, dan banyak sekali murid Gagak Seto berada di belakang mereka. Haiiii, kalian kenapakah? Membikin kaget kepada Bapa Guru saja. Niken Sasi menegur, akan tetapi sambil tersenyum. Niken Sasi, apakah yang terjadi di dalam? Gajahpuo yang sebaya dengan gadis itu dan hubungan di antara mereka akrab sekali, segera bertanya. Ya, apakah yang terjadi , Niken? tanya pula Klabangkoro sambil mencoba untuk menjenguk ke dalam.Dia tebelalak melihat pecahan-pecahan kayu dan batu di ruangan itu, berserakan memnuhi ruangan. Ah, tidak ada apa-apa. Hanya Bapa Guru sedang berlatih aji Hasta Bajra, mengguankan kayu dan batu yang harus kulemparkan kepada Bapa Guru. kata gadis itu dengan suara wajar. Ia memang seorang gadis yang cerdik. Ia sudah diberitahu oleh gurunya bahwa tidak ada seorangpun boleh mengetahui bahwa dia telah menerima pelajaran aji Hasta Bajra dari gurunya, harus merahasiakan sampai aji itu dikuasainya dengan sempurna. Oelh karena itu, ketika mereka bertanya-tanya, mudah saja ke luar dari bibirnya jawaban itu. Klabangkoro dan Mayangmurko kembali saling pandang dan mata mereka terbelalak. Akan tetapi.......bukankah......bukankah Bapa Guru sedang sakit.......? tanyannya heran. Pada saat itu Ki Sudibyo muncul dari ambang pintu. Wajahnya agak pucat dan napasnya memburu. Dia mengangkat tangan menenangkan muridnya lalau berkata sambil tersenyum lemah Kalian semua jangan khawatir. Aku hanya berlatih dan .........latihan itu menghabiskan tenagku. Aku......aku ingin beristirahat, jangan mengganguku. Engkaupun beristirahatlah, Niken. Engkau sudah cukup membantuku.....Ki Sudibyo lalu menutupkan kembali dauan pintu setelah masuk kembali ke dalam ruangan itu. Niken, engkau harus menceritakan kepadaku tentang latihan Hasta Bajra itu. Tentu hebat bukan main! tanya Gajahpuro sambil mendekati Niken Sasi. Gadis itu tersenyum, sambil menuruni anak tangga dan melangkah perlahan. Gajahpuro mendampinginya, juga Klabangkoro dan Mayangmurko. Bukan hebat lagi, dahsyat! kata gadis itu tersenyum, diam-diam ia girang bukan main karena tadi sehabis latihan, gurunya mengatakan bahwa ia telah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Niken, andika melihat semua gerakan Bapa Guru ketika berlatih aji Hasta Bajra? Benar-benarkah dia memainkan aji itu dengan dahsyatnya? Aku melihatnya sendiri, paman. Semua balok dan batu yang kulemparkan kepadanya dihancurkan oleh kedua tangannya. Jawab gadis itu. Klabangkoro saling pandang dengan Mayangmurko. Akan tetapi dia sedang sakit, tubuhnya lemah, bagaimana..... Siapa bilang Bapa Guru sakit dan lemah? Niken Sasi membantah. Dia sehat dan kuat, buktinya mampu berlatih Hasta Bajra. Wah, kalau begitu tentu engkau sudah mempelajarinya pula, Niken? kata Gajahpuro girang, akan tetapi juga suaranya mengandung iri. Aji itu terlalu berat dan sukar bagiku, dan Bapa Guru juga tidak mengajarinya kepada siapapu. Sudahlah, aku ingin mandi, hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi aku harus mempersiapkan makan malam untuk Bapa Guru. Gadis itu lalu pergi meninggalkan para murid Gagak Seto yang masih tertegun dan bertanya-tanya itu. Klabangkoro lalu menarik tangan Mayangmurko memasuki pondoknya. Dengan daun pintu dan jendela tertutup mereka berdua lalu bercakap-cakap dengan hati-hati dan setengah berbisik sehingga tidak akan terdengar lain orang. Ssstt......Kakang Klabangkoro, apa yang kita dengar tadi? Ternyata Bapa Guru masih sehat dan kuat. Sungguh celaka! Bisa berantakan semua rencana kita yang sudah kita rencanakan bertahun-tahun! kata Mayangmurko. Klabangkoro memukul telapak tangan kiri dengan tinju kanan. Plakkk! dia berjalan hilir mudik. Pantas saja ketika itu Sepasang Keris Maut dari Nusa barung yang dikirim Jambuka Sakti gagal membunuhnya. Akan tetapi menurut Sepasang Keris Maut, pukulan Bapa Guru tidak begitu kuat lagi sehingga tidak membuat mereka terluka berat. Mungkinkah sekarang telah pulih kembali semua kekuatannya? Rasanya tidak mungkin! Kelihatannya dia berpenyakitan dan lemah, apa lagi usianya menjadi semakin tua. Kakang Klabangkoro, jangan-jangan Niken Sasi....... Hemm, bocahperempuan itu? Mana mungkin ia dapat menguasai Hasta Bajra ayang amat sulit dan membutuhkan landasan tenaga sakti yang kuat. Bocah perempuan itu tidak ada apa-apanya, adi Mayangmurko. Akan tetapi ia dekat dengan Bapa Guru dan ia amat disayang. Aku khawatir Bapa Guru mewariskan aji itu kepadanya, baik dalam bentuk pelajaran atau dalam bentuk kitab agar kelak dapat dipelajarinya. Kurasa jalan terbaik adalah melenyapkan perawan itu, kakang. Hushh! Lancang ucapanmu, Mayangmurko! Tidak tahukah andika bahwa puteraku si Gajahpuro itu cinta setengah mati kepada Niken Sasi? Tidak, membunuhnya bukan jalan terbaik, pula akan menimbulkan kecurigaan kepada Bapa Guru. Lebih baik kalau perawan itu menjadi isteri puteraku sehingga andaikata benar ia memiliki warisan Hasta Bajra, kelak akan terjatuh ketangan puteraku pula. Akan tetapi bagaimana kalau dia tidak mau menjadi isteri Gajahpuro? bantah Mayangmurko. Harus diusahakan agar ia mau! Aku ada akal. Rencana ini pertama untuk menguji apakah benar gadis itu memiliki aji Hasta Bajra, dan kedua membuat ia berhutang budi kepada Gajahpuro. Kalau cara ini tetap tidak berhasil, masih ada cara ketiga, yaitu menodainya sehingga terpeksa ia akan menerima Gajah[puro sebagai suaminya untuk mencuci aib. Mendengar ini, Mayangmurko mengacungkan ibu jarinya. Wah, andika memang hebat, kakang. Mari kita cepat melaksanakan rencana itu agar jangan sampai terlambat! Kedua orang itu lalu meninggalkan ruangan tertutup itu dan menyelinap dalam kegelapan malam yang mulai menyelimuti bumi. Sementara itu, ketika Niken Sasi melayani gurunya makan malam, Ki Sudibyo mengajak muridnya itu makan bersama. Hal ini agak aneh bagi Niken Sasi, karena tidak biasanya gurunya mengajak makan bersama. Melihat pandang mata Niken Sasi yang penuh keheranan dan keraguan itu, Ki Sudibyo berkata lembut. Niken, jangan ragu-ragu. Marilah temani aku makan malam. Siapa tahu, dalam beberapa hari ini merupakan hari-hari terakhir bagi kita untuk berduaan. Eh? Maksud Bapa Guru, bagaimana? tanya gadis itu dengan mata terbelalak, terkejut. Niken Sasi, engkau kini telah menjadi seorang gadis remaja, bahkan sudah dewasa karena usiamu sudah delapanbelas tahun. Ingatlah, engkau berasal dari istana! Niken Sasi memenuhi permintaan gurunya dan makan bersama gurunya, dan sambil makan mereka bercakap-cakap. Saya kira Bapa masih ingat bahwa saya sama sekali tidak mengharapkan untuk kembali ke istana. Saya ingin tinggal saja di sini melayani Bapa Guru. Ki Sudibyo tersenyum. Boleh saja engkau melupakan istana dan tidak ingin kembali ke sana. Itu adalah hak pribadimu untuk memilih kehidupan macam apa yang ingin kautempuh.Akan tetapi, juga tidak mungkin kalau engkau terus tinggal di sini melayaniku. Aku t6idak ingin disebut manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Tidak, angger, engkau harus pergi dari sini karena banyak persoalan yang harus kau hadapi di samping engkau harus pula memanfaatkan semua ilmu yang pernah kau pelajari di sini dengan segala jerih payah. Akan tetapi, Bapa. Persoalan apakah yang saya hadapi? Saya tidak mempunyai persoalan. Hemm, benarkah itu? Apakah engkau bicara dari dasar hatimu, ataukah memang engkau sudah lupa bahwa ayah ibumu terbunuh orang tanpa kauketahui dosanya dan siapa pula para pembunuh itu? Mendengar pertanyaan gurunya itu, tiba-tiba saja Niken Sasi menundukkan mukanya untuk menyembunyikan matanya yang tiba-tiba menjadi basah itu. Ia menahan makannya dan melihat ini, Ki Sudibyo tersenyum. Tabahkanlah hatimu dan tidak pantas seorang dara perkasa sepertimu menjadi cengeng.Hayo lanjutkan dulu makan kita, nanti aku ingin bicara denganmu. Guru dan murid itu melanjutkan makan mereka. Patut dikagumi gadis itu, yang baru berusia delapanbelas tahun akan tetapi demikian kuatnya menahan gejolak hatinya. Tadi, diingatkan tentang kematian ayahnya dan lenyapnya ibunya, hatinya seperti ditusuk dan kedua matanya menjadi basah. Nasi di lehernya sukar ditelan. Akan tetapi mendengar ucapan gurunya, ketabahannya timbul dan semangatnya membakar sehingga ia mampu melanjutkan makannya. Setelah selesai makan dan bekas makanan disingkirkan oleh Niken Sasi, tikar di lantai juga sudah dibersihkan Ki Sudibyo bersila di depan muridnya dan suaranya terdengar sungguh-sungguh ketika dia bertanya, Muridku yang baik. Benarkah engkau sudah melupakan apa yang menimpa diri ayah bundamu? Niken Sasi sekarang telah dapat menguasai hatinya sepenuhnya dan dia mengangkat muka menatap wajah gurunya, kemudian menjawab dengan suara tenang, Bapa Guru, bagaimana saya akan mampu melupakan kematian ayah yang menyedihkan itu, dan lenyapnya ibu yang dilarikan penjahat? Kalau begitu, di dalam hatimu tumbuh dendam kebencian yang membara terhadap mereka yang berbuat jahat terhadap ayah ibumu? Niken Sasi menggelengkan kepalanya danmenjawab dengan tegas. Tidak, sama sekali, Bapa.Sudah nampak jelas oleh saya dengan pengertian yang mendalam bahwa mendendam adalah suatu perbuatan yang amat bodoh dan yang akhirnya hanya merugikan diri sendiri saja. Tidak, saya tidak lagi mengandung dendam. Akan tetapi karena kematian ayah itu dalam penasaran, juga saya harus melihat apakah ibu saya telah meninggal dunia ataukah masih hidup, maka saya harus melakukan penyelidikan, siapa yang telah melakukan penyerangan terhadap mendiang ayah, siapa pula dalangnya dan apa pula sebabnya mereka melakukan hal itu terhadap ayah dan ibu. Kemudian, kalau ibu masih hidup, saya harus membebaskan ibu dari tangan penjahat. Dan bagaimana sikapmu terhadap para penjahat itu sendiri, Niken Sasi? Hal itu tergantung kepada mereka sendiri, Bapa. Kalau saya mendapatkan bahwa mereka itu adalah orang-orang jahat yang masih mkelakukan kejahatan, sudah menjadi kewajiban saya untuk menentang kejahatan itU. Akan tetapi, yang saya tentang bukanlah manusia-manusianya yang berdasarkan dendamj, melainkan perbuatannya. Demi keselamatan dan keamanan orang-orang yang tidak berdosa, kalau mereka jahat akan saya tentang dan basmi! Ki Sudibyo menganguk-angguk senang, Bagus sekali, kuharap saja engkau sudah mengerti benar karena pengertian itulah yang akan menjadi obor bagi semua tindakanmu. Celakalah kalau engkau bertindak karena dorongan dendam. Aku sendiri telah melakukan hal itu, Niken. Dan sampai sekarang aku masih tenggelam dalam penyesalan. Saya aku selalu mengingat semua wejangan Bapa, dan mudah-mjudahan Sang Hyang Wisnu akan selalu memberi bimbingan kepada hamba sehingga akan timbul kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam segala sepak terjang saya. Sekarang ada dua hal yang aku harapkan dengan sangat agar engkau dapat melaksanakannya, Niken. Kalau engkau dapat melaksanakan dua hal ini dengan baik sebagai pesan terakhirku, maka aku akan menghadapi kematian dengan hati tenteram dan mata terpejam mulut tersenyum. Katakanlah, Bapa. Tugas apakah yang harus saya laksanakan? Saya siap untuk menanti perintah Bapa dan melaksanakannya dengan sekuat tenaga saya. Begini, angger. Dari anak buah Gagak Seto aku mendapat aku mendapat berita penting sekali, yaitu bahwa kini semua oran g gagah saling berlomba untuk menemuakan keris pusaka Tilam Upih. Keris pusaka ini milik mendiang Sang Prabu Airlangga yang telah hilang seabad yang lalu. Menurut perhitungan Sang Prabu Jayabaya yang diumumkan, dikabarkan bahwa keris pusaka itu akan mucul pada hari-hari ini. Karena itu, berduyun-duyun orang gagah dari segala penjuru bermunculan untuk berlumba mendapatkan keris pusaka itu. Nah, aku mengharap agar engkaupun tidak ketinggalan, menyumbangkan tenagamu untuk mencari dan mendapatkan pusaka itu, angger. Bapa Guru, bukan sekali-kali saya menolak atau keberatan melakukan perintah Bapa ini. Akan tetapi, Bapa. Kalau semua orang gagah sudah bermunculan, berlumba mendapatkan pusaka itu, masih perlukah saya ikut mencarinya? Pusaka itu pasti akan dapat ditemukan mereka dan dihaturkan kembali kepada Sang Prabu Jayabaya. Ah, kalau benar seperti ucapanmua itu, tentu akupun tidak akan mengutusmu pergi, angger. Akan tetapi kenyataannya bukan begitu. Tidak semua orang berpamrih mencari pusaka itu untuk dikembalikan kepada Sang Prabu Jayabaya. Mereka mencari untuk diri sendiri. Dan berbahayalah kalau sampai pusaka itu jatuh ke dalam tangan seorang penjahat karena pusaka itu ampuhnya menggiriskan. Jadi, engkau harus membantu mereka yang berpamrih baik, mengembalikan pusaka itu kepada yang berhak, yaitu kerajaan Daha. Hemm, begitukah Bapa? Sekarang mengerti saya, dan kalau begitu memang sudah menjadi kewajiban saya untuk ikut mencarinya dan mencegah pusaka itu terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Akan tetapi, kalau saya mulai mencarinya, ke manakah saya harus pergi, Bapa? Tanpa arah petunjuk, bagaimana saya dapat mencarinya? Sang Tilam Upih itu oleh penciptanya, yaitu mendiang Empu Bromokendali pada jaman negeri Medang Kamulan, sembilan abad yang lalu, dibuang ke Lautan Kidul. Yang menemukannya adalah mendiang Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narrotama. Akan tetapi, pada saat Sang Mahaprabu Airlangga mengundurkan diri dan menjadi Sang Resi Gentayu, pusaka Tilam Upih itu hilang. Karena keris pusaka itu ditemukan di Lautan Kidul, maka timbul dugaan bahwa dia kembali lagi ke Lautan Kidul. Nah, hanya itulah petunjuknya dan dalam usahamu itu, engkau dapat menyusuri lautan itu untuk mencarinya. Baiklah, Bapa. Saya akan berusaha keras untuk dapat menemukannya. Dan andaikata saya berhasil, apa yang harus saya lakukan dengan pusaka itu? Ki Sudibyo tersenyum, girang melihat besarnya semangat muridnya. Kalau engkau berhasil, bawalah ke sini. Kalau aku masih hidup, aku akan menyertaimu menghadap Sang Prabu Jayabaya untuk menghaturkan pusaka itu. Gadis itu mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak nyaman mendengar bahwa ia kelak harus menghadap eyangnya, Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi ia tidak membantah dan hanya mengangguk, lalu bertanya, Dan hal yang kedua yang harus saya lakukan itu apakah, Bapa? Hal pertama ini harus kau lakukan dulu, karena itu merupakan ujian bagimu untuk melaksanakan tugas ke dua. Dalam tugas pertama itu, engkau akan digembleng oleh pengalaman-pengalaman hebat, bertemu dengan orang-orang sakti mandraguna berbagai aliran. Mungkin pula engaku akan menghadapi pertandingan-pertandingan di mana engkau akan mengetrapkan semua ilmu dan aji yang telah kau pelajari dariku. Hanya, pesanku jangan sekali-kali menggunakan aji Hasta Bajra kalau tidak perlu sekali, karena penggunaan aji ini amat berbahaya bagi lawan dan dapat menimbulkan korban. Kalau engkau sudah melaksanakan tugas pertama itu, baik berhasil menemukan keris atau tidak, barulah engkau kembali ke sini dan melaksanakan tugasmu yang ke dua. Apakah tugas itu, Bapa? Saya akan melaksanakan dengan seluruh kemampuan saya. Tugas itu adalah menggantikan kedudukanku sebagi ketua perkumpulan Gagak Seto! Mendengar ucapan gurunya ini, Niken Sasi benar-benar terkejut sehingga ia mengangkat mukanya memandang wajah gurunya dengan penuh perhatian. Akan tetapi gurunya tidak main-main. Wajah gurunya bersunguh-sungguh. Akan tetapi, Bapa......! Bagaimana saya dapat menjadi ketua? Bukankah di sana terdapat Paman Klabangkoro dan Paman Mayangmurko yang lebih memenuhi syarat dan berpengalaman? Sudah kupertimbangkan baik-baik, Niken Sasi. Perkumpulankita adalah perkumpulan kita adalah perkumpulan orang gagah yang sudah terbiasa dengan tindakan kekerasan. Kalau mereka tidak dipimpin oleh seorang yang benar-benar bijaksana dan berwatak baik, mereka dengan mudah akan dibaw menyeleweng dan berbahayalah kalau terjadi demikian. Dan aku tidak melihat seorangpun di antara para murid yang tepat untuk menjadi ketua, kecuali engkau! Akan tetapi saya hanyalah seorang wanita, Bapa Guru! bantah Niken Sasi yang merasa ngeri diserahi tugas menjadi ketua itu. Apa alasan yang Bapa Guru ambil untuk memilih saya, seorang wanita muda, menjadi ketua perkumpulan besar ini? Untuk menjadi pemimpin pria atau wanita sama saja. Ingat, Dewi Woro Srikandi juga seorang wanita, namun ia telah terkenal sebagi seorang senopati yang gagah perkasa dan pilih tanding. Alasanku memilihmu, karena engkau merupakan murid yang paling tangguh di antara semua muridku. Terutama sekali karena engkau yang mewarisi aji Hasta Bajra selain itu, hanya engkau yang kupandang memiliki kebijaksanaan walaupu usiamu masih muda. Nah, aku sungguh mengharapkan engkau tidak akan menolak permintaanku ini, Niken Sasi! Maaf, Bapa. Sama sekali bukan saya keberatan, hanya saya pikir masih banyak murid pria yang saya pandang juga bijaksana dan berwatak baik seperti misalnya kakang Gajahpuro. Hemm, tidak salah pendapatmu. Gajahpuro memang seorang pemuda yang baik dari pada ayahnya, Klabangkoro. Akan tetapi, dia kurang berbakat dan tidak cukup tangguh untuk menjadi seorang pemimpin. Ketahuilah, hanya seorang ketua yang menguasai aji Hasta Bajra dan selain aku, hanya engkau yang kini menguasainya. Bahkan aku sendiri sudah tidak mampu mempergunakannya dengan baik, jadi engkau seoranglah yang kini menguasainya dengan sepenuhnya. Karena itu, harap jangan menolak lagi, Niken. Gadis itu menghela napas panjang. Sebetulnya, sedikitpun tidak ada keinginan di hatinya untuk menjadi ketua Gagak Seto. Akan tetapi iapun tidak tega untuk menolak begitu saja permintaan gurunya yang demikian sungguh-sungguh. Bapa, biarlah tentang kedudukan ketua itu akan saya pikirkan dulu, karena bukankah sekarang saya harus melaksanakan tugas pertama mencari pusaka itu? Baiklah, Niken. Maafkan aku yang telah membebani pikiranmu dengan banyak persoalan. Memang sebaiknya engkau menghadapi satu masalah saja dahulu yaitu mencari pusaka Tilam Upih. Mudah-mudahan saja para dewata melindngimu sehingga engkau yang akhirnya menemukan pusaka yang diperebutkan itu. Bapa, kapan saya harus berangkat? Saya harus membuat persiapan untuk perjalanan itu. Tiga hari kemudian merupakan hari yang amat baik bagimu untuk mulai dengan perjalananmu, Niken. Berkemas dan bersiap-siaplah, dan pusakaku Kyai Megantoro ini kuberikan kepadamu. Bawalah untuk pelindung diri. Biarpun tidak sehebat Kyai Tilam Upih, akan tetapi Megantoro ini sudah menemaniku selama puluhan tahun dan sudah amat besar jasanya. Kakek itu mengambil kerisnya dan menyerahkan kepada Niken Sasi. Niken Sasi menerima keris itu dengan kedua tangannya. Kyai Megantoro adalah sebatang keris yang bentuknya lurus, juga tidak terlalu panjang sehingga cocok untuk dipergunakan seorang wanita. Pada saat itu, sesosok tubuh meninggalkan daun jendela ruangan itu di mana tadi ia berdiri tanpa bergerak dan menahan napas. Orang itu sempat mendengarkan bagian terakhir dari percakapan antara Niken Sasi dan Ki Sudibyo. Ia seorang wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Usianya sekitar duapuluh tahun, seorang gadis yang lumayan cantiknya, dan yang sudah bekerja kepada Ki Sudibyo sejak berusia sepuluh tahun. Oelh karena itu Jinten, demikian nama gadis itu, telah dipercaya. Ialah yang dahulu selalu melayani Ki Sudibyo, akan tetapi semenjak Niken Sasi menjadi murid orang tua itu dan Niken Sasi berkeras melayani sendiri gurunya, Jinten hanya membantunya kalau dikehendakinya saja. Sejak ada Niken Sasi, Jinten lebih banyak bekerja di dapur, masak dan mencuci pakaian. Ia seorang gadis yang manis yang lincah dan agak genit. Sudah lebih dari tiga tahun Jintenditarik oleh Klabangkoro menjadi mata-mata untuk selalu mengikuti gerak-gerik Ki Sudibyo. Apa lagi akhir-akhir ini, Jinten dipesan oleh majikannya itu agar selalu mengintai atau mendengarkan kalau Ki Sudibyo bercakap-cakap dengan Niken Sasi. Maka, pada malam hari itu, ketika melihat Ki Sudibyo bercaklap-cakap dengan Niken Sasi, ia cepat menyelinap dekat jendela dan dengan hati-hati mendengarkan percakapan itu. Sebelum Niken Sasi yang menerima keris itu bangkit meninggalkan ruangan, Jinten mendahuluinya, pergi dengan berjingkat-jingkat. Kemudian wanita ini berlari ke pondok Klabangkoro. Ketika tiba di sana Klabangkoro sedang bercakap-cakap dengan Gajahpuro, puteranya. Biarpun di situ tidak ada orang lain lagi, Jinten nampak meragu ketiak melihat pemuda itu.Memang ia merasa takut kepada Gajahpuro. Pernah ia bersikap genit dan berusaha merayu Gajahpuro, akan tetapi perjaka ini bukannya tertarik, bahkan menghardik dan memakinya! Sejak saat itu, ia tidak berani lagi mendekati putera tokoh Gagak Seto itu. Melihat Jinten datang berlarian, kemudian meragu sambil memandang kepada puteranya, Klabangkoro berkata kepada Gajahpuro, Anakku, Gajahpuro, engkau tinggalkanlah dulu ruangan ini. Aku perlu bicara berdua dengan Jinten. Gajahpuro bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan alis berkerut. Dia tahu bahwa Jinten adalah orang kepercayaan ayahnya, akan tetapi dia tidak tahu apa tugas Jinten. Dia tidak suka dan muak kepada gadis pelayan yang genit itu. Setelah Gajahpuro pergi, Jinten lalu berkata, Bendoro, saya membawa berita yang teramat penting sekali ini! kata Jinten dengan wajah gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar. Akan tetapi bagaimana dengan janji paduka? Telah banyak jasa saya, akan tetapi belum juga paduka memenuhi janji paduka kepada saya. kata Jinten dengan sikap jual mahal dan manja. Setan! Kurang banyakkah hadiah yang kuberiakan kepadamu berupa uang dan pakaian? bentak Ki Klabangkoro dengan mata melotot. Jinten memainkan matanya dengan sikap menarik. Eh, bukan itu yang saya maksudkan. Soal hadiah memang sudah cukup, akan tetapi paduka pernah berjanji akan mengembil saya sebagai selir. Ki Klabangkoro tertawa, tangannya yang besar itu terulur dan di lain saat Jinten sudah didekapnya dan diberiakan ciuman yang kuat, lalu dilepaskannya kembali. Wanita itu sampai terengah-engah karena dipeluk kuat sekali. Ha-ha-ha, bodoh! Kalau engkau menjadi selirku, bagaimana engkau dapat membantuku lagi? Soal menjadi selir itu mudah. Kalau sudah selesai tugasmu dan tercapai cita-citaku menjadi ketua Gagak Seto, tentu engkau akan menjadi selirku yang pertama. Yang pertama, kaudengar? Akan tetapi sekarang belum, tugasmu masih banyak dan tugas itu baru dapat kau laksanakan kalau engkau menjadi pelayan seperti sekarang. Mengerti? Jinten mengangguk-angguk, padahakekatnya, ia memang takut sekali kepada Klabangkoro. Tadinya ia sendiri tergila-gila kepada Gajahpuro akan tetapi karena semua usahanya merayu pemuda itu gagal, ia lalu hendak mengait ayahnya.Apalagi setelah ia membantu Ki Klabangkoro dan mengetahui bahwa orang itu ingin menjadi ketua Gagak Seto, ia membayangkan betapa akan terhormat dan senangnya kalau ia menjadi selir ketua! Saya......saya mengerti...... Bagus! Nah, sekarang ceritakan apa berita penting itu! Jinten bicara perlahan, setengah berbisik dan mendekati Klabangkoro. Saya mendengar percakapan Ketua dan Niken Sasi. Yang pertama adalah supaya gadis itu pergi mencari keris pusaka Tilam Upih milik kerajaan Daha yang hilang dan ketua telah memberikan keris pusakanya Kyai Megantoro kepada Niken Sasi. Hemmm, apa yang kedua? Yang kedua penting sekali. Ketua hendak mengangkat Niken Sasi menjadi penggantinya kelak, menjadi ketua Gagak Seto. Keparat! Sudah kuduga! Hemmmm, setan cilik itu......! Ki Klabangkoro mengepal tangannya dan berjalan hilir mudik. Kita harus cepat bertindak! Jinten, cepat kau pergi mengundang adi Mayangmurko ke sini! Perintah itu cepat dilaksanakan. Sebagai seorang pelayan ketua, tentu saja Jinten bebas berkeliaran di perkampungan Gagak Seto itu tanpa ada yang mencurigainya sama sekali. Dan beberapa menit kemudian Klabangkoro dan Mayangmurko sudah berhadapan di dalam bilik tertutp berdua saja. Celaka! Kalau begitu, kita harus cepat turun tangan, kakang Klabangkoro sebelum terlambat! kata Mayangmurko ketika mendengar bahwa Niken Sasi akan diangkat menjadi ketua menggantikan Ki Sudibyo. Tenang dan sabarlah, adai. Kita harus mengatur rencana serapi mungkin agar siasat kita jangan sampai gagal. Kebetulan sekali bocah itu mendapat tugas mencari Keris Pusaka Tilam Upih. Bapa Guru tentu mempunyai alasan kuat mengapa dia mempercaya bocah itu untuk mencari pusaka yang diperebutkan semua orang gagah itu. Dan karena itu amat amapuh, sungguh menguntungkan sekali kita bisa mendapatkannya, maka kita pergunakan kesempatan ini untuk keuntungan kita. Wah, memiliki pusaka Tilam Upih sungguh berbahaya, kakang. Pusaka itu milik kerajaan Daha dan kalau kita mendapatkannya, tentu kita akan berhadapan dengan kerajaan Daha. Berbahaya sekali! Ha-ha-ha, kalaupusaka itu sudah berada di tangan kita, mudah saja nanti mencari jalan terbaik. Klau mungkin kita miliki, kalau tidak mungkin, kita dapat mengembalikan kepada kerajaan dan memperoleh imbalan jasa besar. Dan semua itu akan kita dapatkan tanpa susah payah. Biarlah Niken Sasi mencarikan dan mendapatkan untuk kita. Ha-ha-ha! Wah, kakang Klabangkoro. Itu siasat yang bagus sekali! Jadi kita tidak langsung turun tangan, akan tetapi menanti sampai bocah itu mendapatkan pusaka Tilam Upih? Untuk itu kita mesti minta bantuan gerombolan Jambuka Sakti. Karena tanpa bantuan mereka, bagaimana mungkin kita dapat membayangi perjalanan Niken Sasi? Dan bagaimana dengan Bapa Guru? Kebetulan sekali Niken Sasi akan pergi. Siapa tahu ia memiliki kepandaian tangguh dan ia tentu akan membela gurunya. Nah, kita tunggu sampai ia pergi, lalu kita paksa Bapa Guru untuk menuliskan ilmu Hasta Bajra. Kalau dia menolak? Hemm, untuk melawanpun dia tidak mampu. Tapi, kakang. Baru siang tadi dia berlatih Hasta Bajra dengan hebatnya di ruangan itu! kata Mayangmurko gentar. Jangan percaya! Mungkin dia dan Niken Sasi berlatih. Kalu Bapa Guru sudah menyuruh bocah itu mencari pusaka, hal itu dapat dipastiakn berarti bahwa Niken Sasi telah memiliki kepandaian yang tinggi. Bpa Guru sendiri masih lemah, apakah yang dapat dia lakukan terhadap tekanan kita? Akan tetapi pekerjaan ini berat dan berbahaya. Sebaiknya kalu kita pergi menemui Ki Brotokeling dan membicarakannya dengan dia. Tanpa bantuan Jambuka Sakti, aku khawatir kita gagal.kata Mayangmurko. Baik, marilah malam ini juga kita berkunjung ke sana. kata Ki Klabangkoro dan kedua orang itu lalu menyusup dalam kegelapan malam. Mereka tidak perlu pergi ke lereng Gunung Bromo tempat asal Jambuka Sakti, karena pada waktu itu, ketuanya, Brotokeling sedang berada di sebuah hutan di kaki gunung Anjasmoro. Ki Brotokeling mempunyai cita-cita yang besar, yaitu dia ingin menjadi datuk atau penguasa dari Panca-Giri ( lima Gunung ). Kalau cita-citanya berhasil, dengan menundukkan gerombolan-gerombolan yang berkuasa di lima gunung itu, maka dia akan menjadi kepala dari para gerombolan di Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Arjuna, dan Anjasmoro! Dan kini dia sedang melakukan penjajagan, maka dia turun dari Bromo dan sementara berada di kakai gunung Anjasmoro. Di sini dia mengadakan sekutu dengan Ki Klabangkoro dan Mayangmurko yang berkeinginan menguasai Gagak Seto. Demikianlah, Ki Klabangkoro dan Ki Myangmurko hanya memerlukan waktu setengah malam saja untuk sampai di tempat kediaman sementara Ki Brotokeling, di kaki gunung Anjasmoro, dalam sebuah hutan lebat. Hutan di kaki gunung Anjasmoro yang dijadikan tempat tinggal sementara gerombolan Jembuka Sakti itu kelihatan sepi saja, seolah tidak ada penghuninya. Akan tetapi sesungguhnya di jantung hutan itu terdapat bangunan-bangunan pondok darurat yang merupakan perkampungan kecil. Gerombolan itu terdiri kurang lebih seratus orang, dipimpin sendiri oleh Jambuka Sakti setelah selama beberapa tahun dia menyebar para pembantunya untuk menyelidiki keadaan lima buah gunung yang akan ditaklukannya itu. Andaikata Ki Sudibyo masih kuat dan sehat seperti dahulu dan masih memegang sendiri kendali perkumpulannya, jangan harap bagi Jembuka Sakti untuk bermukim di hutan itu. Seluruh daerah pegunungan Anjasmoro sudah berda di bawah pengawasan dan kekuasaan perkumpualan Gagak Seto. Akan tetapi, kini yang berkuasa adalah Ki Klabangkoro dan Ki Mayangmurko, dan mereka inilah yang memperkenankan gerombolan Jembuka Sakti tinggal di situ karena memeng mereka bersekutu dengan perkumpulan yang lebih besar dan lebih kuat itu. Ki Brotokeling, ketua Jembuka Sakti, menjanjikan kepada Ki Klabangkoro untuk membantu sehingga Klabangkoro dapat merebut kedudukan ketua Gagak Seto sedangkan sebaliknya Klabangkoro menyatakan dukungannya kepada Jambuka Sakti untuk menjagoi Panca-giri. Setelah tiba di dalam hutan, kedua orang pimpinan Gagak Seto itu, tidak berani lancang melanjutkan perjalanan karena mereka tahu bahwa mereka telah tiba di wilayah tempat persembunyian perkumpulan Jambuka Sakti. Ki Klabangkoro lalu membuka mulutnya dan dari kerongkongannya terdengarlah suara parau seperti suara seekor burung gagak. Kraaaaakkk.........kraaaaakkkk......kraaakkk...... ! Hening sekali mengikuti bunyi suara burung gagak itu.Bahkan kicau burungpun berhenti, seolah semua binatang merasa takut mendengar bunyi parau yang aneh itu. Akan tetapi tidak lama kemudian terdengar suara gonggongan anjing atau srigala. Haunggg.....haunnnnggg.......... ! Hemm, kita telah disambut. kata Ki Klabangkoro dan Ki Mayangmurko juga mengangguk. Mereka sudah mengenal pula bunyi srigala itu yang merupakan tanda rahasia para anggota Jambuka Sakti. Tak lama kemudian dari balik semak-semak bermunculan empat orang pria tinggi besar berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan mereka berempat memegang sebatang golok yang gagangnya berbentuk kepala srigala dengan ronce merah. Agaknya empat orang ini mengenal Ki Klabangkoro dengan baik karena begitu melihat dua orang pimpinan Gagak-seto itu, mereka berempat lalu menyimpan golok mereka di sarung golok yang tergantung di pinggang kiri. Kiranya sampeyan berdua yang datang berkunjung, Ki Klabangkoro! mereka berkata sambil tertawa. Benar, kawan. Kami ingin bertemu dengan Kakang Brotokeling. jawab Klabangkoro sambil tertawa. Kalian berdua memang sedang dinanti-nanti. Mari, silakan! Empat orang itu menjuadi petunjuk jalan dan dua orang pimpinan Gagak Seto itu lalu mengikuti mereka dari belakang, melalui semak-semak belukar dan pohon-pohon besar. Akhirnya tibalah mereka diperkampungan Jambuka- sakti yang berada di tengah-tengah hutan, di antara pohon-pohon raksasa. Di situ dibangun pondok-pondok darurat. Karena ketua Jambuka-sakti memang sedang menanti-nanti kunjungan kedua orang pimpinan Gagak-seto ini, maka mereka berdua segera disambut dan dipersilakan memasuki pondok induk di mana sang ketua telah menanti mereka. Tak lama kemudian. Ki Klabangkoro dan Ki Myangmurko sudah duduk bersila di atas tiakr tebal, berhadapan dengan Ki Brotokeling. ketua Jambuka Sakti ini seorang yang bertubuh jangkung kurus, berusia limapuluh delapan tahun. Biarpun tubuhnya jangkungkurus akan tetapi penampilannya penuh wibawa. Kumis dan jenggot tebal dan membuat dia kelihatan gagah dan menyeramkan. Sebagian mukanya yang kemerahan itu tertutup kumis, jenggot dan cambang sehingga yang nampak hanya hidungnya yang besar dan matanya yang tajam seperti mata burung elang. Bagus kalian datang! kata Brotokeling. Bagaimana perkembangan di Gagak-seto? Dan bagaimana keadaan Ki Sudibyo sekarang? tanya ketua Jambuka-sakti itu. Kabar penting yang kami bawa, kakang Brotokeling. Kami telah melaksanakan semua pesan andika. Perkumpulan Gagak-seto praktis sudah berada di tangan kami. Seluruh anak buah juga sudah tunduk kepada kami. Mereka semua telah ikut makan hasil sepak-terjang dan ikut terlibat sehingga mau tidak mau mereka semua akan setia kepada kami. Bagus! Dan Ki Sudibyo tidak mengetahui semua itu? tanya Brotokeling, Apakah dia sudah tidak lagi merasa penasaran dengan penyerangan yang dilakukan anak buah kami sepuluh tahun yang lalu ? Ah, urusan itu sudah dia lupakan Brotokeling. Kami sudah melaporkan kepadanya bahwa andika tidak tahu-menahu dengan serangan itu, bahwa penyerangan itu mungkin dilakukan oleh anak buah Jambuka-sakti yang sudah keluar dari perkumpulan dan bertindak liar. Diapun menghabiskan saja urusan sampai di situ. Dan selama ini, dia hanya mengurung diri dalam sanggar pamujan. Ha-ha-ha, tidak kusangka Ki Sudibyo mempunyai hati selemah itu. Kalau dia demikian cinta kepada isterinya, kenapa dia mengutus engkau untuk membunuhnya bersama pacar isterinya itu? Kami juga merasa heran sekali kakang. Dia sendiri yang menyuruh membunuh isterinya yang menyeleweng, sekarang dia membenamkan dirinya dalam duka. Akan tetapi hal itu malah kebetulan karena melemahkan semangatnya. Kalau begitu, kenapa kalian belum turun tangan? Sebaiknya menguasai Gagak-seto secara sah, dengan membunuh Ki Sudibyo dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua. Kalau terjadi keributan kami akan membantu kalian menumpas semua penghalang. Itulah kesulitannya, kakang Brotokeling. Selama sepuluh tahun ini, Bapa Guru hanya sibuk dengan muridnya yang baru, yaitu Niken Sasi. Dan baru kemarin kami mendapat kenyataan yang amat mengejutkan. Di dalam ruangan tertutup yang hanya ditempati Ki Sudibyo dan Niken Sasi, Bapa Guru telah berlatih aji Hasta-bajra dengan hebat sekali! Ahh! Dan kaukatakan dia telah menjadi lemah, baik badan maupun semangatnya? teriak Brotokeling penasaran. Memang sesungguhnya demikian, kakang. Bapa Guru makin hari makin lemah dan setiap hari dia minum jamu. Akan tetapi di ruangan tertutup itu ada yang latihan ilmu pukulan ampuh itu sampai terdengar suara gaduh dan dinding-dinding tergetar. Hemm, benarkah itu, adi Mayangmurko? Benar, kakang Brotokeling. Aku juga mendengarnya sendiri dan menurut keterangan Niken Sasi, yang menimbulkan suara gaduh itu adalah Bapa Guru yang berlatih Hasta Bajra. Eh, Ladahlah! Jangan-jangan murid barunya, gadis bernama Niken Sasi itu yang berlatih Hasta Bajra ! kata Brotokeling dengan alis berkerut. Klabangkoro dan Mayangmurko tertawa. Ha-ha-ha, harap jangan khawatir, kakang Brotokeling. Tadinya kami juga mempunyai dugaan seperti itu. Akan tetapi mana mungkin bocah perempuan berusia delapanbelas tahun itu dapat menguasai Hasta Bajra yang membutuhkan tenaga sakti yang besar? kata Klabangkoro. Pula, andaikata benar demikian, kami sudah merencanakan siasat untuk menaklukannya. Akan tetapi semua rencana kami membutuhkan bantuan kakang Brotokeling. kata Mayangmurko. Tentu saja, kami akan membantu. Bukankah selama ini kita sudah saling membantu? Nah, sekarang ceritakan, apa rencana siasat kalian itu agar aku dapat melaporkannya kepada Kanjeng Gusti! Ki Klabangkoro mengamati wajah tuan rumah dengan penuh selidik. Kakang Brotokeling, sebelum kami menceritakan rencana kami, lebih dahulu kami mohon sukalah kiranya andika memberitahukan kepada kami, siapa sesungguhnya Kanjeng Gusti itu. Kami sepantasnya mengetahui untuk siapa kami bekerja dan menghambakan diri. Benar sekali, kakang Brotokeling kami harus tahu kepada siapa kami mengabdi. sambung Mayangmurko. Ki Brotokeling membelalakkan matanya dengan marah. Andika berdua sungguh lancang mulut! Apakah kalian sudah tidak sayang lagi kepada nyawa kalian? Merupakan pantangan besar untuk mencoba mengetahui siapa Kanjeng Gusti. Aku sendiripun belum pernah melihat wajahnya yang sesungguhnya. Sudah kukatakan dahulu bahwa kalau dikehendaki Kanjeng Gusti, beliau akan memperkenalkan diri sendiri kepada kita. Sekarang yang penting, kita tahu bahwa kita menghambakan diri kepada Kanjeng Gusti, menerima upah yang besar, bahkan kelak akan diberi kedudukan tinggi. Akan tetapi siapa mengkhianatinya, biarlah akan lari ke neraka sekalipun tentu akan dapat ditangkap dan dihukum. Cukup kukatakan bahwa kekuasaan Kanjeng Gusti tidak terbatas. Jangan ulangi lagi pertanyaan goblok itu. Kalbangkoro dan Mayangmurko beruabh agak pucat wajah mereka mendengar ini. Maafkan kami.Sebetulnya kami bertanya bukan karena curiga ataun tidak percaya, melainkan agar yakin dan menambah besarnya kesetiaan kami. Akan tetapi kalau itu merupakan pantangan besar, biarlah kami mencabut kembali pertanyaan itu. Sekali lagi harap maafkan kami, kakang Brotokeling. Sudahlah, adi Klabangkoro, jangan singgung lagi persoalan itu. Sekarang lebih baik ceritakan segala yang terjadi dan apa yang kalian rencanakan. Klabangkoro dan Mayangmurko lalu menceritakan semua yang mereka ketahui tentang Ki Sudibyo dan Niken Sasi. Betapa gadis itu diberi tugas oleh Ki Sudibyo untuk mencari pusaka Tilam Upih untuk dihaturkan kepada Sang Prabu Jayabaya. Kemudian menceritakan pula betapa Niken Sasi akan diangkat menjadi ketua Gagak Seto menggantikan Ki Sudibyo. Walah-walah........! Itu gawat sekali! kata Ki Brotokeling sambil mengepal tinju. Soal mencari pusaka Tolam Upih, kami sudah mendengar karena Kanjeng Gusti juga memberi perintah kepada kami untuk embantu dan memperebutkannya. Akan tetapi, kalau gadis itu hendak diangkat menjadi ketua Gagak Seto, hal ini berbahaya sekali. Kalian tentu akan kehilangan kekuasaan atas anak buah Gagak Seto. Lalu apa rencana kalian untuk menghadapi semua itu? Memang mencurigakan sekali. Kalu gadis itu hendak dijadikan ketua, bukan mustahil ia sudah menguasai Hasta-bajra. Harap jangan khawatir, kakang Brotokeling. Kami sudah mengatur rencana siasat begitu. Kalau gadis itu sudah menguasai Hasta Bajra, kami akan berusaha agar ia dapat menjadi jodoh puteraku sehingga aji itu akan dengan mudah kita kuasai kalau ia sudah menjadi mantuku. Kami akan menggunakan siasat agar puteraku berjasa dan ia berhutang budi kepada Gajahpuro, anakku. Andaikata siasat ini gagal, kami masih dapat menggunakan saisat lain, yaitu menodainya agar ia terpaksa mau menjadi isteri Gajahpuro untuk mencuci aib. Langkah kami yang kedua, kami akan membayangi Niken Sasi membiarkan ia mendapatkan Tilam Upih. Baru setelah itu kami merampasnya dari tangannya, Akan tetapi untuk menjamin keberhasilan rencana ini, tentu saja kami mengharapkan bantuan kakang Brotokeling, karena untuk membayangi gadis itu, apalagi kalu benar-benar ia menguasai aji Hasta Bajra, tidaklah mudah dan membutuhkan anak buah yang kuat. Hemm, jangan khawatir. Untuk mengatasi gadis itu, serahkan kepada kami. Akan tetapi, bagimana rencana kalian terhadap Ki Sudibyo? Kenapa sampai sekarang dia dibiarkan hidup dan belum juga kalian usahakan agar aji itu jatuh ke tangan kalian? Untuk menghadapi Ki Sudibyo kamipun sudah mempunyai rencana siasat yang matang, kakang. Kalau benar seperti yang kami lihat dan duga bahwa Ki Sudibyo itu sudah menjadi seorang kakek yang lemah, tentu saja hal itu amat mudah. Kami akan memaksanya untuk mengajarkan Hasta Bajra kepada kami dengan membuatkan kitabnya. Hemm, aku sudah lama mengenal Ki Sudibyo dan dia adalah seorang laki-laki yang berhati sekeras baja. Bagaimana mungkin kalian akan dapat memaksanya? Orang macam dia tidak takut mati, dan kalau tidak mau menyerahkan, biar dia sudah menjadi lemah dan kalian ancam, akan sukarlah untuk dapat memaksanya manyerah. Untuk itupun kami sudah merencanakan siasat yang pasti akan berhasil. Kata Klabangkoro gembira. Pendeknya, serahkan urusan meminta Ki Sudibyo membuatkan kitab pelajaran aji Hasta Braja itu kepada kami. Adapun mengenai pekerjaan membayangi Niken Sasi, kemudian kelak menguasainya kalau kami gagal dengan pengerahan tenaga, kami harap kakang Brotokeling membantu kami. Baik, sekarang membagi tugas. Ingat, kalau aji Hasta Braja sudah berhasil dibuatkan kitabnya, kalian harus memberi kesempatan kepadaku untuk mempelajarinya. Wah, kakang Brotokeling sudah sakti mandraguna, untuk apa lagi mempelajari Hasta Bajra? Klabangkoro mencela. Ki Brotokeling mengelus jenggotnya. Pernah akau mengadu ilmu dengan Ki Sudibyo. Kami setanding dan aku pasti tidak akan kalah olehnya kalau saja dia tidak mempergunakan Hata-bajra. Karena itu, setelah kalian berhasil memperoleh kitab pelajaran aji itu, aku harus ikut mempelajarinya. Dan kalian tidak boelh menolaknya, atau mungkin andika berdua tidak suka bekerja di bawah kekuasaan Kanjeng Gusti. Dan tidak suka bekerja sama itu berarti menetang! Demikianlah, setelah berbincang-bincang dan mengatur siasat, dua orang pimpinan Gagak Seto itu meninggalkan hutan dan kembali ke lereng Anjasmoro. Perbuatan jahat yang bagaimanapun juga tidak akan tersa jahat bagi pelakunya. Seperti yang dilakukan oleh Klabangkoro dan Mayangmurko, juga Brotokeling itu, yang mengadakan persekutuan untuk mencelakakan Ki Sudibyo. Bagi mereka, perbuatan mereka itu sama sekali tidak jahat! Demikian pula bagi semua manusia di dunia ini. Mereka semua menganggap bahwa apapun yang mereka lakukan itu adalah benar dan tidak jahat. Mengapa demikian? Karena semua perbuatan itu mereka lakukan dengan pamrih demi kebaikan dan kesenangan diri pribadi! Dan melakukan perbuatan untuk menyenangkan diri ini mereka anggap tidak jahat! Mereka anggap sebagai perbaikan nasib! Nafsu daya rendah yang sudah bergelimang dalam hati akal pikiran siap untuk menjadi pokral membela semua perbuatan kita. Ada saja alasan yang mereka kemukakan untuk menutupi kesalahan perbuatan kita, atau setidaknya untuk mengurangai kadar kejahatanya. Seorang maliang dibela hati pikirannya sendiri bahwa dia melakukan pencurian demi membela perut keluarga, demi membiayai hidup mereka, dan sebagainya. Seorang pembunuh dibela hati akal pikirannya bahwa dia membunuh karena yang dibunuh itu jahat sekali sehingga pembunuhan yang dilakukannya itu malah baik! Seorang koruptor dibela hati pikirannya sendiri bahwa korupsi yang dilakukan itu adalah hal yang wajar dan umum, bahwa semua karyawan juga melakukannya, demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, membayar uang sekolah anak-anak mereka yang mahal dan sebagainya. Pendeknya, semua perbuatan akan dibela oleh hati pikirannya sendiri, karena hati akal pikan itu, seperti juga perbuatan, telah dicengkeram oleh nafsu daya rendah yang merebut tahta kerajaan dalam diri dan menyebut diri sendiri sebagai aku yang penting! Nafsu daya rendah sedemikian kuatnya mencengkeram diri lahir batin, dan nafsu itu amatlah julingnya, amat pandai dan bersalin rupa. Tidak ada kekuatan atau kekuasaan lain yang akan mampu mengalahkannya dan menaklukannya kecuali kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa! Hanya dengan menyerah kepada kekuasan tuhan sajalah yang akan dapat membersihkan batin sedikit demi sedikit dari cengkeraman nafsu daya rendah. Lautan Kidul merupakan samudera yang teramat luas. Dari pantai Jawa dwipa (Pulau Jawa) orang dapat menyaksikan dan mengagumi kebesaran samudar itu yang tidak nampak batasnya ke arah selatan. Dari pantai itu, kalau orang memandang keselatan, dia seolah akan merasa bahwa selebihnya ke arah selatan, dunia itu nampak air belaka.Air laut yang membiru dengan gelombang yang dahsyat memecah di pantai. Gunungkarang yang merupakan tanggul di pantai selatan itu dengan kokohnya menyambut hantaman ombak dahsyat, mengeluarkan suara menggelegar seperti halilintar mengamuk, disusul suara ngese seperti air mendidih. Setiap orang yang berdiri seorang diri di pantai, menyaksikan kebesaran dan kekuasaan alam ini, orang itu akan merasa betapa dirinya kecil tak berarti, sama kecilnya dengan butir-butir pasir di pantai. Dia akan merasa betapa dirinya itu kecil tanpa arti, bahwa dunia tidak akan berubah dan tidak akan kehilangan andaikata saat itu dia melempar diri di antara gelombang dan ditelan air. Dunia akan tetap bekerja seperti biasa, dan diapun akan lenyap dilupakan orang! Alangkah bedanya perasaan seseorang setelah berada seorang diri di antara kebesaran alam dengan ketika dia berada di antara orang-orang lain. Dia akan merasa dirinya besar, penting, dan harus diperhatikan orang lain. Dia akan merasa dirinya paling besar dan paling berarti. Wanita itu duduk di atas batu karang di tepi pantai yang sunyi itu. Pantai itu tidak pernah dikunjungi orang karena memang sukar didatangi, penuh dengan batu karang yang runcing tajam, dan gelombang lautan kadang menutupi semua batu karang dengan dasyatnya. Akan tetapi wanita itu sudah mengenal tanda-tanda gerakan gelombang dan tahu benar bahwa saat matahari mengurangi cahayanya dan condong ke barat, gelombang lautan tidak akan mencapai batu karang yang didudukinya. Ia duduk melamun, tidak bergerak seperti sebuah arca. Arca yang indah sekali. Tubuhnya yang hanya mengenakan kain yang menutupi dari dada ke bawah, ramping padat, tubuh seorang wanita yang sudah matang sepenuhnya. Kulit pundak, leher dan lengannya sebetulnya putih kuning mulus, akan tetapi agaknya terik matahari membakar kulit itu sehingga menjadi agak coklat kemerahan. Rambutnya hitam panjang ngandan-andan dibiarkan terurai tidak digelung atau diikat karena rambut itu masih basah setelah mandi keramas tadi. Rambut itu menutupi punggung dan sebagian lagi terurai di depan menutupi bukit dadanya yang nampak di balik kainnya. Ia tidak mengenakan perhiasan apapun, akan tetapi kesederhanaan ini tidak mengurangi kejelitaannya, bahkan tidak mengurangi keanggungannya. Ia cantik dan anggun dan orang akan mudah menyangka ia penjelmaan Sang Ratu Kidul sendiri! Helaan napas halus keluar dari sepasang cuping hidung yang tipis itu, dan sepasang mata bintang itu menjadi redup seperti tertutup mendung. Kalau sudah begini, nampaklah bahwa ia bukan lagi wanita remaja, melainkan sudah dewasa sekali. Biarpun demikian, karena ia cantik jelita, maka ia nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya. Usianya sudah tiga puluh enam tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti baru tigapuluh tahun saja. Tiba-tiba ia mengepal tinju kanannya mengacungkannya ke arah gelombang lautan yang mengganas, seolah ia melihat ada orang yang berada di atas gelombang itu. Pangeran Panjiluwih tunggu saja andika akan menerima pembalasanku! Wanita itu adalah Dewi, atau dahulu, delapan tahun yang lalu ia masih bernama Dewi Muntari. Bukan seorang wanita biasa saja, melainkan seorang puteri istana. Puteri Sang Maha Prabu Jayabaya. Hidup berbahagia bersama suaminya yang tercinta, Raden Mas Rangsang, dan puterinya yang tunggal, Niken Sasi. Aakn tetapi, ketika ia sedang melakukan wisata bersama suami dan puterinya di lereng gunung Anjasmoro, keluarga ini diserang gerombolan penjahat. Pasuakn pengawal mereka melarikan diri, Raden Mas Rangsang tewas. Ia berhasil menyuruh puterinya melarikan diri, sedangkan ia sendiri ditawan oleh kepala gerombolan. Gerombolan itu bertemu dengan Ki Kolokrendo si tengkorak hidup yang mirip Danyang Durno, yang bahkan lebih keji dan mengerikan dibandingkan para anak buah gerombolan itu. Akhirnya, Ki Kolokrendo yang berniat jahat terhadap dirinya, tewas oleh Ni Durgogini yang sakti mandraguna dan iapun diambil murid oleh nenek tua-renta yang gendut itu. Oleh Ni Durgogini yang menjadi gurunya, ia diajak pergi ke pantai Lautan Kidul, di sebuah bukit kapur yang menjadi tempat tinggal nenek itu. Ternyata Ni Durgogini amat segan dan hormat kepada Sang Prabu Jayabaya, oleh karena itu ketika mendengar bahwa Dewi adalah puteri raja besar itu, ia bersikap baik sekali, bahkan menurunkan semua aji kesaktiannya kepada murid ini. Didorong dendam sakit hati, Dewi mendapatkan semangat yang bernyala-nyala dan ia belajar dengan tekun sekali tanpa mengenal lelah. Dan ternyata sebagai keturunan Sang Prabu Jayabaya darah satria mengalir di dalam tubuhnya dan bakatnya unggul sekali. Hal ini membuat Ni Durgogini menjadi semakin gembira mengajarkan ilmu-ilmunya. Tak terasa waktu berjalan dengan amat cepatnya. Delapan tahun telah lewat sejak Dewi mempelajari ajijaya-kawijayan di bawah bimbingan Ni Durgogini. Dan selama waktu delapan tahun itu, Dewi telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Kalau sedang mencurahkan perhatiannya terhadap satu hal, wanita lebih tekun dari pada pria. Dewi mempelajari kanuragan dengan luar biasa tekunnya karena untuk itu ia mempunyai satu cita-cita, yaitu membalas atas kematian suaminya dan lenyapnya puterinya. Memang, gerombolan yang melakukan kejahatan itu terhadap keluarganya sudah tertumpas dan mati semua. Akan tetapi dalangnya, yang mengatur semua itu, masih belum terbalas. Dan dalangnya adalah Pangeran Panjiluwih, seperti pengakuan Ki Blendu yang memimpin gerombolan itu. Pada sore hari itu, ketika Dewi duduk di atas batu karang mengamati gelombang dahsyat yang bergulung-gulung, ingin rasanya ia menumpahkan dendamnya kepada ombak samudera itu. Ia melihat seolah ombak yang bergulung-gulung itu merupakan musuh yang mengancamnya. Ia merasa sudah kuat sekarang untuk menghadapi musuh yang manapun. Baru tadi pagi Ni Durgogini menyatakan kepadanya bahwa kini semua ilmu yang dikuasai nenek sakti itu telah diajarkan semuanya kepadanya.Bukan hanya ilmu bela diri silat tangan kosong maupun menggunakan senjata keris telah dipelajarinya dengan tuntas, bahkan juga aji-aji kesaktian telah dikuasainya. Di antaranya yang paling dasyat adalah Aji Trenggiling Wesi yang membuat tubuhnya menjadi kebal, tak dapat terluka oleh senjata lawan. Kemudian Aji Jaladi Geni [Ilmu Lautan Api] yang mendatangkan hawa panas seperti api keluar dari kedua telapak tanganya sehingga jarang ada lawan yang mampu bertahan menghadapi aji kesaktian ini. Masih ada lagi aji Jerit Sardulo Krodo [Teriakan Harimau Marah] yang dapat melumpuhkan lawannya seolah-olah lawan itu menghadapi seekor harimau yang sedang mengaum-aum! Setelah udara di barat terbakar cahaya kemerahan, Dewi lalu bangkit berdiri di atas karang, memandang lepas ke laut yang tak terbatas itu, lalu berloncatan dari batu ke batu yang tajam itu. Biarpun telapak kakinya kelihatan putih mulus kemerahan dan halus, namun ternyata telapak kaki itu menginjak batu karang yang runcing tajam itu tanpa mengalami luka atau nyeri sedikitpun. Sungguh, kalau ada yang meliahatnya di saat itu, tentu tidak akan ada yang percaya bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Cantik jelita, dengan rambut panjang terurai berloncatan seperti itu! Agaknya hanya peri penjaga lautan yang mampu berlompatan seperti itu. Sementara itu, sekitar dua kilometer dari situ, Ni Durgogini sedang duduk di depan guanya yang berada di antara batu-batu karang. Sebuah gua di dinding karang yang tersembunyi di tempat yang sunyi itu. Tiba-tiba telinga nenek tua renta yang masih berpendengaran tajam itu menangkap suara orang bercakap-cakap dan juga langkah kaki mereka menuju ke tempat itu. Ia merasa heran sekali dan juga marah. Siapa orang-orang yang berani lancang mendatangi tempat tinggalnya yang keramat itu? Karena merasa penasaran, Ni Durgogini lalu menyambar sebatang tongkat yang bentuknya seperti ular kering, dan iapun berloncatan dari tempat duduknya tadi ke atas batu-batu karang menuju ke arah datangnya suara orang-orang itu. Hi-hi-hi-hik! Suara tawa yang nyaring dan bergema aneh ini mengejutkan enam orang pria yang sedang melangkah perlahan-lahan di antara batu-batu karang sambil bercakap-cakap. Mereka adalah enam orang pria yang nampaknya gagah perkasa, berusia antara tigapuluh sampai limapuluh tahun dan dari bentuk pakaian dan terutama kain kepala dapat diduga bahwa mereka tentulah orang-orang dari daerah timur. Mendengar suara tawa yang mengerikan itu, enam orang tadi sudah berloncatan dengan sigapnya, lalu memperhatikan ke arah datangnya suara tawa yang seperti tawa kuntilanak itu. Dan ketika mereka melihat Ni Durgogini mereka segera berhenti melangkah dan memandang dengan penuh perhatian. Kemudian, seorang di antara mereka berseru, Ia adalah Ni Durgogini! Enam orang itu nampak terkejut. Akan tetapi pemimpin mereka, seorang laki-laki berusia limapuluh tahu, tidak nampak gentar ketika dia maju menghampiri Ni Durgogini, diikuti oleh lima orang kawannya. Laki-laki yang berkumis sekepal sebelah itu memandang dengan sinar mata penuh selidik. Hi-hi-hi-hik! Kalian pasti orang-orang dari Blambangan! Mau apa datang melanggar wilayah tempat tinggalku ini? Apakah kalian berenam sudah bosan hidup dan arwah kalian ingin menjadi abdi Gunung Kidul? Hi-hi-hi-hik! Laki-laki berkumis tebal itu tanpa rasa takut menghadapi Ni Durgogini, bertolak pinggang lalu berkata dengan sikap angkuh. Ni Durgogini, orang-orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku, datuk dari Teluk Banyubiru, sama sekali tidak gentar menghadapimu.Aku adalah Menak Koncar, bersama teman-teman mengemban perintah Gusti Adipati Blambangan untuk mencari keris pusaka Tilam Upih. Nah, kalau engkau mengetahui di mana adanya keris pusaka itu, katakan kepada kami, Ni Durgogini dan kami akan memberi imbalan berharga kepadamu. Akan tetapi jangan sekali-kali engaku membohongiku karena tidak ada orang yang berani berbohong kepadaku tetap hidup! Hi-hi-hi-hik! Menak Koncar, andika anjing-anjingBlambangan berani bersuara besar di sini? Biarpun aku sudah tua, akan tetapi belum terlalu berat bagiku untuk membasmi kalian berenam! Andaikata aku mengetahui tentang Tilam Upih pun tidak akan kuberitahukan kepada kalian. Nah, kalian mau apa? Kakang Menak Koncar, nenek tua renta ini mencurigakan sekali. Ia tinggal di pantai Laut Kidul, dan orang macam ia inilah yang sepantasnya mengetahui di mana adanya keris pusaka Tilam Upih! Kita tangkap dan siksa ia agar mengaku di mana adanya keris pusaka itu! kata seorang di antara mereka yang bertubuh seperti raksasa kepada Menak Koncar, pemimpin mereka. Menak Koncar memang sudah mencurigai nenek yang mengerikan itu, maka mendengar ucapan pembantunya, dia lalu menudingkan telunjuknya kepada Ni Durgogini sambilmembentak memberi aba-aba kepada anak buahnya. Tangkap nenek ini! Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan melengking nyaring dan terbawa angin dari samudera, terdengar seperti auman seekor harimau yang marah! Enam orang Blambangan itu terkejut dan menoleh ke arah lautan dari mana terdengar auman mengerikan itu. Dan mereka semua terbelalak melihat sosok tubuh wanita yang ramping itu, dengan rambut panjang hitam terurai, berlompatan dari batu ke batu seperti seekor kera saja. Semua orang tertegun mengikuti gerakan wanita itu sehingga mereka sejenak melupakan Ni Durgogini. Perjalanan dari tepi lautan mendaki ke tebing di mana terdapat goa tempat tinggal Ni Durgogini itu merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Selain tebing itu terjal sekali, juga mendaki ke situ harus melallui batu-batu karang yang kasar, runcing tajam. Akan tetapi tubuh wanita itu dengan cepatnya berloncatan dan sebentar saja ia sudah tiba di depan enam orang laki-laki yang kini menjadi semakin terpesona. Kalau tadi mereka kagum melihat seorang wanita dapat bergerak selincah itu, kini mereka terpesona melihat wanita itu ternyata cantik jelita bukan main, kecantikan alami yang membuat mereka merasa dalam mimpi bertemu seorang dewi kahyangan! Bahkan orang yang delapan tahun yang lalu sudah mengenal baik Dewi Muntari pun kalau sekarang berhadapan dengan dewi, tentu akan pangling dan tidak menduga sama sekali bahwa wanita berurai rambut ini adalah puteri Raja Daha. Dewi kini tidak pernah merias diri, wajahnya tidak pernah bertemu bedak dan gicu, juga di tubuhnya tidak ada sepotong barang perhiasan yang menempel. Kecantikannya yang sekarang adalah kecantikan yang alami, yang khas, bagaikan kecantikan setangkai mawar hutan liar bermandikan embun. Kanjeng bibi, siapakah mereka ini dan apa kehendak mereka? tanya Dewi kepada gurunya. Ia memang selalu menyebut bibi kepada gurunya karena Ni Durgogini tidak pernah mau disebut guru. Nenek ini ternyata merasa sungkan dan takut kepada Sang Prabu Jayabaya, maka tidak mau disebut guru oleh puteri raja itu, takut kalau mendapat marah! Hi-hi-hi-hik! Mereka itu adalah anjing-anjing Blambangan yang hendak memaksaku menunjukan kepada mereka di mana adanya keris pusaka Tilam Upih. Sebagai puteri raja, tentu saja Dewi pernah mendengar tentang keris pusaka yang pernah dimiliki mendiang Sang Prabu Airlangga itu karena keris pusaka Tilam Upih itu menjadi semacam kisah atau dongeng bagi keluarga istana. Pusaka itu lenyap dan ayah handanya memang berusaha untuk menumukannya kembali. Sekarang, orang-orang Blambangan mencari keris pusaka itu, bahkan hendak memaksa gurunya menunjukkan di mana adanya. Tentu saja ia menjadi marah sekali. Dan kanjeng bibi hendak memberi tahu mereka? tanyanya. Hi-hi-hi-hik, mana mungkin? Andaikata aku mengetahuinya pun, tidak akan kuberitahukan kepada mereka. Akan tetapi mereka hendak memaksa, hendak menangkap aku dan menyiksaku! Babo-babo, keparat! Lagaknya seperti dapat melangkahi Gunung Semeru! Kanjeng bibi harap menonton saja, biar aku yang akan membasmi gerombolan anjing ini! Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya bergerak, ia telah melayang ke atas dan berjungkir balik beberapa kali. Ketika ia turun, ia sudah berdiri di atas batu karang, berhadapan dengan enam orang itu. Menak Koncar yang memimpin rombongan orang itu dan yang mengaku sebagai datuk Teluk Banyubiru, agaknya baru sadar dari keadaan terpesona tadi. Dia mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, menghela napas beberapa kali lalu berkata, Tobat-tobat, ada wanita begini jelitanya, seperti seorang dewi kahyangan. Eh, wong ayu, kami tidak ingin bermusuhan dengan seorang wanita jelita seperti andika. Aku ini Menak Koncar sudah terkenal paling lunak dan menyayang wanita jelita. Aku kaya raya berkedudukan tinggi, menjadi orang kepercayaan Sang Adipati Blambangan. Karena itu marilah kita bersahabat saja, wong ayu dan kalau andika mau ikut berasamaku, andika akan kujadikan isteri mudaku yang tersayang. Mendengar ucapan ini, lima orang pemgikutnya tertawa-tawa gembira. Akan tetapi wajah Dewi menjadi merah sekali, sepasang mata yang bening itu tiba-tiba mencorong dengan cahaya berapi, bibirnya gemetar saking marahnya. Tanpa dapat mengeluarkan kata-kata lagi saking marahnya, tubuh Dewi menerjang maju dan tangan kirinya menampar. Saking marahnya, tangan kiri itu mengandung aji pukulan Jaladi Geni. Nampak cahaya kemerahan ketika telapak tangan itu menyambar dan terasa hawa yang amat panas. Orang terdekat yang menghadapi serangan itu maklum bahwa dia menghadapi pukulan ampuh. Ternyata enam orang jagoan Blambangan itu bukanlah orang-orang sembarangan saja.Orang tinggi kurus yang menerima tamparan tangan kiri Dewi, dapat cepat mengelak dan melompat dari batu karang di mana tadi berdiri. Wuuuuttt................pyaarrrr............ ! Batukarang itu pecah berhamburan terkena hantaman telapak tangan kiri Dewi. Bukan main kagetnya hati enam orang jagoan Balmbangan itu. Terutama sekali Menak Koncar. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita jelita itu memiliki aji pukulan sedemikian ampuhnya. Menak Koncar sendiri, seorang jagoan yang sakti, mengenal pukulan ampuh dan dia tidak berani memandang rendah, tidak berani main-main lagi. Bunuh wanita berbahaya ini! Bentaknya memberi komando dan dia sendiri sudah menghunus kerisnya yang panjang berlekuk tigabelas. Keris itu terkenal dengan dapur Naga Siluman, selain terbuat dari besi aji yang mat kuat, juga keris itu dilumuri racun yang mapuh sekali. Denga keris di tangan, Menak Moncar melompat dan menyerang Dewi dari arah kiri. Kerisnya menyambar dengan tusukan yang dahsyat. Singggg........wuuuutt......! Bagaikan seekor burung walet, tubuh yang diserang keris itu sudah lenyap dari atas batu karang tadi, membuat Menak Moncar tertegun. Kiranya wanita itu telah meloncat dengan cepatnya ke kanan dan sudah menerjang ke arah seorang pengeroyok. Orang itu menusukkan kerisnya, akan tetapi denag cekatan Dewi menangkis lengan yang menusukkan keris, kemudian tangan kanannya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan. Desss.......... ! Tubuh itu terlempar jauh ke belakang dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh itu terlempar ke bawah tebing! Orang yang terkena hantaman di dada itu masih belum tewas dan terdengar jeritnya mengerikan ketika tubuhnya melayang ke bawah tebing, di mana batu-batu karang yang keras, tajam dan runcing sudah menanti untuk melumatkan tubuhnya. Melihat ini, dua orang yang memegang golok membacokkan senjata mereka ke arah punggung dan lambung Dewi darI sebelah kanan dan belakang. Dewi dapat mendengar gerakan penyarangan itu, ia memutar tubuhnya dan melompat ke belakang sehingga serangan itu luput. KetiKa dua orang itu maju lagi, Dewi menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang hitam, panjang dan harum itu menyambar bagaikan pecut ke depan. Prat-prattt! Dua kali ujung rambut itu melecut muka dua orang itu, hampir mengenai mata mereka sehingga mereka terhuyung ke belakang sambil memejamkan mata. Akan tetapi pada saat itu, Dewi menerjangnya dengan dua kali tendangan. Dukk......dukkk........ ! dua tubuh lawan itu terpental dan kembali terdengar lengking panjang mengerikan dua orang itu terlempar ke bawah tebing. Tentu saja Menak Koncar dan dua orang kawannya menjadi terkejut bukan main. Terkejut akan tetapi juga marah dan penasaran. Sama sekali tidak pernah tersangka oleh Menak Koncar bahwa tiga orang kawannya dalam waktu singkat telah tewas di tangan wanita jelita itu. Dewi tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya sudah menerjang lagi ke depan, sekali ini ia menyerang Menak Koncar dengan loncatan yang disambung dengan tendangan di udara. Tendangan terbang ini berbahaya sekali, selain tidak terduga dan cepat, juga tenaga tendangan ditambah dengan tenaga loncatan tubuhnya sehingga merupakan tendangan maut yang berbahaya. Akan tetapi Menak Koncar sudah memasang kuda-kuda di atas batu karang dan begitu tendangan datang, dia menggunakan tangan kirinya untuk menangkis dari samping.Sambil menangkis dia mengerahkan tenaganya dan tangkisan itu sedemikian kuatnya sehingga tubuh Dewi menyeleweng kesamping. Akan tetapi gerkan Dewi benar-benar tangkas seperti burung. Ia sudah dapat turun pula ke atas batu karang pada saat Menak Koncar mengejarnya dengan tusukan keris Naga Silumannya. Keris itu menyambar dahsyat ke arah dada yang padat membusung itu dan kalau mengenai sasaran, sudah pasti dada itu akan ditembusi keris berlekuk tigabelas itu! Namun, tidak percuma Dewi sudah mewarisi seluruh aji yang diajarkan Ni Durgogini. Ia sudah menjadi seorang wanita yang digdaya dan sakti mandraguna. Karena sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak dari tusukan keris selagi tubuhnya baru saja turun, ia nekat dan mengerahkan Aji Trenggiling Wesi, yang seolah-olah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan aji kekebalan. Syuuuuuttt......tukkk! Keris Naga Siluman itu menhgenai dada di atas kemben dan.....mental kembali, tidak mampu menembus atau melukai kulit yang lunak dan putih mulus dari dada itu. Dan selagi Menak Koncar terbelalak, tangan kiri Dewi sudak menampar ke arah kepalanya. Biarpun dalam keadaan terkejut, Menak Koncar masih sempat menundukkan kepala untuk mengelak. Plakkk........ ! Tangan itu masih saja mengenai pundaknya, membuat tubuh Menak Koncar terpelanting. Akan tetapi jagoan dari Banyubiru ini ternyata hebat juga. Dia terpelanting, namun dapat mematahkan dorongan itu dengan berjungkir balik tiga kali. Sementara dua orang kawannya sudah cepat maju menggerakkan golok mereka untuk menyerang Dewi. Seorang menyabetkan goloknya untuk memenggal leher yang indah dan putih mulus itu, sedangkan orang kedua membabatkan goloknya menyerampang ke arah kaki wanita jelita itu. Dewi melihat bahwa gerakan kedua orang penyerangnya ini tidak secepat dan sekuat Menak Koncar, maka iapun bersikap tenang saja. Golok yang membabat lehernya ia elakkan dengan merendahkan tubuh dan menundukkan kepala sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepalanya. Sedangkan golok yang menyerampang kakinya, ia sambut dengan tendangan kakinya yang tepat mengenai tangan yang memegang golok sehingga senjata itu terlepas. Dewi cepat menyusulkan tendangan kepada orang yang menyerang kakinya, dan tangan kanannya menyambar dari samping ke arah kepala penyerang pertama. Wuut-wuuuut ........plak-desss........ ! Dua orang itu menjerit dan tubuh mereka terpelanting. Dewi menyusulkan tendangan keras dua kali dan tubuh kedua orang itupun terlempar ke bawah tebing menyusul tiga orang kawan mereka yang sudah lebih dulu terjungkal dan tewas di bawah tebing, disambut batu-batu karang dan gelombang mengganas. Jahanam keparat! Kubunuh kau! Bukan Menak Koncar namaku kalau akau tidak dapat membalas kematian lima orang kawanku! Menak Koncar membentak marah sekali dan diapun mengeluarkan teriakan melengking. Itu adalah aji Petak Gelap Saketi, yaitu teriakan yang dikeluarkan untuk melumpuhkan semangat lawan-lawan yang kurang kuat batinnya, mendengar teriakan ini, akan tergetar seluruh tubuhnya, terguncang batinnya dan lumpuh seluruh syarafnya sehingga mudah ditundukkan. Gemetar juga tubuh Dewi menghadapi aji ini, akan tetapi ia sendiri juag memiliki aji yang sama sifatnya, yaitu jerit Sardulo Kroda. Maka, iapun mengeluarkan jerit melengking itu untuk melawan aji lawan. Terdengar dua macam pekik yang berlawanan, dan akibtanya, tubuh Menak Koncar terhuyung-huyung dan mukanya menjadi pucat sekali. Melihat keadaan lawan ini, Dewi lalu menerjang dengan kedua tangan terbuka, mengirim serangan. Kedua tangannya bergantian melakukan serangan tamparan atau cengkeraman,bertubi-tubi, dan Menak Koncar juga berusaha melindungi dirinya dengan mengelebatkan kerisnya. Akan tetapi dia kalah cepat dan ketika tangan kiri Dewi mencuat, sebuah tendangan mengenai tangan yang memegang keris. Plakk! Ahhh.....!Keris itu terlepas dari pegangan dan sebelum jatuh di antara batu-batu karang, Dewi menangkapnya dengan tangan kanan. Melihat kerisnya sudah terampas lawan dan tangan kanannya seperti lumpuh terkena tendangan tangan kanan yang amat keras tadi. Menak Koncar kehilangan semangatnya bertanding. Dia yakin bahwa dia tidak akan menang melawan wanita itu dan kalau pertandingan dilanjutkan, sama halnya dengan membunuh diri saja. Maka, dia lalu berusaha melarikan diri. Sekali meloncat dia telah berada di atas batu karang di depan. Selagi dia hendak meloncat lagi ke batu karang yang lebih jauh, tiba-tiba dia merasa punggungnya nyeri seprti digigit ular. Rasa nyeri itu makin menghebat menyerang dadanya dan iapun tidak dapat menahan lagi, terhuyung dan terjungkal ke bawah tebing dengan keris Naga Siluman menancap di punggungnya. Kiranya keris itu tadi dilontarkan oleh Dewi dan tepat sekali mengenai punggungnya. Melihat enam orang lawanya semua terjungkal di tebing dan tewas, Dewi tertawa.Suara tawanya merdu dan nyaring melengking, bergema disambut ombak. Mengerikan sekali melihat wanita cantik itu tertawa, seperti seorang iblis betina! Hi-hi-hi-hik! Bagus sekali, Dewi! Andika membuatku merasa puas dan bangga. Kiranya tidak sia-sia selama bertahun-tahun ini andika belajar ilmu dariku. Andika murid yang baik sekali. Enam orang tadi memang sudah sepatutnya mampus. Mereka kurang ajar dan memandang rendah kepada kita. Dengan beberapa loncatan Dewi sudah tiba di depan Ni Durgogini dan berkata, Semua ini berkat budi Bibi dan aku berterima kasih sekali. Mendengar ucapan Dewi itu, tiba-tiba saja Ni Durgogini terhuyung ke depan, lalau merangkul leher Dewi dan dari kerongkongannya terdengar suara yang menyayat hati itu, setengah menangis dan setengah tertawa. Hi-hi-hi-hi-hi-hih.......... ! Dewi terkejut. Ia sudah mengenal benar suara gurunya ini dan dapat membedakan mana suara gembira dan mana suara bersedih. Sekali ini suara gurunya adalah suara bersedih, menangis! Eh,bibi! Apa yang terjadi? Apakah bibi terluka......? Ni Durgogini tidak menjawab, melainkan menangis terus, berha-ha-hi-hi-hi di atas pundak Dewi. Dewi membiarkannya saja, menuntun gurunya memasuki goa dan mereka berdua lalu duduk bersial berhadapan di lantai goa yang ditilami jerami kering dan hangat. Nah, bibi. Sekarang ceritakan, kenapa bibi berduka? Ni Durgogini memandang muridnya. Kedua matanya tidak basah, akan tetapi kini kedua matanya menajdi sipit hampir terpejam dan dari balik pelupuk mata itu nampak pandang mata yang redup bagikan dian kehabisan minyak. Dewi, aku meratapi nasib diriku sendiri. Aku menyesal sekali memakai nama eyang-buyut- guruku yang dahulu juga berjuluk Ni Durgogini. Akan tetapi ia memang seorang petualang dan selalu mengejar kesenangan duniawi. Ia memang menderita, akan tetapi juga sudah menikmati segala penderitaannya. Kalau aku? Ahh, aku tidak terlalu mengejar kesenangan. Aku tidak mencampuri urusan kenegaraan, akan tetapi hidupku selalu merana. Sejak muda aku selalu dikecewakan pria, dan hanya seorang pria saja yang kusembah, kuhornati dan kujunjung tinggi di dunia ini. Pria itu adalah kanjeng ramamu, Sang Prabu Jayabaya. Beliau seorang pria yang bijaksana dan aku pernah berhutang nyawa kepadanya. Namun sayang, aku seorang petualang, beliau seorang Maharaja, dan beliau jauh lebih muda dariku, dua tiga puluh tahun lebih muda. Aku selalu dipermainkan pria sehingga sselam hidupku, tujuh orang pria yang pernah mendampingiku,akhirnya semua terpaksa kubunuh, yang terakhir adalah Ki Kolokrendo yang selain menjadi suamiku, juga menjadi muridku sendiri. Aahh, hidupku tak pernah berbahagia. Aku tidak pernah melakukan kejahatan, tidak pernah menggangu orang. Aku membunuh orang hanya kalau dia mengganguku. Akhirnya aku bertemu engkau, Dewi. Dan selama delapan tahun ini hidupku ada artinya. Akan tetapi sekarang........aahh, hi-hi-hi-hih, sekarang terpaksa pula kita harus berpisah. Ehh? Mengapa, bibi? Kita tidak harus saling berpisah. Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Hi-hi-hi-hih, sama sekali tidak mungkin, Dewi. Lupakah andika bahwa andika masih mempunyai banyak sekali tugas dalam hidupmu? Ingat, andika harus menyelidiki siapa yang melakukan pembunuhan terhadap suamimu, siapa menjadi dalangnya? Dan andika juga harus mencari anakmu yang hilang. Akan tetapi aku tidak ingin meninggalkan bibi seorang diri di sini. Marilah ikut bersamaku, bibi. Kita pergi berdua! Tidak, aku sudah lemah sekali,Dewi. Lelah luar dalam, lelah lahir batin mengarungi hidup ini, Ahhh, terkutuklah aku. Mengapa aku dulu menguasai Aji Penyu Dheles itu? Terkutuklah aku........hi-hi-hi-hih! Aji Penyu Dheles? Apakah itu, bibi? Kenapa bibi belum pernah menceritakan kepadaku, juga tidak mengajarkan? Ah, jangan andika mempelajari itu, Dewi. Aji itu merupakan kutukan bagiku dan sekarang aku menyesal sekali telah menguasai aji itu. Aji itu membuat usiaku menjadi panjang sekali, seperti usia seekor penyu (kura-kura). Kautahu? Kura-kura itu dapat hidup sampai ratusan tahun! Dan aku....ah, celaka,apa artinya hidup terlalu lama? Hanya untuk memperpanjang derita siksaan hidup! Mata makin lamur, telinga semkin tuli, lidah dan hidung mulai melemah, kesehatan mundur, tenaga makin habis, tubuh digerogoti usia tua akan tetapi nyawa tidak juag mau loncat! Semua ini gara-gara Aji Penyu Dheles! Dan dalam keadaan semakin lemah, ada saja orang orang-orang datang memusuhiku. Apa ini bukan siksaan namanya? Aduh Gusti, mengapa tidak segera diakhiri saja kehidupan seperti ini? Nenek itu lalu menangis dengan suara yang khas. Dewi memandang gurunya dengan mata terbelalak. Nampak jelas sekali olehnya hikmah pelajaran dari pengalaman gurunya itu. Memang aneh mendengar orang berkeluh kesah karena panjang usia! Semua orang hidup di dunia ini menghendaki umur panjang. Dan gurunya sudah memiliki Aji Penyu Dheles yang membuat usianya dapat panjang sampai seratus tahun lebih, dan apa jadinya? Gurunya itu tidak merasa bahagia, malah merasa tersiksa dan kini menangis mohon kepada dewata agar dicabut saja nyawanya! Di sisni jelas nampak betapa jauh bedanya antara apa yang diharapkan dengan kenyataannya. Kenyataan tidak selalu seindah yang diharapkan,bahkan apa yang diharap-harapkan itu mungkin saja setelah terdapat menjadi sesuatu yang menyengsarakan. Demikian pula dengan apa saja di dunia ini, bukan hanya usia panjang. Orang mengejar dan memperebutkan kedudukan dan akhirnya setelah memperoleh kedudukan dai menjadi sengsara karena kedudukannya itu, yang ternyata tiodak senikmat ketika masih dalam pengejaran. Harta benda juga demikian. Jarang di antara mereka yang berharta dapat benar-benar menikmatai harta bendanya, bahkan lebih banyak mendatangkan kejengkelan dan kesusahan. Hanya mereka yang belum memiliki emas dapat mengagumi kemilau emas. Bibi, kalau bibi tidak mau ikut pergi bersamaku, lebih baik aku berada saja di sini menemanimu. akhirnya Dewi menghibur. Ah,tidak,tidak! Hi-hi-hi-hik, tidak! Nenek itu mengetuk-ngetukkan ujung tongkatnya keatas batu karang. Untuk apa aku dengan susah payah mengajarkan semua aji itu kepadamu kalau engkau hanya tinggal di sini?. Ingat, aku menghendaki agar engkau melanjutkan apa yang selama ini telah kulakukan. Merantau, kalau bertemu dengan orang jahat, bunuh jangan beri ampun! Dan engkau harus berdarma bakti kepada kerajaan Daha, membersihkan kerajaanaan ayahandamu dari orang-orang jahat yang menodai nama harum ramandamau! Andika tahu apa yang dicari oleh anjing-anjing Blambangan tadi? Keris pusaka Tilam Upih! Hi-hi-hik, kiranya keris pusaka itu telah muncul kembali dan menjadi perebutan. Dewi, pusaka itu adalah pusaka milik kerajaan Daha, menjadi lambang kerajaan Daha. Karena itu, sudah menjadi tugasmu pula untuk menemukannya. Kau wakililah aku untuk mencari keris pusaka itu dan mengembalikannya kepada ayahmu. Baiklah, bibi. Akan kutaati perintah bibi. Akan tetapi, biarpun aku tahu bahwa keris pusaka itu oleh kanjeng rama telah diramalkan akan muncul ke mana aku harus mencarinya? Akupun sudah pernah mendengar bahwa keris itu berasal dari Lautan Kidul dan akan muncul di Lautan Kidul pula, akan tetapi pesisir kidul merupakan pesisir yang panjang sekali, sepanjang Nusa Jawa. Ke manakah aku harus mencari, bibi? Hi-hi-hik,orang lain tentu tidak akan tahu di mana adanya pusaka Tilam Upih itu, akan tetapi aku tahu. Mendiang suamiku, Ki Kolokrendo, mempunyai adik seorang laki-laki bernama Ki Koloyitmo. Akhir-akhir ini terjadi hal yang aneh kepadanya. Orang kasar dahulunya hanya hidup sebagai begal itu kabarnya kini menjadi orang besar. Mula-mula di menguasai Nusa Kambangan, bahkan kemudian terdengar berita bahwa dia telah berhasil mendirikan sebuah kerajaan kecil di sana dan dia yang menjadi rajanya! Hi-hi-hi-hik, tidak mungkin seorang kasar seperti dia dapat menjadi raja kalau saja dia tidak mendapatkan wahyu kerajaan. Dan siapa tahu, wahyu itu berujut keris pusaka Tilam Upih. Kalau dia menemukan Tilam Upih, bukan tidak mungkin dia dapat menjadi raja. Nah, karena itu, pergilah engkau ke Nusa Kambangan, Dewi. Selidikilah, dan kalau kemudian engkau mendapatkan bahwa benar-benar dia memiliki Tilam Upih, rampaslah keris pusaka itu dan kalau perlu bunuhlah dia. Dewi menjadi girang sekali mendengar ini. Kalau begitu, aku akan segera pergi menyelidiki ke Nusa Kambangan, bibi! Akan tetapi berhati-hatilah engkau,Dewi. Soal aji jaya-kawijayan, aku tidak percaya bahwa engkau akan kalah olehnya. Akan tetapi, keris pusaka Tilam Upih itu ampuh sekali, gawat keliwat-liwat. Kita tidak akan mampu bertahan menerima serangan keris pusaka ampuh itu. Karena itu berhati-hatilah dan lebih baik menghindar kalau dia menggunakan keris pusaka itu. Jangan sekali-kali berani mencoba kekuatan Aji Trenggilin Wesi terhadap keris itu. Dewi menganguk. Aku mengerti, bibi. Aku akan mempergunakan kecepatan gerakan untuk menghindar kemudian merampas keris pusaka itu. Bagus, akan tetapi ada lagi yang mengkhawatirkan. Aku pernah mendengar bahwa Ki Koloyitmo kabarnya juga telah mendapatkan pusaka ampuh Wijoyokusumo yang hanya tumbuh seabad sekali di Nusa Kambangan. Hemm,apakah keampuhan setangkai kembang saja, bibi? Hi-hi-hi-hik,apakah engkau sudah lupa akan kisah lama, Dewi? Kembang Wijoyokusumo adalah milik Sang Hyang Wishnu, bukan sembarang kembang melainkan pusaka yang dapat menghidupkan orang dari kematian yang tidak wajar. Nah, dengan pusaka itu, di tangannya, seolah Ki Koloyitmo memiliki nyawa rangkap dan tidak mudah membunuhnya! Akan ku perhatikan baik-bai, bibi. Aku tidak bermaksud membunuhnya kalau saja dia mau menyerahkan Tilam Upih kepadaku. Hi-hi-hi-hik,aku yakin bahwa engkaulah yang akan berhasil merampas keris pusaka itu. Nah, sekarang berangkatlah,Dewi. Keberangkatanmu merupakan hiburan besar bagiku karena aku akan dapat mengenangmu dengan puas hati bahwa engkau sedang mewakili aku mendapatkan keris itu. Mudah-mudahan saja kita masih akan dapat saling bertemu lagi. Aku akan selalu berada di goa ini, karena aku sudah mengambil keputusan uantuk tidak lagi mencampuri urusan dunia ramai dan akan menanti sampai Sang Yamadipati datang mengambil nyawaku. Dewi lalu berkemas, Tegang juga rsa hatinya. Setelah delapan tahun mengasingkan diri bersama Ni Durgogini, oia merasa aneh dan asing sekali membayangkan bahwa ia akan terjun ke dunia ramai, bahkan memperebutkan Tilam Upih dan menyelidiki dalang pembunuhan suaminya, lalu mencari puterinya, Niken Sasi! Tugas pekerjaan yang bertumpuk itu menyalakan semangatnya dan setelah berkemas, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dewi sudah berpamit dari gurunya dan meninggalkan goa tepat tinggal Ni Durgogini. Sang Maha Prabu Jayabaya(1135-1157) adalah raja Daha atau Kediri dan dijamannya inilah Jenggalamenjadi satu kembali dengan Kediri seperti di jaman Sang Prabu Airlangga, sebelum kerajaan itu dipecah menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu atau Kediri(Daha).Sang Prabu Jayabaya memiliki gelar yang panjang, yaitu lengkapnya : Sang Maha Panji Jayabhaya Sri Dareswa ra Madhusudanawataraninidita Suhertsingha! Akan tetapi nama besar Sang Prabu Jayabaya amat terkenal karena beliau amat pandai mempergunakan tenaga orang-orang bijaksana dan para ahli diundang dan diberi kedudukan penting. Tidaklah mengherankan kalau negara berada dalam keadaan tenteram dan rakyatpun hidup penuh kebahagiaan dalam suasana tenteram dan damai. Sang Prabu Jayabaya sediri seorang ahli sastra yang amat bijaksana dan sakti mandraguna. Namun tiada henti-hentinya dia memperdalam pengetahuan dalam berbagai ilmu dan dikabarkan orang bahwa beliau adalah seorang pujangga yang sidik paningal dan tahu sebelum terjadi. Namun, tentu saja sebagai seorang yang sidik paningal, yang dikabarkan sebagai titisan Sang Hyang Wishnu, Sang Prabu Jayabaya tidak mau mendahului kebendak para dewata dan tidak berani pula membuka rahasia alam dengan menceritakan apa yang akan terjadi secara terang-terangan. Diapun cukup bijaksana untuk menerima apapun yang terjadi, baik maupun buruk, memang sudah digariskan oleh dewata, karenanya, mengubah atau menghalanginya akan merupakan dosa besar sekali. Pada suatu hari, Sang Prabu Jayabaya mengundang semua nayaka praja, para senopati dan para penasehat. Di antara mereka terdapat Empu Sedah dan Empu Panuluh, dua orang empu yang amat terkenal karena mereka telah membuahkan hasil karya besar. Cerita terkenal Bharatayudha adalah hasil tulisan kedua orang empu ini. Memang, kisah wayang purwo Mahabarata berasal dari India dan penulisan kedua orang empu itu bersumber dari cerita dari India itu,akan tetapi hasil tulisan mereka bukan hanya sekedar menyadur cerita India melainkan disesuaikan dengan keadaan dan kebudayaan rakyat sehingga tidak berbau asing. Penulisan Bharatayudha terpengaruh oleh keadaan di dalam negeri. Telah terjadi perang saudara antara Daha dan Jenggala yang berakhir dengan menyatunya kedua negara bersaudara ini dan demikian pula cerita Bharatayudha. Terjadi perang saudara antara kaum Kurawa dan Pendawa yang berakhir dengan kemenangan pihak Pendawa. Persidangan yang diadakan Sang Prabu Jayabaya iniada kaitannya dengan hasil karya besar itu, yiitu untuk merayakannya. Di samping itu juga membicarakan keadaan dalam negeri, terutama di bidang keamanan dan juga tentang keris pusaka Tilam Upih yang sedang dicari, bukan saja oleh pihak kerajaan, melainkan oleh semua orang gagah yang seolah hendak memperebutkannya. Sang Prabu Jayabaya menugaskan seorang senopati yang terkenal gagah perkasa, yaitu Lembudigdo, untuk mencari keris pusaka Tilam Upih. Senopati Lembudigdo, engkau kami beri tugas ganda. Ada berita baha di pulau-pulau selatan ada gerakan-gerakan yang sifatnya menntang kerajaan Daha. Terutama sekali kerajaan baru di Nusa Kamabangan. Nah, menjadi tugasmu untuk melakukan penyelidikan dan kalau memang benar demikian, jangan ragu lagi, perintahkan mereka untuk tunduk dan kalau mereka membangkang, terpaksa harus dipergunakan kekerasan. Akan tetapi, jaga sedemikian rupa agar jangan sampai jatuh banyak korban. Cukup untuk memberi pelajaran agar mereka menaluk sebelum banyak yang tewas. Hamba siap, ada sebuah tugas lagi yang tidak kalah pentingnya, Lembudigdo. Selain menyelidiki keadaan para gerombolan di pulau-pulau selatan itu, juga selidikilah kalau-kalau keris pusaka Tilam Upih sudah muncul. Andika harus dapat merampas keris pusaka itu dari tangan siapapun, karena keris pusaka itu adalah keris kerajaan dan akan menimbulkan malapetaka kalau terjatuh ke tangan orang jahat yang tidak berhak. Hamba siap melaksanakan perintah! kata senopati itu dengan suara tegas dan sikap yang tegap gagah. Sang Prabu Jayabaya tersenyum menyaksikan sikap panglimanya. Lembudigdo, apakah andika telah mengetahui bagaimana bentuk dan macamnya Tilam Upih? Ditanya demikian, senopati itu gelagapan. Memang,bermimpipun belum pernah dia melihat keris pusaka itu. Dia menyembah dan menjawab gugup, Hamba.......ini.....ini.....hamba belum mengetahuinya. Mohon beribu ampun, gusti........ Ha-ha-ha, belum pernah melihatnya bukan merupakan kesalahan yang perlu diampuni, Lembudigdo. Kami sendiripun belum pernah melihatnya karena keris pusaka itu lenyap pada jaman eyang Prabu Rake Halu Shri Lokeshwara Dharmawangsha Airlangga Anantawikrama Tunggadewa. Akan tetapi, kami kira para pinisepuh yang ahdir dalam persidangan ini tentu ada yang mengetahuinya. Kami kira Kakang Empu Sedah dapat menerangkannya. Sang Prabu Jayabaya menoleh kepada Empu Sedah dengan sinar mata bertanya. Empu Sedah memang lebih tua dari pada Sang Prabu Jayabaya. Usianya sudah empatpuluh lima tahun, sepuluh tahun lebih tua dibandingkan junjungannya itu.Dan sebagai seorang empu dan pujangga, pengetahuannya luas. Dia menghaturkan sembah lalu berkata. Sesungguhnya, Kanjeng Gusti.Hamba pernah mendengar penggambaran tentang Kyai Tilam Upih. Ciri-cirinya pusaka itui berlekuk tiga, kembang kacang, sogokan Srawean, Heri pandan, Greneng Pada gigir pusaka bagian atas berpamao perak mencorong dan itulah bagian yang baik dari pusaka itu. Akan tetapi bagian bawahnya berpamor hitam dan bagian ini ganas buakn main, lagi ampuh. Nah, andika telah mendengar jelas. Senopati Lembudigdo? Keris bentuk dan macam itulah yang harus kau temukan. Senopati itu menyembah. Hamba telah mengetahuinya dengan jelas, Kanjeng Gusti. Semoga dengan restu paduka hamba akan berhasil menemukan pusaka itu. Tiba-tiba Empu Panuluh yang berusia limapuluh tahun itu menghaturkan sembah. Beribu ampun hamba berani menghaturkan suatu peringatan, Gusti. Empu Pnuluh, setiap peringatan merupakan sesuatu yang amat berharga dan patut dibalas dengan ucapan syukur dan terima kasih. Katakanlah, peringatan apa yang ingin andika sampaikan kepada kami? Ampun, Gusti. Sejak jaman dahulu setiap pusaka yang ampuh dan baik selalu mendatangkan berkah dan anugerah kepada siapa yang memilikinya, sebaiknya, setiap pusaka yang ampuh dan mengandung hawa yang jahat akan mendatangkan malapetaka bagi pemiliknya. Kyai Tilam Upih memang pusaka ampuh dan juga telah ditangani oleh mendiang Gusti Prabu Airlangga sendiri sehingga mengandung kebikan, namun sayang pusaka itu memang pada awalnya sudah memiliki kandungan hawa yang tidak baik. Oleh karena itu, tentu akan mendatangkan malapetaka yang tidak diinginkan kepada pemiliknya. Sang Prabu Jayabaya mengangguk-angguk. Benar ucapanmu, Empu Panuluh. Dan kalau menurut perhitunganmu, malapetaka apakah yang dapat didatangkan Tilam Upih kalau berada di tangan kami? Ampun hamba, Gusti. Hamba tidak berani mendahului kehendak Hyang Widhi, akan tetapi biasanya, keris pusaka yang berhawa hitam itu pasti akan membawa korban di antara keluarga pemiliknya. Kembali Sang Prabu Jayabaya mengangguk-angguk. Jagat Dewa Bathara! Segala kehendak Hyang Widhi Wasa pasti akan terlaksana tanpa ada kekuasaan apapu yang sanggup mengubahnya. Empu Panuluh, andika pasti memaklumi pula bahwa siapapun orangnya, kalau dia sudah dipilih untuk menjadi korban Sang Hyang Syiwa, maka orang itu memang sudah digariskan sesuai dengan karmanya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada penyesalan apapun. Hamba tidak dapat lain kecuali menyetujui sabda paduka yang bijaksana dan mulia. Empu Panuluh menghaturkan sembah. Pada saat itu, seorang pria muda berusia tigapuluh tahun, berwajah tampan, menghaturkan sembah. Kanjeng Rama, hamba menghaturkan sembah dan perkenankan hamba mengajukan usul hamba. Sang Prabu Jayabaya memandang dan tersenyum. Yang bicara ini adalah Pangeran Arya Iswara, yaitu pangeran mahkota atau calon pengganti kedudukan raja Kediri kalau Sang Prabu Jayabaya sudah mengundurkan diri. Puterada pangeran, di dalam persidangan, hak bicara menyatakan pendapat adalah hak setiap orang yang hadir. Kalau andika memiliki pendapat dan usul, cepat katakan karena setiap pendapat tentu ada manfaatnya bagi sidang. kata Sang Prabu sambil tersenyum memberi semangat. Kembali pangeran yang tampan itu menghaturkan sembah, lalu berkata, Kanjeng Rama, pusaka Tilam Upih adalah pusaka keraton, berarti ada hubungan erat dengan keluarga kerajaan sehingga sudah semestinyalah kalau keluarga kerajaan sendiri turun tangan dalam usaha menemukan karena menjadi kebutuhan pribadi keluarga. Tentu saja paduka tiodak mungkin dapat meninggalkan tahta hanya untuk mencari pusaka itu, akan tetapi hamba dapat mewakili paduka untuk mencari dan menemukannya. Sudah menjadi kewajiban hamba pribadi kiranya untuk menemukan pusaka keluarga kita itu, Kanjeng Rama. Hamba akan menemani Paman Lembudigdo mencari pusaka Tilam Upih, yaitu apabila paduka mengijinkan. Semua orang yang hadir menganguk-angguk setuju dan kagum kepada pangeran ini. Tidak seperti pangeran kerajaan kebanyakan yang hanya suka pergi berburu dan bersenang-senang saja, pangeran Arya Iswara ini terkenal sebagai seorang pemuda yang rajin dan gemar belajar bukan hanya mempelajari kesusasteraan dan kesenian, kan tetapi juga ulah keperajuritansehingga dia terkenal sebagai seorang muda yang digdaya dan sakti mandraguna seperti ayahnya. Akan tetapi sebelum Sang Parabu Jayabaya menaggapi usul ini, tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk. Orang itu adalah seorang pria yang usianya sekitar enampuluh tahun, wajahnya mirip wajah Sang Prabu Jayabaya, tubuhnya sedang namun tegap dan sinar matanya mencorong.Dia ini memang seorang pangeran, kakak tiri Sang Prabu Jayabaya, yaitu seorang pangeran dari selir. Namanya adalah Pangeran Wijayanto atau lebih terkenal dengan sebutan Pangeran Sepuh, karena hanya dia seoranglah pangeran Kakak Sang Prabu yang masih hidup. Sang Prabu Jayabaya menoleh kepadanya dan bertanya ramah. Andika kenapakah, kanda pangeran? Uugh-ugh-ugh.......maafkan hamba, yayi prabu. Mendengar ucapan angger Pangeran Arya Iswara tadi, hamba merasa amat bangga dan juga terharu sekali sehingga hamba terbatuk-batuk. Akan tetapi sebelum paduka menjatuhkan keputusan, hamba kira ada baiknya kalau hamba mohon paduka mempertimbangkannya masak-masak lebih dulu. Angger Pangeran Arya Iswara adalah seorang pangeran pati seorang putera mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan paduka sebagai raja Kediri. Dia adalah seorang yang teramat penting.Oleh karena itu, sungguh berbahaya sekali kalau paduka memperkenannya pergi mencari Tilam Upih. Kita semua tehu bahawa keris pusaka iti kini dikejar dan diperebutkan orang-orang gagah senusantara, sehingga bahaya besar akan mengancam diri Angger Pangeran Arya Iswara. Masih kurangkah para senopati dan juga pangeran lain di kerajaan Kediri maka menugaskan pekerjaan berbahaya itu kepada seorang pangeran pati? Hamba kira Pangeran Panjiluwih cukup pantas untuk mewakili kakaknya sang pangeran pati untuk pergi mencari keris pusaka itu bersama para senopati. Demikianlah pendapat hamba, adinda prabu! Hamba siap melaksanakan perintah paduka. Kanjeng Rama. Tidak perlu Kakanda Pangeran Mahkota yang pergi,hamba sanggup mencari pusaka itu sampai dapat! kata Pangeran Panjiluwih, seorang pangeran berusia duapuluh lima tahun yang bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa, dengan kumis yang tebal melingkap di kanan kiri hidungnya, bagaikan Sang Arya Gatutkaca! Sang Parabu Jayabaya menganguk-angguk sambil tersenyum tenang. Sungguh bijaksana sekali pendapat kanda Pangeran Sepuh, dan agaknya sudah bulat tekadmu untuk mewakili ramandamu,Panjiluwih. Baiklah, kami perkenankan Pangeran Panjiluwih untuk menemani Senopati Lembudigdo mencari keris pusaka Tilam Upih. Dan andika, Arya Iswara, andika jangan pergi, biarkan andindamu yang mewakilimu. Hamba menaati perintah paduka kanjeng rama. kata Pangeran Arya Iswara dengan senyum tenang, lalu menoleh kepada adiknya dan berkata lirih. Andika harus berhati-hati melaksanakan tugas berat itu, adinda pangeran. Pangeran Panjiluwih tidak menjawab, hanya melirik ke arah pangeran pati itu sambil mengangguk sedikit, akan tetapisenyum licik tersembunyi di balik kumisnya yang tebal. Pangeran Panjiluwih menghaturkan sembah kepada sang prabu sambil berkata, Ampun Kanjeng Rama. Biarpun hamba maklum bahwa tugas mencari keris pusaka itu merupakan tugas yang tidak mudah dan berbahaya, namun hamba bersumpah akan mencari sekuat kemampuan hamba. Dan untuk mempertebal keyakinan hamba akan keberhasilan hamba, maka hamba mohon sudilah kiranya Kanjeng Rama memberikan sebuah pusaka kepada hamba untuk bekal dan pelindung diri dalam perjalanan. Sang Prabu Jayabaya tersenyum. Jagat Dewa Bathara! Ternyata andika seorang yang cukup cerdik, angger. Baiklah. Kami memiliki sebuah pusaka, sebatang keris pusaka bernama Kyai Gliyeng. Berkat keampuhan keris ini, andika dapat mengharapkan ditemukannya kembali keris pusaka Tilam Upih itu. Biasanya, kalau para dewata menghendaki Kyai Gliyeng dapat menunjukkan arah hilangnya sebuah benda yang dicari. Nah, inilah Kyai Gliyeng, kuserahkan kepada nadika untuk membantu pencarian Tilam Upih! Terima kasih, Kanjeng Rama! kata Pangeran Panjiluwih girang sambil menghaturkan sembah dan menerima keris Kyai Gliyeng itu. Persidangan lalu dibubarkan dan Pangeran Panjiluwih mengadakan perundingan dengan Senopati Lembudigdo untuk melaksanakan perintah Sribaginda mencari pusaka yang hilang seabad yang lalu. Mereka membentuk sebuah pasukan khusus terdiri dari limapuluh orang dan mulailah mereka berangkat menuju ke selatan. Di samping itu,merekapun menyebar para penyelidik ke seluruh bagian pantai dari timur ke barat. Niken Sasi menuruni lereng terakhir dari Gunung Anjasmoro. Ia meninggalkan gurunya dan melakukan perjalanan dengansantai sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepnjang perjalanan menuruni gunung itu. Ia merasa seperti hidup baru, memulai lembaran baru dalam hidupnnya. Karena ia sendiri tidak tahu kapan ia akan kembali ke gunung Anjasmoro, maka ia ingin menikmati keindahan tempat itu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi melaksanakan tugas yang berat. Kini ia tiba di tempat di mana dahulu ayah igunya diserang gerombolan penjahat. Gurunya sudah memberitahu bahwa gurunya telah mengubur janazah ayahnya di tempat itu, di bawah pohon kenanga dan makam itu ditandai dengan batu besar. Sebelum meninggalkan kaki gunung, ia ingin lebih dulu menemukan makam ayahnya . Akhirnya, ia dapat menemukan makam itu, di bawah pohon kenanga, dan batu besar sebagi nisannya. Kanjeng rama.......... ! Niken Sasi berlari menghampiri makam itu dan iapun menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Hatinya terasa perih, akan tetapi ia tidak menangis. Tidak, ia adalah seorang dara perkasa yang pantang untuk menangis. Ia membayangkan wajah ayahnya yang tampan dan gagah. Kemudian ia teringat pula kepada ibunya dan hatinya menjadi semakin perih kalau ia membayangkan ibunya. Apa yang telah terjadi dengan ibunya? Masih hidupkah ibunya, ataukah sudah tewas pula seperti ayahnya?Ia pasti akan menyelidiki hal ini, menyelidiki siapa yang telah membunuh ayahnya dan mengapa pula orang tuanya dibunuh. Akan tetapi hal itu akan dilakukannya setelah ia berhasil dengan tugas pertama, yaitu mencari keris pusaka Tilam Upih. Setelah merasa cukup puas dan lama berada di makam ayahnya, Niken Sasi lalu bangkit berdiri dan siap hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba ia terkejut melihat munculnya belasan orang dari balik semak belukar dan pohon. Tujubelas orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar itu mengepungnya dan yang mengejutkan dan mengherankan Niken Sasi adalah melihat betapa belasan orang itu semua mengenakan saputangan hitam yang menutupi muka mereka dari mata kebawah. Karena kepala merekapun mengenakan pengikat kepala dari kain hitam, maka yang nampak hanya sepasang mata mereka yang saja yang memandang dengan liar dan ganas. Niken Sasi memang terkejut dan heran. Akan tetapi sama sekali ia tidak merasa takut dan dengan tenang ia menghadapi para pengepungnya. Siapakah kalian dan apa maksud kalian mengepungku? tanyanya dengan suara yang merdu, lembut namun berwibawa. Akan tetapi belasan orang itu tidak memperdulikan pertanyaannya dan serentak lalu mereka menerjang, dengan tendangan kaki, pukulan tangan dan mencengkeram jari-jari tangan yang penuh semangat. Marahlah Niken Sasi. Manusia-manusia busuk! bentaknya dan tubuhnya sudah bergerak cepat sekali, berkelebatan di antara belasan orang pengeroyoknya. Terdengar suara lengkingan berkali-kali disusul robohnya beberapa orang pengeroyok. Niken Sasi berkelebat menjauhkan diri dari serangan banyak orang itu, dan ketika mereka mengejar, ia membalik dan balas menyerang. Haiiiiiiittt.......yahhhh......! bentaknya dan setiap kali kakinya mencuat dalam tendangan atau tangannya menyambar dalam tamparan tentu ada seorang pengeroyok yang terpelanting robih dan baru setelah agak lama dapat bangkit kembali. Belasan orang itu mempercept pengeroyokan mereka, dan serangan mereka semakin gencar. Namun sungguh aneh belasan orang pria yang kuat mengeroyok seorang dara dengan hujan serangan tak sekalipun dari semua serangan pukulan dan tendangan itu dapat mengenai tubuh Niken Sasi. Jangankan mengenai kulit tubuhnya. Menyerempet pakaiannyapun tidak. Demikian cepatnya gerakan Niken Sasi. Inilah Aji Tapak Srikatan yang membuat tubuh dara itu dapat berkelbatan bagaikan burung srikatan lincahnya. Hiaaaaaatttt........! Kembali beberapa orang berpelantingan sehingga belasan orang itu hampir semua sudah merasa akan roboh terpelanting. Agaknya belasan orang itu menjadi marah dan begitu terdengar seruan Bunuh.........!!! sebagai isyarat, mereka semua telah mencabut senjata mereka! Tujuh belas orang itu kini memegang senjata tajam, ada yang memegang golok yang besar dan panjang, ada pula yang memegang pedang dan ada juga yang memegang keris. Berkialuan senjata-senjata itu terkena sinar matahari dan keadaan mereka menyeramkan sekali. Akan tetapi Niken Sasi tidak menjadi gentar malah tertawa. Suara tawanya merdu dan hanya sebentar mulutnya terbuka, memperlihatkan giginya yang putih mengkilap. Hatinya merasa gembira karena baru sekarang ia membuktikan sendiri bahwa segala macam aji yang dipelajarinya dari gurunya, ternyata dapat membuat ia pandai membela diri dengan baiknya sehingga para pengeroyokan belasan orang itu dirasakannya ringansekali. Bru sekarang ia membuktikan sendiri bahwa ia telah menjadi seorang dara yang digdaya dan sakti mandraguna. Kebanggan dan kegembiraan tanpa rasa sombong memenuhi hatinya dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri menjadi menggunung. Kalian ini mengapakah mengeroyok akau? Katakan siapa kalian, dan apa artinya pengeroyokan ini, mungkin aku masih dapat mengampunimu! Akan tetapi, ucapan ini disambut serangan serentak dari berbagai penjuru. Keris, pedang dan golok menyambar-nyambar, mengancam keselamatan Niken Sasi. Akan tetapi gadis itu memang sudah siap siaga. Ketika dari semua penjuru para pngeroyoknya menyerbu, tiba-tiba saja pengeroyoknya menyerbu, Tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu telah lenyap. Hanya nampak bayangan berkelebat ke atas dibarengai suara tawa dan ketika mereka mencari sambil memutar tubuh, ternyata Niken Sasi telah berada di luar kepungan mereka. Setelah melihat para pengeroyok membalikan tubuh hendak mengejarnya, mulailah Niken Sasi menggerakkan kaki tangnya dengan cepat. Mereka yang berada di depan berusaha menggerkkan senjata mereka, akan tetapi mereka kalah cepat. Sebelum senjata mereka mampu menyerang, tamparan dan tendangan telah membuat mereka terpelanting ke kanan kiri dan sekali ini tendangan dan tamparan itu lebih keras lagi sehingga mereka yang roboh itu mengaduh-aduh dan berusaha bangkit. Pedang, golok dan keris beterbangan dari tangan meraka yang roboh. Akan tetapi, orang-orang bertopeng itu masih nekat mengeroyok dengan lebih ganas. Karena jumlah lawan yang banyak, Niken khawatir kalau-kalau ada senjata nyasar mengenai dirinya, maka iapun melompat jauh ke belakang,lalu menggosok-gosok kedua tangannya mengerahkan Aji Hasta Bajra. Ia tidak menanti sampai kedua telapak tangannya panas sekali karena ia ingin membatasi tenaganya dan setelah kedua telapak tangan itu agak panas, dan melihat mereka sudah mengejarnya lagi, ia lalu memasang kuda-kuda dan kedua tangannya didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka. Blaarrrrrr........! Empat orang yang berada paling depan tiba-tiba terjengkang ke balakang menabrak teman-temannya seperti disambar petir dan mereka pingsan seketika, kawan-kawannya yang ditabrak berpelantingan. Pada saat itu, muncul seorang pemuda tanpa banyak cakap lagi mengamuk, menampar dan menendangi para pengeroyok itu sehingga mereka menjadi semakin mawut dan kacau. Akhirnya, mereka yang belum terluka parah menyambar tubuh temannya yang terluka dan segera melarikan diri.Niken Sasi merasa heran melihat munculnya pemuda itu, akan tetapi ketika melihat bahwa yang muncul membantunya adalah Gajahpuro, iapun meresa senang dan tersenyum. Gajahpuro juga tidak mengejar orang-orang yang melarikan diri itu, melainkan cepat menghampiri Niken Sasi. Niken.......! Engkau tidak apa-apa? tanya pemuda itu yang kelihatan khawatir sekali. Niken Sasi tersenyum dan menggeleng kepalanya. Gerombolan penjahat itu tidak melukai aku, Kakang Gajahpuro. Sukur engkau datang membantuku. Siapakah mereka itu, Niken? Dan mengapa pula mereka mengeroyokmu? Niken Sasi menggeleng kepalanya dan iapun mengambil buntalan bekal pakaiannya yang tadi ia lepaskan dan sampirkan di semak-semak. Aku tidak tahu mereka siapa dan mengapa mereka mengeroyokku. Mereka tidak ada yang mengaku. Gajahpuro mengepal tinjunya, dan memukul telapak tangan kiri dengan gemas. Ah, kalau tahu begitu, tentu kutangkap seorang di antara mereka untuk ditanya. Kurang ajar sekali mereka! Sudahlah, kakang. Aku kan tidak terluka dan mereka itu sudah melarikan diri. Akan tetapi bagaimana engkau mendadak dapat muncul membantuku? Kenapa engkau berada di sini,kakang Gajahpuro? Aku memang pergi menyusulmu, Niken. Engkau pergi tidak berpamit padaku dan ketika tadi aku mendengar bahwa engkau sudah pergi, aku segera mengejarmu dan melihat engkau dikeroyok di sini aku lau membantumu. Ah, kakang Gajahpuro. Kemarin aku sudah menceritakan kepada semua murid bahwa aku pergi untuk melaksanakan perintah Bapa Guru mencari Tilam Upih untuk dihaturkan kepada KerajaanDaha, dan juga untuk mencari para pembunuh orang tuaku. Karena itulah aku merasa khawatir. Engkau seorang gadis remaja pergi sorang diri menempuh bahaya! Bagaimana hatiku tidak merasa khawatir?Maka aku lalu menyusulmu karena aku hendak menemanimu dalam me;aksanakan perintah Bapa Guru. Niken Sasi tersenyum memandang wajah pemuda ganteng itu.Gajahpuro memang selalu bersikap manis kepadanya dan ia menganggapnya sebagai teman sejak kecil yang baik sekali. Terima kasih, kakang Gajahpuro. Akan tetapi aku tidak ingin ditemani karena Bapa Guru memerintahkan aku pergi sendiri. Aku tidak ingin melawan perintah Bapa Guru. Ah, Niken! Bapa Guru tidak akan mengetahui bahwa aku menemani dan membantumu! Tidak,Kakang. Urusan mencari para pembunuh orang tuaku merupakan urusan pribadi yang harus kupertanggung-jawabkan sendiri. Orang lain tidak boleh mencampuri. Akan tetapi, aku dapat membantumu mencari Tilam Upih. Kalau engkau hendak membantuku, mencari keris pusaka itu, silakan. Akan tetapi jalan kita bersimpang. Aku ingin merantau dan melakukan perjalanan seorang diiri. Gajahpuro tidak membujuk-bujuk lagi, memandang gadis yang dicintainya sampai lama, kemudian dai menghela napas dan berkata. Aku tahu, Niken. Engkau tidak mau aku temani karena engkau merasa sudah cukup kuat. Engkau bahkan lebih sakti daripada murid-murid Bapa Guru yang lain. Kulihat tafi engkau telah menguasai Hasta Bajara! Niken Sasi terkejut. Engkau melihatnya , kakang? Harap engkau berbaik hati untuk tidak bercerita kepada siapapun, apa lagi kepada Bapa Guru yang tentu akan merah mendengar aku mempergunakan aji itu walaupun keadaan tidak terpaksa sekali. Tenanglah, aku tidak akan bercerita. Akan tetapi kita akn bertemu kembali, Niken. Aku akan membantumumencari Tilam Upih yang besar kemungkinan kita akan saling bertemu dalam usaha mencari keris pusaka itu. Baiklah, kakang. Sekarang aku hendak melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, kakang Gajahpuro. Pandang mata pemuda itu nampak kecewa sekali. Menurut perhitungannya, gadis itu tentu akan girang ditemani melakukan perjalanan, ada kawan yang membantunya. Siapa kira, gadis itu menolaknya dan tidak mempunyai alasan lain untuk mendesak. Baiklah,Niken. Semoga para dewa melindungimu dan engkau akan berhasil. Terima kasih Kakang. Engkau memang baik sekali! Mereka berpisah dan ucapan terakhir Niken Sasi itu setidaknya merupakan hiburan bagi Gajahpuro. Mereka berpisah mengambil jalan masing-masing. Setelah tiba di luar dusun pertama di kaki Gunung Anjasmoro. Niken Sasi melihat seorang kakek berjalan datang dari arah depan . Ia segara mengenal kakek itu. Paman Joyosentiko, serunya. Paman datang dari manakah? Kakek itu adalah Ki Joyosentiko, seorang anggota tua dari Gagak Seto. Sebetulnya dia masih kakak seperguruan dari Ki Sudibyo, akan tetapi tingkat kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan adik seperguruan yang menjadi ketua Gagak Seto itu. Di pergurun Gagak Seto, Ki Joyosentiko ini bertugas mengajarkan kesussastraan kepada para murid. Menurut peraturan yang diadakan Ki Sudibyo, semua murid Gagak Seto harus mempelajari kebudayaan, karena dia berpendapat bahwa ilmu kedigdayaan tanpa disertai ilmu kebudayaan, dapat membuat murid menjadi seorang yang hanya menurutkan nafsu sendiri mengandalkan kesaktiannya. Ki Joyosentiko mengangkat tangan ke atas. Aku memang sengaja menantimu di sini, Niken. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu sebelum engkau melanjutkan perjalananmu. Mari kita pergi ke gubuk di tengah Ladang itu agar dapat bicara dengan leluasa. Baik, paman. Niken Sasi menghormati orang tua ini karena segala macam kesenian ia pelajari darinya, juga tentang adat istiadat dan kesusilaan. Setelah mereka duduk berhadapan, Ki Joyosentiko berkata dengan suaranya yang lembut dan tenang. Angger, Niken Sasi. Aku mendengar bahwa engkau mendapat tugas dari gurumu untuk mencari Tilam Upih, dan juga untuk mencari para pembunuh ayah bundamu. Benar, paman. Dan aku mendengar pula bahwa engkau kelak akan diangkat menjadi ketua Gagak Seto menggantikan adi Sudibyo, benarkah? Niken Sasi memandang tajam wajah pamannya! Ia menganggap bahwa hal itu tidak perlu dirahasiakan lagi. Memang demikianlah kehendak Bapa Guru, paman. Aku melihat bahwa pilihan Bapa Gurumu tidak keliru. Walupun andika murid wanita, namun andika lebih maju daripada yang lain, baik kemajuan lahir maupun batin. Bahkan lebih lagi tadi akupun sempat menyaksikan engkau menguasai Hasta Bajra. Niken Sasi membelalakan matanya. Paman melihatnya? Paman tahu siapa gerombolan jahat yang tadi mengeroyokku? Kakek itu menggeleng kepala. Aku sendiri tidak mengenal mereka karena mereka bertopeng. Akan tetapi peristiwa itu menunjukkan betapa berat tugasmu dan engkau haruslah berhati-hati dan waspada. Ingat, jangan sembarangan mempercayai orang karena di dunia ini lebih banyak terdapat orang yang berwatak palsu daripada orang yang tulus benar. Akan tetapi yang hendak kuberitakan ini adalah soal yang lain lagi, yaitu mengenai diri bapa gurumu. Pandang sepasang mata yang jeli itu penuh selidik menatap wajah Ki Joyosentiko yang sudah terbiasa keriput. Ada apakah dengan Bapa Guru, paman? Tahukah andika, Niken, bahwa bapa guru selalu sakit-sakitan, tubuhnya menjadi lemah dan dia kehilangan tenaga saktinya, juga selalu terbenam kedalam kesedian? Niken Sasi mengerutkan alisnya, akan tetapi ia harus membenarkan pendapat pamannya dan ia menganggu-angguk. Memang demikian, paman. Akan tetapi, saya tidak tahu mengapa demikian. Mengapa Bapa Guru kelihatan seperti lemah berpenyakitan dan wajahnya selalu diliputi wan kedukaan. Tahukah paman mengapa Bapa Guru bersedih seperti itu? Ki Joyosentiko menghela napas panjang beberapa kali, lalu berkata, Aku merasa iba sekali kepada Adi Sudibyo, walaupun semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri pula. Hatinya terlampau keras, dan sudah menjadi wataknya, sejak muda bahwa dia tidak mau kalah oleh siapapun. Nah, dengarkan ceritaku Niken. Hal ini perlu kau ketahui agar engkau mengerti benar persoalannya yang terjadi dalam keluarga Bapa Gurumu yang akan kau gantikan kedudukannya di Gagak Seto. Niken Sasi mendengarkan dengan penuh perhatian. Kembali Ki Joyosentiko menghela napas lalu mulai dengan ceritanya. Kurang lebih duapuluh tahunyang lalu, di perguruan Gagak Seto ini terdapat seorang murid wanita bernama Ni Sawitri. Ia seorang yatiam piatu dan setelah menjadi murid di Gagak Seto, ia amat dekat dngan aku sehingga menganggap aku sebagai ayah angkatnya sendiri. Dalam perguruan terdapat pula seorang murid pria bernama Margono dan di antar kedua orang muda ini terjalin hubungan cinta kasih yang mendalam. Karena kakek itu berhenti bercerita, Niken lalu mengomentari, Mereka berdua tentu berbahagia sekali, paman. Akan tetapi kakek itu menggeleng kapala dan menghela napas panjang. Mestinya begitu. Akan tetapi sudah di tentukan oleh dewata agaknya bahwa nasib mereka tidaklah demikian gemilang.Ternyata Adi Sudibyo yang ketiaka itu berusia empatpuluh tahun dan masih membujang,jatuh cinta pula kepada Ni Sawitri. Inilah awal malapetaka itu. Ki sudibyo meminang muridnya sendiri dan Ni Sawiitri tidak berani menolaknya. Sejak kecil ia yang sudah yatim piatu diteriama menjadi murid Gagak Seto, berarti ia berhuatang budi besar sekali kepada Ki Sudibyo. Biarpun perasaanya hancur lebur, ia tidak berani menolak pinangan gurunya. Aku yang mengetahui persoalan ini sudah memberi ingat kepada Adi Sudibyo bahwa Ni Sawitri sudah mempunyai pilhan hati, akan tetapi Ki Sudibyo malah marah-marah dan menuduhku menghalangai kehendaknya. Nah, pernikahan itupun dilangsungkan. Hanya aku yang mengetahui betapa hancur rasa hati Ni Sawitri dan juga kekasihnya, Margono. Kurang lebih tiga bulan kemudian Margono jatuh sakit dan penyakitnya sedemikain beratnya sehingga orang sudah putus harapan untuk dapat menyembuhkannya. Ni Sawitri yang sudah tiga bulan menikah, memperoleh kesempatan untuk menjenguk dan terjadilah pertemuan antara kedua kekasih ini yang membangkitkan kenangan lama dan sekligus menjadi obat yang amat mujarab bagi Margono. Dia sembuh dan pertemuan itu menjadi semacam tekad mereka berdua. Tanpa diketahui siapapun, pada suatu malam, kedua orang itu minggat meninggalkan perkampungan Gagak Seto! Kembali kakek itu menghela napas panjang dan Niken Sasi merasa tertarik sekali. Sungguh sukar ia dapat membayangkan gurunya yang demikian berwibawa dan halus budi, dapat memaksa seorang wanita berpisah dari kekasihnya dan menjadi isterinya! Cinta memang dapat meimbulkan perbuatan yang aneh-aneh dan sukar dipercaya akal sekat, kata Ki Joyosentiko, seolah dapat membaca pikiran Niken Sasi. Lalu bagaimana tanggapan Bapa Guru setelah melihat mereka berdua itu melarikan diri, paman? Nanti dulu, sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin lebih dulu mendengar pendapatmu tentang perbuatan mereka itu. Hal imi penting sekali untuk menentukan sikapmu kelak setelah engkau menjadi ketua Gagak Seto. Tanpa ragu lagi, dengan suara yang pasti, Niken Sasi menjawab. Saya tidak dapat menyalahkan mereka berdua itu, paman. Walaupun hal ini merupakan pengkhianatan terhadap Bapa Guru dan membuat Bapa Guru tentu sja merasa terhina dan duka, akan tetapi hal itu adalah kesalahan Bapa Guru sendiri. Tidak semestinya dai memaksa Ni Sawitri untuk menjadi isterinya, apa lagi Ni Sawitri telah memiliki seorang kekasih. Bapa Guru sudah mengetahui karena paman telah memberi tahu, akan tetapi Bapa Guru nekat. Bagus! Kalau begitu pendapatmu,aku berani melanjutkan ceritaku karena sikapmu kelak sudah kuketahui. Nah, ketika gurumu mendengar tentang minggatnya isterinya bersama Margono, dia menjadi marah bukan main dan segera melakukan pengejaran. Akan tetapi semua usahanya gagal dan dia mencari terlalu jauh. Hemm,agaknya paman mengetahui tempat persembunyian mereka akan tetapi tidak mau memberitahu kepada Bapa Guru. Kakek itu menganguk-angguk. Bukan hanya mengerti, bahkan aku membantu mereka dan menyembunyikan mereka di dalam goa tidak jauh dari puncak Gunung Anjasmo. Baru setelah keadaan aman dan gurumu tidak mencari sendiri lagi, aku melepaskan mereka. Mereka melarikan diri jauh sekali, akan tetapi karena gurumu masih terus mengirim murid-murid untuk melakukan pencarian, mereka harus selalu berpindah-pindah dan aku sendiri tidak tahu di mana anak angkatku dan suaminya itu berada. Kembali di berhenti. Lalu bagaimana, paman? Ki Sudibyo sungguh keras hati. Dia diracuni dendam. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu setelah sepuluh tahun lamanya Ni Sawitri melarikan diri, dia masih saja menyuruh murid-muridnya melakukan pencarian. Yang diutus adalah Klabangkoro. Padahal aku sendiri mengetahui dengan jelas bahwa dahulu, si Klabangkoro itu juga jatuh hati kepada Ni Sawitri, akan tetapi tidak pernah ditanggapi oleh wanita itu. Jadi, ketiak disuruh oleh girimu, Klabangkoro juga mempunyai dendam pribadi, Dan sekali ini, usahanya berhasil. Dia dan teman-temannya dapat menemukan Ni Sawitri dan Margono di Bukit Bathok dan berhasil membunuh Ni Sawitri dan Margono. Niken Sasi bangkit berdiri dengan mata terbelalak. Alanglah kejamnya! bentaknya . Tenanglah, Niken. Demikianlah kalau orang sudah dibuat gila oleh cinta asmara yang bukan lain hanya nafsu yang sudah memuncak,dan kematian setiap orang sudah ditentukan oleh para dewata sesuai dengan karma masing-masing. Dan sejak menerima berita bahwa Margono suda terbunuh, akan tetapi bahwa Ni Sawitri juga tewas, KI Sudibyo menjadi semakin rusak hatinya sehingga mempengaruhi kesehatannya. Bertahun-tahun dia tenggelam dalam kedukaan. Mungkin juga timbul penyesalan dalam hatinya. Kalau begitu, hal itu adalah salahnya sendiri. Setiap orang sudah pasti akan angunduh wehing pakaryaan( memetik buah perbuatannya). Memang benar, angger. Akan tetapi patut dikasihani Ki Sudibyo. Semua itu dilakukan demi cintanya kepada Ni Sawitri. Dan dia hanya dapat menikmati kebahagian hidup sebagai suami isteri bersama Ni Sawitri selama tiga bulan saja. Karena itulah maka aku merasa iba kepadanya. Yang kukhawatirkan adalah putera dari Ni Sawitri. Niken Sasi terbelalak memandang kakek itu. Mereka mempunyai putera? Bagaimana dapat lolos dari pembunuhan itu? Mereka mempunyai seorang anak laki-laki. Menurut cerita para murid, ketika mereka sudah membunuh Margono dan Ni Sawitri juga tewas membunuh diri, anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun itu mengamuk. Anak itu tentu sudah dapat dibunuh pula kalau tidak muncul seorang kakek tua renta yang menyelamatkannya. Kakek itu amat sakti dan mengusir Klabangkoro dan kawan-kawannya. Bapa Guru juga mendengar tentang nak itu? Tentu saja. Akan tetapi agaknya hatinya sudah luluh dan hancur mendengar kematian Ni Sawitri sehingga dia tidak memperdulikannya lagi. Padahal dia tahu benar bahwa kelak besar kemungkinan anak itu akan membalas dendam kematian orang tuanya. Hemm, tentu saja. Dan anak itu kini sudah dewasa, paman? Sepuluh tahun yang lalu dia berusia sepuluh, tentu sekarang sudah berusia duapuluh tahun. Benar, karena itulah aku bercerita kepadamu. Aku khawatir anak itu datang membalas dendam dan agaknya engkau yang harus menghadapinya karena engkau akan menjadi ketua. Paman kau tidak menyalahkan anak laki-laki itu kalau dia hendak membalas dendam. Akan tetapi karena aku adalah murid Bapa Guru, maka sudah menjadi kewajibanku untuk membela Bapa Guru. Kalau bocah itu datang dengan niat membunuh Bapa Guru, saya akan menasihatinya agar dia tidak melakukan hal itu, dengan mengingatkan kesalahan yang telah diperbuat orang tuanya terhadap Bapa Guru. Kalau dia nekat, terpaksa akan saya lawan! Memang seharusnya demikian. Akan tetapi ada satu rahasia yang sampai saat ini hanya diketahui olehku seorang dan sekarang rahasia itu akan akan kubuka kepadamu. Ketahuilah, pemuda itu sama sekali tidak boleh membalas dendam, tidak boleh membunuh Ki Sudibyo karena Ki Sudibyo adalah bapak kandungnya. Niken Sasi yang tadi sudah duduk kembali, kini meloncat lagi dan matanya terbelalak bundar. Apa.......? Apa maksud paman? katanya bingung. Ketika Margono daqn Sawitri bersembunyi, Sawitri yang sudah seperti anakku sendiri, membuat pengakuan kepadaku bahwa ia sudah mengandung selama dua bulan. Jadi, anak itu adalah anak kandung Sudibyo, bukan anak kandung Margono. Dan Bapa Guru tahu pula akan hal itu? Ki Joyosentiko menggeleng kepala. Tidak, tidak kuberitahu karena kenyataan itu tentu akan semakin menghancurkan hatinya. Aku tidak tega Niken. Ampun, Gusti......... ! Kenapa mereka melakukan perbuatan seperti itu? Bapa Guru sudah jelas bersalah karena memperisteri wanita yang sudah mempunyai kekasih, kemudian keasalahannya menjadi semakin berlarut ketika dia menyuruh bunuh Margono sehingga Ni Sawitri ikut pula tewas. Ni Sawitri juga bersalah karena setelah ia menikah dengan Bapa Guru, apalagi sudah mengandung, mengapa ia mengkhianatinya dan minggat bersama kekasihnya? Juga Margono bersalah. Dia merampas isteri orang lain yang sudah mengandung,merusak pagar ayu namanya. Wah, tiga orang berbuat kesalahan dan akibatnya mengerikan.! Akan lebih mengerikan lagi kalau kelak anaknya membalas dendam kepada bapak kandung sendiri! Niken Sasi mengangguk-angguk. Sekarang saya mengerti mengapa paman menceritakan semua ini kepada saya. Baiklah, paman. Saya berjanji akan menghalangi pembunuhan antara ayah dan anak kandung ini. Kalau sudah tiba saatnya bertemu dengan anak itu, akan saya beritahu kepadanya perkara yang sebenarnya dan saya akan mencegah dia melakukan pembalasan terhadap Bapa Guru. Juga saya yang akan memberitahu Bapa Guru kelak bahwa pemuda itu adalah putera kandungnya. Terima kasih kepada Gusti Yang Maha Agung! Ki Joyosentiko memanjatkan puji. Hanya andika seorang yang akan mampu menyelamatkan mereka, Niken Sasi. Sekarang legalah hatiku setelah aku menceritakan segalanya kepadamu.Nah, andika boleh melanjutkan perjalanan sekarang. Baik,paman dan selamat tinggal. Selamat jalan dan semoga para dewata akan melindungimu, angger! Niken Sasi meninggalkan gubuk itu dan mengerahkan aji Tapak Srikatan yang membuat larinya seperti seekor burung sedang terbang terbang cepatnya, diikuti pandang mata Ki Joyosentiko yang mengangguk-angguk sambil tersenyum puas. Niken Sasi sama sekali tidak mengetahui bahwa semua gerak-geriknya semenjak meninggalkan perkampungan Gagak Seto selau diawasi orang. Ke manapun ia pergi, selalu selalusaja ada orang yang membayanginya. Ketika ia mengadakan pertemuan dengan Ki Joyosentiko, juga tidak terlepas dari pengamatan orang-orang itu. Akan tetapi Ki Joyosentiko bertindak cerdik, mengajak ia bercakap-cakap disebuah gubuk di tengan sawah sehingga tidak mungkin ada orang dapat mendekati gubuk itu tanpa diketahui. Orang yang membayangi Niken hanya mampu mengintai saja dari jauh, tahu bahwa ia bercakap-cakap dengan Ki Joyosentiko, akan tetapi tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dan pertemuan itupun tidak menimbulkan kecurigaan, karena Ki Joyosentiko adalah paman guru Niken Sasi sendiri. Perjalanan Niken Sasi tidak menemui kesulitan. Karena ia bersikap ramah dan juga membawa bekal uang, maka di mana saja ia diterima penduduk dusun untuk melewatkan malam. Pada suatu hari tibalah ia ditepi Sungai Lesti, di kaki Gunung Kelud. Tempat itu sunyi, jauh dari dusun dan selagi ia melihat-lihat ke kanan kiri untuk mencari perahu penyeberangan, tiba-tiba bermunculan dua belas orang laki-laki yang segera mengepungnya. Melihat pakaian mereka yang ringkas, dada telanjang dan sikap mereka yang kasar, Niken Sasi waspada. Mereka itu jelas bukan petani biasa, lebih pantas menjadi orang-orang yang biasa memaksa kehendak mereka dan tidak pantang melakukan kejahatan. Bojleng-bojleng belis laknat! seorang di antara mereka yang mata kirinya terpejam dan hanya mempunyai sebuah mata kanan yang melotot menyeramkan berseru sambil menyeringai sehingga nampak giginya yang besar-besar menguning. Ada bidadari dari kahyangan berjalan seorang diri. Siapakah andika, cah ayu, dan hendak pergi kemanakah? Sementara itu, sebelas orang kawannya juga menyeringai gembira dengan pandang mata seolah hendak menelan bulat-bulat seluruh tubuh Niken Sasi. Bahkan ada yang menjulurkan lidah yang meneteskan air liur bagaikan srigala-srigala kelaparan melihat seekor domba yang lunak dan gemuk gadingnya. Biarpun nada pertanyaan itu tidak sopan, akan tetapi karena orang bertanya, Niken Sasi menjawab juga,dengan suara datar, Namaku Niken Sasi dan aku hendak pergi ke Lautan Kidul. Siapakah kalian dan mau apa kalian mengepungku? Biarkan aku lewat! Hoa-ha-aha.........! Si Mata satu yang tinggi besar seperti raksasa itu tertawa, diikuti anak buahnya yang juga terkekeh-kekeh. Ayu manis dan centil! Kawan-kawan,apakah pantas ia menjadi isteri baruku? Semua orang tertawa, Pantas sekali, kakang Mamangmurko! kata mereka. Wah, jangan-jangan ia ini Kanjeng Ratu Kidul atau hulubalangnya! tiba-tiba terdengar seorang di antara mereka berseru dan mendengar seruan itu, tiba-tiba saja suara tawa mereka terhenti seperti orang-orang terpijak. Dan semua orang termasuk si mata satu, kini terbelalak mengamati Niken Sasi dengan penuh kecurigaan dan rasa takut. Niken Sasi maklum apa yang berada dalam benak orang-orang tahyul dan kasar itu. Mereka tentu amat takut kalau-kalau ia penjelmaan Kanjeng Ratu Kidul atau hulubalangnya, maka iapun menggunakan kesempatan itu agar jangan terganggu perjalanannya. Aku memang seorang senopati dari Kanjeng Ratu Kidul! katanya lantang sambil bertolak pinggang. Aku baru pulang melaksanakan tugasku ke puncak Gunung Kelud dan sekarang hendak kembali ke Lautan Kidul. Hayo cepat kalian sediakan sebuah perahu untuk menyeberangi sungai ini! Suaranya terdengar lantang berwibawa, sikapnya gagah dan duabelas orang itu surut ke belakang,lalau berbisik-bisik dengan ketakutan. Hayo cepat sediakan perahu!kata si mata satu yang namanya Mamangmurko itu. Dia sudah ketakutan sekali. Siapa yang tidak takut akan kemurkaan Kanjeng Ratu Kidul, Ratu dari Samudera Selatan yang terkenal ganas itu? Duabelas orang itu lalau berlarian, kemudian menyeret keluar enam buah perahu kecil dari balik semak-semak di tepi sungai. Perahu-perahu itu mereka turunkan ke atas air dan Mamangmurko membungkuk di depan Niken Sasi sambil berkat, Silakan Den Roro....... ! Niken Sasi mengangguk dan tersenyum. Ia tidak merasa janggal mendengar sebutan Raden Roro itu, karena sesungguhnya ia bahkan berhak mendapat panggilan yang lebih mulia lagi. Bukankah ia cucu Sang Prabu Jayabaya di Daha? Ia lalau melangkah ke dalam sebuah perahu dan perahu-perahu itu meluncur menyeberagi Sungai Lesti.Karena sungai Lesti, anak sungai Brantas itu ketiak tiba disitu masih belum besar benar, sebentar saja perhu-perahu itu telah tiba di sebelah selatan sungai dan para anak buah gerombolan itu berloncatan ke daratan. Demikian pun Niken Sasi melangkah keluar dari dalam perahu, mendarat di atas tepi sungai yang berumput. Akan tetapi pada saat itu, seorang di antara mereka berseru, kawan-kawan, kita tertipu! Kalau nona ini seorang senopati dari Kerajaan Kidul, mana mungkin ia ikut dengan kita naik perahu? Seorang senopati dari Kerajaan Kidul tentu tidak takut air, apalagi hanya air sungai! Ia ini bukan senopati Kidul, melainkan gadis biasa yang telah membohongi kita. Mendengar ini, Niken Sasi melangkah ke depan dan bertolak pinggang. Hemm, siapa berani mengatakan bahwa aku penipu dan berbohong? Siapa yang tidak percaya bahwa aku senopati Kidul boleh maju dan menguji kesaktianku. Orang berteriak tadi kini didorong-dorong temannya. Karena dia tadi meneriakkan bahwa gadis itu bukan senopati Kidul, maka dia pula yang harus mengujinya. Dia seorang pria berusia tigapuluh tahun yang bertubuh kekar, kaki tangannya di lingkari otot-otot seperti tali tambang. Biarpun agak jerih, dia memberanikan diri untuk membuktikan tuduhanya tadi. Baik,akau yang akan menguji andika! katanya dan tanpa menanti jawaban lagi, langsung saja dia menubruk ke depan untuk merangkul dan meringkus dara jelita itu. Wuuutt..........brukkk.....! Pemuda itu tidak merangkul Niken yang tiba-tiba lenyap dan menubruk tanah. Dia terkejut dan penasaran, melompat bangun,membalikkan tubuhnya dan kembali dia menerjang, kembali ingin memeluk. Kembali Niken Sasi mengelak. Melihat temannya berusaha menubruk dan merangkul sedangkan gadis itupun hanya mengelak, teman-temannya menjadi iri dan merekapun serentak bergerak mengejar dan menubruk Niken Sasi, seolah sekawanan anak yang bergembira mengejar-ngejar seekor kelinci! Kini Niken Sasi menjadi marah. Melihat duabelas orang itu semua berebutan dan berusaha untuk memeluknya, ia pun tidak hanya mengelak melainkan juga menangkis, menampar dan menendang. Dan terdengarlah teriakan-teriakan mengaduh dan tubuh para pengeroyok itu berpelantingan. Mendapat hajaran ini, duabelas orang itu kembali menjadi ketakutan karena kini mereka percaya bahwa dara itu benar-benar sakti. Kalau ia senopati Kidul, celakalah mereka! Maka dipimpin oleh Mamangmurko, mereka semua brelutut dan menyembah-nyembah kepada Niken Sasi. Gusti Puteri Senopati, hamba semua mohon ampun..... kata Mamagmurko dengan bibir berdarah karena tadi dia menerima tamparan tangan kiri Niken Sasi. Enak saja, tadi menyerang dengan niat buruk, kini minta ampun, pikir Niken Sasi. Kemudian ia teringat. Bekal uang yang diterimanya dari Ki Sudibyo memang cukup banyak, akan tetapi ia melakukan perjalanan jauh dan tidak diketahui kapan berakhir, maka ia membutuhkan banyak uang untuk biaya perjalanan. Hayo keluarkan semua uang yang berada di pakaian kalian. Keluarkan semua dan kumpulkan. Awas,jangan menyembunyikan karena aku akan mengetahui dan siapa menipu akan kuseret nyawanya ke Lautan Kidul! Tak seorangpun dari mereka berani membantah atau berani menyembunyikan sesuatu dan keluarlah semua milik mereka dari sabuk dan saku mereka, ditumpuk di atas tanah. Dari barng-barang itu, mudah diduga bahwa gerombolan itu adalah perampok karena bermacam barang perhiasan wanita terdapat dalam tumpukan itu, selain uang dan emas. Niken Sasi lalu membungkus semua harta itu dan memasukkannya ke dalam buntelan pakaiannya. Hemm, biarlah sekali ini kalian kuampuni. Akan tetapi mulai sekarang kalian harus menghentikan pekerjaan jahat. Jangan lagi merampok dan mengganggu orang. Awas, kalau kelak kulihat kalian masih berbuat jahat, aku pasti akan mencabut nyawa kalian! Setelah berkata demikian, Niken Sasi menggunakan aji Tapak Srikatan dan sekali meloncat ia telah berada di tempat jauh dan segera ia berlari cepat seperti terbang. Duabelas orang itu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.Akan tetapi, Mamangmurko lalu bangkit brediri, mengepal tinju dan memaki-maki. Bojleng-bojleng, jahanam busuk, kita telah tertipu! Bocah setan itu tentu saja bukan senopati Kidul. Karena kerajaan Kidul terkenal kaya raya dan batu-batunya saja emas, bagaimana mungkin ia merampas uang dan perhiasan kita? Kita telah tertipu! Ia menyumpah-nyumpah. Akan tetapi harus diakui bahwa ia sakti mandraguna, kakang Mamagmurko. Kita tidak dapat menandinginya. Gerakannya seperti terbang saja. Dan pukulannya juga ampuh, masih terasa panas bekas tangannya! kata yang lain. Mamangmurko menjadi semakin jengkel. Dasar kita yang sedang sial, bertemu dengan gadis seperti itu. Habislah semua hasil pekerjaan kita selama berbulan-bulan. Akan tetapi kita dapat mencari lagi dan kita tidak perlu takut, karena gadis itu pasti tidak akan mengetahuinya. kata yang lain. Awas saja dara itu! Kalau sekali lagi lewat di sini, aku akan mengerhkan banyak kawan untuk menagkapnya ancam Mamangmurko dengan geram. Dan gagallah usaha Niken Sasi untuk memaksa kawanan gerombolan itu untk mengubah jalan hidup mereka . Mereka kembali menjadi perampok yang ganas. Sementara itu, Niken Sasi melanjutkan perjalannya menuju selatan setelah melewatkan malam di sebuah dusun kicil, pada keesokan harinya tibalah ia di dusun Lodaya yang cukup banyak penghuninya. Seperti dalam perjalanannya yang sudah dilaluinya, ketika memasuki dusun Lodaya di siang hari itu, Niken Sasi menjadi perhatian banyak orang. Dandanannya memang tidak banyak berbeda dari gadis-gadis dusun lainnya. Akan tetapi kulitnya yang putih kuning, wajahnya yang cantik jelita, dan keberadaanya seorang diri, menarik perhatian orang. Dara secantik jelita itu, yang dari kulitnya, wajahnya dan gerak-geriknya jelas menunjukkan bahwa ia bukan seorang gadis dusun biasa, berkeliaran seorang diri! Niken Sasi merasa lapar dan ia mencari-cari kedai nasi di dusun itu. Akhirnya ia menemukan beberapa buah warung di dekat pasar yang mulai sunyi dan ia memilih warung terbesar dan memasukinya.Ada beberapa buah bangku panjang di dalam warung, menghadapi meja panjang yang penuh makanan. Terdapat lima orang tamu di kedai nasi itu dan mereka semua pria. Melihat masuknya seorang dara jelita, lima orang pria yang berusia dari tigapuluh sampai empat puluh tahun itu menengok dan mengikuti gerak-gerik Niken sambil menatap wajah cantik itu penuh kagum. Penjaga warung itu seorang wanita berusia hampir empatpuluh tahun, masih membekas kecantikan wajahnya dan pakaiannya bersih, wajahnya dibedaki dengan rambut digulung rapi, sikapnya ramah dan agak genit. Melihat munculnya Niken , penjaga warung itupun memandang heran. Biasanya, kalau ada tamu wanita yang memasuki warungnya, tentu tamu wanita itu datang bersama suaminya atau keluarga lain. Belum pernah ada dara apalagi demikian ayunya, datang seorang diri. Makanya ia menyambut dengan ramah dan pandang mata heran. Silakan duduk, adik manis. Apa yang dapat kubantu untukmu? Niken agak ragu melihat bangku-bangku itu sudah diduduki para tamu pria. Akan tetapi, lima orang tamu itu serentak bangkit berdiri dan dengan suara saur manuk ( burung bersautan ) mereka merpersilakan Niken duduk. Mari, dududk di bangku ini, jeng...... ! Mulut mereka menyeringai dan pandang mata terpesona. Akan tetapi Niken Sasi melihat sebuah bangku panjang di sudut yang masih kosong dan iapun memilih bangku itu untuk menjadi tempat duduknya. Terima kasih, mbakyu, saya ingin makan. Apakah mbakyu menjual nasi? Oh,ada! Ada nasi gudangan, nasi tumpang, nasi pecel. Tinggal pilih dik.ii kata wanita itu. Pilih saja nasi gudangan, jeng. Ditanggung enak. Sayurnya dan kenikir, daun bayam, daun pepaya, dicampur daun singkong, kacang panjang dan kecambah, sedap dan gurih bukan main! kata seorang laki-laki yang kumisnya panjang. Ah pilih saja nasi tumpang, jeng! kata yang alin, yang tubuhnya kurus. Semua sayur itu disiram sambal tumpang tempe bosok,wah, lezat dan sedap bau jeruk purut, dan selain membuat orang bernafsu besar untuk makan juga melegakan perut! Dan jangan lupa goreng tempenya, jeng! kata orang ketiga sehingga ramailah keadaan di dalam warung itu. Kalau aku pilih nasi pecelnya. Sambelnya kental dan pedasnya cukup, menggoyangkan lidah! kata orang keempat. Niken Sasi tersenyum ramah kepada empat orang itu, akan tetapi perhatiannya tertuju kepada pria ke lima yang tadi tidak dilihatnya. Pria ini duduknya di sudut menyendiri dan sejak tadi dia tidak ikut bicara, bahkan menengokpun tidak kepadanya! Juga pria ini masih muda sekali, paling banyak duapuluh tahun usianya,masih seperti bocah yang mentah! Agaknya malu-malu untuk memandang seorang gadis. Entah mengapa,melihat ada seorang pria yang acuh saja kepadanya, melirikpun tidak hati Niken terasa panas seolah pria itu memandang rendah padanya! Beri aku nasi pecelnya sepincuk mbakyu, minumnya the panas manis secangkir. katanya kepada penjaga warung itu dan melihat betapa empat orang laki-laki itu tersenyum-senyum kepadanya,iapun membalas dengan senyuman manis. Akan tetapi kembali senyumnya menghilang ketika ia melihat pemuda itu masih membuang muka dan mengacuhkannya. Tentu saja ia tidak ingin diperhatikan laki-laki, akan tetapi diacuhkan seperti itu sungguh membuat perutnya terasa panas. Justeru kalau ada laki-laki yang memperhatikannya, Niken akan acuh saja.Maka kini melihat ada seorang pemuda sama sekali tidak memperdulikan kehadirannya, hal ini amat menarik hati Niken dan ia bahkan yang memperhatikan pemuda itu melalui kerling matanya. Dia seorang pemuda tampan. Pakaiannya seperti pemuda dusun biasa, akan tetapi keadaan pakaiannya itu sama sekali tidak mampu menyembunyikan keadaan dirinya yang amat berbeda dibandingkan pemuda dusun biasa. Dia memiliki kepribadian yang lain dan luar biasa. Sikapnya acuh dan pendiam, sinar matanya berbeda jauh dari sinar pemuda biasa yang nampak bodoh dan ingin tahu. Sinar matanya lembut dan dalam, seolah penuh pengertian, dan kadang ada kilatan aneh mencorong dari manik matanya. Dan pemuda ini mempunyai kepribadian yangamat menarik hati Niken Sasi. Anggun dan berwibawa. Agaknya pemuda itupun baru sajamasuk karena di atas meja di depannya hanya nampak secangkir minuman teh panas.Dan memang benar demikian karena setelah melayani pesanan nasi pecel kepada Niken, sepincuk nasi pecel yang kelihatannya enak, wanita tukang warung itu lalu bertanya kepada pemuda itu. Bagaimana, den bagus, apakah andika sudah menentukan pilihan? Andika ingin makan nasi apa? Dari sebutan den bagus itu, Niken Sasi dapat menduga bahwa pamuda itu tentulah bukan penduduk Lodaya, dan karena dia oemuda asing dan penampilannya memang mengesankan sebagai seorang yang luar biasa, maka wanita penjaga warung itu menyapanya dengan sebutan den bagus, sebutan yang biasanya ditujukan kepada pemuda putera bangsawan atau setidaknya kepala dusun. Aku juga minta nasi pecel sepincuk, mbakyu. kata pemuda itu setelah mengerling ke arah pincuk yang dipegang Niken Sasi. Niken Sasi tidak peduli,setelah mencuci tangannya dengan air kendi, iapun mulai makan nasi pecelnya. Dan ternyata memang benar. Nasi pecel itu enak sekali.Nasinya hangat dan pulen, pecelnya juga terasa sedap dan lezat. Pemuda itu minta tambah sepincuk lagi, akan tetapi Niken Sasi merasa cukup. Setelah makan dan minum, Niken Sasi membayar harga makanan dan minuman, lalu meninggalkan warung. ia melihat pemuda itu masih makan, sama sekali tidak menengok kepadanya! Huh, pemuda tinggi hati, angkuh dan sombong. Kau kira dirimu itu siapa! Niken Sasi memaki dalam hatinya dengan hati panas. Biarpun Niken Sasi bukan seorang dara yang haus pujian pria, akan tetapi karena baru sekali ini ia melihat seorang pria yang begitu acuh dan memandang rendah kepadanya, hatinya menjadi panas juga. Beberapa kali ia memandang ke arah pemuda itu sebelum meninggalkan warung itu,akan tetapi pemuda itu tetap saja tidak melirik ke arahnya. Setelah keluar dari warung nasi itu. Niken dengan santai lalu berjalan jalan di dusun itu.Sebuah dusun yang cukup besar dan karena ia sudah semakin mendekati daerah Laut Kidul,maka ia mulai memperhatikan tempat itu untuk memperhatikan tempat itu untuk melakukan penyelidikan tentang pusaka Tilam Upih yang hilang. Ia mulai mencari tempat untuk bermalam karena ia ingin tinggal di Lodaya selama beberapa hari. Melihat sebuah rumah sederhana berdiri agak menyendiri di sudut dusun itu,Niken Sasi tertarik dan menghampiri. Rumah itu mempunyai perkarangan yang luas dan dipekarangan itu tumbuh empat batang pohon nyiur yang sudah sarat dengan buah kelapa. Melihat buah kelapa muda yang hijau, Niken menelan ludah, membayangkan kesegaran air dawegan hijau yang tentu akan nikmat sekali diminum di waktu hari sepanas itu. Akan tetapi sampai lama ia menanti, tidak juga ada orang yang membuka pintu rumah dan keluar dari dalam rumah itu. Ia menjadi tidak sabar setelah menanti lama, lalu dihampirinya dan diketuknya daun pintu itu. Tok-tok-tok........kulonuwon....... ! Setelah bebrapa kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam tanpa ada jawaban, Niken menduga bahwa rumah itu agaknya kosong. Dan keinginannya minum dawegan [kelapa muda] hijau sudah begitu mendesak dan membuat kerongkongannya terasa haus sekali. Ia kembali ke pekarangan dan setelah beberapa lamanya berdongak memandangi buah kelapa muda itu, memilih-milih, ia lalu mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan dan sekali membuat gerakan dengan tangannya, batu itu menyambar ke atas dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh pandangan mata. Wuuuutt........takk! batu itu jatuh lagi bersama sebutir buah kelapa yang dibidik oleh Niken. Batu itu ternyatatepat mengenai gagang kelapa muda itu tanpa mengganggu butiran kelapa yang lain. Dengan gembira Niken mengambil dawegan hijau itu. Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan seorang wanita, Siapa berani mencuri dawegan kami? Tentu saja Niken terkejut bukan main sehingga hampir saja kelapa muda itu terlepas dari tangannya. Ia menengok ke belakang dan sama terkejutnya dengan wanita itu, yang kini memandangnya dengan mata terbelalak. Nimas ayu Niken...... ! Jinten, andika Jinten......? Bagaimana dapat berada di sini, Jinten? kata Niken yang mengenal pelayan yang biasa membantunya melayani gurunya itu. Mereka saling berpegang tangan. Nah, panjang ceritanya, Nimas Ayu. Mari masuk ke dalam rumah dan kita bicara. Ini adalah rumah saya, di mana saya hidup bersama seorang paman saya. Baiklah, dan.....eh, dawegan ini, maafkan.....Tentu saja Niken merasa canggung dan malu. Bawa saja ke dalam, Nimas Ayu. Andika ingin minum dawegan? Nanti kukupaskan, memang segar sekali minum air dawegan di siang hari begini.Dan dawegan hijau kami manis sekali. Dengan ramah Jinten mengajak Niken memasuki rumahnhya, sebuah rumah sederhana. Mereka lalu duduk di sebuah balai-balai dan Jinten mengupas dawegan itu. Benar saja, air dawegan itu manis dan segar, juga daging dawegannya lezat sekali. Nah, ceritakan bagaimana tiba-tiba aku dapat bertemu denganmu di sini, Jinten? Kapan engkau meninggalkan Gagak Seto, dan kenapa engkau pergi dari sana? Nimas ayu, setelah andika pergi, saya merasa kesepian sekali dan menjadi tidak kerasan lagi. Kebetulan paman saya datang berkunjung menengokku, maka saya lalu mengambil keputusan untuk pulang ke dusun, ikut paman saya. Sehari setelah andika pergi, saya pergi dari sana dan saya langsung menuju dusunLodaya ini. Ah, pantas saja engkau dapat datang lebih dulu di sini dari pada aku. Aku mengambil jalan berkeliling dan sering berhenti di suatu tempat. Nimas ayu, andika hendak pergi ke manakah? Aku hendak pergi ke pantai Lutan Kidul , Jinten. Wah, masih jauh sekali, nimas. Dan matahari sudah condong ke barat. Panasnya seperti membakar. Karena kita kebetulan bertemu di sini, saya harap andika suka melewatkan malam di sini dan baru besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan. Hem, aku hanya akan merepotkanmu saja ,jinten. Ah, tidak, nimas ayu! Kita telah tinggal serumah selam bertahun-tahundan sekarang tidak mungkin saya melepas andika begitu saja. Tinggallah di sini semalam, Nimas ayu dan nanti saya perkenankan kepada pamanku, Paman Kartiko. Karena iapun tidak tergesa-gesa, akhirnya Niken merasa tidak enak untuk menolak dan iapuntinggal di rumah Jinten itu. Tak lama kemudian, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahunan yang berpakaian seperti petani datang dan Jinten cepat memperkenalkan laki-laki itu kepada Niken sebagai pamannya. Kartiko, paman Jinten itu, bersikap hormat kepada Niken dan tak lama hadir di situ, cepat keluar lagi sehingga Niken merasa enak dan betah karena di rumah itu hanya ada ia dan Jinten. Bahkan ketika Jinten masak-masak, menyembelih ayam kemudian menghidangkan makan malam di ruangan tengah, sang paman tidak juga kelihatan. Untuk basa-basi Niken menanyakan kepada Jinten. Ke mana pamanmu, Jinten? Kenapa tidak diminta makan malam bersama? Ah, pamanku adalah seorang dusun yang sederhana dan pemalu, nimas ayu! Silakan makan dulu, biar paman Kartiko tidak mungkin akan mau makan bersama andika.Mari, silakan. dengan ramah dan akrab Jinten melayani Niken makan. Jinten, engkau sekarang bukanlah pelayanku lagi. Engkau bahkan kini menjadi nonna rumah dan aku tamunya, karena itu janganlah melayani aku seperti seorang pelayan. Mari kita sama-sama makan. Aku terpaksa menolak kalau engkau tidak mau menemaniku makan bersama. Jinten menarik napas panjang. Ahh, nimas ayu. Sebetulnya ingin sekali saya melayani andika makan,akan tetapi kalu andika memaksa, abiklah saya temani andika makan. Jinten lalu mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri dan setelah melihat Jinten makan, baru legalah hati Niken Sasi. Tentu saja ia percaya kepada Jinten yang sudah bertahun-tahun hidup dengannya di Gagak Seto. Akan tetapi sekarang mereka bukan berada di perkumpulan itu lagi dan Jinten buak apa-apa. Oleh karena itu, biar tidak menaruh curiga,ia harus waspada. Jinten memang pandai memasak. Hidangan yang disugukan itu lezat dan biarpun Jinten belum merasa lapar benar, Iapun makan agak banyak. Akan tetapi, tiba-tiba ia merasa kepalanya pening, pandang matanya berputar, seluruh ruangan di depannya seperti bergoyang-goyang. Biarpun ia belum pernah keracunan, akan tetapi pernah ia mendengar dari gurunya tentang makanan yang mengandung racun, yang membuat orang terbius dan tak sadarkan diri. Ia terkejut. Apakah Jinten sengaja memberinya makanan beracun? Ia cepat menoleh kepada Jinten, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis pelayan itu sudah terkulai di atas tikar, agaknya tertidur atau pingsan! Celaka........! Ia cepat bangkit dan meloncat, akan tetapi kepalanya terasa berat sekali dan semakin pusing sehingga ia tetpelanting roboh di atas lantai. Pada saat itu terdengar suara tawa yang lantang dan menyeramkan dan muncul belasan orang laki-laki dalam ruangan itu. Niken Sasi terkejut sekali, juga marah. Tahulah ia bahwa ia telah masuk perangkap. Entah bagimana makanan itu mengandung racun, akan tetapi pasti bukan jinten yang melakukannya karena wanita itupun terkulai pingsan keracunan. Ia mencoba untuk mengerahkan tenaganya dan bersiap siaga untuk melakukan perlawanan akan tetapi kepeningan kepalanya tidak dapat ditahan lagi dan iapun terpelanting dan terkulai tak sadarkan diri. Cepat, ikat kaki tangannya! terdengar seorang di antara mereka berseru dan nak buahnya lalu mengikat kaki tangan Niken Sasi. Sementara itu Jinten sudah bergerak dan ternyata ia tidak pingsan seperti yang diduga Niken Sasi. Kemudian, limabelas orang laki-laki itu memanggul tubuh Niken Sasi,di bawa pergi meninggalkan dusun Lodaya tanpa ada orang lain mengetahui karena memang rumah itu berdiri terpencil di sudut dusun. Seperti kita ketahui, Jinten telah menjadi tangan kanan Klabangkoro. Ia pula yang memata-matai Ki Sudibyo ketika bercakap-cakap dengan Niken Sasi dan membuka rahasia Ki Sudibyo yang hendak mengangkat Niken Sasi menjadi ketua dan mengutus murid itu mencari pusaka Tilam Upih. Setelah Klabangkoro dan Mayangmurko menyusun siasat bersama Ki Brotokeling ketua Jambuka Sakti, Jinten lalu mendapatkan tugas penting, yaitu menghadang perjalanan Niken Sasi. Hal ini mudah dilakukan karena memang sejak berangkat dari Anjasmoro, perjalanan dara itu selalu dibayangi oleh orang-orang yang menjadi anak buah Klabangkoro dan juga Brotokeling. Siasat pertama, yaitu menonjolkan Gajahpuro agar dapat mendekati dan menemani Niken Sasi dengan membantu gadis itu dari pengeroyokan segerombolan orang, ternyata telah gagal. Niken Sasi tidak mau ditemani pemuda itu sehingga sukar diharapkan Niken akan jatuh hati kepada Gajahpuro. Apalagi pemuda putera Klabangkoro ini memiliki watak yang berbeda dengan ayahnya. Pemuda itu pasti akan menolak kalau mengtahui akan siasat yang diatur ayahnya untuk menjebak Niken Sasi. Dia memang mencintai Niken,akan tetapi cintanya tulus, bukan cinta nafsu yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh orang yang dicintanya. Setelah siasat pertama gagal kini Klabangkoro melakukan siasat kedua, yait menagkap Niken Sasi. Hal ini dilakukan hati-hati dan dengan jebakan. Jinten disuruh maju untuk menjebak Niken Sasi karena mereka sudah tahu bahwa Niken Sasi benar-benar telah menjadi seorang dara yang sakti mandraguna. Dengan menggunakan racun pembius yang amat kuat, akhirnya Niken Sasi dapat dibuat tak sadarkan diri dan tidak berdaya. Setelah berhasil menjalankan perannya menjebak Niken Sasi yang sudah berhasil dibawa oleh gerombolan Jambuka Sakti seperti direncanakan, Jinten lalu berkata kepada Kartiko yang sebenarnya adalah seorang pembantu, bukan pamannya. Paman Kartiko, engkau jagalah di sini. Aku akan pergi melapor kepada kakang Klabangkoro! Gadis yang sudah diangkat menjadi selir oleh Klabangkoro itu lalu pergi meninggalkan rumah yang terpencil itu. Klabangkoro dan anak buahnya juga berada di dusun Lodaya untuk mengatur siasat. Mereka bertempat tinggal di sebuah rumah besar yang mereka sewa untuk keparluan itu. Ketika mendengar laporan Jinten bahwa Niken Sasi tekah dapt ditangkap, Klabangkoro menjadi gembira bukan main. Dia merangkul Jinten dan menciuminya sambil memuji-muji. Setelah itu dia lalu memanggil Gajahpuro yang baru pagi tadi memasuki dusun dan bertemu dengan rombongan ayahnya. Klabangkoro mengaku kepada puteranya bahwa dia dan rombongannya pergi meninggalkan Anjasmoro untuk tugas yang akan dibicarakannya dengan puteranya kelak kalau sudah berhasil. Gajahpuro, sekaranglah saatnya aku memberitahukan kepadamu tugas apa yang sedang kulakukan dan kuharap engkau dapat menyetujuinya dan membantu usaha bapamu. Urusan apakah itu, ayah? tanya pemuda itu yang merasa heran melihat sikap ayahnya yang bersungguh-sungguh mengajaknya bercakap-cakap berdua saja dalam ruangan itu. Begini, sebelumnya aku hendak bertanya kepadamu dan harus kaujawab dengan sejujurnya. Pertama, apakah engkau mencintai Niken Sasi dan engaku akan merasa bahagia sekali kalau dapat menjadi suaminya? Wajah pemuda itu berubah kemerahan, akan tetapi dia menjawab tegas, Bapa tentu tidak khilaf dan telah mengetahui bahwa sejak dahulu saya amat mencintai Niken Sasi dan tentu saja saya akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menjadi suaminya. Akan tetapi mengapa bapa menanyakan hal ini? Nanti saja penjelasannya. Sekarang pertanyaan kedua : Apakah engkau suka kalau dapat menguasai aji Hasta Bajra yaitu aji yang dikuasai oleh para pimpinan Gagak Seto, kemudian menjadi ketua Gagak Seto menggantikan Bapa Guru Sudibyo? Pertanyaan itu hanya mempunyai satu jawaban. Setiap orang murid Gagak seto pasti menginginkannya. Tentu saja bapa. Saya akan senang sekali kalau dapt mewarisi aji Hasta Bajra dan dapt menjadi ketua Gagak Seto. Nah, sekarang dengarkan baik-baik, Gajahpuro. Semua keinginanmu itu akan terpenuhi kalau saja engkau suka melakukan apa yang kuperintahkan kepadamu, yaitu membantu siasat yang kami jalankan, kalau engkau menolak, sampai matipun engkau tidak akan mampu memperisteri Niken Sasi dan menjadi ketua Gagak Seto. Tentu saja Gajahpuro ingin sekali menjadi suami Niken Sasi yang amat dicintainya, dan siapa orangnya tidak mau menjadi ketua Gagak Seto? Katakanlah, bapa. Saya akan melaksanakan apa saja untuk dapat memperisteri Niken dan menjadi ketua Gagak Seto. Bagus! Ini baru putera bapa! Begini, kulup. Niken Sasi adalah seorang gadis yang berhati keras. Sekali ia tidak mau menjadi isterimu,ia akan menolak dan tidak ada yang akan dapat memaksanya untuk dapat menerima pinanganmu. Agaknya bapa benar, kata Gajahpuro dengan wajah sedih. Akan tetapi, ia pasti akan menerima pinanganmu kalau kehormatannya sudah ternoda. Untuk mencuci aib itu, ia pasti menerima uluran tanganmu yang akan menikahinya karena hal itu berarti mencuci aib dan noda yang mengotori diri dan namanya. Gajahpuro memandang wajah ayahnya dengan mata terbelalak dan penuh selidik. Apa.......apa yang bapa maksudkan? Saya tidak mengerti. Ingat, kalau engkau sudah menjadi suaminya, tentu dengan mudah engkau akan mempelajari aji Hasta Bajar dari isterimu dan engkau kan menjadi ketua Gagak Seto. ya, akan tetapi apa yang bapa maksudkan dengan mencuci aib yang menodai Niken Sasi? Begini, angger. Saat ini Niken Sasi sudah dapat kami tangkap dan ia dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh racun pembius. Nah, ini kesempatan baik bagimu untuk menguasai tubuhnya. Ia tidak tahu karena ia masih pingsan. Setelah engkau menguasai tubuhnya tentu setelah sadar ia tahu bahwa ia telah bukan gadis lagi, telah ternoda aib yang hanya dapat ditebus dengan nyawa. Kecuali kalau ada yang suka menikahinya, Dalam keadaan binging dan berduka itu, engaku maju sebagai penolong. Engkau meminangnya dan kaunyatakan kepadanya bahwa engaku tidak perduli apakah ia telah tercemar atau tidak. Perlahan -lahan wajah Gajahpuro menjadi pucat sekali. Kemudian merah, lalu pucat lagi ketika perlahan-lahan bangkit berdiri, memandang ayahnya tanpa berkedip. Suakr sekali suara keluar dari mulutnya dan setelah dia bisa bersuara, terdengar suaranya yang penuh kemarahan dan bercampur isak. Terkutuk! Terkutuk sekali siasat itu. Tidak, aku tidak sudi melakukannya! suaranya gemetar dan seluruh tubuhnya menggil. Klabangkoro berkata dingin. Bocah goblok! Kalau engkau tidak mau, masih banyak orangyang dengan senang akan melakukan perkosaan itu.Kelak engkau tinggal menjadi penolongnya saja mengawininya. Tidak, aku tidak sudi! Aku akan membongkar semua rahasia busuk itu. Akan kuberitahukan kepada Niken Sasi! Akulah yang akan mencegah terjadinya perbuatan terkutuk itu! Aku yang akan menyelamatkan Niken Sasi! Gajahpuro, bocah laknat! Engkau berani melawan ayahmu? Kalau perlu ! aku malu menjadi putera ayah! Wuuuttt......plak-plak.....! Gajahpuro terhuyung ketika dua kali dia menangkis tamparan ayahnya. Akan tetapi Klabangkoro mendesak terus sehingga pemuda itu terkena tamparan yang cukup kuat sehingga dia terpelanting roboh. Di lain saat dia telah dibelenggu kedua tangannya dan Klabangkoro memanggil anak buahn Bawa anak durhaka ini pulang ke Anjasmoro dan sekap dia dalam tahanan. Awas, jangan sampai dia melepaskan diri. Layani dengan baik akan tetapi jangan sampai terlepas! Dengan sikap masih angkuh Gajahpuro lalu dibawa keluar dari situ , dan Klabangkoro menjatuhkan diri di atas kursi dengan napas terengah-engah saking marahnya. Dia merasa bingung sekali menyaksikan sikap puteranya yang menentangnya, bahkan memusuhinya dan hendak menghalangi rencananya. Kekuasaan memang merupakan nafsu yang amat kuat mencengkeram diri manusia. Demi kekuasaan manusia suka lupa diri dan tidak segan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi. Bahkan siap untuk memusuhi siapapun juga, bahkan anak sendiri, demi mencapai kekuasaan yang diidamkan. Betapa banyaknya tercatat dalam sejarah adanya perebutan kekuasaan di antara saudara kandung, di antara ayah dan anak, sampai terjadi perang dan mengorbankan nyawa ratusan ribu orang manusia! Demikian pula dengan Klabangkoro. Dia melihat kekuasaan sudah di depan mata, sudah berada di ambang pintu. Dia sudah membayangkan betapa akan senangnya,betapa akan mulia dan terhormat, apabila dia dapat menjadi ketua Gagak Seto, kemudiandigantikan oleh puteranya. Maka, melihat sikap puteranya yang menentangnya, dia menjadi marah sekali. Dalam pandangannya saat itu, Gajahpuro kelihatan sebagai seorang anak yangdurhaka, yang mengecewakan,yang tidak tahu diri dan penghalang rencananya. Kalau perlu, mungkin dia akan tega membunuh puteranya itu! *** Dalam keadaan pingsan, Niken Sasi diangkut belasan orang laki-laki itu memasuki sebuah hutan di tepi selatan Sungai Brantas, di sebelah utara Lodaya. Ternyata di dalam hutan itu terdapat sebuah rumah besar dari kayu dan bambu yang dijadikan tempat markas sementara oleh kelompok Jambuka Sakti yang bekerja sama dengan anak buah Gagak Seto di bawah pimpinan Klabangkoro. Karena sebelumnya Klabangkoro sudah memesan dengan keras, maka tidak ada anak buah Jambuka Sakti yang berani menggangu Niken Sasi. Gadis itu dibawa ke dalam sebuah kamar, dibelenggu kaki tangannya, lalu pintunya ditutup dan penjagaan ketat dilakukan anak buah Jambuka Sakti sambil menanti datangnya Klabangkoro yang akan mengambil keputusan apa yang harus dillakukan dengan gadis tawanan itu. Senja itu sunyai sekali di dalam hutan di lembah sungai Brantas. Kurang lebih duapuluh orang anak buah Jambuka Sakti berkeliaran di luar rumah. Ada yang membuat api unggun untuk mengusir nyamuk, ada yang menjerang air, bahkan ada yang menanak nasi untuk makan malam. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang melihat sesosok bayangan yang berkelebat dengan cepatnya. Saking cepatnya bayangan itu berkelebat,andaikata ada yang kebetulan melihatnya tentu akan mengira bahwa itu adalah bayangan seekor bintang hutan, atau bayangan kera yang banyak terdapat di sekeliling hutan itu. Aakn tetapi sebetulnya yang berkelebtan itu adalah bayangan seorang manusia, seorang pemuda tampan. Biarpun pakaian pemuda itu seperti pakaian pemuda dusun biasa, namun jelas di abukan pemuda sembarangan. Wajahnya anggun dan tampan, matanya mencorong dalam kegelapan senja remang, gerakannya trengginas ketika dia menyelinap dari satuke lain btang pohon sambail mengintai keadaan rumah yang terjaga ketat itu. Sinar apai unggun yang dibuiat para anak buah Jambuka Sakti menyinari wajahnya dan ternyata dia adalah pemuda yang pernah dijumpai Niken siang tadi di warung nasi. Pemuda pendiam yang sikapnya acuh itu. Dia mendekamdi balik rumpun semak dan matanya mengerling ke kanan kiri mempelajari keadaan. Dia tahu bahwa kalau dia muncul begitu saja, dia akan berhadapan dengan puluhan orang yang mengepungnya. Biarpun dia tidak takut menghadapi pengeroyokan, akan tetapi dalam keadaan terkepung begitu, bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan gadis yang tertawan itu? Gadis yang pemberani, akan tetapi sembrono,pikirnya. Mudah percaya kepada orang. Jelas buklan gadis yang berpengalaman, walaupun dia tadi dia melihat betapa gadis itu sekali sambit menjatuhkan sebuah dawegan hijau. Agaknya seorang gadis yang memiliki sedikit kegagahan sehingga menjadi berani kurang perhitungan! Dia tidak akan begitu sembrono. Akan diperhitungkan dulu baik-baik sebelum dia berusaha untuk membebaskan gadis itu dari tangan para penawannya. Selagi dia mengintai dan memperhatikan, tiba-tiba serombongan orang datang memasuki pagar pekarangan rumah di tengah hutan itu. Mereka adalah Ki Klabangkoro dan belasan anak buahnya, karena para anak buah Jambuka Sakti sudah mengenal Ki Klabangkoro maka mereka menyambut dan Klabangkoro lalu memasuki rumah itu. Para ank buahnya menanti di luar, terpencar. Sekaranglah saatnya! pemuda yang tadi mengintai berpikir. Atau aku mungkin terlambat! Dengan cepat ia merangkak di bagian belakang rumah besar itu, cepat pula mengambil sebuah obor yang bernyala di bagian belakang. Ketiak ada beberapa anak buah Jambuka Sakti melangkah datang pemuda itu memegang obor dengan santai saja dan karena pada waktu itu terdapat pula rombongan tamu anak buah Gagak Seto, maka orang-orang Jambuka Sakti mengira bahwa pemuda itupun anak buah tamu. Andika anak buah Gagak Seto? tanya seorang anak buah Jambuka Sakti yang menghampiri bersama seorang taman lain. Benar sekali ,kawan. kata pemuda itu. Kami harus menjaga keamanan di luar selagi pimpinan kami berada di dalam. Ha-ha-ha, jangan khawatir, kawan. Siapa orangnya berani datang mengacau tempat tinggal kami? dua orang itu tertawa-tawa sehingga mereka menjadi lengah. Dalam detik selagi mereka tertawa itu, pemuda yang memgang obor dengan tangan kirinya itu cepat menyerang dengan pukulan tangan miring. Dua kali tangan kanannya menyambar, tepat mengenai leher dua orang itu yang segera roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi! Setelah merobohkan dua orang itu, pemuda tadi cepat menyelinap mendekati rumah lalu menggunakan obor membakar nagian belakang rumah itu. Sebentar saja api berkobar besar dan pemuda itu lalu berteriak-teriak. Kebakaran.......! kebakaran.....! Tolong.......!! Dan dia lalu menyelinap memasuki rumah itu! Sebentar saja keadaan menjadi geger. Orang-orang berteriak-teriak dan berusaha memadamkan api yang berkobar melahap bagian belakang rumah di mana disimpan rumput kering makanan kuda sehingga api berkobar dengan cepat. Ki Klabangkoro sedang berada di dalam kamar di mana Niken Sasi rebah telentang dan terbelenggu kaki tangannya. Tokoh Gagak Seto ini masih marah karena penolakan puteranya dan dia mengambil keputusan untuk menggagahi sendiri gadis itu. Kalu dia sendiri yang menggagahi, kelak tidak mengapalah kalau gadis itu menjadi isteri puteranya! Dia memasuki kamar itu dengan mengenakan topeng yang menutupi seluruh muka kecuali sepasang matanya. Niken Sasi sudah siuman dari pingsannya. Tubuhnya masih merasa lamah akan tetapi ia telah sadar sepenuhnya. Begitu sadar dan ingat akan segalanya, tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya besar. Ia telah terjebak. Bukan oleh Jinten yang juga ia lihat pingsan karena makanan beracun. Entah apa yang terjadi dengan Jinten. Akan tetapi ia sendiri jelas tidak berada di rumah Jinten, entah di rumah siapa. Ia berusaha untuk melepaskan ikatan kaki tangannya, akan tetapi ikatan itu kuat sekali dan tuibuhnya masih lemah.Ketika mendengar gerakan orang memasuki kamarny, ia cepat menengok dan terkejut meliaht seorang laki-laki bertubuh tinggi besar memakai sebuah kedok menghampirinya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, akan tetapi usahanya sia-sisa belaka. Siapa engkau? Mau apa engkau menjebak dan menawanku? Niken Sasi membentak. Orang ini tentu tidak ingin dikenal mukanya maka mengenakan topeng pikirnya dan ia memancing agar orang itu membuka mulut karena dari suaranya mungkin ia mengenal orang itu. Akan tetapi orang itu tidak menjawab, bahkan duduk di tepi pembaringan dan tangan kirinya mulai membelai leher Niken yang putih mulus itu. Tentu saja Niken membelalakkan matanya dan dengan muka merah karena marah ia memaki-maki. Anjing babi hina dina! Kalau engkau memang jantan, lepaskan aku dan kita bertanding sampai seorang menggeletak tak bernyawa! Pengecut keji kau kucincng tubuhmu kalau aku bebas! Akan tetapi laki-laki itu agaknya tidak peduli. Pandang matanya dingin saja dan inilah yang membuat jantung Niken berdebar-debar penuh ketegangan. Orang ini akan berbuat sesuka hatinya dengan darah dingin! Kebakaran.........!! Tiba-tiba terdengar teriakan ini yang disusul keteriakan kebakaran dari banyak mulut dan terdengar orang-orang berlari-lari. Mendengar ini, Ki Klabangkoro tentu saja menjadi kaget dan diapun melompat keluar dari kamar itu untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi. Baru saja Klabangkoro keluar, pemuda itu sudah menyelinap masuk dan cepat dia memondong tubuh Niken Sasi yang masih terbelenggu kaki tangannya. Melihat pemuda itu dari sinar api penerangan dalam kamar, Niken Sasi mengenalnya sebagai pemuda tadi siang yang dijumpainya dalam warung nasi. Hatinya girang sekali dan ia segera berkata. Kisanak, cepat bebaskan kaki tanganku dari belenggu ini agar aku dapat membantumu menghadapi jahanam-jahanam laknat itu! Pemuda itu tidak berpikir lama. Benar juga, pikirnya. Biarpun dia tidak takut menghadapi pengeroyokan, akan tetapi kalau dia harus memondong tubuh gadis ini, bagaimana dia akan mampu melakukan bela diri dengan baik? Baik, akan kubukakan ikatan kaki tanganmu, katanya singkat dan dia segera membuka simpul tali yang mengkat kedua kaki tangan Niken Sasi. Bukan main lega dan girangnya hati gadis itu setelah kaki tangnnya terbebas dari ikatan. Tubuhnya tidak lemas lagi dan agaknya semua sisapengaruh obat bius telah lenyap sehingga ia merasa kuat. Cepat ia mengambil keris pusaka Megantoro yang tadi oleh penawannya dicabut dari ikat pinggangnya dan ditaruh di atas meja. Dengan keris itu terselip di ikat pinggang, ia merasa semakin kuat dan siap untuk menghajar kawanan penjahat itu. Hayo kita hajar mereka! Kata Niken Sasi penuh semangat dan tanpa menanti jawaban ia sudah mendahului melompat keluar dari dalam rumah itu. Dua orang penjaga yang tadinya ikut memadamkan kebakaran dan kini teringat lagi akan tuigasnya menjaga tawanan, berlari-lari menghampiri rumah itu dan mereka hampir bertabrakan dengan Niken Sasi di pintu depan.Melihat gadis itu telah bebas , dua orang ini terbelalak kaget dan segera berteriak-teriak :Tolong.......! Tawanan lolos.......! Sebelum dua buah mulut yang berteriak itu sempat tertutup kembali, tiba-tiba Niken Sasi bergerak dan dua orang penjaga itu terpelanting, tak mampu mengeluarkan suara lagi. Melihat dua orang reken mereka roboh tak bergerak lagi, banyak anak buah gerombolan itu berlari-lari menghampiri sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata. Setelah melihat gadis tawanan itu terlepas ditemani seorang pemuda tampan, mereka semua dapat menduga bahwa tentu pemuda itu yang membuat kebakaran lalu membebaskan gadis tawanan itu. Sebentar saja, puluhan orang sudah mengepung Niken Sasi dan pemuda itu.Akan tetapi Niken Sasi tidak menjadi khawatir, bahkan kemarahannya berkobar. Ia meloncat ke depan dan menerjang para pengeroyok itu dan dalam segebrakan saja dua oarang telah terpelanting oleh tendangan dan tamparan dara perkasa itu. Gegerlah para aanak buah Jambuka Sakti. Apalagi ketika pemuda tampan itu juga mengamuk dan sebentar saja sudah merobohkan dua orang pengeroyok lain. Ramailah teriakan mereka sambil melakukan pengeroyokan. Kibangkoro yang masih mengenakan topeng, juga terkejut melihat Niken Sasi telah terlepas dari ikatan dan kini mengamuk bersama seorang pemuda. Karena dia tidak ingin dikenal Niken Sasi, maka dia tidak melepaskan topengnya dan ikut membantu para anak buah Jambuka Saskti. Diapun ingin membuktikan sendiri kesaktian gadis itu, maka begitu menerjang maju, dia mengerahkan tenaga pada pada kedua tangannya dan menghantam ke arah dada gadis itu dengan tenaga dasyat. Tentu saja dia tidak berani mengeluarkan senjata yang ampuh, yaitu Pecut Dahono karena senjata itu tentu akan dikenal oleh Niken Sasi. Nien Sasi mengenal pukulan ampuh ketika laki-laki bertopeng yang tinggi besar itu menyerangnya. Cepat iapun menggerakkan tangan kanannya, memutar dari kiri ke kanan setengah lingkaran menangkis pukulan ke arah dadanya itu. Dukkk.........!Niken Sasi merasa betapa lengannya yang menangkis tergetar hebat, akan tetapi penyerangnya juga terhuyung ke samping. Bukan main kagetnya hati Klabangkoro karena tadi dai telah mengerahkan seluruh tenaganya dan ternyata tangkisan itu membuat dia terpelanting dan terhuyung. Dari pertemuan tenaga itu saja terbukti sudah bahwa dalam hal tenaga sakti, dai masih kalah kuat oleh gadis ini! Percayalah dia kini bahwa gadis itu memang benar telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari gurunya, juga melihat tenaganya, sudah pasti ia telah menguasai Hasta Bajra. Gadis ini berbahaya sekali, pikirnya. Kalau saja dapat dinodai sehingga kelak mau diperisteri Gajahpuro, memang hal yang paling baik dan menguntungkan. Akan tetapi,kalau tetap tidak mau diperisteri puteranya, gadis ini memang sebaiknya dilenyapkan saja, dibunuh. Kalau tidak, tentu akan menjadi penghalang baginya. Serbuuuu......!Bunuh......... ! Akhirnya dai mengambil keputusan untuk membunuh saja dara yang berbahaya ini. Kalau para anak buah Jambuka Sakti tadinya masih meragu untuk membunuh gadis tawanan itu karena semula mereka dipesan agar jangan menggangu Niken Sasi, kini mendengar teriakan Ki Klabangkoro, cepat mereka memperketat kepungan dan mulai menggunakan senjata tajam untuk menyerang Niken Sasi dan pemuda itu. Niken Sasi tidak menjadi gentar. Kini ia sudah mengcabut Kyai Megantoro dan mengamuk. Juga pemuda di sisinya mengamuk dan pemuda itu mengeluarkan sebuah senjata aneh, sebatang suling bambu kuning! Akan tetapi suling ini ternyata hebat sekali. Sekali saja ujung suling menotok dan mengenai tubuh seorang pengeroyok, maka orang itu akan terpelanting dan tidak dapat bangun kembali! Betapapun kuatnya Niken dan pemuda penolongnya, mereka berdua kerepotan juga.Bukan saja orang tinggi besar yang bertopeng hitam itu yang amat hebat kepandaiannya, merupakan lawan yag kuat sekali bagi Niken Sasi, akan tetapi juga beberapa jagoan tingkat atas dari Jambuka Sakti telah pula maju membantu. Mereka berdua telah merobohkan belasan orang pengeroyok, akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah dan mereka terkepung ketet dan mulai terdesak. Niken Sasi sama sekali tidak gentar dan hendak mengamuk terus,akan tetapi pemuda itu berseru kepadanya, Mari kita pergi! Dan dia menggunakan kesempatan untuk memegang pergelangan tangan kiri Niken lalu mengajaknya lari secepatnya meninggalkan gelanggang pertempuran. Niken Sasi hendak membantah, akan tetapi pemuda itu tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus menariknya dan mengajaknya berlari cepat. Gerombolan itu melakukan pengejaran. Cuaca sudah mulai gelap dan kedua orang yang melarikan diri itu berhasil meninggalkan para pengejarnya dan tak lama kemudian mereka berhenti di tepi sungai yang banyak ditumbuhi rumput ilalang sehingga mereka tersembunyi. Barulah Niken Sasi dapat mengucapkan ketidak senangan hatinya. Kenapa andika menarik tanganku dan memaksa aku melarikan diri? Sepasang mata bersinar-sinar dalam keremangan cuaca yang diterangi bulan dan bintang-bintang. Malam itu langit bersih sekali. Sinar bulan tigaperempat sudah muncul di timur, dan dibantu bintang-bintang, sinarnya membuat cuaca menjadi remang-remang dan dingin. Keadaan lawan terlalu banyak dan terlalu kuat,jawab pemuda itu. Aku tidak takut! Bantah Niken Sasi, masih belum hilang kemarahannya. Menyelamatkan diri dari pengeroyokan banyak lawan bukan berarti takut. Sebaliknya, nekat melawan pengeroyokan banyak orang dan kemudia tewas dan mati konyol adalah perbuatan orang yang bodoh. Andika tentu tidak mau kalau dikatakan bodoh, bukan? Niken Sasi terdiam, menyadari kebenaran omongan pemuda itu dan ia seperti baru teringat bahwa pemuda ini telah menolongnya, melepaskannya dari belenggu. Kalau tidak datang pemuda ini menolongnya, melakukan pembakaran dan melepaskan ikatannya, entah apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia bergidik ngeri kalau memenang kembali belaian jari-jari tangan orang bertopeng tinggi besar itu pada lehernya, seolah-olah sepuluh ekor ular yang merayap-rayap di lehernya. Kenpa engkau menolongku? Tiba-tiba saja pertanyaan itu diajukan, seperti menodongkan keris di depan dada pemuda itu. Ditanya demikian secara tiba-tiba, pemuda itupun tertegun, akan tetapi pemuda itu tersenyum. Kenapa,ya? Kenapa akau menolongmu? Ah, kenapa tidak? Aku melihat seorang ditawan gerombolan lalu aku mebayangi gerombolan itu dan menolongnya. Bukan itu dan menolongnya. Bukankah itu wajar saja? Apa anehnya? Hemmm........ , eh siapa namamu? Namaku? Namaku Joko Kolomurti. Dan engkau siapa? Aku Niken. Niken siapa? Niken saja. Niken Saja? Baiklah, nimas Niken Saja....... Hushh! Bukan Niken Saja, hanya Niken tanpa tambahan apa-apa! kata Niken Sasi sambil tersemyum karena merasa lucu. Ahh, maaf! Pemuda yang mengaku bernama Joko Kolomurti itupun tertawa. Boleh aku menyebutmu nimas, Bukan? Nah, sekarang aku bertanya,engkau datang dari mana dan hendak pergi ke manakah, nimas? Namaku Niken, jangan ditambah nimas segala. Dan akupun akan menyebutmu Joko saja. Aku tidak suka nama lengkapmu itu. Joko, aku datang dari Gunung Ajasmoro dan aku hendak pergi ke pantai Lautan Kidul. Dan engkau sendiri? Ah, aku tinggal dipegunungan Kidul, yaitu di Girimanik bersama ayahku dan para pengikut ayahku. Aku baru saja hendak pulang dari perjalanan merantau yang sering kulakukan. Kebetulan sekali jalan kita menuju ke selatan yang sama. Kalau boleh aku mengetahui, ada keperluan apakah engkau hendak pergi ke pantai Lautan Kidul? Tidak ada hubungannya denganmu.maka tidak perlu kuceritakan. kata Niken jujur. Pemuda itu tidak menjadi marah dan bangkit berdiri. Niken, tidak enak bicara di sini. Tempat ini banyak nyamuk. Mari kita lanjutkan perjalanan ke selatan. Tak jauh dari sini ada sebuah bukit di mana terdapat banyak goa-goa yang dapat kita tempati untuk melawatkan malam. Baiklah, kata Niken yang juga bangkit berdiri. Daerah ini tidak dikenalnya, maka kalau ada petunjuk jalan, tentu amat baik baginya. Mereka lalu melangkah perlahan-lahan, dibawah sinar bulan dan bintang-bintang. Kalau aku tidak salah sangka, agaknya aku mengetahui apa yang menjadi tujuan perjalananmu ke pantai Lautan Kidul. kata Joko. Api unggun yang kemerahan dan dia tersenyum lebar. Mudah saja, Niken. Aku adalah orang yang tinggal dekat pantai Laut Selatan, oleh karena itu, apabila terjadi sesuatu yang penting di daerah ini, tentu aku mendengar dan mengetahuinya. Selama berbulan-bulan ini, berbondong-bondong orang gagah, para pendekar dan para petualang, berkeliaran di sepanjang Pantai Laut Kidul. Tujuan mereka semua sama, yaitu untuk mencari keris pusaka Tilam Upih yang kabarnya pada waktu ini akan muncul dari pantai Lautan Kidul. Nah, melihat bahwa engkau juga seorang dara pendekar, apa sukarnya menebak apa yang menjadi tujuanmu datang ke daerah ini? Niken bernapas lega dan duduk kembali. Sejenak mereka saling pandang dari sepasang mata Joko keluar sinar kagum penuh pesona. Ditempa sinar api unggun yang kemerahan,wajah dara itu ampak semakin cantik jelita! Niken juga harus mengakui bahwa pemuda yang duduk di depannya ini adalah seorang yang tampan dan gagah. Ah, begitukah? Maafkan kalau tadi aku menyangaka engkau memata-matai aku. Kiranya banyak oranga yang mencari Tilam Upih? Joko, dugaanmu memang tepat. Aku memang sedang mencarai keris pusaka itu. Daptkah engkau membantuku dan memberi keterangan di mana aku bisa mendapatkan Tilam Upih? Tentu saja aku dapat membantumu, Niken. Akan tetapi ada syaratnya. Aku tidak berani membantumu kecuali kalau engkau memenuhi syarat itu. Niken mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah tampan itu. Kecurigaannya bangkit kembali. Hemm, apa syaratnya? Ketahuilah, Niken. Yang tahu banyak adalah pamanku sendiri. Karena itu, tanpa perkenan ayah, bagimana aku berani membuka rahasia pamanku itu? Nah, kalau engkau mau berkunjung kepada kami, bertemu dengan ayahku, aku akan minta perkenan ayah untuk menceritakan tentang pamanku itu. Dan agaknya tidak sukar bagimu untuk menemukan dan mendapat keris pusaka itu. Bukan main girangnya rasa hati Niken. Itulah syaratmu? Tentu saja aku siap untuk mengunjungi ayahmu. Kalau hal itu menyangkut rahasia pamanmu, tentu saja syaratmu cukup pantas. Mari kita berangkat ke Girimanik untuk menghadap ayahmu! Melihat sikap Niken yang begitu bernafsu, Joko tertawa. Ha-ha-ha, engkau seperti anak kecil melihat mainan. Niken! Tidak semudah kita pergi ke Girimanik malam hari begini. Perjalanan itu amat berbahaya kalau dilakukan di waktu malam. Besok pagi barulah kita dapat melanjutkan perjalanan. Malam ini kita beristirahat dulu disini. Tempat ini bersih dan cukup menyenangkan, bukan? Niken terpaksa membenarkan. Baiklah, aku akan tidur di sudut sini, katanya. Sudut itu memang bersih dan lantainya rata, maka Niken yang sejak melakukan perjalanan sudah terbiasa tidur di mana saja untuk melewatkan malam,lalu merebahkan diri miring .Karena pengalamannya tadi menguras tenaganya, dan sisa pengaruh racun pembius masih terasa sedikit menimbulkan rasa kantuk, sebentar saja ia sudah tidur pulas. Joko memandang sambil tersenyum senang. Setelah menambahkan kayu bakar pada api unggun yang dinyalakan di mulut goa, diapun merebahkan diri miring menghadapi gadis itu dan tertidur. Niken menggeliat. Tiba-tiba telinganya mendengar lengking suara suling ditiup merdu sekali. Segara ia dapat menangkap tembang yang dimainkan dengan suling itu. Sekar Kiananti! Dan amat indahnya tiupan suling itu. Tembangnya meliuk-liuk bagaikan gelombang Lautan. Ia membuka mata lalu bangkit duduk. Ia mengigil. Hawa ternyata dingin sekali dan api unggun sudah padam. Akan tetapi ada sinar matahari pagi menyentu mulut goa. Sudah pagi! Dan iapun terpesona memandang kepada pemuda yang duduk di atas sebuah batu di depan goa. Joko kiranya yang meniup suling itu. Dan ia teringat betapa pemuda itu kemarin mengamuk dengan senjata sebatang seling!Agaknya senjata itu adalah sebatang suling sungguhan yang dapat ditiup dan dimainkan. Perasaan gembira menyelinap dalam dada Niken Sasi dan dengan sendirinya ia lalu menembang, mengikuti suara suling itu. Esok-esok kok wis ngidung tembange sekar kinanti...... Pemuda yang masih meniup suling itu menengok dan Niken juga memandang, dan keduanya berhenti menembang dan meniup suling, saling pandang,terpesona. Wah, tiupan sulingmu indah sekali, Joko......Niken memuji. Dan suaramu, bukan main merdu dan indahnya, Niken! kata Joko pula dengan kagum. Niken melangkah keluar, menghampiro Joko. Melihat wajah pemuda itu segar, agak basah, dan rambutnya juga agak basah, ia berkata sambil tersenyum, Wah, sepagi ini engkau sudah mandi agaknya. Ah, engkau membuat aku jadi merasa malas dan malu. Di mana ada sumber air? Joko menudingkan sulingnya ke bawah. Di sana ada sumber air jernih Niken. Mandilah, aku menatimu di sini, sambil membakar ubi. Engkau suka ubi bakar, bukan? Ubi bakar? Enak sekali. Di mana kau dapatkan ubi? Di tegal sawah sana. Pemiliknya kalau mengetahui, tentu tidak keberatan merelakan beberapa buah ubinya kepada kita. Kata pemuda itu tersenyum sambil membawa beberapa buah ubi ke dekat api unggun yang masih membara. Niken juga tertawa lal, gadis itu berlari-lari menuruni bukit. Benar saja terdapat sumber air jernih yang mengucur turun dari celah-celah batu. Tanpa curiga lagi karena tempat itu memang sunyi sekali, ia menanggalkan seluruh pakaiannya lalu mandi dengan berjongkok di bawah air mancur. Air menimpa kepala dan tubuhnya, terasa nyaman dan sejuk bukan main, menimbulkan perasaan senang di hati. Tak lama kemudian ia kembali kedepan goa dengan rambut terurai. Rambut itu basah dan agar cepat kering harus dibiarkan terurai. Akan tetapi Joko menyambutnya dengan pujian. Duh Jagat Dewa Bathara yang Maha Agung! Eangkau mengejutkan aku, Niken. Aku tadi mengira ada bidadari turun dari kahyangan! Begitu cantiknya engkau dengan rambutmu seperti itu! Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku melihat yang seindah engkau........ ! Niken merasa betapa mukanya panas. Ada perasaan malu, akan tetapi juga girang menyelinap dalam hatinya mendengar pujian Joko. Joko sejak kemarin bersikap sopan dan pujiannaypun sopan sehingga tidak membuat ia marah. Berbeda dengan pujian pria lain terhadap dirinya. Pujian yang selalu mengandung nafsu dan kekurangajaran. Hemm, kiranya selain pandai meniup suling, engkaupun pandai merayu Joko. Sungguh mati aku tidak merayu, melainkan bicara menurut kenyataannya, Niken. Niken menghampiri sambil tersenyum manis, dan mengebut-ngebutkan rambutnya agar cepat kering. Sudahlah, sudah matangkah ubinya? Sudah siap, dan hemm, alangkah sedap baunya! Mari, Niken, silakan. Mereka lalu makan ubi. Sesungguhnyalah, lezat tidaknya makanan sebagian besar bergantung kepada keadaan perut. Kesehatan badan dan batin. Kalau nadan sehat, perut lapar dan batin senang, maka makanan sederhana sekalipun akan terasa lezat dan nikmat. Dua orang muda yang sarapan ubi bakar dan hanya minum air sumber itu benar-benar menikmati sarapan mereka sapai kenyang. Setelah itu, mereka meninggalkan goa dan melanjutkan perjalanan menuju ke salatan. Mulailah mereka mendaki banyak bukit-bukit di selatan dan setelah matahari naik tinggi, tibalah mereka di lereng sebuah bukit. Bukit ini tidak seperti bukit lainnya yang banyak terdapat di situ, nampak hijau subur. Itulah Girimanik, tempat tinggal kami, Niken. Kata Joko Kolomurti sambil menuding ke arah puncak bukit yng nampak hijau lebat penuh pohon. Niken merasa gembira karena ia akan mendapatkan keterangan tentang pusaka yang sedang dicarinya. Tak disangkanya akan sedemikian mudahnya ia memperoleh keterangan.Tadinya ia sudah merasa bingung ke mana harus mencari Tilam Upih, kalau saja pusaka itu meninggalkan jejak. Untung baginya bertemu dengan Joko, yang bukan saja menyelamatkan dari tangan gerombolan penjahat,akan tetapi juga akan dapat memberi keterangan tentang keris pusaka Tilam Upih. Setelah tiba di lereng terakhir dekat pucak, tiba-tiba Niken berhenti melangkah dan memandang dengan mata terbelalk kedepan. Di kanan kiri jalan yang mereka lalui kini terdapat arca-arca yang berbaris kiri kanan. Yang membuat Niken terheran dan terkejut adalah melihat arca-arca sebesar dua kali ukuran manusia itu menggambarkan wajah-wajah menakutkan, wajah-wajah raksasa dan iblis menyeramkan sekali. Apa itu........?Tanya Niken kepada Joko. Pemuda itu tertawa. Ha-ha-ha, jangan katakan kepadaku bahwa seorang gadis perkasa seperti engkau ini takut melihat arca-arca itu, Niken. Bukan takut, melainkan serem. Arca-araca apakah itu? Ah, itu adalah arca-arca para pengawal dan pengikut Ibu Dewi. Ibu Dewi....... ? Niken tidak mengerti. Ketahuilah, Niken . Kami di sini adalah pemuja Ibu Dewi. Kebetulan sekali, malam nanti adalah hari purnama sidhi (bulan purnama penuh) dan seperti biasanya setiap bulan purnama, kami mengadakan upacara pujaan kepada Ibu Dewi. Engkau akan menjadi tamu kehormatan kami, Niken. Karena itu, simpan pertanyaanmu, karena malam nanti engkau akan menyaksikan sendiri dan mengerti. Melihat sikap pemuda itu demikian gembira , sinar matanya mencorong dan mulutnya tersenyum,Niken juga tersenyum dan mengangguk, Baiklah, aku akan menahan keherananku dan akan melihatnya sendiri malam nanti. Nah, mari kita menghadap ayahku. Mereka berdua mempercepat langkah mereka. Arca-arca itu masih berjajar, terus menuju ke atas dan makin lama,arca-arca yang berdiri di kanan kiri jalan itu semakin indah ukirannya sehingga bagaikan hidup saja. Dan yang terakhir terdapat selosin arca puteri-puteri cantik jelita berdiri seperti menyambut tamu di depan sebuah bangunan yang megah. Dupa harum menyambut hidung Niken ketika ia tiba di depan pintu gapuro besar depan rumah itu. Di kanan kiri dan belakang rumah megah itu terdapat rumah-rumah lain yang biasa saja, tidak seperti rumah induk yang megah dan indah itu, penuh dengan ukiran-ukiran di atapnya. Di depan pintu gapuro yang tertutup itu tergantung sebuah kentungan dari bambu yang kecil mungil dan diukir indah. Joko mengembil pemukul kentungan itu lalu memukul kentungan tiga kali, perlahan saja. Terdengar bunyi ketukan yang cukup nyaring dan tak lama kemudian pintu gapuro yang besar itupun dibuka orang dari dalam. Dan Niken terbelalak kagum, kiranya di sebelah gapuro itu menunjukkan kehidupan yang sibuk dan nampaklah rumah itu benar-benar megah seperti Iatana saja. Di depan rumah itu berdiri belasan orang wanita yang berusia antara Limabelas sampai duapuluh tahun, cantik-cantik manis seperti arca-arca selosin puteri di depan gapuro. Wajah mereka semua berseri dan semyum mereka sungguh manis ketika mereka mengenal siapa yang mengetuk kentungan. Ah, kiranya paduka, Raden Joko........ Belasan orang wanita itu menyambutnya dengan gembira dan hormat sekali, bahkan mengebaikan Niken. Gadis ini tertegun. Raden? Mereka menghormati Joko seolah pemuda itu seorang pangeran saja, atau putera bangsawan tinggi! Agaknya Joko Kolomurti juga menyadari bahwa para dayang atau pelayan itu sama sekali tidak memperhatikan Niken, maka dia berkata lantang. Tenang kalian semua! Cepat laporkan kepada Kanjeng Romo Wiku bahwa aku pulang bersama seorang tamu terhormat, yaitu nona Niken ini. Kini belasan orang wanita itu memandang kepada Niken, ada yang menyembah kepada Niken, ada yang mengangguk,akan tetapi pandang mata mereka sama, yaitu mengandung hati yang tidak senang. Hal ini terasa sekali oleh Niken, akan tetapi ia tidak peduli. Ia tidak mempunyai urusan dengan mereka , dan melihat sikap Joko, mereka itu hanylah pelayan-pelayan belaka! Setelah belasan orang itu memberi hormat dengan sembah kepada Joko, mereka lalu masuk ke dalam rumah setengah berlari.Langkah mereka kecil-kecil dan ringan, tubuh mereka seperti meluncur saja ke dalam. Hanya bunyi gerakan kain mereka saja yang terdengar karena mereka semua kini membisu dan dengan sikap takut dan hormat. Rumah besar itu nampaknya sunyi dan tenteram setelah para wanita tadi bersikap demikian lincah di depan rumah kini memasuki rumah.Akan tetapi setelah Joko mengajak Niken mendaki anak tangga menuju keserembi depan, ternyata olehnya bahwa rumah ini sama sekali buka sunyi karena tidak ada orangnya. Kini terlihat olehnya bahwa di setiap depan pintu atau lorong berdiri dua orang pria yang bertugas menjaga, dengan tombak di tangan dan sikap mereka tegak seperti perajurit. Ketika Joko lewat, mereka memberi hormat dengan sembah tangan kiri ke depan dahi. Kalau tidak melakukan gerakan itu, tentu Niken mengira bahwa mereka itupun arca-arca! Wah, rumahmu indah sekali, Joko. Bisik Niken kepada pemuda itu ketika mereka memasuki lorong yang penuh hiasan ukir-ukiran.Batu dan kayu-kayuan semua diukir halus sekali, dan di semua pintu tentu terukir kepala raksasa yang besar dan pintu itu menjadi mulutnya yang ternganga. Ini adalah istana Girimanik atau juga pertapaan Girimanik tempat tinggal kanjeng romo. Aku adalah putera tunggal kanjenga romo dan kami tinggal di sini bersama Ibu Dewi. Niken tidak sempat bertanya lagi karena pada saat itu, dengan langkahnya yang kecil-kecil dan tak bersuara, telah muncul dua orang pelayan. Mereka menghaturkan sembah kepada Joko lalu berkata, Kanjeng Gusti mengutus hamba untuk memberi tahu paduka bahwa beliau menanti paduka dan tamu di dalam ruangan tamu. Niken Sasi yang pernah hidup di istana raja sampai berusia sepuluh tahun, tidak merasa asing dengan sikap para pelayan yang demikian hormat kepada seorang pangeran saja. Ia menjadi semakin heran dan ingin sekali mengetahui dan mengenal keluarga yang hidupnya sebagai keluarga raja ini. Marilah,Niken. Kanjenga romo telah menanti kita. kata Jojko dan Niken hanya mengangguk dan mengikuti pemuda itu. Mereka memasuki sebuah ruangan di depannya di jaga oleh dua orang pria penjaga yang memegang penggada besar dan tubuh merekapun tinggi besar seperti raksasa. Ruangan itu luas dan dipenuhi prabot ukir-ukiran indah, digantungi sutera-sutera beraneka warna. Niken melihat lima orang gadis dayang yang cantik duduk bersimpuh dikiri kanan dan di atas sebuah kursi besar duduklah seorang laki-laki yang usianya sekitar enampuluh tahun, akan tetapi masih nampak sehat dan gagah. Tubuhnya sedang saja, dean mukanya kemerahan, pandang matanya penuh wibawa. Mata itu mencorong ketika dia memandang kepada Niken yang berjalan masuk bersama Joko. Joko menghadap ayahnya dan menghaturkan sembah, lalu berkata, Kanjeng Romo, ini adalah Niken yang saya undang sebagai tanu untuk menyaksikan pesta pemujaan nanti malam. Niken ini adalah Kanjeng Romo Wiku Syiwakirana. Sebagai seorang muda yang mengenal kesusilaan, Niken juga memberi hormat dengan sembah.Lalu berkata. Harap Paman Wiku sudi memafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu. Jagat Dewa Bathara, andika ini seorang dara remaja telah pandai membawa diri dan bersusila. Nini, aku yakin bahwa andika tentu telah memperoleh pelajaran dari seorang guru yang pandai. Bolehkah aku mengetahui siapa guru yang telah menggemblenggumu, karena akupun dapat menduga bahwa selain kesusilaan, andika juga telah memiliki aji kedigdayaan. Diam-diam Niken terkejut. Pria ini baru melihat saja sudah dapat menduga bahwa ia memiliki kedigdayaan! Iapun tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya, apa lagi kedatangannya ini untuk minta bantuan, yaitu keterangan tentang Tilam Upih. Mungkin nama perguruannya akan menolong pula. Paman Wiku, saya adalah murid Gagak Seto di Anjasmoro. Demi para dewata! Tidak meleset dugaanku. Kiranya andika adalh murid Ki Sudibyo ketua Gagak Seto yang gagah perkasa? Joko, bagaimana engkau dapat bertemu dan berkenalan dengan dara perkasa ini? Kanjeng Romo, pertemuan kami kebetulan saja. Saya membantunya ketika Niken dikeroyok oleh orang-orang Jambuka Sakti dan kamipun berkenalan. Hemm,Jambuka Sakti? Selalu saja gerombolan itu membuat onar. Nini, kenapa nadikasampai dikeroyok orang-orang Jambuka Sakti ? tanya Wiku Syiwakirana dengan pandang mata penuh selidik. Entahlah paman. Saya tidak merasa pernah bermusuhan dengan mereka. Kata Niken. Mungkin ada hubungannya dengan perjalananmu mencari Tilam Upih, Niken Keris pusaka Tilam Upih.......?? Wiku Syiwakirana bertanya dengan mata terbelalak. Jelas bahwa dia terkejut mendengar gadis itu mencari pusaka Tilam Upih. Benar, kanjeng Romo, dan mendengar ia mencari pusaka itu, saya mengundangnya ke sini karena kalau kanjenga romo memperkenankan, saya dapat berita tentanhg pusaka itu. Sungguh hebat bukan main! Kalau yang datang seorang pendekar kawakan,seorang jagoan terkenal, mencari Tilam Upih, kami tidak akan merasa aneh, Akan tetapi andika, seorang dara remaja, berani melakukan perjalanan jauh dan berbahaya seorang diri untuk mencari keris pusaka yang diperebutkan itu! Eh, nini, untuk apakah andika mencari pusaka itu? Sesungguhnya, saya mencari pusaka Tilam Upih bukan untuk saya pribadi,paman. Saya hanya melaksanakan perintah Bapa Guru. Aha, jadi Ki Sudibyo sendiri yang mengutusmu? Kalau pendekar seperti dia mempercayaimu untuk mencari Tilam Upih, tentu ilmu kepandaianmu sudah hebat sekali! Sesungguhnya, kanjeng romo. Biarpun Niken ini seorang dara, akan tetapi ia sakti mandraguna. Sudah saya saksikan sendiri ketika ia mengamuk dan merobohkan orang-orang Jambuka Sakti. kata Joko. Wiku Syiwakirana mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya, menatap wajah Niken, kemudaian melirik ke arah muka puteranya dan tersenyum. Sekali pandang saja tahulah dia membaca isi hati puteranya yang masih menyembunyikan rasa kagum dan tergila-gila kepada gadis perkasa. Nah, nini. Setelah andika berda di sini, apa yang ingin andika tanyakan mengenai keris pusaka Tilam Upih? tanya Wiku Syiwakirana sambil tersenyum. Maaf, paman, saya hanya merepotkan paman saja. Sesungguhnya, Bapa Guru mengutus saya untuk mencari Tilam Upih yang kabarnya akan muncul di pantai Lautan Kidul dan akan dijadikan perebutan para pendekar dan orang-orang gagah. Akan tetapi, Bapa Guru tidak dapat memberi tahu di mana pusaka itu akan muncul. Oleh karena itu, saya menjadi bunging dan apabila paman dapat memberi petunjuk tentang di mana adanya pusaka itu, saya akan berterima kasih dan merasa bersyukur sekali. Ha-ha, tentu saja kami dapat memberi petunjuk kepedamu, nini. Keris itu sudah beberapa tahun ini berada di tangan adik seperguruanku sendiri. Niken terkejut dan heran. Ia merasa heran mengapa kakek ini mau membuka rahasia kalau pusaka itu berada di tangan adik seperguruan sendiri, dan terkejut karena kalau ia hendak merampas keris pusaka itu dari adik seperguruan sang wiku, berarti iapun akan menjadi musuh sang wiku! Tapi......kalau begitu.......katanya ragu. Ah, ini memang bukan rahasia lagi dan tiadak perlu dirahasiakan. Bahkan semua orang sudah mengetahuinya karena Adi Surodiro sendiri sudah mengumumkan bahwa dia membuat sayembara untuk memperebutkan keris pusaka Tialam Upih. Sayembara? Bagaimana itu, paman? Begini, nini. Kebetulan sekali Adi surodiro, yaitu adik seperguruanku yang menjadi adipati, penguasa di Nusa kambangan, beberapa tahun yang lalu mendapatkan keris pusaka Tilam Upih di pesisir Lautan Kidul. Kabarnya dia mendapatkan keris itu di dalam perut seekor ikan hiu yang besar. Ikan itu tertangkap kail dan ketika dibelah, dalam perutnya ditemukan keris pusaka itu. Bertahun-tahun ia merahasiakan penemuannya ini, sampai kemudian tersiar berita bahwa Tilam Upih akan muncul di pantai Lautan Kidul. Karena maklum bahwa berita iotu tentu akan mendatangkan banyak pendekar dan ketua perguruan , juga bahwa tentu Kerejaan Kediri akan berusah merampasnya, maka Adi Surodiro inginagar pusaka itu diperebutkan secara resmi dengan jalan mendirikan sayembara. Yaitu, mereka yang menghendaki keris pusaka itu agar saling mengadu kepandaian lebih dulu. Siapa yang paling unggul, kemudian harus mampu mengalahkan Adi Surodiro yang memegang Keris Tilam Upih, barulah dia akan memiliki pusaka itu. Niken menjadi girang sekali. Ah,ini berita baik sekali. Kalau begiu, saya tidak perlu mencari jauh-jauh. Kapan diadakan sayembara itu dan di mana, paman? Jangan khawatir, Niken. Aku sendiri yang akan mengantarmu ke tempat tinggal Paman Surodiro. Siapa tahu kalau melihat aku dia akan bersikap lunak kepadamu. Waktunya masih sebulan. Tinggallah dulu di sini sampai tiba waktunya dan aku akan mengantarkan engkau ke sana. kata Joko. Mendengar ini, tentu saja hati Niken menjadi girang bukan main. Sungguh beruntung ia bertemu dengan pemuda yang demikian baiknya. Tentu saja ia menerima tawaran pemuda itu dan menghaturkan terima kasih kepada Wiku Syiwakirana dan Jokokolomurti. Sekarang, harap engkau beristirahat dulu karena aku harus membantu persiapan malam upacara pemujaan malam nanti, Niken. kata Joko yang lalu menoleh kepada dua orang di antara para dayang yang duduk bersimpuh di situ. Kalian antarkan nona ini ke kamar tamu yang paling besar di belakang dan layani baik-baik, sediakan segala keperluannya. Baik, Raden. Mari silakan, Mas Ayu......kata seorang dayang dengan sikap hormat. Niken lalu membawa buntelan pakaiannya dan mengikuti dua dayang memasuki bagian dalam rumah besar itu. Niken dibawa ke sebuah di antara banyak kamar di belakang rumah itu dan ternyata kamar yang disediakan untuknya adalah sebuah kamar yang lengkap dan cukup luas. Dengan ramah dan hormat dua orang pelayan itu melayaninya, menghidangkan makan siang yang cukup lengkap. Niken mencoba untuk mencari keterangan dari mereka tentang keadaan perkumpulan yang dipimpin Wiku Syiwakirana, akan tetapi ternyata para pelayan itu biarpun bersikap ramah dan hormat, amat tertutup. Harap maafkan karena kami dilarang keras untuk bicara tentang perkumpulan kami. Yang berhak memberi keterangan hanya Kanjeng Gusti dan puteranya. demikian kata mereka dan selanjutnya mereka bungkam. Niken lalu menyuruh mereka pergi karena setelah makan ia ingin beristirahat dulu. Baru saja Niken tertidur, ia terbangun lagi dikejutkan suara hiruk pikuk diluar kamarnya. Ketika ia turun dan membuka pintu, ia mendengar suara banyak orang dari arah depan rumah itu. Tentu saja ia merasa heran sekali, apalagi melihat banyak penjaga pria berlarian keluar sambil membawa tombak atau golok, bahkan para pelayan wanita berlari keluar sambil membawa pedang atau keris, seolah semua orang siap untuk melawan musuh yang datang menyerbu. Niken membetulkan pakaiannya, menjadi ringkas ringan karena ia ingin sekali melihat apa yang terjadi dan siap membantu pihak tuan rumah kalau ada marabahaya datang. Padahal saat ia hendak pergi keluar, munculah Joko dan wajah pemuda inipun menunjukkan kekhawatiran. Joko, apa yang terjadi? Ada apakah ribut-ribut ini? Ah, pemuda pengacau itu datang lagi mengacau! kata Joko sambil mengepal tinju. Kami membutuhkan bantuanmu, Niken. Tentu saja aku akan membantu. Akn tetapi ceritakan dulu duduk persoalannya. Siapa pemuda yang kaumaksudkan itu? Sepekan yang lalu muncul seorang pemuda yang menuntut agar kami membebaskan para gadis dusun yang menjadi murid dan pelayan di sini, dengan mengatakan bahwa kami melakukan paksaan kepada mereka. Sudah kami jelaskan bahwa di sini tidak ada paksaan. Para wanita dan pria yang menjadi anggota kami masuk secara suka rela, tanpa paksaan. Setelah dia kami biarkan bertanya sendiri kepada para gadis dusun yang berada di sini, akhirnya kami dapat meyakinkannya bahwa kami tidak melakukan paksaan, dan dia pergi. Akan tetapi sekarang dia muncul lagi diiringkan puluhan orang warga dusun-dusun di sekitar Girimanik, dan sikap mereka mengancam! Hemm, engkau seorang yang sakti,kenapa mendiamkannya saja dan tidak memberi hajaran pada saat pertama dia muncul, Joko? Terus terang saja, hal itu sudah kulakukan. Akan tetapi dia .....dia digdaya sekali, Niken. Agaknya aku bukan lawannya, bahkan kanjeng romo sendiri menasihati agar membiarkan dia pergi tanpa menggunakan kekerasan. Sekarang, apa maunya datang lagi? Dia dan puluhan orang warga dusun itu menuntut agar perkumpulan kami dibubarkan dan semua warga dusun yang sudah menjadi anggota kami dibiarkan pulang. Hemm, mana ada aturan macam itu? Mari kita lihat, apa macamnya orang kurang ajar itu!kata Niken yang lalu berlari keluar bersama Joko. Ketika mereka tiba di luar, Niken melihat serombongan warga dusun berdiri di depan pintu gapura yang sudah terbuka lebar. Mereka jelas adalah warga dusun, dapat dikenal dari pakaiannya dan merekapun memeganga senjata yang khas, yaitu arit, golok, linggis, dan sebagainya lagi. Dan jumlah mereka kurang lebih ada lima puluh orang pria. Di depan sendiri berdiri seorang pemuda sederhana. Pakaiannya juga seperti pemuda dusun, namun dia tampan dan berkulit kuning, tubuhnya tegap dan sinar matanya membuat hati Niken berdebar. Agaknya seperti itulah mata seekor naga! Dari sinar matanya ini saja dapat diduga bahwa pemuda ini adalah seorang yang berisi , seorang yang sakti mandraguna dan bukan lawan yang lunak. Hayo pimpinan perkumpulan sesat Durgamantra! Kembalikan anak-anak perempuan kami, kalau tidak kami akan hancurkan perkumpulan sesat ini! terdengar teriakan mereka. Selagi para warga dusun berteriak-teriak dan para anak buah perkumpulan Durgamantra itu hanya bersiap-siap dan berjaga-jaga, mendadak terdengar aba-aba di bagian belakang dan terkuaklah kelompok anak buah perkumpulan itu. Kurang lebih duapuluh orang gadis dan tiga puluh orang pria muda yang sudah bersiap itu minggir dan muncullah Wiku Syiwakirana dengan langkah tegap, perlahan dan tenang berwibawa. Semua suara terdiam ketiak orang ini muncul dan sejenak dia memandang kedepan, terutama ke arah pemuda yang memimpin warga dusun itu. Orang muda, kembali andika membuat gaduh dan mengacau ketentraman kami. Sebetulnya apakah kemauanmu? tanya Wiku Syiwakirana dengan sura tenang. Pemuda itu memberi hormat dengan sembah ke dadanya. Oum, sadhu,sadhu...... ! maafkan kalau saya berani datang lagi. Sang Wiku. Karena saya terdesak oelh para orang tua dusun yang menghendaki anak-anak mereka dibebaskan dan dikeluarkan dari tempat ini. Kenapa mereka menghendaki demikian? Anak-anak mereka itu masuk ke sini atas kehendak mereka sendiri, tidak ada yang memaksa. Kalu mereka hendak keluar sekarang juga, kami tidak akan menahan mereka. Sebaiknya ditanyakan kepeda mereka sendiri. Coba sebutkan nama seoarng murid kami yang diminta orang tuanya! Seorang laki-laki yang berusia empatpuluh tahun berteriak, Mana Sariati! Sariati, anakku, keluarlah aku mau bicara! Wiku Syiwakirana menoleh kebelakang memandang kelompok murid wanita dan berseru, Ada yang namanya Sariati? Majulah agar kami semua mendengar suaramu sendiri! Seorang gadis berusia delapan belas tahun melangkah maju dengan sigapnya. Ia bukan seperti seorang gadis dusun yang malu-malu dan jelas bahwa ia telah menguasai ilmu kanuragan yang membuat gerakannya lincah dan ringan. Aku Sariati berada di sini, bapa. Ada apakah bapa memanggilku? Ia berhenti dalam jarak dua meter dari kelompok warga dusun itu. Ayahnya melangkah maju menghadapi anaknya. Sejenak dia seperti tertegun. Hampir dia tidak mengenal lagi anaknya. Sekarang anaknya demikian cantik dan gagah, bukan gadis dusun yang malu-malu dan canggung. Sariati, mari pulang bersamaku, anakku! Tidak, bapa. Aku tidak mau pulang. Aku sudah senang berada di sini, menjadi murid Durgamantra. Pulanglah, bapa dan jangan membuat ribut! Ayah itu maju dan memgang pergelangan tangan anaknya. Sariati engkau harus pulang! Embokmu menangis terus, kau harus pulang sekarang juga! Tidak, lepaskan aku! Sekali gadis itu memutar lengannya, pegangan bapanya terlepas bahkan orang tua itu terhuyung ke belakang! Sariati lalu melompat ke belakang dan masuk ke dalam rombongan murid wanita Durgamantra. Beberapa orang ayah memanggil anaknya, laki-laki maupun perempuan untuk keluar, akan tetapi keadaannya sama saja dengan Sariati tadi, mereka semua tidak mau pulang dan ingin tetap tinggal di situ. Ha-ha-ha! Wiku Syiwakirana tertawa tenang. Kalian semua, melihat dan mendengar sendiri. Orang muda, andika sudah melihat jelas? Mereka itu dengan suka rela ikut menjadi murid kami, sama sekali tidak ada paksaan. Kenapa kalian menuduh kami perkumpulan sesat dan hendak memaksa murid-mrid kami keluar? Sang Wiku Syiwakirana, kata pemuda itu sambil melangkah maju sedangkan warga dusun yang tadinya bersemangat sekali, kini nampak lesu setelah melihat betapa anak mereka tidak mau pulang. Memang kami semua telah menyaksikan dan mendengar betapa murid-murid Durgomantra tidak ada yang mau pulang. Akan tetapi harap andika ingat bahwa mereka itu masih mempunyai ayah dan ibu dan orang tua mereka berhak menentukan nasib mereka. Andika tidak boleh memisahkan mereka dari orang tua mereka. Akan tetapi mereka itu juga murid-murid kami yang sudah bersumpah setia kepada Sang Betari. Kami juga berhak melindungi mereka dari paksaan siapapun juga untuk meninggalkan tempat ini! Kalau mereka pergi atas kehendak mereka sendiri, kami tidak akan menghalangi, akan tetapi siapapun juga yang hendak memaksa mereka pergi, akan kami tentang! Mereka telah ditipu! Mereka telah disihir! Terdengar teriakkan-teriakan para orang tua yang merasa penasaran. Niken yang sejak tadi menjadi penonton dan pendengar, tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia mendengar sediri pengakuan para murid wanita yang berada di situ bahwa mereka masuk menjadi murid dan anggota perkumpulan Dorgamantra secara suka rela,bukan dipaksa. Kini pemuda itu pemimpin para orang tua untuk memaksa anak-anak mereka keluar dari perkumpulan itu.Maka dengan marah ia menggerakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke depan pemuda itu. Pemuda itu terkejut dan heran melihat gerakan dara yang demikian tangkasnya, seperti terbang saja. Niken menentang pandang mata pemuda itu sambil bertolak pinggang, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu dan berkata dengan suara menegur. Kenapa engkau mengacau dan menghasut para warga dusun itu untuk memaksa anak mereka keluar dari perkumpulan Durgamantra? Aku tidak melihat adanya paksaan dar para pimpinan Durgamantra! Apakah engkau kurang pekerjaan maka mencampuri urusan pribadi orang lain? Pemuda itu memandang penuh selidik, lalu berkata sambil tersenyum mengejek. Engkau tentu murid perguruan Durgamantra, tentu saja engkau membela perguruanmu! Siapa bilang aku murid Durgamantra? Aku hanya seorang tamu yang tidak suka melihat engkau mencampuri urusan pribadi orang lain. Para murid itu masuk Durgamantra tidak dipaksa akan tetapi secara sukarela. Kalu orang tua mereka hendak memaksa mereka keluar tentu saja perguruan Durgamantra berhak pula menghalangi. kata Niken. Pemuda itu nampak penasaran. Kalau andika hanya seorang tamu, berdiri saja di luar dan jangan mencampuri urusan kami! Andika sendiri bukan apa-apa, tidak ada hubungannya dengan warga dusun atau dengan perguruan Durgamantra, sebaiknya pulang saja dan jangan usil di sini. Kalau tidak, terpaksa aku sebagai tamu Durgamantra akan megusirmu dengan kekerasan! Pemuda itu kini mengerutkan alisnya. Bagus! Aku memang ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan perguruan Durgamantra dan semua anteknya! Dia melangkah maju sehingga kini berhadapan dengan Niken dalam jarak dua meter. Wajar Niken berubah merah dan ia membentak. Keparat lancang mulut! Aku bukan antek siapapun! Hayo kau tarik kembali sebutan itu atau aku akan menghajarmu! bentaknya. Akupun ingin tahu bagaimana engkau akan menghajarku, bocah sombong! balas pemuda itu. Niken tidak dapat menahan lagi kemrahannya. Bagus, sambutlah seranganku! Haiiittt......! Cepat bagaikan seekor burung sikatan, Niken sudah menerjang ke depan dengan tamparan tangan kirinya dan ke arah muka pemuda itu. Pemuda itu terkejut juga melihat tamparan yang amat cepat dan juga mengandung tenaga dahsyat itu sehingga begitu tangan itu bergerak, dia sudah merasakan sambaran angin pukulan yang panas. Cepat dia mengelak dengan melangkah mundur. Akan tetapi begitu tangan kiri Niken luput mengenai sasaran tangan kananya sudah menyusul dengan serangan pukulan dorongan tangan terbuka ke arah dada pemuda itu. Pukulan ini juga cepat bukan main dan sekali ini, pemuda itu menggerakkan tangan kanan, diputarnya dari kiri ke kanan untuk menangkis. Dukkk!! pertempuran kedua lengan itu keras sekali dan tubuh Niken terpetar, akan tetapi dalam berputar itu kakinya mencuat dan menyambarlah sebuah tendangan yang dahsyat ke arah pusar pemuda itu. Ehhh.......!! Pemuda itu terkejut bukan main akan tetapi ternyata dia meiliki kecepatan yang menganmkan. Dia membuang tubuhnya ke belakang dan berjungkir balik dua kali. Kembali mereka berdua saling berhadapan, pandanga mata seperti menimbang dan menaksir kedigdayaan lawan, seperti dua ekor ayam jantan sedang saling berhadapan penuh ancaman. Niken merasa penasaran sekali. Rangkaian serangannya tadi dapat dilumpuhkan dan tahulah ia mengapa Joko Kolomurti mengaku kalah oleh pemuda ini. Ternyata pemuda ini memang tangkas sekali. Sungguh orang tidak akan menyangkanya. Pemuda ini masih muda sekali, bahkan sikapnya yang sederhana itu menimbulkan kesan seorang pemuda yang bodoh. Niken bertekad untuk memenangkan pertandingan itu.Kalau tidak, betapa akan malunya terhadap keluarga Joko yang dibelanya. Maka, sambil berseru nyaring,tubuhnya yang menggunakan aji Tapak Sikatan sudah menyerang lagi. Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung sikatan dan kaki tangannya bertubi-tubi mengirim serangan susul menyusul. Akan tetapi bukan saja serangannya yang dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda itu, bahkan sebaliknya pemuda itu juga sempat membalas dengan tamparan-tamparan tangan yang dahsyat! Maklumlah Niken bahwa lawannya benar-benar tangguh. Hyaaaattt.......! Tangannya mencengkeram ke arah muka pemuda itu yang cepat mengelak sambil membuang tubuhnya miring. Akan tetapi Niken menyusulkan tendangannya yang amat kuat ke arah lambung lawan.Pemuda itu sudah siap dan mengerahkan tenaga, lalu menangkis kaki yang menendang itu. Dukkk....... ! Tangkisan itu sedemikian kuatnya sehingga tubuh Niken terdorong keras dan membuat ia hampir kehilangan keseimbangantubuh dan terhuyung. Setelah melompat dan berdiri tegak kembali wajah Niken berubah kemerahan. Biarpun ia belum kalah, akan tetapi tadi ia nyars jatuh. Bangkit kemerahannya. Tadinya ia memang hendak mengalahkan saja pemuda yang dianggapnya lancang dan usil mencampuri urusan orang lain itu. Akan tetapi kini setelah meresakan benar betapa tangguhnya lawannya itu, ia menkadi penasaran. Kalau ia tidak menggunakan Hasta Bajra,agaknya akan sukar baginya untuk keluar sebagai pemenang dalam pertandingan ini. Apalagi melihat wajah tampan yang tersenyum-senyum, dianggapnya pemuda itu mengejeknya. Babo-babo, jangan tertawa dulu keparat. Rasakan aji pukulanku ini! Ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya, kemudian menerjang dengan aji Hasta Bajra! Pemuda itu terkejut bukan main ketika ada hawa panas sekali menyambar ke arahnya. Cepat di merendahkan tubuh setengah berjongkok, merangkap kedua tangan seperti sembah ke depan dada, kemudian dia mendorongkan kedua tangannya ke depan untuk menyambut dan menangkis pukulan dahsyat dan ampuh dari Niken. Wiiiirrrrrr........desss.......!! Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu. Tubuh Niken terlempar kebelakang seperti sehelai daun tertiup angin, akan tetapi pemuda itupun terhuyung-huyung ke belakang! Niken terbelalak dan cepat ia mengatur pernapasannya. Dadanya terasa agak sesak, dan iapun melihat pemuda itu menarik napas panjang berulangkali, tanda bahwa pemuda itupun terguncang isi dadanya. Akan tetapi Niken maklum bahwa pemuda itu mampu menyambut aji Hasta Bajra! Sementara pemuda itupun agaknya maklum bahwa Niken memiliki aji kesaktian yang hebat. Dia lalu memberi hormat kepada Wiku Syiwakirana dan berkata, Sang Wiku, kiranya andika berlindung di belakang seorang dara yang sakti mabdraguna. Karena itu kami tidak ingin bermusuhan dengan orang yang tidak berkepentingan, maka biarlah kami menunda urusan ini sampai lain kali! Dia lalu memutar tubuhnya dan mengajak para warga dusun untuk meninggalkan tempat itu. Para warga dusun itu tidak membantah, namun mereka kelihatan penasaran dan berulangkali mereka menolah untuk memandangi anak-anak mereka yang telah menjadi murid perguruan Durgamantra itu. Setelah pemuda itu dan warga dusun pengikutnya pergi jauh, Wiku Syiwakirana tertawa dan berkata kepada Niken, Nini Niken, bantuanmu sungguh besar sekali bagi kami. Pemuda itu sakti akan tetapi andika telah berhasil mengusirnya. Kami yakin dia dan teman-temannya tidak akan berani lagi mengganggu kami. Kanjeng Romo, kebetulan sekali malam ini kita mengadakan pesta pemujaan, sekalian untuk menyambut nimas Niken. Ha-ha-ha, engkau benar, Joko. Marilah kita bersiap-siap. Mereka memasuki kembali rumah itu dan Niken berpamit untuk beristirahat di dalam kamarnya. Setelah tiba di dalam kamarnya, ia menutup pintu dan duduk bersila di atas pembaringannya, mengatur pernapasannya. Ia merasa heran dan kagum, juga penasaran sekali. Pemuda itu berani menangkis aji Hasta Bajra dan membuat tubuhnya terlempar. Biarpun pemuda itu juga terhuyung, namun ia dapat mersakan bahwa ia masih kalah tenaga, kalah kuat dibandingkan dengan pemuda itu! Akan tetapi nampaknya pemuda itu mengalah dan mengundurkan diri, agaknya tidak mau bermusuhan dengannya. Ia sendiri harus mengatur pernapasan dan bersemedi untuk memulihkan kembali tenaganya karena siapa tahu, malam nanti pemuda itu akan datang lagi mengganggu. Kalau bertemu dan bertanding lagi, ia harus berhati-hati dan kalau perlu ia akan menggunakan pusaka pemberian gurunya, yaitu keris Megantoro. Di ruangan lain sebelah dalam, Sang Wiku Syiwakirana bercakap-cakap dengan Joko Kolomurti, dengan suara berbisik-bisik, walaupun di situ tidak ada seorangpun murid Durgamantra. Engkau beruntung sekali telah bertemu dengannya dan dan dapat membujuknya datang ke sini. Akan tetapi, sudah yakinkah engaku bahwa pilihanmu itu tepat? tanya sang Wiku. Sudah kuperhitungkan masak-masak kanjeng Romo. Selama hidupku, belum pernah aku bertemu seorang dara sehebat Niken! Kecantikannya sempurna, dan kanjeng rama sendiri telah menyaksikan betapa digdayanya dara itu. Kalau menjadi isteriku, berarti kita mendapat tambahan tenaga yang boleh diandalkan untuk memperkuat kedudukan perguruan kita. kata Joko Kolomurti dengan suara mengandung kebanggaan dan kegembiraan. Akan tetapi yang membuat hatiku merasa gelisah, melihat Niken seorang dara yang berhati baja. Aku sungguh khawatir ia akan menolak cintaku dan tidak mau menjadi isteriku. Ha-ha-ha, engkau sungguh meremehkan kemampuanmu sendiri,kulup. Engkau seorang pemuda yang cukup tampan dan memiliki kedigdayaan, gadis mana tidak akan merasa senang menjadi isterimu? Pula, ada aku di belakangmu yang tentu akan membantumudan jangan lupa,dengan restu Ibumu Bathari, semua keinginanmu pasti akan tercapai. Percayalah, setelah malam pemujaan nanti, Niken pasti akan menjadi isterimu. Joko Kolomurti menganguk dan wajahnya berseri karena hatinya tidak ragu lagi. Malam itu, sejak senjakala lewat bulan mulai muncul di ufuk timur. Sebuah bola kemerahan yang besar bulat muncul dari puncak bukit dan tak lama kemudian, warna kemerahan telah berganti menjadi warna kuning keemasan yang memandikan permukaan bumi dengan cahaya nya yang lembut dan sejuk. Terdengar gamelan ditabuh. Suara gambang berselang seling dengan lengkingan suling, menjadi gembira penuh semangat oleh suara gendang yang mendetak-detak. Malam indah itu disambut meriah sekali oleh perguruan Durgamantra.Sebuah panggung yang luas didirikan mereka untuk menjadio tempat upacara pemujaan, dihias dengan kain warna-warni dan kembang-kembang. Setelh bulan muncul, semua murid sudah berkumpul dan laki-laki perempuan mengenakan pakaian mereka yang terbaru dan terindah, juga tercium wangi-wangian dari pakaian mereka. Para anggota wanita di sudut panngung sebelah kiri sedangkan para prianya duduk di sudut panggung sebelah kanan. Di kepala panggung terdapat tiga tiga kursi yang dihias indah, akan tetapi kursi-kursi itu masih kosong. Penabuh gamelan duduk di bawah panggung dan dua orang pesinden yang tidak cantik namun bersuara emas duduk di antara mereka. Seluruh anggota atau murid perguruan Durgamantra yang berjumlah empatpuluh orang lebih itu berkumpul di situ dan menanti dengan sikap hormat dan khidmat.Gamelan di tabuh lirih-lirih, suaranya dibara angin malam, menghanyutkan. Bulan sudah tersenyum di atas kepala, masih condong di timur. Tak lama kemudian, terdengar aba-aba dari dalam rumah di belakang panggung dan gamelan dipukul lebih gencar lgi dengan lagu Kebogiro seperti gamelan yang menyambut datangnya mempelai. Kemudian sebuah iring-iringan muncul dari dalam rumah induk dan semua murid yang tadi duduk di atas lantai panggung di sudut iri dan kanan segera menghadap ke arah iring-iringan itu dengan hormat dan menyembah. Yang pertama sekali adalah Sang Wiku Syiwakirana,berjalan di depan dengan langkah tegap dan sikap gagah. Di belakangnya nampak sebuah joli yang indah dan dirias meriah, dipikul oleh enam orang gadis berpakaian sutera putih yang panjang sampai menutupi kaki. Di belakang joli ini berjalan Joko Kolomurti bersama Niken yang mendapat kehormatan untuk keluar bersama iring-iringan itu sebagai seorang tamu agung. Dan di belakang dua orang muda itu berjalan selosin pemuda yng bertelanjang dada, diikuti oleh selosin gadis bertapih pinjung yang rata-rata masih muda dan cantik. Iring-iringan berhenti di depan tiga buah kursi, dan Joko Kolomurti berkata kepada ayahnya dengan sikap hormat, Kanjeng Romo, kita lupa menyediakan sebuah kursi untuk diajeng Niken. Gadis itu mengerutkan alisnya mendengar sebutan diajeng itu,akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang sungguh-sungguh, iapun mengenggap bahwa perubahan sebutan itu disesuakan dengan upacara yng khidmat itu. Benar, suruh ambil sebuah kursi lagi. kata Sang Wiku dan seorang murid laki-laki yang mengikuti di belakang lalu cepat mengambil sebuah kursi diletakkan di samping kursi paling kiri. Melihat ini, Niken merasa tidak enak sekali. Ia memang berterima kasih kepada keluarga itu, apalagi sudah mendapat keterangan yng berharga tentang Tilam Upih dan kalau malam ini ia menyaksikan malam perayaan upacara pemujaan Bathari Durgo, adalah untuk menyatakan terima kasihnya. Akan tetapi ia merasa sungkan diperlakukan sebagai tamu agung. Bagaimanapun juga, tentu saja ia tidak berani membantah. Kini Sang Wiku sendiri menghampiri joli dan membuka tirai joli. Niken terbelalak kagum. Kiranya di dalm joli itu terdapat sebuah patung emas seorang wanita dalam keadaan duduk. Inikah patung Sang Bathari Durgo? Cantik nian! Padahal, menurut yang pernah didengarnya, Sang Bathara Durgo telah dikutuk dan berupa seorang puteri berwajah raksasa wanita! Sang Wiku sendiri yang memondong patung itu lalu didudukkan di atas kursi paling kanan. Kemudian dia duduk di atas kursi sebelah kiri patung itu. Joko Kolomurti berkata kepada Niken. Diajeng Niken,silakan duduk. Dia sendiri duduk di sebelah kiri ayahnya dan karena kursi yang tersisa tinggal disebelah kirinya, Niken lalu duduk di atas kursi itu. Semua murid melakukan penghormatan dengan menyembah. Akan tetapi sembah mereka itu nampak aneh oleh Niken. Mereka menyembah sampai tubuh atas mereka mennelungkup, tiarap rata dengan lantai panggung dan dari kerongkongan mereka keluar suara memanjang seperti orang mengerang. Sang Wiku Syiwakirana lalu mengangkat tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa pesta pemujaan dimulai. Gamelan masih ditabuh dengan meriah. Dua orang berpakaian sutera putih maju membawa seekor ayam bulu putih mulus, dan seorang pemuda berkain putih bertelanjang dada juga ikut, membawa sebuah bokor emas dan sebuah guci. Mereka bertiga berlutut di depan Sang Wiku. Pemuda itu lalu menyerahkan guci kepada sang wiku yang segera membuka tutup guci dan menuangkan isinya kedalam bokor. Nampak cairan berwarna merah dan bau anggur yang harum memenuhi panggung. Niken juga mencium bau anggur ini, bau yang asing baginya, akan tetapi buakn tidak menyenangkan. Setelah bokor itu penuh, pemuda itu menerima lagi guci dan meletakkan di samping patung, kemudian dua orang gadis berpakaian putih mendekatkan ayam bulu putih di depan kaki Sang Wiku. Sang Wiku mencabut sebilah pisau belati dari pinggangnya, kemudian mulutnya membaca mantra yang aneh dan panjang sambil memejamkan kedua matanya. Lalu dia bangkit, mengikuti dua orang gadis yang kini membawa ayam bulu putih di depan patung. Juga pemuda itu membawa bokor dan meletakkannya di depan kaki patung. Sang Wiku lalu menggerakkan pisaunya menyembelih leher ayam putih. Ayam itu menggelempar dalam pegangan dua oranga gadis dan darahnya mengucur ke dalam bokor berisi anggur. Karena ayamitu berbulu putih mulus, maka darahnya nampak nyata sekali ketika mengucur sampai menetes-netes ke dalam bokor. Setelah darah itu tuntas, ayam berhenti menggelempar, dua oranga gadis menyembah lalu turun dari panggung membawa bangkai ayam. Pemuda itupun mengikuti mereka, meninggalkan guci dan setumpuk cawan di dekat patung emas. Joko Kolomurti lalu bangkit, menuangkan anggur dari bokor ke dalam secawan dan dengan sikap hormat menyerahkan kepada ayahnya, Sang Wiku menerimanya, lalu bangkit menghampiri patung emas, membaca mantra lalu mendekatkan cawan kesepasang bibir emasyang indah itu. Semuamurid memandang tanpa berkedip dan menahan napas. Niken yang tidak mengerti juga memandang dengan hati merasa geli. Bagaimana mungkin sebuah patung disuguhi minuman anggur? Akan tetapi iapun terbelalak ketika anggur di dalam cawan itu dituangkan sampai habis! Secawan anggur habis diminum swebuah patung! Ia hampir tidak percaya dan berkedip-kedip, dan melihat patung itu seolah-olah tersenyum dan menggerakkan biji matanya. Setelah Sang Wiku kembali duduk, Joko Kolomurti kembali menuangkan anggur dari bokor ke dalam sebuah cawan lain, lalu dengan sikap hormat menghaturkan secawan anggur itu kepada ayahnya. Sang Wiku menerima sambil tersenyum menganguk, dan minum habis anggur dari cawan itu. Kini Joko Kolomurti menghampiri Niken. Diajeng Niken, kami harap andika sudi menerima dan minum secawan anggur untuk menghormati Ibunda Bathari. katanya dengan sikap ramah dan hormat. Wajah Niken menjadi merah. Ia merasa sungkan untuk menolak, akan tetapi juga ia muak dan tidak sampai hati minum anggur yang sudah dicampuri darah ayam itu. Maaf, Joko........aku....aku tidak dapat minum darah ayam itu.... katanya lirih agar jangan sampai menyinggung keluarga perguruan itu. Kenapa engkau begitu bodoh, Joko? tentu saja Niken tidak bisa minum anggur ini. Ia bukan anggota kita dan tidak biasa minum anggur ini. Suruh ambil guci anggur kecil dalam kamrku. Itu anggur madu istimewa yanga bik sekali untuk diminum Niken. Joko lalu menyuruh seorang gadis yang duduk di sudut untuk mengambilkan guci anggur itu. Setelah guci anggur itu di bawa dan diserahakan kepada Joko, pemuda ini lalu menuangkan isinya ke dalam sebuah cawan. Anggur inipun merah dan berabau harum, dan Joko menyerahkan kepadanya sambil berkata. Aku menyambutmu dengan secawan anggur, diajeng. Harap engkau sudi meminumnya. Tentu saja Niken merasa tidak enak untuk menolak, akan tetapi sebelum ia menerimanya. Sang Wiku cepat berkata, Joko, bawa cawan itu ke sini. Aku akan memberkatinya demi kesehatan dan keselamatan Niken. Joko menyerahkan cawan itu kepada ayahnya yang lalu membaca mantra sambil menatap cawan iyu. Barulah cawan diserahkan kepada Niken. Niken menerimnya dan mencoba dulu mencicipi anggur. Ternyata harum dan manis. Maka ia terus minum anggur yang hanya secawan kecil itu dan selain rasanya enak,juga terasa hangat dan nyaman di perut. Tentu saja minuman itu menghangatkan perut karena sebetulnya itu adalah minuman keras yang terbuat dari tuak dicampur dengan madu. Joko, tuangkan secawan lagi. Aku harus menghormati tamu kita! kata sang Wiku yang nampak gembira. Joko menuangkan lagi secawan dan menyerahkannya kepada Sang Wiku, yang segera memberikannya kepada Niken sambil berkata, Akupun ingin menghormatimu dengan secawan anggur ini, Niken. Harap engkau tidak keberatan untuk meminumnya. Karena ternyata minuman itu tidak merugikannya,dan secawan itu hanya sedikit saja, Niken tidak berani menolak, meneriam cawan itu dan meminumnya. Joko sendiri lalu minum dari bokor, yaitu anggur yang sudah bercampur darah ayam. Gamelan ditabuh gencar mengiringai nyanyian para pesinden. Niken mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa gembira bukan main. Tubuhnya terasa ringan seperti hendak melayang-layang dan segala sesuatu di depan dan sekelilingnya nampak indah menggembirakan. Ia merasa berbahagia dan semua wajah di situ nampak tersenyum ramah kepadanya. Tanpa disadarinya lagi, mendengar tembang yang dinyanyikan para pesinden, iapun bersenandung. Tembang itu dikenalnya dan ia sendiri memang pandai bertembang. Dari sampingnya, Joko meliriknya dan pemuda ini nampak gembira bukan main. Wiku Syiwakirana bertepuk tangan tiga kali. Bunyi gamelan berubah. Kini agak asing karena terdengar aneh bagi telinga Niken, namun harus diakui bahwa gending ini meriah dan gembira sekali, terutama kendangnya yang bertingkah genit. Dan para murid yang tadi dudyk di kedua sudut panggung, turun meninggalkan panggung. Akan tetapi duabelas pasang muda mudi yang mengenakan pakaian putih, mulai menari-nari dengan lemah gemulai dan indah! Aneh sekali terjadi pada diri Niken. Ia menonton tari-tarian itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri-seri. Baginya saat itu, tarian itu demikian indahnya, bagaikan selosin dewi sedang menari dengan selosin dewa! Dan bunyi gamelan yang asing itu begitu menghanyutkan dan seolah menyusup ke dalam seluruh tubuhnya, membuat tubuhnya bergerak-gerak sendiri menurutkan irama kendang. Melihat ini, Joko lalu menuangkan anggur dari guci kecil itu sampai tiga kali lagi dan disuguhkan kepada Niken yang meminumnya dengan gembira. Malam semakin larut dan suara gamelan ditabuh semakin gencar. Kini iramanya cepat dan tari-tarian duabelas pasang penari itu menjadi semakin cepat pula. Tanpa disadari oleh Niken, tari-tarian mereka mengarah kepada gerakan-gerakan mesum, tubuh berlenggang lenggok memikat dan pandang mata serta senyum mereka mulai genit. Sang Wiku memberi tanda dan sepasang demi sepasang dari para penari itu menunda tarian mereka untuk minum secawan anggur bercampur darah ayam. Begitu minum anggur itu, pasangan ini menari dengan mesum, berpelukan dan berciuman sambil menari! Sisa anggur itu kemudian dibagi para anggota sehingga semua anggota kebagian minum. Joko bangkit dari duduknya,menghampiri Niken dan memgang tangannya. Diajeng, mari kita menari! Ia menarik tangan Niken dan gadis ini hanya tertawa kecil, bangkit dan terhuyung-huyung akan tetapi ia mencoba untuk menari. Akan tetapi, ia mulai merasa pening, kepeninagan yang terasa nikmat dan akhirnya, karena terhuyung hampir jatuh, Joko merangkulnya dan menuntunnya masuk kedalam rumah. Wiku Syiwakirana tertawa bergelak melihat betapa puteranya telah berhasil membawa Niken masuk dan iapun melanjutkan pesta pora itu karena biasanya, setiap bulan purnama pesta itu dirayakan semalam suntuk sampai bulan tidak lagi nampak di angkasa. Sambil bertembang lirih, Niken di papah Joko ke dalam kamarnya. Ia membiarkan saja dirinya dirangkul ketat dan dibawa masuk kedalam kamar pemuda itu. Eh.......Joko.....ini di mana? Kamar indah sekali...... Ini kamarku, Niken. Biarpun kepalanya pening dan ia sudah mabuk, namun Niken masih juga mendengar bahwa ia berada di kamar pemuda itu. Kenapa di kamarmu, Joko? Aku...........aku ingin tidur, akan tetapi di kamarku sendiri.......aku.......aku mau keluar saja....... Akan tetapi Joko merangkulnya kuat-kuat. Tidurlah saja di sini, Niken. Kamar ini indah bukan? Dan aku mencintaimu, diajeng. Engkau akan menjadi isteriku.... Joko merangkul dan hendak menciumnya. Akan tetapi Niken masih dapat meronta. Ia merasa dirinya seperti dibakar dari dalam, karena sesungguhnya ia telah minum ramuan racun perangsang yang sudah dicampur kedalam tuak tadi. Ia merasa senang dalam rangkulan pemuda itu dan ada dorongan gairah dalam dirinya untuk menyerah dalam kenikmatan. Akan tetapi gemblengan batin yang selama ini diterimanya dari gurunya demikian kuatnya, membuat jiwanya meronta. Tidak.........tidak..........aku.......aku mengantuk, hendak tidur...........! Ia terhuyung. Joko menyambar lengannya dan mendorongnya sehingga gadis itu terpelanting jatuh ke atas pembaringan. Begitu rebah, Niken lalu menggumam. Ah, senang sekali dapat tidur.....nyaman sekali........Dan iapun tertidur! Sama sekali Niken tidak pernah mimpi bahwa ia telah terjatuh ke dalam cengkeraman pria yang lebih keji daripada seekor srigala kelaparan. Memang sama sekali tidak akan ada yang menyangka bahwa Joko Kolomurti yang kelihatan demikian tampan gagah dan halus, demikian ramah dan hormat, hanyalah srigala bertopeng domba. Kini dia menghampiri pembaringan, matanya seperti mencorong, mulutnya basah dan lidahnya menjilat-jilat bibir seperti seekor srigala kelaparan mencium darah daging kelinci yang lunak dan hangat. Sudah terasa dalam mulutnya betapa nikmat dan lezatnya rasa daging itu. Hampir semua orang di dunia ini tak dapat dinilai dari keadaan luarnya, karena kita semua sudah terbiasa mengenakan topeng di depan muka kita. Dan kitapun mudah sekali terkecoh oleh topeng-topeng yang menutupi wajah-wajah orang lain. Topeng yang menggambarkan keadaan wajah yang sama sekali berbeda, bahkan kadang berlawanan, dengan keadaan batin. Kehidupan manusia sudah bergelimang kepalsuan. Karena itu, tidak mengherankan kalau Niken juga tertipu oleh keadaan lahiriah Joko Kolomurti. Sebetulnya, perguruan macam apakah Durgomantra itu dan orang-orang macam apakah Sang Wiku Syiwakirana dan puteranya? Wiku Syiwakirana sejak masih muda merupakan seorang penyembah dan pemuja Sang Batari Durgo dan batara Syiwa. Dia pernah memperdalam ilmu-ilmunya ke negeri Cola dan di negeri itulah dia mulai menjadi penyembah Sang Hyang Syiwa dan isterinya, yaitu Batari Durgo. Dia bahkan mengubah namanya menjadi Wiku Syiwakirana dan menganggap dirinya sebagai titisan Batara Syiwa. Dengan sendirinya dia menganggap bahwa isterinya yang sejati adalah Batari Durgo. Karena Batari Durgo tidak atau belum ada titisannya menurut pendapatnya, maka dia membuat sebuah arca Durgo dari tembaga berlapis emas sebesar manusia dan diapun mendirikan perguruan Durgomantra untuk memuja dan menyembah Batari Durgo. Sebelum menjadi Wiku Syiwakirana, dia telah beristeri dan mempunyai seorang putera. Ketika anaknya terlahir, Wiku Syiwakirana menganggap puteranya itu putera Batari Durgo dan memberi nama Joko Kolomurtisebagai titisan Batara Kolo! Dan untuk melengkapi pemujaannya kepada Batari Durgo, dia secara diam-diam telah meracuni isterinya sendiri, ibu kandung Joko Kolomurti! Semenjak itu, dia tidak lagi beristeri, akan tetapi dia dapat mengambil gadis-gadis muda sebagai dayang atau selir sambil menanti munculnya titisan Batara Durgo untuk dijadikan isterinya. Kepada puteranya, Joko Kolomurti selalu ditekankan bahwa ibunya yang sejati adalah Btari Durgo yang patungnya disembah-sembah. Biarpun kepercayaan yang dianut itu membuat Wiku Syiwakirana seperti orang gila sehingga dia membunuh isterinya sendiri, namun dia bukanlah seorang yang lemah. Dia telah mempelajari berbagai ilmu dari negeri Cola, bahkan dia pandai pula menggunakan ilmu sihir dan racun-racun pembius sampai pembunuh.Dalam bimbingan seorang ayah tanpa ibu seperti itu, Joko Kolomurti menjadi besar dalam keadaan seperti tidak waras pula. Dia selau menganggap dirinya Sang Batara Kolo, atau titisannya . Akan tetapi karena diapun mempelajari kebudayaan yang diberikan guru-guru yang dipanggil ayahnya, dia menjadi seorang pemuda yang nampak lemah lembut dan sopan santun. Justeru keadaannya ini yang membuat dia lebih berbahaya dari ayahnya, karena pada lahirnya dia nampak sebagai seorang pendekar muda yang baik hati. Selain menguasai kebudayaan Joko Kolomurti juga mewarisi ilmu kedigdayaan dari ayahnya. Seperti telah dibuktikan dengan peristiwa tadi ketika seorang pemuda memimpin warga dusun yang menuntut dibebaskannya anak-anak mereka, terutama anak-anak gadis mereka, biarpun tidak waras, ayah dari penyembah Batara Daurgo itu ternyata cerdik sekali. Para murid itu sudah berada di bawah kekuasaan mereka. Dengan kekuatan sihir dan racun mereka itu telah menyerahkan segala-galanya kepada ayah dan anak itu. Bahkan banyak warga dusun yang kaya rela menyumbangkan harta mereka karena percaya bahwa Wiku Syiwakirana dapat menolong mereka dari kesulitan apa saja. Sang Wiku ini terkenal sebagai seorang dukun yang serba bisa dan pandai. Karena itu, hampir semua dusun di sekitar daerah itu merasa takut dan taat keppadanya. Kalau puluhan warag dusun itu berani menuntut agar anak-anak gadis mereka dibebaskan, hal itu adalah karena munculnnya seorang pemuda yang memimpin mereka. Niken Sasi bermimpi buruk sekali. Ia merasa seperti tenggelam dan hanyut ke dalam sungai yang airnya deras sekali. Ia terseret arus sungai itu dan berusah sekuat untuk menggrekkan kaki tangnnya agar tidak sampai tenggelam tiba-tiba seekor buaya menerkamnya. Niken meronta dan berusah melepaskan diri dari terkeman buaya itu namun sia-sia karena tenaganya terasa lemah. Ia membuka matanya dan mendapatkan dirinya berada dalam pelukan seorang pemuda tampan. Joko Kolomurti ! Ia merasakan sesuatu yang amat luar biasa. Entah mengapa, ia merasa senang sekali berada dalam pelukan pemuda itu. Akan tetapi, biarpun kesadarannya mengambnag dan terasa jauh dan hanya lapat-lapat saja, namun kesadaran itu masih mengingatkan ia bahwa hal ini tidaklah patut, tidaklah benar ia harus mencegah, harus menolak! Ketika merasa betapa gadis yang dipeluknya itu meronta, Joko berbisik di dekat telinga Niken. Diajeng, aku cinta padamu........,engkau adalah isteriku tersayang...... Alangkah merdunya suara dan kata-kata itu, amat menyenangkan hatinya. Akan tetapi biarpun lemah Niken membantah, Tidak.....,aku tidak mau........! Lepaskan aku......!Akan tetapi ia hanya meronta lemah dan agaknya sudah tidak ada kekuatan dan cara baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman malapetaka yang dapat menimpa diri seorang gadis. Pada saat yang gawat bagi keselamatan dara yang kehormatannya terancam itu, berkelebat bayangan orang yang tahu-tahu pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang pemuda yang berpakaian sederhana. Melihat Niken yang meronta-ronta dalam rangkulan Joko Kolomurti, pemuda itu membentak , Manusia berhati iblis! Lepaskan gadis itu! Dan sekali sambar, lengan Joko sudah dipegangnya dan ketika dia menarik, tubuh Joko tertarik dan pelukannya terlepas dari tubuh Niken. Dengan bingung Niken bangkit dengan lemah, membetulkan pakaiannya yang awut-awutan dan rambutnya yang terlepas sanggulnya dan hanya memandang kepada pemuda itu yang kini sudah berhadapan dengan Joko. Ketika Joko merasa dirinya ditarik orang sampai terlepas dari pelukannya, dia marah bukan main. Cepet dia membalik dan ketiak melihat siapa orang yang menariknya, kemarahannya meningkat, akan tetapi juga bercampur perasaan jerih ketika dia mengenal bahwa pemuda itu adalah pemuda sakti yang siang tadi memimpin warga dusun menyerbu Drgomantra. Kemarahan dan rasa takut membuat daia menjadi nekat. Tolooooooonnggg........... ! Maliinggg...... ! Dia berteriak nyaring dan cepat menghunus kerisnya dan menubruk, menyerang ke arah pemuda itu dengan dahsyatnya. Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali pemuda itu dapat menghindar ke kiri dan sekali tangannya menangkis pergelangan tangan Joko yang memegang keris, keris itupun telepas dari pegangan dan Joko mengeluh karena lengannya seperti dipukul sepotong besi. Dan pada saat itu, kaki pemuda itu sudah menyambar. Joko menangkis dengan tangannnya, akan tetapi tetap saja.Tangan dan tubuhnya menerima tendangan yang amat dahsyat, yang menyebabakan tubuh Joko terpental dan menabrak dinding lalu jatuh pingsan! Demikian hebatnya tendangan pemuda itu yang agaknya sudah marah sekali melihat perbuatan Joko tadi. Akan tetapi pada saat itu,puluhan orang anggota Durgamantra sudah tiba di luar kamar itu dan pintu ditendang dari luar. Muncullah Wiku Syiwakirana sendiri bersama puluhan orang muridnya. Matanya yang besar dan mencorong itu mengamati keadaan dalam kamar puteranya yang diterangi lampu dinding dan melihat puteranya telentang di susdut dalm keadaan pingsan, dia marah bukan main. Kemarahannya memuncak ketika dia mengenal pemuda yang berdiri di dalam kamar itu sebagai pemuda pengacau yang siang tadi memimpin warga dusun. Tangkap gadis itu dan bunuh pemuda ini! bentaknya. Para muridnya menyerbu dengan senjata di tangan. Aada yang membawa keris, adapula yang membawa golok atau tombak. Melihat ini dan mengingat bahwa dara yang ditolongnya itu masih berada dalam keadaan tidak berdaya, pemuda itu lalu menyembar Niken lalu membawanya meloncat. Tubuhnya melayang diatas kepala para penyerbu itu dan tiba di luar pintu. Ketika Wiku Syiwakirana hendak mencegahnya dengan pukulan tangan kanan yang dahsyat, pemuda itu yang kini memondong tubuh Niken dengan lengan kiri menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga dan akibatnya, Wiku Syiwakirana terpental jauh ke belakang. Semua muridnya terkejut dan tertegun, kesempatan ini dipergunakan oleh pemuda itu untuk meloncat dan menghilang dalam kegelapan malam yang diakibatkan oleh mendung yang tiba-tiba menghalangi sinar bulan purnama. Siapakah pemuda yang memiliki kesaktian hebat itu sehingga dengan mudah dia mampu mengalahkan Joko Kolomurti dan Wiku Syiwakirana? Dia adalah Budhidharma. Seperti telah diceritakan di bagian depan,setelah mempelajari ilmu-ilmu dan aji kesaktian dari gurunya, Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi, Budhi disuruh turun gunung oleh gurunya. Dia mendapat tugas untuk mencari Tilam Upih,kemudian baru dia akan mengunjungi Gunung Anjasmoro, mencari perkumpulan Gagak Seto dan menemui ketua Gagak Seto untuk menuntut penjelasan mengapa Gagak Seto membunuh ayah ibunya. Ketika melakukan perjalanan ke selatan, dengan tujuan pantai Laut Kidul untuk menyelidiki dan mencari keris pusaka Tilam Upih, tibalah dia di kaki bukit Girimanik. Dan di dusun di kaki bukit itulah dia melihat banyak orang bersedih hati dan ketika dia bertanya, mereka menceritakan bahwa anak-anak mereka, terutama gadis-gadis cantik, tidak mau pulang ke rumah dan menjadi anggota perguruan yang dianamakan Durgomantra di Girimanik.Setelah mendapat keterangan dengan jelas, Budhi lalu menghimpun para warga dusunyang memiliki anak-anak yang tidak mau pulang itu beramai-ramai mereka mengunjungi Girimanik. Dan seperti suadah diceritakan di depan di bagian depan, Budhi mengajak para warga dusun itu untuk mendatangi Durgomantra dan menuntut dikembalikannya anak-anak mereka. Akan tetapi, dengan terkejut sekali Budhi dihadapi dan dilawan Niken yang membela pihak Durgomantra! Dia amat terkejut dan heran melihat adanya seorang gadis yang demikian digdaya membela perkumpulan sesat itu. Dari sikap dan kata-kat gadis itu, maklumlah dia bahwa gadis itu telah tertipu dan menganggap perkumpulan Durgomantra sebuah perguruan yang baik. Inilah yang menyebabkan dia mengajak para warga dusun untuk mundur. Dia sendiri lalu melakukan penyelidikan karena khawatir bahwa gadis perkasa itu di bawah pengaruh pemimpin Durgomantra seperti halnya para gadis puteri warga dusun. Dan kebetulan malam itu diadakan malam pesta pemujaan Sang Bathari Durgo. Budhi mengintai dan melihat pula betapa Niken seperti orang mabok dan digandeng oleh Joko Kolomurti ke dalam rumah.Dia mendapat parasaan tidak enak, maka dengan mempergunakan kepandaiannya, dia menyelinap masuk ke dalam rumah itu dan membayangi Joko Kolomurti. Demikianlah, akhirnya dia dapat menyelamatkan Niken yang nyaris menjadi korban kekjian Joko Kolomurti. Niken mengeluh dan merintih lirih ketika Budhi melepaskannya dari pondongan dan merebahkannya di atas rumput tebal di bawah pohon besar. Ahh.........badanku panas........ahhh,mengantuk sekali dan lemas........ keluh gadis itu dengan gelisah. Budhi maklum bahwa gadis itu terpengaruh oleh minuman yang mengandung racun pembius dan mungkin perangsang, ditambah lagi pengaruh sihir yang membuat pikirannya menjadi gelap dan keasadarannya lenyap. Dia lalu duduk bersial dekat Niken, bersedekap mengerahkan tenaga batinnya untuk mengusir pengaruh sihir yang menguasai pikiran Niken. Juga dia mengerahkan kekuatan pikirannya untuk mempengaruhi Niken agar tertidur. Dia yakin bahwa pengaruh racun itu akan lenyap dengan sendirinya setelah beberapa waktu dan jalan satu-satunya yang terbaik bagi gadis itu adalah dapat tidur pulas. Usahanya berhasil. Niken dapat tidur pulas di atas rumput yang lunak. Budhi tetap duduk bersila di dekatnya sampai malam itu terlewat. Setelah matahari pagi mulai membakar ufuk timur dengan cahayanya yang kemerahan dan daun-daun pohon mulai nampak, Budhi sadar dari samadhinya. Dia mendengar suara gadis itu mengeluh, lalu membuka matanya. Gadis itu terbelalak seperti orang kaget, lalu bangkit duduk, agak menggigil kedinginan karena tubuhnya sudah basah oleh embun, kemudian ia menoleh ke kiri dan melihat Budhi duduk bersila di dekatnya. Ihhhhh.....! Ia menjerit kecil dan meloncat berdiri bagaikan disengat kalajengking, dan berdiri dalam keadaan siap. Ia mengingat-ingat dan melihat letak pakaiannya dengan khawatir. Masih lengkap, dan ia bernapas lega. Budhi juga bangkit berdiri, mamandang gadis itu dengan tenang. Kini Niken sudah sadar sepenuhnya. Ia teringat bahwa ia ikut merayakan pesta yang meriah. Lalu tidak ingat apa-apa lagi. Kenapa tahu-tahu ia berada di sini, tidur di atas rumput dan pemuda itu berada di dekatnya? Pemuda itu! Tentu saja ia teringat. Pemuda itu adalah pemuda yang memimpin warga dusun menyerbu ke Durgomantra! Dan pemuda itu yang berani dan mampu menahan pukulan aji Hasta Bajra! Tentu pemuda ini telah menculiknya dari perguruan Durgamantra selagi ia tertidur. Jahanam! Sungguh jahat engkau ! bentaknya dan karena ia maklum bahwa pemuda itu merupakan lawan tangguh serta merta ia menyerang dengan aji Hasta Bajra yang amat ampuh.Kemarahan dan sangkaan buruk membuat ia menyerang dengan dahsyat karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Budhidharma telah siap siaga. Dia memang telah menduga dan memperhitungkan sikap Niken ini yang tidak percaya kepadanya, maka begitu diserang, dia telah dapat berkelebat dan mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai tempat kosong. Sebelum Niken menyerang lagi. Budhidharma melompat ke belakang dan berseru dengan suara berwibawa, Tahan dulu! Andika terburu nafsu dan salah sangka. Aku bukanlah musuhmu, bahkan telah membebaskanmu dari cengkeraman iblis yang amat keji! Andika memang seorang dara yang gagah perkasa, akan tetapi jelas kurang pengalaman sehingga mudah saja terpengaruh oleh pimpinan Durgomantra yang menggunakan ilmu sihir dan racun! Niken menahan gerakan serangannya dan tertegun. Apa kau bilang? Engkaulah yang jahat, menghasut warga dusun untuk minta anak-anak mereka dibebaskan. Padahal, anak-anak mereka yang telah menjadi murid Durgomantra itu hidup bahagia dan mereka menjadi murid atas kehendak sendiri. Jangan kau membohongi aku! Aku sama sekali tidak berbohong.Andika agaknya belum tahu orang-orang macam apakah Wiku Syiwakirana dan puteranya yang bernama Joko Kolomurti itu! Gadis-gadis itu telah disihir dan dibius, dan andika sendiri tadipun dibius dengan minuman keras dan sihir sehingga hampir saja ternoda oleh Joko Kolomurti. Aku datang menghalangi perbuatan terkutuknya. Mereka itu pemuja Bathari Durgo dan mereka tidak pantang melakukan segala perbutan busuk. Niken mulai ragu. Pemuda ini kelihatan memang tidak jahat, akan tetapi mengapa duduk bersila di dekat ia yang sedang tidur di situ?Apa yang kaulakukan tadi? Kenapa engkau membawaku ke sini, dan apa yang terjadi denganku? Andika berada dalam pengaruh obat bius dan sihir. Terpaksa aku merampasmu dan membawamu ke tempat ini setelah melarikan diri. Aku merebahkan andika di sini dan dengan pengerahan tenaga batin aku berhasil membersihkan pengaruh sihir dari pikiran andika. Akan tetapi pengaruh racun pembius itu baru dapat lenyap setelah andika tidur. Niken mengingat-ingat dan lapat-lapat ia teringat betapa ia tidur di kamar Joko Kolomurti memeluknya dan ia merasa demikian senang dirangkul pemuda itu, akan tetapi ia metronta karena tahu bahwa hal itu tidaklah benar. Tidak berbohongkah engkau? Benarkah aku dipengaruhi sihir dan ditipu mereka? Akhirnya ia bertanya dengan ragu sambil menatap tajam wajah pemuda yang berdiri di depannya. Wajah itu demikian tampan dan gagah dan baru sekarang Niken menyadarinya. Sepasang mata itu demikian tajam mencorong penuh kekuatan. Kata-kat memang kosong dan dapat saja berbohong. Karena itu aku persilakan andika menemui warga dusun. Mereka itu adalah orang-orang dusun yang kehilangan anak mereka. Mereka tidak akan berbohong. Niken mengangguk-anggik, merasa bahwa pendapat itu memang benar. Orang-orang dusun adalah orang-orang yang sederhana, dan mereka adalah orang-orang yang kehilangan anak mereka. Mengapa mesti berbohong kalau memang anak mereka hidup bahagia diperguruan Durgomantra? Baiklah, aku mau ikut denganmu menemui para warga dusun. Akan tetapi siapakah engkau? Engkau meiliki kepandaian tinggi, mampu menandingi pukulanku. Dari perguruan mana engkau datang? Budhidharma tersenyum. Senang hatinya bahwa dara ini mulai percaya kepada kepadanya. Kalau dia ditemani seotrang gadis seperti ini, tentu dengan mudah dia akan dapat menundukkan perguruan Durgamantra. Ketika dia kemarin mengajak warga dusun mundur, adalah karena adanya gadis ini di pihak lawan. Namaku Budhidharma, bukan dari perguruan manapun. Aku datang dari Gunung Kawi dan kebetulan saja lewat daerah ini dan mendengar keluhan para warga dusun yang yang kehilangan anak mereka, maka aku lalu berusaha turun tangan membantu mereka. Dan andika sendiri, siapakah dan bagaimana dapat berada di tempat seperti itu? Namaku Niken, ia tidak memberi tahu nama lengkapnya karena khawatir dikenal orang sebagi cucu raja. Aku sedang melakukan perjalanan merantau dan kebetulan lewat di sini pula. Di sebuah dusun aku terjebak dan tertawan oleh gerombolan penjahat. Akan tetapi aku diselamatkan oleh Joko Kolomurti yang membawaku lari dari sarang gerombolan itu. Karena berterima kasih dan berhutang budi atas pertolongannya yang membebaskan aku dari bencana yang mengerikan, aku lalu memenuhi undangannya untuk berkunjung ke Girimanik. Tentu saja aku menganggap Joko sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan berbudi baik. Budhidharma mengangguk-angguk. Kini dia mengerti mengapa seorang gadis seperti Niken dapat membantu perguruan Durgomantra. Kiranya gadis ini berhutang budi kepada Joko Kolomurti! Dan dia dapat menduga apa yang terjadi. Agaknya gadis ini terancam kehormatannya ketika terjebak gerombolan penjahat dan kebetulan Joko Kolomurti melihatnya dan pemuda itu tentu saja menolong gadis secantik ini agar tidak menjadi mangsa orang lain, melainkan menjadi mangsanya sendiri! Bagaikan seekor harimau yang menolong seekor kambing dari terkaman srigala, mengusir srigala itu kemudian dia sendiri menerkam kambing yang ditolongnya! Sekarang mengertilah aku! Niken, aku tidak menyalahkanmu, dan tentu saja engkau menganggap Joko seorang pemuda yang berbudi baik dan pantas dibela. Akan tetapi, berhati-hatilah. Di dunia ini banyak sekali srigala dan harimau berkeliaran memakai kedok domba.Nanti engkau akan mengetahui sendiri orang macam apa sebenarnya pemuda itu dan ayahnya. Mereka lalu menuju kesebuah dusun dan disambut oleh warga dusun. Dari mereka inilah Niken mendengar cerita tentang sepak terjang perguruan Durgomantra. Rahasia perguruan itu, perbutan mereka yang penuh kemesuman, terbongkar ketika gadis-gadis yang tidak cantik tidak dapat diterima menjadi murid, dan ada pula gadis-gadis yang tidak dapat dipengaruhi dan berhasil meloloskan diri pulang ke dusun mereka. Mereka inilah yang menceritakan segala peristiwa yang menyeramkan yang terjadi di Girimanik. Betapa murid-murid wanita diberi minuman dan menjadi liar, kemudia mereka ini harus melayani Wiku Syiwakirana dan Joko Kolomurti sebagai dayang yang bukan lain hanya dijadikan pemuas nafsu biadab mereka. Betapa pesta pemujaan Bathari Durgo itu pada hakekatnya adalah pesta yang penuh kecabulan, di mana para murid pria dan wanita yang sudah minum anggur darah menjadi hamba-hamba nafsu yang mabok dalam kemesuman. Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngerinya hati Niken mendngar keterangan ini. Bahkan ia masih agak ragu dan tidak percaya sepenuhnya mengingat betapa Joko Kolomurti sudah menolongnya dan bersikap baik dan sopan. Akan tetapi iapun mengerti bahwa agaknya tidak mungkin para warga tani ini berbohong. Kalau memang perguruan Durgomantra merupakan tempat yang baik bagi anak-anak merek, membuat anak-anak mereka hidup berbahagia, untuk apa mereka itu merasa penasaran dan menghendaki kembalinya anak-anak mereka? Mari,sekarang juga kita datangi mereka! Akhirnya dia berkata penuh semangat. Kalau benar seperti apa yang kalian ceritakan, aku akan menghancurkanDurgomantra! Sekitar limapuluh orang warga dusun itu berbondong-bondong mengikuti Niken dan Budhi mendaki bukit Girimanik. Hari masih pagi sekali, udara masih amat dingin dan Girimanik masih diliputi kabut. Karena hatinya dipenuhi rasa penasaran dan ingin cepat-cepat membuktikan sendiri kebenaran cerita warga dusun, Niken berlari cepat dan hanya Budhi saja yang mampu mendampinginya. Warga dusun itu tertinggal jauh. Setelah tidak berhasil menangkap Budhi yang melarikan Niken, para anggota Durgomantra terpaksa kembali dan melanjutkan pesta pora mereka. Mereka sudah mabok nafsu, dan mabok minuman yang membuat mereka lupa diri sehingga pagi itu masih banyak di antara mereka yang belum sadar. Ketika tiba di pintu gerbang perkampungan Durgomantra, Niken dan Budhi melihat bahwa tidak ada seorangpun penjaga yang di situ dan suasananya sunyi sekali, seolah perkampungan itu telah ditinggalkan para penghuninya. Akan tetapi panggung yang didirikan di depan rumah indul itu masih ada dan lampu-lampu gantung masih belum dipadamkan karena kabut membuat cuaca di situ masih gelap remang-remang. Niken masih teringat akan semua yang dialami sebelum ia kehilangan kesadarannya. Panggung inilah yang dijadikan tempat pesta pemujaan patung Bathari Durgo. Akan tetapi sekarang patung itu sudah tidak nampak. Juga Wiku Syiwakirana dan puteranya, Joko Kolomurti sudah tidak berada di panggung itu membuat Niken membuang muka dan bulu tengkuknya meremang. Ngeri rasa hatinya melihat pra murid Durgomantra yang bergelimpangan di situ. Laki-Laki dan perempuan capur aduk tidur malang melintang dengan busana yang tidak karuan, banyak yang hampir telanjang. Ada pula yang masih berpelukan. Pendeknya, jelas nampak bekas-bekas tempat pesta pora penuh kemesuman di panggung itu. Melihat keadaan Niken, Budhi bertanya, Andika sudah percaya sekarang, Niken? Niken yang wajahnya berubah merah sekali mengangguk. Sungguh aku tidak mengira sama sekali, Budhi. Mari kita cari wiku jahanam itu! Mereka lalu meloncat memasuki rumah dan Niken yang sudah tahu di mana kamar sang wiku, lalu langsung menuju ke sana. Daun pintu kamar itu masih tertutup dan sekali doring dengan kedua tangannya, daun pintu itu jebol dan mengelurkan suara keras. Dan apa yang dilihatnya di sebelah dalam kamar itu membuat Niken mundur kembali dengan wajah tersipu dan membuang muka. Sang Wiku Syiwakirana rebah dirubung tujuh orang gadis cantik seperti seekor jangkrik dikerumuni semut-semut! Wiku Syiwakirana yang sudah sadar itu juga kaget bukan main melihat pintu jebol. Apalagi melihat munculnya Niken di depan pintu bersama seorang pemuda yang dikenalnya sebagai pemuda pengacau yang menghasut warga dusun. Dia segera melompat sambil membulkan letak pakaiannya, lalu menyambar sebatang tombak yang berada di sudut kamar. Tombak itu mengeluarkan sinar dan ujungnya menghitam tanda bahwa senjata itu mengendung racun. Para wanita yang tadinya mengerumuni Wiku Syiwakirana dan melayaninya, menjadi ketakutan dan berkumpul di sudut kamar sambil berjongkok dan tubuh mereka menggigil. Wiku jahanam! Niken membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka ketua Durgomantra itu. Kiranya benar kata para warga dusun. Engkau seorang yang hina dan busuk! Wiku Syiwakirana yang maklum bahwa kedatangan gadis itu tentu tidak membawa niat baik terhadap dirinya, tidak banyak cakap lagi dan dia sudah menggerakkan tombaknya, menyerang dengan dahsyat dan ganasnya. Tombak yang mengandung racun mematikan itu meluncur cepat ke arah dada Niken. Gadis perkasa ini maklum bahwa lawannya bukan seorang lemah dan serangan itu merupakan serangan maut. Ia sudah menggerakkan tubuhnya mengelak ke kiri dan tombak itu meluncur lewat, ia cepat memutar lengan kanannya untuk menangkis gagang tombak sambil mengerahkan tenaga Hasta Bajra! Wuuuuutttt.......! Wiku Syiwakirana terkejut, merasakan sambaran angin tangkisan lengan itu, dan dia segera menarik kembali tombaknya dan sekali tombak itu meluncur, kini tombak sudah menyerang lagi ke arah perut Niken! Kini Niken melompat ke luar kamar karena kamar itu tidak cukup luas baginya untuk melawan Wiku Syiwakirana yang bersenjata tombak berganggang panjang. Kesempatan itu dipergunakan Wiku Syiowakirana untuk melompat kesebelah kiri kamar dan tiba-tiba dia lenyap dari dalam itu. Niken terkejut, tak disangkanya ketua Durgomantra itu menggunakan pintu rahasia untuk melarikan diri. Ketika ia hendak memasuki kamar itu kembali, ia mendengar seruan Budhi di belakangnya. Niken, awas senjata gelap! Akan tetapi Niken cukup waspada. Ia dapat mendengar suara desiran angin pisau-pisau yang meluncur dari dalam kamar ke arahnya itu. Kiranya, tujuh orang gadis dayang atau murid Durgomantra yang tadi melayani sang ketua, telah menggunakan pisau-pisau belati untuk menyerangnya. Dengan berani Niken lalu menggerakkan kedua tangannya dan ia sudah menangkis dan menampari tujuh buah pisau itu sehingga runtuh di atas lantai. Ia tidak lagi memperdulikan tujuh orang gadis yang ia tahu telah terpengaruh sihir ketua Durgomantra dan berlari menuju ke kamar Joko Kolomurti. Niken, hati-hati..... ! Dari belakangnya Budhi memperingatkannya. Seperti juga tadi, Niken mendobrak pintu kamar Joko Kolomurti. Dan tidak ada bedanya dengan keadaan dalam kamar Wiku Syiwakirana, ia melihat Joko Kolomurti yang dianggpnya seorang pemuda yang baik dan bijaksana itu dikerumuni lima orang gadis murid perguruan Durgomantra. Joko Kolomurti terkejut bukan main ketika daun pintu kamarnya roboh dan melihat bahwa yang muncul adalah Niken, dia menjadi ketakutan. Dengan pakaian awut-awutan diapun melompat dan menerjang keluar pintu yang sudah jebol itu. Dia sudah memegang sulingnya dan memutar suling itu untuk menyerang siapa saja yang yang berani menghalangi larinya. Jahanam busuk! Niken yang sudah marah itu tentu saja tidak mau membiarkan Joko lari dan ia sudah manyambut dengan tamparan tangan kirinya. Joko menangkis dengan sulingnya. Krakk! Suling itu pecah ketika bertemu dengan tangan Niken dan Joko Kolomurti terhuyung ke samping di mana berdiri Budhi. Melihat Budhi, Joko marah bukan main karena dia menganggap pemuda ini yang menggagalkan segala-galanya. Secepat kilat dia mencabut kerisnya dan menubruk ke arah Budhi dengan tikaman maut! Namun, dengan tenang saja Budhi mengelak ke samping dan ketika tubrukan itu luput, kakinya mencuat dan sebuah tendangan mengenai dada Joko Kolomurti, membuat pemuda itu terjengkang. Akan tetapi pada saat itu terdengar Niken berseru, Budhi, jangan bunuh dia! Budhi memutar tubuhnya menghadapi Niken dan memandang heran, sedangkan Joko Kolomurti bergerak untuk bangkit berdiri. Agaknya dia sudah putus asa dan jerih, maklum bahwa dia tidak akan mampu menadingi kedua orang lawan itu, dan berdiri menyeringai kesakitan. Joko Kolomurti, jahanam busuk! Mengingat engkau pernah menolongku satu kali, aku mengampunimu untuk sekali ini. Akan tetapi lain kali kalau aku bertemu dengan engkau dan melihat engkau masih berbuat kejahatan, aku akan membunuhmu! Pergilah! bentak Niken. Joko Kolomurti cepat melompat dan melarikan diri. Melihat ini, diam-diam Budhi merasa kagum. Sikap Niken itu menunjukkan bahwa gadis itu adalah seorang yang mengenal budi Pada saat itu terdengar suara gaduh dan ternyata para warga dusun sudah diserang oleh para murid Durgomantra yang dipimpin oleh Wiku Syiwakirana sendiri! Budhi, kau bantulah warga dusun biar wiku jahanam itu aku yang menghadapi! kata Niken yang cepat berkelebat ke arah pertempuran. Budhi percaya bahwa dara itu akan mampu manandingi sang wiku. Dia lari ke arah pertempuran dan melihat betapa ada bebrapa warga dusun yang sudah roboh oleh amukan para pemuda dan gadis murid perguruan Durgomantra yang mengamuk seperti kesetanan itu. Dia lalu menggunakan kecepatan gerakannya berkelebat ke sana sini dan setiap kali menampar, tentu ada seorang lawan yang roboh. Sepak terjangnya itu mengacaukan pihak lawan dan kesempatan itu dipergunakan Budhidarma untuk berseru agar para warga dusun berlindung ke belakangnya. Setelah para warga dusun itu berdiri di belakangnya. Budhi lalu melompat ke atas panggung dan berseru kepada para murid Durgomantra yang masih kelihatan penasaran dan hendak menyerang lagi. Kalian semua dengarlah! Kalian murid-murid Durgomantra telah dibawa ke jalan sesat oleh Wiku Syowakirana! Kalian telah ditekan oleh kekuatan sihir! Kalian dimabokkan oleh minuman beracun! Ingat, diantara para warga dusun ini terdapat ayahmu sendiri! Sudah benarkah seorang anak melawan ayahnya sendiri! Sadarlah, kalian telah dibawa ke jalan sesat! Setelah berkata demikian, Budhi lalu mengeluarkan teriakan melengking panjang.Semua orang terkejut mendengar pekik yang melengking-lengking ini. Akan tetapi akibatnya amat hebat. Di antara puluhan orang murid Durgomantra itu, yang tadiinya terpengaruh sihir, mendadak seperi orang disiram air dingin yang membuat mereka sadar! Itulah pekik yang mengendung aji Naga Kroda (Naga Marah). Pekik yang mengandung kekuatan sakti dan mamapu menghancurkan pengaruh sihir. Mereka yang terlepas dari pengaruh sihir itu segera membuang senjata mereka dan berlarian menghampiri orang tua masing-masing. Terjadilah adegan yang mengharukan ketika para pemuda dan gadis yang telah sadar itu merangkul ayah masing-masing dengan tangis. Akan tetapi di antara mereka terdapat duapuluh orang lebih murid bawaan Wiku Syiwakirana, dan mereka ini memang orang-orang yang sudah memiliki watak yang buruk dan sesat seperti guru mereka. Mereka tidak lagi dipengaruhi sihir melainkan membantu guru mereka dengan suka rela karena mereka setuju dan cocok sekali dengan jalan hidup yang ditempuh gurunya. Mereka inilah yang menjadi marah dan dengan nekat mereka maju untuk menyerang Budhi. Melihat ini, Budhi melayang turun dari panggung dan menghadapi mereka dengan tamparan danntendangan yang tidak mematikan, namun cukup terasa untuk membuat mereka berpelantingan. Sementara itu, Wiku Syiwakirana sudah berhadapan dengan Niken. Ketika pintu kamarnya diterjang Niken, dia merasa jerih dan melarikan diri, akan tetapi itu hanya untuk mengumpulkan anak buahnya melakukan pengeroyokan. Betapapun tangguhnya gadis dan pamuda itu, kalau dia maju mengeroyok bersama putera dan para muridnya, tentu mereka berdua akan mampu ditundukkan. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka ketika dia mendengar Budhi menggunakan aji teriakan melengking yang membuyarkan kekuatan sihirnya. Maklumlah dia bahwa dia menghadapi seorang pemuda yang sakti mandraguna.Setelah sebagian besar muridnya kini tidak lagi mau membelanya dan sudah kembali kepada orang tua masing-masing, dia menjadi jerih dan dia sudah meloncat untuk melarikan diri! Akan tetapi, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Niken telah berdiri didepannya dengan senyum mengejek. Wiku jahanam, dukun lepus! Engkau hendak lari ke mana? bentak gadis itu denga marah, tangan kiri betolak pinggang, tangan kanan meraba gagang keris Megantoro, mulutnya tersenyum mengejek dan pandang matanya mencorong menyeramkan hati Wiku Syiwakirana. Karena tidak melihat jalan untuk melarikan diri lagi, ketua perguruan Durgomantra itu mejadi nekat dan marah. Bocah setan! Aku akan membunuhmu! bentaknya dan tombak di tangannya sudah meluncur ketika dia menyerang dengan hebatnya. Akan tetapi Niken sudah siap siaga. Sekali tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut keris pusaka Megantoro dan ia miringkan tubuhnya sambil meliuk ke kanan, kemudian ketika tombak lewat di sisi tubuhnya, ia menggerakkan kaki kanan ke depan disusul kerisnya menghujam ke arah lambung kiri Wiku Syiwakirana. Akan tetapi kakek itupun memiliki gerakan yang gesit. Dia sudah menarik tombaknya dan menggunakan gagang tombak yang diputar untuk melindungi lambungnya. Traggg........! Keris itu tertangkis gagang tombak yang diputar sedemikian rupa sehingga tombak itu kembali menyambar, sekali ini menyerampang ke dua kai Niken. Gadis inipun tidak menjadi gugup. Ia memang memiliki garakan yang lincah dan ringan sekali. Ketika tombak menyerampang kedua kakinya, ia meloncat ke atas sehingga tombak menyambar bawah kakinya dan dengan tubuhmelompat ke atas itu, Niken dapat menggerakkan kaki kiri langsung menendang dari udara yang menyambar ke arah leher lawan! Ahhhh.......! Wiku Syiwakirana terkejut dan terpaksa melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan leher dan dagunya disambar kaki kecil mungil namun kuat sekali itu. Dia terpaksa berjungkir balik dan pada saat tubuh Niken sudah turun, tombaknya sudah meluncur lagi menusuk ke arah perut Niken. Ketika gadis itu mengelak, tombaknya menusuk lagi ke arah dada. Trang-trang-tranggg......! Tiga kali Niken menangkis tusukan-tusukan yang datangnya bertubi-tubi itu. Akan tetapi kali ini agaknya Wiku Syiwakirana sudah mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan jurus Tomara Sewu ( Seribu Tombak) sehingga serangannya itu sambung menyambung dan susul menyusul. Tentu saja menghadapi hujan serangan tombak yang panjang itu. Niken yang hanya mempergunakan senjata keris menjadi kewalahan. Terpaksa ia melompat ke belakang,agak jauh tidak terjangkau tombak lawan lalu diam-diam mengerahkan aji Hasta Bajra ke dalam kedua lenganny. Cepat ia menyarungkan kerisnya dab ketika lawan menghambur maju lagi untuk mengirim serangkaian serangan, Niken memukul ke depan dengan dua tangan terbuka mendorong disertai aji Hasta Bajra sambil berteriak nyaring. Haiiiiiiiittt............... ! Dessss.......! Angin yang amat kuat menyambar dan tubuh Wiku Syiwakirana tidak kuat lagi bertahan, jatuh terjengkang dan bergulingan. Dia merasakan dadanya sesak dan sukar bernapas dan pada saat itu, sekali loncat Niken sudah berada dekat dengannya dan gadis itu menyambar tombak yang terlepas dari tangan pemiliknya. Melihat ini, Wiku Syiwakirana menjadi jerih dan diapun bangkit dan lari menuju ke rumah besar yang menjadi tempat tinggalnya. Hendak lari ke mana kau? Niken membentak, tangan kanannya bergerak dan tombak rampasan itu meluncur bagaikan anak panah cepatnya, tak terhindarkan lagi mengenai punggung Wiku Syiwakirana sampai tembus ke dadanya! Akan tetapi tubuh kakek itu masih berlari terhuyung memasuki rumah itu dan baru dia jatuh setelah tiba di ruangan dalam,jatuh menelungkup akan tetapi dadanya tidak sampai menyentuh lantai karena terhalang tombak yang tembus dadanya itu. Tewaslah dia seketika. Melihat ketua mereka tertembus tombak, sisa anak buah perguruan Durgomantra menjadi ketakutan dan mereka melempar senjata lalu melarikan diri cerai berai. Mereka yang sudah terlukapun berusaha sedapat mungkin untuk melarikan diri. Budhi dan Niken tidak melakukan pengejaran terhadap mereka. Setelah semua anak buah Durgomantra melarikan diri, Budhi dan Niken saling pandang. Pemuda itu ingin sekali melihat bagaimana sepak terjang gadis perkasa ini selanjutnya, maka iapun bertanya, Niken, apa yang akan andika lakukan sekarang? Niken berpikir sejenak, kemudian menjawab tanpa ragu lagi, Tempat maksiat dan terkutuk ini harus dibasmi habis, dibumi-hangiskan. Barang-barang berharga yang berada di dalamnya dibagi-bagikan kepada [para warga dusun yng telah bersatu kembali dengan anak-anak mereka, selain untuk menebus kerugian mereka lair batin, juga agar taraf kehidupan mereka meningkat. Bagaimana pendapatmu, Budhi? Apakah engkau memiliki rencana lain? Budhi tersenyum dan mengangguk. Sebuah pikiran yang amat bagus dan benar, Niken. Akan tetapi patung itu harus dibakar agar tidak dipuja kembali oleh siapapun, karena pemujaan itulah sumber kemaksiatan ini. Niken setuju dan ia sendiri lalu mengukur pembagian barang-barang berharga yang dikeluarkan dari rumah besar itu kepada para warga dusun dan anak mereka. Kemudian, beramai-ramai mereka membakar rumah besar itu. Patung Bathari Durgo dan jenazah Wiku Syiwakirana ikut terbakar. Ketika warga dusun yang kegirangan itu membawa pulang anak-anak mereka dan barang-barang bagian mereka, Budhi dan Niken telah pergi jauh menurunibukit Girimanik. Mereka mempergunakan ilmu berlari cepat menuruni bukit itu dan agaknya Niken sengaja hendak menguji kepandaian Budhi maka iapun berlari seperti terbang cepatnya. Akan tetapi, Budhi dapat selalu mengimbangi kecepatan larinya sehingga diam-diam Niken merasa kagum juga. Jelas bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan Joko Kolomurti. Hatinya tertarik, kan tetapi pengalamannya dengan Joko masih menggores kalbunya, membuat ia tidak mudah percaya begitu saja kepada laki-laki yang kelihatan tampan dan gagah. Mereka berdua yang berlari cepat itu sudah tiba di kaki bukit dan Niken berhenti berlari. Lehernya agak basah oleh keringat, akan tetapi ketika ia memandang kepada Budhi, ternyata pemuda ini sama sekali tidak berkerigat dan pernapasannya biasa saja, tidak seperti ia yang agak terengah. Budhi, kenapa engkau mengikuti aku? tanya Niken dengan suara mengandung kecurigaan. Setelah pengalamannya dengan Joko Kolomurti, ia tidak dapat percaya kepada Budhi begitu saja. Di todong pertanyaan yangtidak disangkanya itu, Budhi tertegun. Eh, kenapa? Aku...........tidak mengikutimu,Niken. jawab Budhi agak gugup. Hemm, kalau tidak mengikuti mengapa engkau mendampingiku ketika aku lari meninggalkan Girimanik? Mau apa sebetulnya engkau ini? Katakan saja terus terang! Wajah Budhi menjadi agak kemerahan, akan tetapi hatinya merasa penasaran sekali. Niken, kau sangka aku ini mau apa? Kita sudah bekerja sama menetang perguruan sesat Durgomantra, setelah berhasil dan selesai kita turun bukit berdua. Apa salahnya itu? Agaknya engkau tidak percaya dan curiga kepadaku! Setelah apa yang kualami di Durgomantra, aku tidak dapat mempercayai semua pria dan tidak akan terkecoh lagi oleh penampilan yang baik. Bagus! Memang seharusnya demikian, Niken. Andika seorang wanita muda yang melakukan perjalanan seorang diri. Kalau tidak berhati-hati menjaga diri, dapat dihadapi banyak bahaya. Memang sudah sepantasnya andika mencurigai dan tidak percaya kepadaku, karena kita baru saja saling jumpa dan berkenalan. Akan tetapi sungguh aku tidak bermaksud untuk mengikutimu. Memang perjalananku menuju ke selatan maka aku menuruni lereng bagian selatan ini. Niken memandang tajam penuh selidik. Pemuda ini seorang yang digdaya, datang dari Gunung Kawi dan menuju ke selatan! Ke mana lagi tujuan perjalanan nya kalau bkan ke Lautan Kidul, apa lagi yang dicarinya kalau bukan keris pusaka Tilam Upih? Hemmm,engkau mencari Tilam Upih? tanyanya dan matanya yang bening itu bersianar tajam menembus seperti hendak menjenguk isi hati dada Budhi. Budhi terkejut, akan tetapi wajahnya tidak menampakkan perubahan apapun. Pemuda ini memang sudah memiliki batin yang kuat sekali sehingga dia dapat mengendalikan perasaannya. Dia hanya tersenyum memandang wajah dara itu. Bagaimana engkau dapat mengetahuinya? Karena engkau pernah menolongku, aku mau memberi tahu kepadamu, Budhi. Tidak perlu kau cari ke mana-mana. Tilam Upih sudah berada di tangan Adipati Surodiro di Nusa Kambangan dan kabarnya Surodiro hendak mengadakan sayembara. Siapa yang mampu mengalahkannya, dialah yang berhak memiliki Tilam Upih.Nah,engkau boleh mencari kesana dan selamat tinggal! Tanpa menanti jawaban Niken lalu meloncat jauh ke depan dan lari dengan kecepatan terbang. Budhi mengikuti bayangan dara itu dengan pandang matanya dan dia menghela napas panjang beberapa kali. Seorang dara yang bukan main, pikirnya. Dia harus mengakui bahwa hatinya amat tertarik kepada Niken. Tertarik penuh kekaguman terhadap dara itu. Cantik jelita, gagah perkasa, berani dan baik budi, walaupun terkadang dapat bersikap galak seperti seekor harimau betina.Dia menghela napas beberapa kali lalu melanjutkan perjalanannya. Tilam Upih berada di Nusa Kambangan? Dia percaya bahwa Niken tidak berbohong, maka dipun menujukan langkahnya ke barat karena dia akan berkunjung ke Nusa Kambangan! Sepasang orang muda yang melangkah perlahan menyusup-nyusup hutan itu sungguh merupakan pasangan yang serasi sekali. Yang wanita seorang dara berusia kurang lebih tujubelas tahun,bertubuh ramping padat berkulit putih kuning. Dari pakaiannya dapat diduga bahwa ia seorabf dara berdarah bangsawan atau setidaknya hartawan dengan pakaian sutera halus dan perhiasan emas menghias tubuhnya. Wajahnya cantik manis dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup. Bibirnya yang merah basah itui kadang cemberut manja. Rambutnya hitam subur dan panjang sekali, dikelabang dan disanggul sederhana menggantung di tengkuk dan diikat kain sutera. Di pinggangnya terselip sebatang keris dan tangan kirinya memegang sebatang gendawa, tangan kanan memegang anak panah. Seorang dara yang cantik dan gagah sekali. Pemuda itupun mengagumkan. Seorang pemuda berusia duapuluh tahun, wajahnya tampan dan gagah perkasa seperti Raden Gatutkaca. Juga pemudaini menggunakan pakaian yang indah, tidak seperti pemuda dusun.Di pinggangnya tergantung sebatang golok dan tangannya juga memegang busur dan anak panah. Dari sikap dan senjata mereka dapat diduga bahwa kedua orang muda ini sedang berburu binatang hutan. Wulan, kenapa hari ini sepi sekali tidak ada binatang buruan....... ? Ssttt......! Dara itu memberi isyarat agar pemuda itu diam dan ia sudah memasang anak panah pada busurnya, lalu berindap menuju ke kiri menyusup di antara semak belukar. Pemuda itu mengikuti dari belakang, lambat dan hati-hati agar kakinya tidak menimbulkan suara gaduh. Diapun melihat gerakan jauh di depan, agaknya ada seekor kijang yang sedang diintai dan diburu gadis itu, kemudian gadis itu melepas anak panah. Kena......! Wah, dia lari.......! Gadis itu lalu meloncat dan lari mengejar. Pemuda itupun mengejar dan melihat gadis itu memasuki daerah hutan yang lebat dan gelap, dia berteriak dari belakang, Wulan! Jangan memasuki hutan itu! Berbahaya........ Akan tetapi dara yang sudah melihat kijang buruannya berlari terhuyung itu tidak memperdulikan teriakan pemuda itu dan terus mengejar. Terpaksa pemuda itupun ikut pula mengejar dengan hati-hati dan waspada. Tiba-tiba dia melihat seekor ular besar bergantung kepada dahan sebatang pohon dengan kepala di bawah. Itulah sikap ular yang kelaparan dan menanti lewatnya calon mangsanya. Dan ular itu besar bukan main, sebesar pahanya! Wulan, berhenti.......!! teriak pemuda itu. Namun gadis itu yang seluruh perhatiannya tertuju kepada kijang yang sudah terluka, tidak tahu bahwa di atasnya ada bahaya mengencam dan ia terus berlari ke bawah pohon besar itu. Wulan, awas.......! Ah, celaka.........! pemuda itu berteriak namun terlambat. Ular itu sudah menjatuhkan dirinya, tepat di atas gadis yang sedang berlari itu. Gadis itu terkejut bukan main, hendak meloncat, akan tetapi tubuhnya sudah terbelit ular. Ia meronta, namun belitan itu amat kuat dan ia merasa dirinya tercekik,dadanya terhimpit sampai sukar bernapas. Ketika melihat kepala ular itu dekat dengan mukanya dengan lidah keluar,masuk, ia memandang dengan mata terbelalak dan merasa ngeri. Namun gadis itu ternyata memiliki ketabahan yang luar biasa. Busur di tangannya sudah terhimpit. Akan tetapi dengan pengerahan tenaganya, ia mampu menarik kedua lengannya sehingga lepas dari libatan dan kini ia mengguankan kedua tangannya yang terkepal untuk menghantam ke arah kepala ular! Agaknya pukulan kedua tangan gadis itu cukup keras dan menyakitkan. Ular itu menggerak-gerakkan kepalanya, agaknya merasa jerih juga kalau kena pukulan lagi dan moncongnya siap untuk menggigit. Sementaraitu, pemuda itu sudah melompat dekat dan dia sudah memegang goloknya dan berkilauan saking tajamnya. Wulan, tangkap lehernya! Cepat! teriaknya. Wulan menyadari bahwa sekali ia terkena gigitan, akan sukar untuk dapat meloloskan diri,maka ia menerkam dengan kedua tangannya. Jari-jari tangannya yang mungil itu mencengkeram leher ular itu dengan kuatnya. Ular itu meronta dan lehernya yang sebesar betis itu terasa keras sekali, keras dan licin sehingga betapapun kuat gadis itu mencengkeramnya, namun tetap saja ia hampir tidak mampu bertahan dengan cengkeramannya. Pada saat itu, pemuda tadi sudah mendekat, tangan kirinya membantu gadis itu mencengkeram leher dan tangan kanan membacokkan goloknya ke arah kepala ular itu berulang kali. Darah bercucuran, ular mengegliat dan libatannya hampir meremukkan tulang-tulang iga gadis itu, akan tetapi setelah gadis itu, akan tetapi setelah gadis itu terkulai lemas dan pingsan.Libatan itu mengendur dan ular itupun mengeliat sekarat dengan kepala hancur. Pemuda itu cepat memondong tubuh gadis yang setengah pingsan itu keluar dari libatan tubuh ular, mambawanya ke bawah pohon menjauhi tempat itu dan merangkulnya. Perlahan dia mengguncang tubuh itu untuk menyadarkannya dan memanggil-manggil. Wulan........,Wulansari......! Sadarlah....., engkau tidak apa-apa, bukan? Dia merasa khawatir sekali. Akhirnya gadis itu mengeluh dan membuka matanya. Ketika melihat dirinya duduk di atas pangkuan pemuda itu dan tubuhnya dirangkul, ia membelalakkan mata dan meloncat berdiri. Kakang Wijaya! Kenapa engkau memangku dan memeluk diriku? Dalam suaranya terkandung teguran marah. Pemuda itu nampak gugup. Ah, aku .......aku khawatir sekali melihat keadaanmu, Wulan. Aku berusaha menyadarkanmu dan aku...... Sudahlah! Lain kali aku minta agar engkau tidak melakukan kelancangan seperti itu! Maafkan aku, Wulan. Sudahlah, lupakan saja. Mana ular tadi? Wulan melihat ular itu di bawah pohon sana, lalu menghampiri. Melihat ular yang perutnya sebesar pinggangnya itu dan pasti ular sebesar itu akan mampu menelan dirinya, ia bergidik. Mengerikan sekali! katanya. Hutan gelap ini memang merupakan tempat yang berbahaya sekali, penuh binatang liar yang besar dan banyak pula ular berbisa, Wulan. Karena itu, sudahlahjangan kejar kijang yang terluka tadi dan mari kita keluar dari siani. kata Wijaya sambil mengembilkan busur dan anak panah gadis itu yang tadi terlepas. Wulansari tidak membantah lagi dan merekapun keluar dari hutan itu. Siapakah sepasang orang muda perkasa ini ? Wulansari adalah puteri dan anak tunggal dari Adipati Surodiro yang menguasai Pulau Nusa Kambangan, Pulau itu memang memiliki banyak hutan liar.Tidak jarang Wulansari melakukan perburuan binatang hutan ditemani Wijaya yng menjadi murid ayahnya. Wijaya telah diambil murid oleh Adipati Surodiro sejak sang adipati belum menjadi penguasa di pulau itu. Ketika itu Adipati Surodiro masih beranama Koloyitmo, seorang datuk di daerah Laut Kidul. Dia mengambil Wijaya sebagai murid ketika anak itu baru berusia enam tahun, ditnggal mati ayah bundanya. Anak yatim piatu itu boleh dibilang juga menjadi semacam anak angkatnya, juga murid karena dia mengajarkan semua ilmunya kepada Wijaya. Sang adipati menyayangi murid ini seperti puteranya sendiri. Hal ini adalah karena dia tidak mempunyai putera lain kecuali Wulansari. Akan tetapi setelah mereka dewasa, Adipati Surodiro mempunyai keinginan untuk mejodohkan muridnya itu dengan puterinya. Wijaya merupakan seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah, dan dia dapat menduga dari sikap pemuda itu bahwa muridnya itu jatuh cinta kepada Wulansari. Akan tetapi diapun maklum sepenuhnya bahwa Wulansari agaknya tidak mencintai Wijaya, hanya menyayang sebagai seorang kakak seperguruan dan sepermainan. Karena itulah maka Adipati Surodiro masih sangsi dan ragu. Adipati Surodiro yang dulu bernama Koloyitmo adalah seorang bekasdatuk yangsakti mandraguna. Ketika belum lama dia mengangkat diri menjadi Adipati Nusa Kambangan setelah menundukkan semua kepala gerombolan di pulau itu, pada suatu hari dia menemukan keris pusaka Tilam Upih. Peristiwa penemuan itu sendiri amat luar biasa. Pada suatu hari, Adipati Surodiro yang mempunyai kesukaan mengail ikan besar di selat Nusakambangan, mengail di atas perahunya. Dia sengaja mencari ikan besar, maka diapun mempergunakan umpangading yang msih segar dan besar. Umpannya itu disambar seekor ikan hiu yang besar. Terjadi pergulatan berjam-jam lamanya antara Adipati Surodiro yang memegang tangkai pancing dan ikan itu yang meronta-ronta dan menarik perahunya sampai jauh. Akan tetapi akhirnya adipati yang gagah ini berhasil membunuh ikan hiu itu dan membawanya pulang. Dia melihat keanehan pada ikan itu.Ada sesuatu yang mencorong menembus perutnya. Maka dia lalu membelah perut ikan itu dan dia menemukan sebilah keris di dalam perut ikan. Keris itu bukan lain adalah benda pusaka Tilam Upih. Dengan didapatkannya keris pusaka yangampuhnya menggiriskan itu Adipati Surodiro bagaikan harimau tumbuh sayap. Dia tidak terkalahkan dan kekuasaannya semakin meluas sampai kepesisir selatan. Akan tetapi dia merahasiakan adanya pusaka itu padanya karena dia maklum bahwa pusaka itu milik raja-raja di kediri dan kalau terdengar raja Kediri bahwa Tilam Upih ada padanya, tentu dia akan ditekan untuk menyerahkannya.Bertahun-tahun rahasia itu terpendam, bahkan puterinya dan muridnya sendiripun tidak mengetahuinya. Ketika tersiar kabar tentang ramalan Sang Prabu Jayabaya bahwa Tilam Upih akan muncul dari Lautan Kidul, Adipati Surodiro menjadi terkejut sekali. Apalagi dia mendengar dari para penyelidiknya bahwa telah banyak berdatangan orang-orang gagah yang hendak mencari keris pusaka Tilam Upih. Dia khawatir sekali kalau-kalau Pulau Nusakambangan menjadi ajang pertandingan karena perebutan pusaka itu dan karena mereka itu adalah orang-orang gagah perkasa dari segenap penjuru, dia khawatir kalau hal itu akan mengacaukan wilayahnya dan membahayakan kedudukannya. Oleh karena itu dia lalu mengumumkan sebuah sayembara. Diumumkannya bahwa dialah yang telah menemukan keris pusaka Tilam Upih ,dan dia hendak mengadakan sayembara, dimulai bulan depan bahwa barang siapa dapat mengalahkan dia dalam sebuah pertandingan adu kesaktian, pemenang itulah yang berhak mendapatkan Tilam Upih. Sebetulnya dengan mengadakan sayembara ini, Adipati Surodiro mempunyai dua tujuan. Pertama, untuk menjaga agar Nusa Kambangan tidak dijadikantempat perebutan pusaka itu sehingga melemahkan kedudukannya, juga agar dia tidak dimusuhi oleh Sang Prabu Jayabaya sebagai orang yang memiliki pusaka kerajaan Kediri itu. Tentu akan muncul pemuda-pemuda digdaya dalam sayembara itu, dan siapa tahu, di antara para pemuda itu ada yang akan menarik hati puterinya. Demikian keadaan Adipati Surodiro. Pada hari itu, Wulansari dan Wijaya pergi berburu dan hampir saja gadis itu mengalami kecelakaan di makan ular besar. Menjelang senja, kedua oang muda itu baru kembali ke kadipaten, membawa dua ekor kelinci dan seekor kijang. Dua ekor kelinci itu dibawa oleh Wulansari, sedangkan bangkai kijang itu dipanggul Wijaya. Mereka sengaja melalui hutan di dekat pantai, karena walaupun dengan demikian mereka mengambil jalan memutar yang agak lebih jauh, namun perjalanan melalui hutan itu lebih mudah, tidak naik turun seperti kalau melalui hutan di tengah pulau. Pula, pemandangnnya amat indah kalu mengambil jalan melalui hutan di pantai itu. Taiba-tiba Wulansari yang berjalan di depan berhenti. Wijaya yang berjalan di belakangnya juga berhenti dan pemuda ini merasa heran. Tidak biasanya adik seperguruannya itu mudah merasa lelah dan perlu istirahat. Wulan, mengapa berhenti? Kakang, lihatlah di sana itu! Kenalkah engkau kepada mereka? Wijaya memandang dan melihat lima orang turun dari sebuah perahu hitam yang layarnya telah digulung dan kini mereka berlima menarik perahu itu ke daratan pulau. Tidak, aku tidak mengenal mereka. Nampaknya mereka bukan orang kita. Kata Wijaya sambil menggeleng kepala. Kalau begitu kita harus menegur mereka. Ada keperluan apa mereka datang ke pulau kita. Siapa tahu mereka mempunyai niat buruk. Baik, mari kita turun ke sana. Keduanya menuruni lereng itu dan pada saat itu mereka melihat munculnya dua orang penjaga pantai. Agaknya terjadi pertengkaran antara dua orang penjaga itu dengn lima orang pendatang, yang dilanjutkan perkelahian. Wijaya dan Wukansari melihat betapa dalam beberapa gebrakan saja dua orang anak buah itu telah dipukul roboh oleh seorang di antara mereka dan kini lima orang itu menertawakan mereka. Mari kita cepat ke sana! kata Wulansari marah dan mereka berdua segera berlari cepat menuruni lereng dan sebentar saja mereka sudah tiba di pantai itu. Ha-ha-ha-ha, kalian berdua belum mengenal siapa kami! Kami adalah Lima Jagoan Kali Serayu! Dan kalian berani mengusir kami? Hayo, majulah lagi kalau berani! tantang seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam yang tadi merobohkan dua orang penjaga pantai itu. Dari mana datangnya buaya muka hitam menjual lagak di tempat ini! Bentak Wulansari yang sudah tiba ditempat itu. Si Muka Hitam terkejut mendengar bentakan wanita dan dia segera memutar tubuh memandang, diikuti empat orang temannya. Melihat Wulansari membawa dua ekor kelinci dan seorang pemuda memanggul bangkai kijang, mereka terheran, akan tetapi lalu tertawa bergelak. Babo-babo, engkau perawan cilik berani bicara kasar kepadaku? He, bocah ayu. Kami adalah Lima Jagoan Kali Serayu, datang ke pulau ini untuk menyelidiki berita tentang sayembara perebutan Tilam Upih. Dan siapakah engkau, bocah ayu? Manusia-manusia lancang! Sayembara baru diadakan seminggu lagi belum waktunya kalian datang. Dan tidak ada seorangpun dari luar pulau kami. Hayo kalian cepat pergi meninggalkan pulau, kalau tidak, akan kuusir dengan kekerasan! Kata wulansari galak. Lima orang itu saling pandang lalu tertawa tergelak. Ha-ha-ha-ha, bocah ayu manis tapi galak. Siapakah engkau berani bersikap seperti ini di depan kami? bentak si muka hitam. Namaku Wulansari dan aku adalah Puteri Kanjeng Rama Adipati di Nusakambangan! Mendengar ini, Lima orang itu berhenti tertawa dan memandang penuh perhatian. Puteri Sang Adipati? Pantas, begini galak! Akan tetapi, kamipun buka orang-orang yang boleh sembarangan saja di usir. Bawalah kami menghadap Adipati Surodiro. Kami sudah mengenalnya dan tentu dia akan menerima kami dengan baik. Tidak! Bentak Wulansari. Kalian sudah melakukan pelanggaran bahkan memukul roboh dua orang penjaga kami. Pergilah atau aku akan menghajar kalian! Kembali lima orang itu tertawa. Menghajar kami? Ha-ha-ha, ingin sekali kami melihat bagaimana kau akan melakukan itu, bocah ayu! Wulansari menjadi marah sekali. Dia melemparkan duabangkai kelinci itu kepada Wijaya, kemudian melangkah maju menghampiri si muka hitam. Si muka hitam memandang sambil tersenyum dan kedua tangannya bertolak pinggang. Engkau mau apa, cah ayu? Mau memukulku? Boleh, boleh! Tentu enak seperti dipijiti. Boleh kau memukul sesuka hatimu, berapa kalipun boleh dan boleh kau pilih bagian yang paling lunak,ha-ha-ha! Si muka hitam memang memiliki aji kekebalan, maka dia berani menyombongkan diri. Apalagi yang akan memukul seorang perawan remaja yang ayu manis, tentu tangannya juga lunak halus, memukulpun tentu tidak akan sakit. Maka dia memasangdirinya untuk dipukul, mulutnya yang lebar menyeringai sombong. Buaya muka hitam, engkau sendiri yang minta dipukul. Nah, terimalah ini! Wulansari mengerahkan tenaganya pada tangannya yang kanan, kemudian diayunnya tangan itu menampar ke arah dada yang lebar dan berotot itu. Plakkk..........!! Tamparan itu mengenai dada, dan empat orang kawan si muka hitam sudah tertawa-tawa melihat pukulan yang tidak keras itu. Tentu si muka hitam akan menerimanya dengan enak saja.Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya hati mereka ketika melihat si muka hitam tiba-tiba menjadi pucat mukanya, mulutnya menyeringai, tangannya menekan dada dan diapun terkulai roboh sambil mengaduh-ngaduh! Tadinya empat orang kawannya mengira dai hanya main-main dan pura-pura kesakitan saja, akan tetapi ketika melihat si muka hitam memuntahkan darah merah mereka benar-benar kaget dan cepat berlari menghampiri. Ketika melihat keadaan kawan mereka yang terluka parah, di dadanya nampak warna kebiruan, mereka menjadi marah sekali. Berani eengkau melukai saudara kami! bentak mereka dan empat orang itu sudah mencabut golok mereka dari pinggang untuk menyerang Wulansari. Akan tetapi Wijaya sudah melompat ke depan dan menggunakan bangkai kijang sebagai senjata, mengamuk dan melawan empat orang yang memegang golok. Juga Wulansari tidak tinggal diam, ia menggunakan busurnya untuk mengamuk. Menghadapi amukan Wijaya dan Wulansari empat orang itu terkejut dan kewalahan. Akhirnya, dengan jerih mereka berempat menarik tangan si muka hitam dan lari ke perahu ke air dan ombak lautan menerima perahu itu dan menghanyutkannya ke tengah. Wulansari dan Wijaya tidak mengejar, hanya memandang sambil tersenyum gembira sudah dapat mengusir Lima orang kasar itu dari pulau mereka. Dua orang penjaga pantai itu lalu membawakan kelinci dan kijang mereka dan keduanya lalu kembali ke kadipaten, merasa gembira bahwa hari itu mereka telah memperoleh pengalaman yang amat menarik hati dan menegangkan.Ketika mereka berhadapan dengan Adipati Surodiro, sang adipati tertawa mendengar cerita mereka, biarpun dia sempat khawatir mendengar puterinya terbelit ular besar. Ha-ha-ha-, orang-orang tak tahu diri itu! Mereka menganggap kita ini apa? Berani benar mendatangi Nusa Kambangan sebelum hari sayembara yang ditentukan tiba. katanya, kemudian dia membicarakan urusan sayembara itu dengan puterinya dan muridnya, minta mereka siaga kalau dia minta untuk menandingi seorang peserta sayembara. Akan tetapi kami terlalu lemah, kanjeng rama. Bagaimana kalau kami kalah dalam pertandingan itu? bantah Wulansari. Kalau kalian kalah, akulah yanga maju. Syarat memenangkan sayembara itu adalah kalau orang dapat mengalahkan aku. Akan tetapi tidak mungkin kalau aku sendiri yang mengahdapi mereka semua. Kalian menjadi semacam penguji atau penyaring. Yang benar-benar berkepandaian saja baru dapat berhadapan dengan aku. Wulansari dan Wijaya mengerti dan merekapun menyanggupi dengan hati bangga karena mereka memperoleh kesempatan untuk memamerkan kepandaian mereka. *** Pada hari yang ditentukan, Nusa kambangan kedatangan banyak tamu. Bermacam-macam tamu yang berdatangan di kadipaten Nusa Kambanagn itu dan mereka semua diterima oleh para petugas sebagai tamu yang dihormati.Di depan gedung Kadipaten, di alun-alun telah dibangun sebuah panggung yang besar. Hampir semua penduduk kadipaten Nusa Kambangan datang membanjiri alun-alun untuk menjadi penonton. Akan tetapi di antara para hadirin yang banyak itu, hanya sedikit yang berniat memasuki sayembara. Kebanyakan dari mkereka hanya ingin menjadi penonton, menyaksikan jalannya pertandingan sayembara dan ingin mengetahui siapa yang akhirnya akan memiliki Kayi Tilam Upih. Sebagian besar dari mereka sudah mengenal Adipati Surodiro dan tahu akan kedigdayaannya maka mereka sudah menjadi jerih dan tidak berani mengikuti sayembara harus mengalahkan sang adipati yang sakti mandraguna itu. Setelah para calon pengikut sayembara didaftar, maka pertandingan itupun dimulai. Dan ternyata Sang Adipati Surodiro sendiri tidak langsung maju. Untuk melayani banyak pengikut sayembara, sungguh amat melelahkan bagiku kalau aku harus melayani kalian semua. Karena itu, aku akan diwakili oleh murid dan puteriku. Siapa yang dapat mengalahkan mereka barulah akan bertanding melawanku. demikian sang adipati memberitahu dan semua orang dapat menerima peraturan ini. Apa lagi mereka yang diharuskan bertandinga melawan Wulansari, mereka merasa gembira sekali. Dapat bertanding dan beradu tangan dengan dara cantik jelita itu sudah merupakan suatu keuntungan tersendiri. Kiranya tidak akan penasaran walaupun tidaka berhasil mendapatkan Tilam Upih. Akan tetapi, Adipati Surodiro mengadakan pilihan. Hanya pemuda yang namapak gagah perkasa saja yang dilayani bertanding oleh Wulansari, sedangkan yang lain ditandingi oleh wijaya. Pertandingan demi pertandingan berlangsung di atas panggung, dan para penonton yang sebagian besar terdiri dari penduduk kadipaten Nusa kambangan bersorak gembira karena melihat betapa Wijaya dan Wulansari masing-masing telah memenangkan tiga kali pertandingan! Adipati Surodiro sendiri belum sempat maju.Baru bertanding melawan murid dan puterinya saja, satu demi satu para peserta sayembara telah dapat dikalahkan. Banyak di antara peserta menjadi jerih dan mundur sebelum bertanding! Pemuda dan dara itu sajasudah terlampau kuat bagi mereka. Apa lagi kalau sang adipati sendiri yang maju! Mereka menjadi gentar dan mundur teratur. Tiba-tiba sesosok bayangan melayang bagaikan seekor burung garuda hinggap di atas panggung. Ketika semua orang memandang, ternyata ia adalah seorang wanita, seorang gadis muda yang cantik dan gagah. Sebatang keris terselip di pinggangnya dan gadis ini mengahadap ke arah Adipati Surodiro sambil bertolak pinggang! Kemudian terdengar suaranya yang merdu namun lantang. Adipati Nusa Kambangan! Bangkitlah dan tandingi aku. Akulah yang akan mengalahkanmu dalam pertandingan dan aku yang berhak memperoleh keris pusaka Tilam Upih! Banyak di antara para penonton yang tertawa mendengar ini. Seolah mendengar ocehan mulut kanak-kanak. Bagaimana seorang gadis muda itu berani menantang sang adipati? Hemm, engkau masih terlalu muda untuk menadingi aku. Biarlah muridku saja yang menandingimu. Wijaya kau lawanlah gadis itu dan hati-hati, jangan lukai gadis itu! kata Sang Adipati sambil tersenyum. Wijaya melangkah maju dengan genbira. Tentu saja hatinya gembira menghadapi lawan seorang gadis yang kecantikannya tidak kalah dibandingkan Wulansari. Nimas,marilah kita main-main sejenak! katanya gembira. Akan tetapi gadis itu mengerutkan alisnya dan membentak sambil mendorongkan tangan kanannya ke arah Wijaya. Siapa mau main-main denganmu? Pergilah! Wijaya terkejut bukan main karena dari tangan kanan gadis itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat! Dia mencoba untuk menangkis, akan tetapi merasa ada hawa panas menghantam dirinya dan diapun terjengkang! Melihat ini, Wulansari terkejut dan marah. Ia sudah meloncat maju ke depan gadis itu. Engkau bocah setan yang kejam! bantaknya sambil menyerang. Akan tetapi kembali gadis itu menggerakkan tangan mendorong dan Wulansari juga terjengkang dan terpaksa harus berjungkir balik agar tidak sampai terbanting. Semua orang yang melihat ini menjadi gempar! Jelaslah sudah bahwa gadis yang baru muncul ini seorang dara yang sakti sehingga Wijaya dan Wulansari dapat dikalahkannya dalam segebrakan saja. Juga Adipati Surodiromelihat ini. Sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang dan berdiri di depan gadis itu, dan memberi isyarat dengan tangan agar puteri dan muridnya mundur. Dua orang muda itu terpaksa meninggalkan panggung. Bagus sekali! Kiranya engkau ini gadis muda sudah memiliki ilmu yang tinggi. Katakan siapa andika dan dari mana andika datang! Kata Adipati Surodiro. Gadis itu berdiri tegak, menatap tajam wajah sang adipati lalu terdengar suaranya lantang karena semua orang menahan napas ikut mendengarkan. Aku bernama Niken, datang dari Anjasmoro! Adipati Surodiro tertawa. Ha-ha-ha,pantas! Melihat gerakan tanganmu tadi, aku menduga bahwa itu adalah Aji Hasta Bajra! Andika tentu murid Gagak Seto, bukan? Aku tidak pernah menyembunyikan kenyataan. Aku memang murid Gagak Seto dan aku datang untuk mengikuti sayembara mendapatkan Tilam Upih. jawab Niken yang bersikap tenag dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Ha-ha-ha, tidaklah begitu mudah, nini! Andika memang terlalu kuat untuk murid dan puteriku, akan tetapi dengan ilmumu itu belum tentu andika akan mampu mengalahkan aku! Tidak perlu banyak cakap, Sang Adipati! Mari kita mulai saja pertandingan ini! kata Niken dan ia sudah memesang kuda-kuda dengan gagahnya. Tangan kanan diangkat ke atas, tangan kiri ke bawah, keduanya dengan jari terbuka dan kedua lututnya agak ditekuk. Ha-ha-ha, Ki Sudibyo benar-benar telah memiliki murid yang hebat mengagumkan. Ha-ha-ha! Nah, aku sudah siap, mulailah! kata adipati itu dengan sikap tenang dan memandang rendah. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang datuk persilatan yang terkenal dan sudah memiliki banyak pengalaman. Tantu saja dia tidak takut menghadapi lawan seorang wanita muda! Bahkan menghadapi Ki Sudibyo sendiri dia tidak takut, apalagi muridnya. Lihat seranganku! Haiiiiiiiittt.............! Niken sudah menyerang dengan gerakan gesit sekali. Dara ini sudah mengerahkan aji Tapak sikatan yang membuata tubuhnya selincah burung sikatan, dan kedua tangannya sudah diisi dengan Aji Hasta Bajra. Serangan pertamanya demikian cepat dan kuatnya sehingga menimbulkan bunyi angin berciutan dan sempat mengejutkan hati sang adipati juga. Adipati Surodiro cepat mengelak, akan tetapi pukulan kedua dari Niken sudah menyusul demikian cepatnya sehingga lawan tidak lagi sempat mengelak dan terpaksa harus menangkis. Desss.........! Dua lengan bertemu dan akibatnya membuat keduanya terdorong mundur. Niken diam-diam terkejut. Ternyata adipati ini memang sakti! Bukan hanya mampu menagkis aji Hasta Bajra, bahkan membuat ia terdorong ke belakang . Ia menjadi lebih berhati-hati dan tidak berani memandang rendah lawannya. Keduanya sama menginsyafi akan kehebatan lawan, dan keduanya bertanding dengan hati-hati sehingga pertandingan itu amat menarik dan seru. Telah limapuluh jurus lewat akan tetapi belum nampak tanda-tanda siapa yang unggul dalam pertandingan itu. Berkali-kali terdengar tepuk tangan ketika masing-masing dapat menghindarkan diri dari serangan dahsyat lawan. Akan tetapi bagaimanapun juga, Niken kalah pengalaman. Adipati itu memiliki banyak ilmu yang aneh-aneh, dan gerakan silatnya juga berubah-ubah sehingga membingungkan Niken. Tiba-tiba sang adipati membuat gerakan silat yang aneh. Kaki tangannya bergerak-gerak membentuk setangkai bunga dan itulah Aji Wijayakusuma dalam bentuk gerakan silat! Dan anehnya, dari kedua tangan kakek itu muncul hawa yang amat hebat wibawanya, sehingga Niken sendiri merasa tergetar. Hyaaaaatttt! Adipati Surodiro membentak dan tubuh Niken terdorong keras. Hampir saja dara ini terjengkang, akan tetapi ia dapt melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik beberapa kali melompat ke bawah panggung dan lenyap di antara penonton. Karena merasa tidak mampu menandingi adipati yang sakti itu, Niken merasa malu dan iapun pergi tanpa pamit! Adipati Surodiro tertawa gembira. Wah, seorang dara yang sakti! Dia memuji lalu memandang kepada orang banyak. Apakah masih ada peserta sayembara yang merasa penasaran dan ingin menguji ilmu kanuragan? Budhidarma berada di antara penonton dan sejak tadi dia menonton pertandingan itu. Dia meliahat pula betapa Niken dikalahkan adipati yang banyak pengalaman itu. Dia melihat betapa aji yang dikeluarkan sang adipati yang mengalahkan Niken adalah aji yang hebat sekali, mengandung daya kekuatan yang menggetarkan, bahkan terasa olehnya yang berdiri dari jarak jauh. Melihat tidak ada lagi yang maju, diapun melompat ke atas panggung dan segera bersikap menghormat kepada sang adipati. Perkanankan saya yang muda mencoba-coba! katanya sederhana. Budhi adalah seorang pemuda yang sikapnya sederhana.Biarpun dia tampan dan halus, namun penampilannya bukan seperti seorang jagoan maka tidak mengesankan. Melihat pemuda ini,diam-diam Surodiro merasa suka. Seorang pemuda yag tampan dan juga sopan sekali, dan melihat sinar matanya yang mencorong, dia dapat menduga bahwa pemuda ini tentu seorang yang berisi.Maka dia cepat melangkah maju dan memandang penuh perhatian. Bagus, orang-orang muda sekarang sungguh bersemangat dan berani. Orang muda, siapakah nama andika dan dari mana andika datang? Saya bernama Budhidarma dan seorang perantau yang kebetulan lewat di daerah ini lalu mendengar tentang sayembara. Karena ingin meluaskan pengalaman saya memberanikan diri mengikuti sayembara ini, harap paman adipati tidak mempergunakan tangan keras kepada saya. Ucapan nyang merendah ini semakin menyenangkan hati sang adipati. Anak ini sopan, tahu diri, akan tetapi bukan penjilat sehingga menyebutnya paman, bukan gusti dan sebutan lain yang menjilat lagi. Ha-ha-, boleh sekali. Akan tetapi biarlah aku beristirahat sejenak. Wulansari, kauwakili aku! Dia berteriak dan Wulansari yang sejak tadi juga memperhatikan Budhi , menjadi tertarik dan cepat ia melompat ke atas panggung walaupun Wijaya memperingatkannya agar hati-hati karena baru saja tadi telah dikalahkan oleh Niken. Setelah berhadapan,Wulansari semakin kagum. Pemuda di depannya ini memang tampan dan gagah sekali, namun lembut bagaikan Sang Arjuna. Ia ingin sekali mengetahui apakah pemuda ini juga memiliki kepandaian yang tinggi. Maka iapun berseru, Kalau andika hendak mengikuti sayembara, bersiaplah, ki sanak.Aku mewakili ayahku untuk mengujimu! Budhi tersenyum. Dia tadi sudah melihat betapa ilmu kepandaian gadis puteri sang adaipati ini biarpun cukup hebat dan lencah, akan tetapi belum seberapa kalau dibandingkan ilmu yang di kuasai Niken, maka tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya.Dia menjadi serba salah.Dia harus mengalahkan gadis ini dan inilah merupakan hal yang amat tidak disukainya. Mengalahkan seorang gadis! Sungguh amat memalukan dan juga dia tidak ingin menyakiti gadis cantik ini baik jasmani maupun rohani, tidak mau menyakiti badannya maupun hatinya. Dia harus mengalah,akan tetapi tidak sampai kalah. Baiklah, saya sudah siap! katanya dan dia memasang kuda-kuda yang menimbulkan tawa pada beberapa orang penonton. Budhi berdiri dengan kedua kaki ditekuk lututnya sehingga setengah berjongkok, tangan kiri di bawah dada seperti seorang yang sedang memgang sebuah bola yang tidak nampak. Kelihatan lucu dan bukan seperti orang yang sedang memasang kuda-kuda, akan tetapi sesungguhnya, kuda-kuda itu adalah pembukaan pasangan kuda-kuda yang disebut Sangga Bumi (Menyangga Bumi), sebuah kuda-kuda yang kuno dan langka dipergunakan orang. Surodiro yang banyak pengalaman mengenal kuda-kuda ini dan jantungnya berdebar tegang, Benarkah pemuda ini mengenal Aji Sangga Bumi? Murid siapakah pemuda bernama Budhidarma ini? Lihat serangan! Haiiiiiittt......! Wulansari sudah menerjang dengan cepatnya.Tangan kanannya menghantam ke arah dada budhi dan tangan kirinya menampar ke arah pelipis. Sungguh merupakan serangan yang amat cepat dan juga berbahaya bagi lawan. Namun Budhi sudah siap siaga dan dengan melangkah ke belakang dua kali, dia menggagalkan serangan kedua tangan itu. Kini dai maju lagi dari samping dan tangannya menampar ke arah pundak Wulansari.Gadis ini miringakan tubuh dan menangkis dengan putaran tangan kanannya. Plakk! Wulansari merasakan betapa tangan yang ditangkisnya itu lunak dan hangat, sama sekali tidak mengandung tenaga kasar sehingga tangannya yang menangkis tidak merasa nyeri sama sekali. Wulansari salah duga. Disangkanya pemuda ini tidak memiliki kepandaian tinggi, maka iapun berhati-hati agar jangan melukai pemuda yang menimbulkan rasa suka di hatinya itu. Ia menyerang dengan cepat namun tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Hal ini diketahui oleh Budhi. Pemuda ini menjadi semakin serba salah. Gadis ini memiliki, watak yang baik, tidak kejam dan mau mengalah, pikirnya. Bagimana dia tega untuk mengalahkannya di depan orang banyak sehingga mau tidak mau berarti dia membuatnya malu? Dia main mundur dan nampaknya saj oleh para penonton bahwa pemuda itu terdesak terus, dihujani serangan tanpa mampu membalas. Akan tetapi sungguh terasa naeh bagi Wulansari karena semua serangannya sama sekali tidak mampu menyentuh pemuda itu! Ia menjadi penasaran dan makin lama makin memperhebat serangannya, mulai menyadari bahwa pemuda itu tidaklah selemah yanga ia duga. Dan benar saja, setelah semua ilmu ia keluarkan, semua tenaga ia kerahkan, belum juga ia mampu menyentuhnya! Ia mulai bingung dan juga penasaran. Balaslah, hayo balas! katanya agak jengkel karena merasa dipermainkan. Maafkan aku! kata Budhi yang merasa sudah terlalu lama melayani gadis itu. Tangannya menampar ke depan cepat sekali dan tangannya mengandung hawa dingin yang menyambar. Wulansari terkejut dan meloncat mundur, akan tetapi pada saat itu ia merasa perutnya seperti tersentuh. Ia memandang ke arah perutnya dan dengan kaget ia tidak lagi melihat kerisnya di pinggang. Ketika ia mengnagkat muka, ternyata keris itu sudah berada di tangan Budhi. Budhi membungkuk dan mengembalikan keris itu. Maafkan, ini kerismu....... Semua penonton tidak melihat bagaimana caranya dan tahu-tahu keris yang tadinya berada di pinggang gadis itu sudah berpindah ke tangan Budhi. Bahkan ada yang tidak mengetahuinya. Akan tetapi Wulansari yang berwatak keras itu masih belum merasa puas. Ia tidak pernah terdesak oleh pemuda itu, bagaimana kerisnya tahu-tahu pindah ke tangan pemuda itu? Seperti main sulap saja. Aku belum kalah, mari kita main-main dengan senjata! tantangnya. Wulansari, mundurlah engkau! Terdengar sang adipati berseru kepada puterinya. Dia tadi melihat dengan jelas cara Budhi merampas keris dan dia merasa kagum bukan main. Tidak,ayah. Aku masih belum kalah! kata Wulansari dan dia berseru, Lihatlah seranganku! Dan iapun sudah menerjang dengan dahsyat. Budhi mengelak dan berlompatan ke kanan kiri untuk menghindarkan diri dari tikaman keris yang dilakukan dengan cepat dan bertubi-tubi itu. Dia sengaja hanya mengelak dan kadang menangkis, membiarkan gadis itu memuaskan hati dengan serangan sampai tigapuluh jurus, barulah dia menggerakkan tangan kiri,menangkap pergelangan tangan gadis itu.Wulansari menahan jeritnya ketika tangan kanan mendadak terasa lumpuh! Dan dengan sendirinya jari-jari tangan yang memegang keris tidak dapat mempertahankan lagi ketika keris itu diambil oleh tangan kanan Budhi yang segera melompat mundur. Kini gadis itu berdiri dengan muka kemerahan dan memandang kepada Budhi dengan bersinar-sinar penuh kagum! Budhi tersenyum dan mengangsurkan tangan untuk mengembalikan keris, akan tetapi Wulansari membalikkan tubuh dan melompat turun dari panggung dengan wajah tersipu. Kini penonton bertepuk tangan memuji atas kemenangan Budhi. Melihat Wulansari kalah, Wijaya sudah hendak melompat ke atas panggung, akan tetapi ia dibentak oleh Sang Adipati Surodiro. Adipati itu sendiri naik ke atas panggung dan manghampiri Budhi. Orang muda,engkau memiliki kepandaian yang hebat. Bolehkah kami mengetahui siapa gurumu yang terhormat? Harap paman adipati memaafkan saya karena guru saya berpesan agar nama beliau jangan disebut-sebut, karena itulah saya terpaksa sekali tidak dapat menjawab pertanyaan paman adipati. Adipati Surodiro menganguk-angguk. Hemm, engkau seorang murid yang baik dan patuh. Tidak mengapa, dengan menguji kepandaianmua, mudah-mudahan aku akan dapat mengetahui siapa adanya gurumu. Nah, bersiaplah, orang muda! Lihat seranganku, hyaaaaaattt.........! serangan yang dilakukan Adipati Surodiro sekali ini sungguh dahsyat. Hal ini adalah karena adipati itu yakin akan ketangguhan pemuda itu dan ia ingin benar-benar mengujinya, bukan hanya untuk melihat apakah pemuda ini pantas menerima Tilam Upih, akan tetapi terutama sekali apakah pantas menjadi jodoh Wulansari! Menghadapi serangan yang dahsyat bukan main itu, Budhi menggerakkan tubuh ke samping untuk mengelak. Eiiiiiiiiiittt...........! Elakannya demikian halus dan indah dan hantaman adipati itu luput. Angin pukulannya saja membuat pakaian Budhi berkibar, Adipati Surodiro sudah membalik dan kini kakinya mencuat dari samping mengirim tendangan yang mendatangkan angin bersiutan. Namun, dengan lincah Budhi miringkan tubuhnya sehingga tendangan itu meluncur lewat dekat tubuhnya. Dia menggerakkan tangannya untuk menangkap kaki lawan, akan tetapi adipati itu sudah menarik kembali kakinya dan menyerang lagi dengan dahsyatnya. Kalau dibandingkan dengan tadi ketika melawan Niken, gerakan sang adipati sekarang jauh bedanya. Kini dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan ilmu-ilmu yang ampuh, karena agaknya dia maklum benar bahwa kini lawannya adalah seorang pemuda yang benar-benar tangguh. Dan ternyata Budhi mampu menandinginya dalam segala gerakannya yang aneh itu. Ketika sang adipati menghantamnya dengan tangan kanan disertai tenaga sepenuhnya, Budhi tidak mendapat kesempatan lagi untuk menghindar dengan elakan. Terpaksa daipun mengerahkan tenaga untuk menagkis pukulan itu. Dessss.......!! Bukan main hebatnya pertemuan tenaga raksasa itu. Akibatnya, sang adipati terhuyung ke belakang sampai dua meter sedangkan Budhi melangkah mundur tiga langkah. Dari keadaan ini saja dapat dibuktikan bahwa dalam hal tenaga sakti, pemuda itu masih lebih kuat dibandingkan lawannya. Tentu saja Adipati Surodiro terbelalak. Jarang selama ini ada lawan, apalagi seorang muda, yangamampu menandingi kekuatannya akan tetapi pemuda ini dapat membuat dia terhuyung. Dia merasa penasaran sekali dan mulailah dai mengeluarkan ilmu ampuh, yaitu Aji Wijoyokusumo. Gerakan kaki tangannya mulai aneh, membentuk bunga dengan kelompoknya, akan tetapi dari kaki tangan itu menyambar hawa yang menggetarkan. Budhi menahan napas dan dipun mengerahkan aji kesaktiannya karena maklum bahwa aji yang dikeluarkan lawannya itu mengandung kekuatan sihir yang hebat. Kini mereka saling pukul dan saling serang dengan hebatnya, membuat semua orang yang menonton menjadi melongo takjub, dan beberapa orang tokoh tua, para datuk persilatan, diam-diam kagum sekali dan menduga-duga murid siapa gerangan pemuda ini. Dia tentu seorang tokoh baru, karena di antara mereka tidak ada seorangpun yang pernah mengenal pemuda itu. Kini pertandingan sudah mencapi puncaknya. Bagi Budhi, sekali ini diapun sama sekali tidak main-main melainkan mengeluarkan semua kepandaian dan tenaganya. Dia tidak sungkan untuk membalas dengan dahsyat karena lawanpun menyerang dengan pukulan-pukulan mematikan dalam usahanya untuk keluar sebagai pemenang. Seratus jurus telah lewat dan belum ada yang nampak akan keluar sebagai pemenang. Budhi juga merasa penasaran dan pada saat dai mendapatkan kesempatan, dia menekuk kedua lututnya dan mendorongkan kedua tangan dengan jari-jari tangan terbuka, sambil mengeluarkan suara melengking yang dahsyat sekali. Itulah pekik Naga Kroda dan pukulan itu adalah Aji Tapak Sapujagad! Agaknya adipati itu mengenal pukulan ampuh, maka diapun memasang kuda-kuda dan mendorongkan kedua tangannya untuk menyambut, keras lawan keras. Desssssssss........! Tubuh sang adipati terjengkang dan dia roboh terduduk! Darah mengalir dari ujung mulutnya, sementara itu Budhi masih berdiri dengan muka berubah agak pucat. Kanjeng rama.......! Wulansari meloncat ke dekat ayahnya. Akan tetapi Adipati Surodiro memejamkan matanya, bersila dan menggeleng kepala lalu mengatur pernapasannya untuk mengobati luka dalam yang dideritanya. Kau......kau......kau lukai kanjeng rama......! Wulansari bangkit dan menghunus kerisnya. Wulan...... ! Ayahnya menegur dan gadis itu kembali berlutut. Bantu aku berdiri...... ! kata adipati itu dan diapun berdiri dipapah oleh Wulansari dan Wijaya yang sudah datang membantu. Setelah bangkit berdiri, adipati itu tersenyum kepada Budhi dan berkata, Budhidarma, aku mengaku kalah dan engkaulah yang berhak menerima Tilam Upih. Kemudian dia menghadapi banyak orang dan berkata lantang, Andika semua telah menyaksikan bahwa sayembara dimenangkan oleh Budhidarma. Nah, sayembara ini dituup dan dibubarkan. Semua orang bubaran dan Budhi dipersilakan masuk ke dalam gedung kadipaten oleh Adipati Surodiro, ditemani pula oleh Wulansari. Setelah memasuki ruangan dalam Budhi berkata dengan hati agak merasa tidak enak. Paman Adipati, kalau diperbolehkan, saya ingin membantu mengobati luka dalam yang paman derita itu. Ah,tentu saja boleh, anak mas Budhidarma. kata sang adipati. Budhi lalu mempersilakan adipati itu untuk duduk di atas pembaringan, bertelanjang baju dan dia lalu menggunakan jari-jari kedua tangannya untuk menggosok punggung dan dada adipati itu. Pada dada sebelah kanan nampak warna menghitam yang setelah diurut oleh Budhi lambat laun menjadi merah kembali. Setelah selesai dan mereka duduk berhadapan, Sang Adipati Surodiro menghela napas panjang dan berkata, sekarang aku dapat menduga siapa gurumu, anak mas. Aji Pekik Naga Kroda tadi mengingatkan aku kepada seorang pertapa suci yng berjuluk Bhagawan Tejolelono! Aku pernah bertemu dengan beliau di punck Mahameru. Benarkah dugaanku? Budhidarma terpaksa mengangguk. Memang tepat sekali dugaan paman. Hebat! Selama ini aku belum pernah mendengar pertapa itu mempunyai seorangpun murid, dan ternyata andika demikian beruntung menjadi muridnya. Dan seorang murid yang amat baik pula. Anak mas Budhidarna, aku merasa kagum sekali kepadamu. Keris pusaka Tilam Upih tentu kuserahkan kepadamu dan kuserahkan dengan segala senang hati karena memang andiak orang yang paling pantas memiliki pusaka itu. Wulan, ambilkan keris pusaka itu dan bawa ke sini! Baik, kanjeng rama. Gadis itu lalu pergi keluar dari ruangan itu. Ketika gadis itu keluar dari kamar,sang adipati berkata kepada Budhi. Anak mas Budhidarma. Ada sesuatu hal lagi yang ingin kubicarakan dengamu. Kalau andika tidak berkeberatan, aku ingin sekali menjodohkan puteriku yang tunggal Wulansari denganmu. Aku ingin andika menjadi keluargaku dan kelak mewarisi kadipaten Nusa Kambangan. Bagaimana pendapatmu, anak mas? Budhi terkejut bukan main. Sama sekali tidak pernah diduganya sang adipati akan menariknya sebagai mantu! Dia hanya bengong memandang Adipati Surodiro tanpa dapat menjawab. Bagimana pendapatmu, anak mas? Ah,ini........ini....saya sama sekali belum mempunyai pikiran tentang perjodohan, paman.Harap maafkan, bukan saya berani menolak anugerah yang diberikan kepada saya, hanya saja saya masih mempunyai banyak tugas dan selama ini tidak pernah sedikitpun berpikir tentang perjodohan. Ha-ha-ha, aku dapat mengerti, anak mas. Akan tetapi perjodohan itu tidak perlu dilangsungkan sekarang juga. Kalau engkau tidak setuju, pernikahan dapat dilangsungkan kapan saja engkau sudah melaksanakan semua tugasmu. Maaf, paman. Saya terpaksa tidak dapat menerimanya. Saya tidak ingin terikat dengan pernikahan. Adipati Surodiro mengerutkan alisnya yang tebal. Apakah ini berarti bahwa engkau menolak puteriku karena engkau merasa tidak suka kepadanya? Ah, sama sekali tidak, paman! Puteri paman adalah seorang gadis bangsawan tinggi, cantik jelita dan sakti mandraguna, bahkan terlalu tinggi dan berharga dibandingkan diri saya.....Akan tetapi saya menolak karena memang saya sama sekali tidak ingin mengikatkan diri dengan perjodohan. Adipati Surodiro tidak berkata-kata lagi karena pada saat itu Wulansari sudah muncul membawa sebatang keris yang bersarung indah. Dia menerima keris itu dari tangan puterinya, lalu berkata kepada Budhi. Nah, terimalah, anak mas Budhidarma, sebagai hadiah kemenanganmu dalam sayembara. Dengan hati berdebar karena girang Budhi menerima keris pusaka itu dari tanga sang Adipati, lalu menyelipkan keris itu diikat pinggangnya. Melihat ini, Adipati Surodiro bertanya, Apakah andika tidak memeriksanya lebih dulu keadaan keris pusaka itu, anak mas Budhidarma? Tidak perlu, paman. Saya percaya sepenuhnya kepada paman yang pasti tidak akan melakukan penipuan. Sekarang saya mohon diri, paman dan sekali lagi harap maafkan kalau saya membuat hati paman merasa kecewa. Adipati Surodiro menghela napas panjang. Baiklah, anak mas. Kalau andika begitu terburu-buru, kamipun tidak akan menahanmu, Selamat jalan. Budhi melirik ke arah Wulansari dan merasa tidak enak kalau tidak berpamit, maka dia berkata lirih, Nimas Wulansari, saya mohon pamit. Wulansari nampak tersipu dan menjawab lirih pula, Selamat jalan, kakangmas Budhidarma. Setelah pemuda itu meninggalkan gedung kadipaten, di ruangan itu sunyi. Ayah dan puterinya itu tidak mengeluarkan kata-kata, akhirnya Wulansari yang berkata karena hatinya mendesak-desaknya. Ayah, mengapa ayah tidak menahannya? Tenaga seperti dia itu amat kita butuhkan untuk memperkuat kedudukan kadipsten Nusa Kambangan. Sang adipati sudah dapat menjenguk isi hati puterinya dan diapun menghela napas panjang. Sudah kulakukan itu Niken. Akan tetapi dia menolaknya, mengatakan bahwa masih banyak tugas yang harus dia laksanakan. Ahhh......! Gadis itu tertunduk. Wulan, katakan terus terang. Apakah hatimu tertarik kepada Budhidarma itu? Gadis itu makin menundukkan mukanya. Tanpa berani mengangkat muka ia bertanya, Mengapa kanjeng rama bertanya seperti itu? Sebetulnya aku sendiripun suka kepadanya. Dialah merupakan satu-satunya pemuda yang kiranya sepadan untuk menjadi jodohmu. Kini gadis itu mengangkat mukanya. Wajahnya berseri kemerahan dan matanya bersinar-sinar. Kalau begitu mengapa kanjeng rama tidak menahannya? Sudah kulakukan itu, Wulan. Akan tetapi dia menolak karena dia masih mempunyai banyak tugas. Akan tetapi jangan khawatir, kalau memang engkau berjodoh dengannya, kelakpun tentu akan dapat bertemu kembali. Hanya ada satu hal yang membuatku merasa sangsi, Wulan. Aku melihat kakak seperguruanmu itu, Wijaya,amat mencintaimu. Dan sebelum muncul Budhidarma, aku sendiri juga setuju kalau Wijaya menjadi calon jodohmu. Gadis itu mengerutkan alisnya. Akupun suka kepadanya, kanjeng rama. Akan tetapi cintaku kepadanya adalah cinta seorang adik kepada kakaknya. Saya tidak bisa menjadi isteri pria yang saya anggap sebagai kakak sendiri. Adipati Surodiro yang merasa kecewa hanya menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, dia blum tahu siapa sebetulnya Budhidarma,keturunan siapa. Dan dia mengharapkan, tak lama lagi akan dapat berjumpa kembali dengan pemuda itu. Budhi berjalan seorang diri mendaki bukit barisan yang menghadangnya dalam perjalanan meninggalkan Nusa Kambangan. Bukit barisan itu seolah menjadi semacam tanggul untuk Laut Kidul,berbaris memanjang dari barat ke timur. Ratusan bukit berjajar-jajar seperti barisan raksasa. Karena melakukan perjalanan jauh berhari-hari, Budhi merasa lelah juga.Terik panas matahari membakar di daerah gersang itu, daerah pegunungan kapur yang kebanyakan gundul. Dia berhenti di bawah sebatang pohon randu alas yang besar sekali. Randu alas ini merupakan pohon yang tahan panas dan tahan kekurangan air. Agaknya sebagai pengganti makanan yang sukar didapat melalui akar-akarnya di tanah, cabang-cabangnya malang melintang dan menadah embun di waktu pagi dan air hujan di musim penghujan. Budhi termenung mengenangkan semua pengalamannya dalam sayembara di kadipaten Nusa kambangan itu. Sungguh heran dia mengapa orang-orang begitu mati-matian memperebutkan Tilam Upih bahkan gurunya sendiri memberi tugas kepadanya untuk mendapatkan keris pusaka itu. Tadi dia sudah memeriksa keris itu dan mendapatkan kenyataan bahwa keris itu tidak ada apa-apanya! Sebilah besi tua yang sudah karatan dan ketika dia menguji dengan tenaga saktinya, tidak mendapat getaran apapun pada keris pusaka itu! Apakah Adipati Nusa Kambangan memberikan keris yang palsu?Ah, agaknya tidak mungkin. Untuk apa dia bersusah payah mengadakan sayembara kalau hanya ingin menipu? Hanya akan menambah permusuhan saja. Mungkin karena kabarnya keris pusaka itu, sudah lama terendam dai dalam Lautan Kidul, terendam air yang mengandung garam, maka keris itu menjadi rusak dan berubah menjadi besi tua karatan yang tidak ada gunanya lagi. Betapapun juga dia telah mendapatkan keris itu, dan akan dia perlihatkan kepada gurunya lebih dulu sebelum dihaturkan kepada pemiliknya yaitu Sang Prabu Jayabaya di Kediri. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara kaki kuda yang banyak sekali, barlari cepat menuju ke tempat itu. Tak lama kemudian dia melihat serombongan penunggang kuda yamh jumlahnya tidak kurang dari tigapuluh orang! Setelah agak dekat, terlihat oleh Budhi bahwa mereka itu adalah serombongan perajurit, dipimpin oleh dua orang yang pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah bangsawan tinggi. Seorang di antara dua pemimpin ini adalah seorang pemuda yang berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan nampak gagah, akan tetapisikap dan pandang matanya jelas membayangkan bahwa dia seorang pemuda bangsawan yang licik dan congkak. Orang kedua adalah seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahun, berpakaian senopati dan dia ini gagah sekali seperti Raden Gatutkaca dengan kumisnya yang melintang tebal. Tadinya Budhi mengira bahwa pasukan itu adalah pasukan yang sedang lewat saja, maka dia tidak mengacuhkandan dia masih duduk bersandar dengan santai pada batang pohon randu alas itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat dua orang pemimpin pasukan itu mengangkat tangan ke atas dan pasukan itupun berhenti lalu mengurung pohon randu alas dan berlompatan turun dari atas punggung kuda meraka. Budhi yang tidak merasa mempunyai kesalahan apapun, masih tidak mengerti bahwa mereka itu mengepung dirinya, dan masih enak-enak bersandar pada pohon itu. Senopati yang seperti Raden Gatutkaca itu melangkah menghampirinya dan dengan suara yang parau lantang dia bertanya, Apakah andika yang bernama Budhidarma, orang muda? Karena dirinya ditanya, barulah Budhi bangkit dari duduknya, mengapus peluhnya dan memandang kepada senopati itu, lalu membungkuk dengan sikap hormat. Benar, saya bernama Budhidarma. Ada keperluan apakah paduka mencari saya? Dia terpaksa bersikap hormat karena dari pakaiannya tahulah dia bahwa dai berhubungan dengan seorang senopati agung dari Kediri. Dugaannya memang benar, senopati itu bukan lain adalah Lembudigdo,senopati Kediri yang mengemban tugas dari Sang Mahaprabu Jayabaya untuk mencari keris pusaka Tilam Upih. Dia disertai Pangeran Panjiluwih,pemuda berusia tigapuluh tahun itu yang tidak seperti yang lain, masih duduk di atas kudanya dengan sikap pongah. Ketika mendengar akan adanya sayembara memperebutkan keris pusaka Tilam Upih di Nusa Kambangan. Senopati Lembudigdo langsung membawa pasukannya menuju ke Nusa Kambangan dan dia menghadapi sang adipati Surodiro. Adipati Surodiro tertawa bergelak menerima senopati dari Kediri ini yang menanyakan tentang Tilam Upih. Ah, ha-ha-ha! Andika datang terlambat, Senopati! Kami baru saja mengadakan sayembra untuk memperebutkan keris pusaka Tilam Upih dan pemenangnya adalah seorang pemuda bernama Budhidarma. Dia sudah menerima keris pusaka itu dan membawanya pergi. Baru dua hari dia meninggalkan tempat ini. Mendengar keterangan itu, Senopati Lembudigdo langsung memimpin pasukannya untuk melakukan pengejaran. Dan dua hari kemudaian dai dapat menyusul Budhi yang sedang ngaso dibawah randu alas. Karena gambaran pemuda itu cocok dengan keterangan yang didapatnya dari Adipati Surodiro, maka langsung dia bertanya apakah pemuda ini yang bernama Budhidarma. Dan ketika Budhi membenarkan, dia memberi isarat kepada pasukannya untuk mengepung lebih ketat. Bagus! Budhidarma, benarkah engkau telah mendapatkan keris pusaka Tilam Upih dari tangan Adipati Nusa Kambangan? tanya pula Senopati Lembudigdo, matanya memandang tajam ke arah keris yang diselipkan di pinggang Budhi. Heh, Budhidarma, keris pusaka itu harus andika serahkan kepadaku! bentak Pangeran Panjiluwih dengan mata memandang bengis. Budhi merasa mendongkol juga hatinya menghadapai sikap yang congkak itu. Dia masih duduk santai bersandarkan batang pohon randu ketika menjawab tenang, Kenapa harus kuserahkan kepada andika? Keparat busuk! bentak sang pangeran. Tidak tahukah andika dengan siapa berhadapan? Aku adalah Pangeran Panjiluwih dari Kerajaan Kediri! Mendengar pengakuan ini, tentu saja Budhi menjadi terkejut bukan main. Dia bangkit berdiri dan memandang kepada senopati dan para perajuritnya. Melihat kebingungan pemuda itu, Senopati Lembudigdo lalu berkata lembut. Ketahuilah orang muda, Pemuda ini benar adalah Pangeran Panjiluwih dari kerajaan Kediri, dan aku sendiri adalah senopati Lembudigdo. Kami menjadi utusan Kanjeng Gusti Sang Prabu untuk mencari keris pusaka Tilam Upih dan membawanya kembali ke kerajaan. Karena keris itu sudah ada padamu, maka kami minta kepada kami untuk kami haturkan kepada Sang Prabu. Budhidarma makin terkejut. Gurunya menghendaki dia mendapatkan keris pusaka Tilam Upih untuk dikembalikan kepada Sang Prabu Jayabaya dan kini utusan raja itu sudah berdiri di depannya. Mengapa susah-susah mengentarkan sendiri keris pusaka yang sudah menjadi besi tua itu kepada Sang Prabu? Lebih mudah diberikan kepada utusan ini! Ah, kiranya paduka adalah senopati dan pangeran. Harp maafkan kalau hamba bersikap kurang hormat karena tidak mengetahuinya. Kalau paduak menghendaki keris pusaka Tilam Upih untuk dihaturkan kepada Kanjeng Gusti di Kediri, baiklah.....Akan tetapi ketika Budhi hendak meloloskan keris itu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah berdiri Niken! Jangan bodoh, Budhi! Semudah itu hendak menyerahkan Tilam Upih kepada orang lain! Budhi terkejut melihat munculnya Niken yang mencegah dia menyerahkan keris pusaka itu kepada utusan raja. Akan tetapi......mereka ini adalah utusan Sang Parbu......! Budhi membantah. Siapa dapat menjamin mereka itu utusan Raja dan benar-benar akan menyerahkan kieris pusaka itu kepada Raja? Budhi terkejut dan memandang kepada Senopati Lembudigdo dan Pangeran Panjiluwih dengan sinar mata meregu. Apalagi melihat sikap pangeran itu, yang demikian angkuh, timbul perasaan tidak percaya dan tidak senang dalam hatinya. Benar juga ucapanmu itu! kata Budhi dan dia lalu membungkuk kepada senopati yang nampak gagah perkasa itu. Harap paduka memaafkan, akan tetapi saya tidak dapat menyerahkan pusaka ini kepada paduka atau siapa saja. Saya akan menghaturkan sendiri kepada Gusti Prabi. Tentu saja Budhi tidak mengetahui apa sebabnya Niken mencegah dia menyerahkan pusaka itu kepada pasukan yang menjadi utusan raja. Gadis ini masih ingat benar akan wajah Pangeran Panjiluwih! Dan ia paling tidak suka kepada pangeran yang satu ini, karena pangeran ini yang paling sering menghinanya sebagai anak keturunan rendah, menghina ayah ibunya! Tentu saja timbul perasaan tidak senang, bahkan benci dan tidak percaya kepada pangeran ini. Itulah sebabnya ia mencegah Budhi menyerahkan keris pusaka yang dicari semua orang itu kepada rombongan ini. Andaikata pangeran itu akan menghaturkan keris pusaka kepada Raja, iapun tidak rela kalau Pangeran Panjiluwih yang menerima pujian dam hadiah imbalan sebagai penemu keris pusaka. Mendengar ucapan Budhi, Pangeran Panjiluwih menjadi marah sekali. Tanpa turun dari kudanya, dia membentak, Keparat jahanam! Berani engkau menolak perintah kami? Engkau perlu dihajar! Dan dia sudah mengerakkan kudanya maju dan cambuknya diayun ke arah muka Budhi. Tar-tar-tar! Tiga kali cambuk itu melecut kearah kepala Budhi, akan tetapi dengan mudah Budhi mengelak dari sambaran cmbuk itu. Hal ini membuat Pangeran Panjiluwih menjadi semakin marah. Dia adalah putera Raja dan kini ada seorang pemuda dusun berani menentangnya! Melihat sang pangeran turun tangan sendiri, Senopati Lembudigdo meloncat ke depan dan melerai. Sudahlah pangeran, tidak perlu paduka turun tangan sendiri. Masih ada hamba dan para perajurit. Senopati itu lalu menghadapi Budhi dan berkata, Budhidarma, kuminta andika percaya kepada kami. Andika tidak boleh menolak, karena kami mewakili Raja yang menuntut kembalinya pusaka kerajaan. Berikan pusaka itu kepada kami! Budhi, jangan berikan! bentak Niken marah. Heii, engkau ini bocah perempuan dusun berani ikut campur. Engkau minta dihajar, ya? Pangeran Panjiluwih lalu melompat turun dari atas kudanya dan menyeranga Niken dengan cambuknya. Niken tidak mengelak seperti yang dilakukan Budhi tadi,melainkan cepat menangkap tangannya menyambar dan ia sudah menagkap pergelangan tangan yang memegang cambuk dan sekali renggut saja cambuk itu sudah berpindah tangan. Dan kini tanpa membuang waktu ia sudah mengamuk mencambuki pangeran itu! Melihat ini, para perejurit sudah maju dan mengeroyoknya dan banyak perejurit menjadi lecet-lecet mukanya terkena sambaran cambuk yang digerakkan secara cepat luar biasa oleh Niken. Sementara itu, melihat gadis itu sudah mengamuk, Senopati Lembudigdo juga tidak tinggal diam. Dia menerjang dan hendak menagkap Budhi untuk merebut keris pusaka Tilam Upih yang terselip di pinggang pemuda itu. Akan tetapi Budhi mengelak dan balas menampar. Ternyata Senopati itu tidaklah selemah Pangeran Pnjiluwih yang malas barlatih ilmu kanuragan dan lebih suka pelesir dan mengumpulkan wanita cantk itu. Senopati itu adalah seorang gemblengan dan sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran. Maka dia dapat menandingi Budhi dengan gagahnya. Dan para perejurit terpecah dua,sebagian membantu Pangeran Panjiluwih mengeroyok Niken dan sebagian mengeroyok Budhi dan membantu Senopati Lembudigdo. Melihat pengeroyokan itu, Budhi berpikir bahwa selain pihak musuh terlalu banyak, juga dia tidak ingin bermusuhan dengan pasukan kerajaan Kediri. Apalagi sampai melukai seorang senopati dan seorang pangeran yang sedang bertugas! Menyerahkan keris pusaka juga tidak benar, maka satu-satunya jalan hanyalah melarikan diri meninggalkan pertempuran. Niken, kita lari! katanya dan diapun melompat jauh melalui atas kepala para pengeroyoknya. Dia melihat Niken juaga berkelebat dan sudah melompat jauh, akan tetapi Senopati Lembudigdo mengejar dengan cepatnya pula. Maklum bahwa senopati itu tangguh sekali dan Niken dapat berbahaya kalau sampai melawan dia, Budhi lalu membalik dan menghadapi senopati itu, satu lawan satu. Kini dia menyerang dengan kedua tangan didorongkan ke depan. Senopati Lembudigdo cepat menangkis, akan tetapi dia tidak kuat bertahan dan tubuhnya terpelanting. Budhi lalu meninggalkannya pergi. Senopati Lembudigdo terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda it ternyata jauh lebih sakti dari pada yang diduganya dan kalau tadi tidak nay merobohkan, agaknya karena memang pemuda itu banyak mengalah. Tahulah dia bahwa kalau pemuda itu menghendaki biar dikeroyok banyak orang tetap saja mereka takkan mampu mengalahkannya. Maka diapun tidak menyuruh pasukannya untuk melakukan pengejaran, bahkan mengajak pasukannya untuk kembali saja. Akan tetapi, Pangeran Panjiluwih merasa penasaran. Pangeran senopati, kenapa kita harus pulang setelah mengetahui di mana adanya Tilam Upih? Bagimana kita dapat pulang tanpa membawa pusaka itu? Mari kita kejar bocah setan itu dan rampas Tilam Upih dari tangannya! Senopati menghela napas panjang. Diam-diam dia merasa menyesal terpaksa harus mengajak pangeran ini pergi mencari Tilam Upih. Pangeran yang sombong ini sungguh tak athu diri. Pangeran, apa yang dapat kita lakukan terhadapnya? Dia itu sakti sekali. Kita sudah mengetahui siapa yang membawa Tilam Upih dan kita dapat melapor kepada Kanjeng Gusti Prabu. Apakah tidak malu melapor akan tetapi tidak mampu membawa pusaka itu, paman? sindir sang pangeran. Wajah senopati itu menjadi merah. Kalau perlu kita akan membawa pasukan yang lebih besar dan kawan-kawan yang benar meiliki kesaktian untuk mengejarnya. Akan tetapi dalam keadaan kita sekarang, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya pangeran itu terpaksa mengeikuti rombongan yang menuju kembali ke Kediri akan tetapi wajahnya selalu cemberut dan sebelum tiba di kota raja, dia telah meninggalkan pasukan itu tanpa pamit. Kepada para perejurit yang dekat dengannya, dia hanya mengatakan bahwa kalau senopati Lembudigdo menanyakan, agar dikatakan bahwa dia hendak berusaha sendiri mengejar Budhidarama, pemuda yang membawa Tilam Upih itu! Ketika mendengar keterangan dari para perejurit, Senopati Lembudigdo hanya menghela napas, Betapa bodoh dan lancangnya! katanya. Kalian semua menjadi saksi bahwa sang pangeran pergi sendiri meninggalkan kita tanpa pamit kepadaku agar Sang Prabu tidak menyalahkan aku. setelah memesan kepada para perajurit dia lalu melanjutkan perjalanannya kembali ke kota raja Kediri. Budhi berlari cepat, dibelakangnya berlari Niken. Setelah jauh meninggalkan tempat di mana mereka tadai dihadang pasukan dan dikeroyok, Budhi berhenti, Niken juga berhenti dan menghapus keringat yang membasahi lehernya, kemudia ia menghampiri Budhi yang sudah duduk di atas akar pohon yang menonjol kepermukaan tanah. Budhi, hendak engkau apakan Tilam Upih yang sudah berada di tanganmu itu? Budhi tersenyum dan memandang kepada wajah yang ayu dengan sinar mata yang bagaikan bintang kejora itu. Hendak kauapakan?Tentu saja hendak kuhaturkan kepada Sang Prabu Jayabaya di Kediri. Hemm,aku tidak percaya engkau akan mampu menjaga pusaka itu. Tadi saja kalau tidak ada aku yang memperingatkan ,dengan mudahnya sudah kauserahkan kepada mereka itu! Karena mereka itu adalah pasukan dari Kediri yang dipimpin oleh senopati. Akan tetapi sekarang aku tidak akan percaya kepada mereka,akan kuserahkan sendiri kepada Sang Prabu. Aku tidak percaya engkau mampu menyerahkan kepada Sang Prabu, Budhi,kauserahkan saja pusaka pusaka itu kepadaku dan aku yang akan menghaturkan pusaka itu kepada beliau. Hemm, mengapa harus kuserahkan kepadamu? Karena aku dapat menjaga lebih aman lagi, dan tidak perlu kujelaskan mengapa harus aku yang menghaturkan kepada Sang Prabu. Berikanlah kepadaku! Ehm,kalau tidak kuberikan, lalu bagaimana? Aku akan mencoba merampasnya darimu dengan kekerasan ! kata Niken, suaranya mulai terdengar mengancam. Niken,engkau seorang dara yang jelita dan gagah perkasa. Untuk apa engkau ikut-ikut memperebutkan Tilam Upih? Bahkan engkau ikut pula memasuki sayembara. Mengapa demikian? Sudah kukatakan, tidak perlu kau tahu. Sekarang, engkau berikan atau tidak pusaka itu? Sikap gadis itu makin ketus. Budhidarma tertawa. Ha-ha-ha, sungguh lucu sekali. Semua orang memperebutkan pusaka Tilam Upih, pada hal keris pusaka ini hanyalah sepotong besi berkarat yang tidak ada gunanya. Nah, kalau engkau memang mengendaki besi berkarat ini, terimalah. Aku tidak mau lagi meperebutkannya! Budhi meloloskan pusaka yang bersarung itu dari ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Niken. Kini Niken yang tertegun dan memandang dengan mata terbelalak. Keris pusaka Tilam Upih yang sudah berada di tangan pemuda itu, sekarang begitu saja diserahkan kepadanya! Kini ia yang menjadi terheran-heran dan ragu sehingga biarpun Budhi sudah lama menyodorkan pusaka itu, tetap saja belum diambilnya. Budhi, kenapa demikian mudah engkau hendak menyerahkan pusaka ini kepadaku? Sudah kukatakan. Pusaka ini hanya sepotonga besi tua yang karatan, aku tidak mau memperebutkannya lagi, Nah,terimalah. Niken menerima pusaka itu dan dengan jantung berdebar-debar ia menghunus pusaka itu. Dan terbelalak, matanya tak lepas memandang pusaka itu dan nampak wajahnya amat kecewa. Budhi merasa kasihan. Tentu pusaka itu sudah berubah banyak. Kabarnya pusaka itu berada di perut ikan hiu sampai puluhan tahun. Tentu saja menjadi rusak dan karatan. Tidak! kata Niken setengah menjerit. Ini bukan pusaka Tilam Upih yang tulen. Ini keris pusaka palsu! Budhi terbelalak. Apa?Palsu? Ya,ini bukan Tilam Upih ? Ini keris palsu! kembali Niken berseru marah. Hemm, Niken. Bagimana engkau bisa tahu bahwa keris pusaka ini palsu? Apakah engkau pernah melihat yang asli? Aku belum pernah melihat yang asli,akan tetapi aku sudah mendapat penjelasan yang lengkap tentang Kayi Tilam Upih.Aku berani memastikan bahwa ini keris palsu. Budhi, apakah engkau.......gadis itu memandang dengan alis berkerut dan sinar mata penuh selidik. Eiiit-eiit, Niken.Jangan engkau menuduh aku yang memalsukan ketris pusaka Tilam Upih,engkau keterlaluan sekali! Kalau memang Tilam Upih itu palsu, berarti Sang Adipati di Nusa Kmabngan yang memalsukannya. Aku telah ditipunya dan diberi keris yang palsu. Aku percaya kepadamu, Budhi. Ini tentu ulah Adipati Surodiro dan aku akan menuntutnya! Setelah berkata demikian, Niken membawa keris itu pergi dari situ dengan berlari cepat, menuju kembali ke selatan! Niken,tunggu.....!!Budhi meloncat dan tak lama kemudia dia dapat menyusul Niken. Gadis itu berhenti dan memandang dengan sinar mata menentang. Budhi, mau apa engkau mengejar aku? Niken, bukan engkau yang harus menuntut ke Nusa Kambangan, melainkan aku karena akulah yang dibohongi adipati itu. Tidak, aku akan minta pusaka yang asli. Aku juga. Mari kita pergi berdua dan mendengar apa yang hendak dikatakan oleh adipati keparat itu! kata Budhi dan akhirnya Niken tidak menolak lagi karena bagimanapun juga, pemuda itu yang lebih berhak. Dan Budhi sebetulnya ingin menemani gadis itu karena dai merasa khawatir. Gadis itu bukan tandingan Adipati Surodiro, dan kalau dibiarkan sendiri pergi ke Nusa Kambangan, bisa celaka. Budhi dan Niken melakukan perjalanan cepat dan setelah tiba di pantai laut selatan, mereka lalu menyewa perahu pada seorang nelayan. Mereka diantar ke pulau Nusa Kambangan. Ketika keduanya mendarat beberapa orang penjaga mengenal mereka dan segara melaporkan kepada Sang Adipati. Dua orang muda itu langsung saja pergi ke kadipaten dan mereka disambut oleh sepasukan penjaga keamanan yang menghadang mereka di depan gedung kadipaten. Katakan kepada Paman Adipati Surodiro bahwa kami berdua ingin menghadap karena ada urusan yang teramat penting! kata Niken dengan suara tegas. Para perjurit yang sudah mengenal gadis itu sebagai pengikut sayembara, dan juga pemuda itu yang sudah mampu mengalahkan sang adipati, segera mengawal mereka pergi ke dalam gedung kadipaten untuk menghadap Adipati Surodiro yang sudah diberitahu oleh para penjaga dan juga siap menyambut dua orang tamu itu. Begitu bertemu, tanpa menanti penggunaan salam menyalam seperti biasanya orang bertemu, Niken sudah langsung saja menghardik. Paman Adipati Surodiro! Tidak kusangka seorang adipati seperti andika ini tidak merasa malu untuk bertindak curang! Adipati Surodiro memandang Niken dengan alis berkerut dan matanya mengeluarkansinar marah. Hem,apakah maksudmu datang dan menuduhku seperti itu? bentaknya. Budhi lalu melerai. Begini, Paman adipati. Ketika kami ditengah jalan kami memeriksa Kyai Tilam Upih yang saya terima dari paman, ternyatalah bahwa keris pusaka itu adalah keris pusaka palsu! Nah, bagaimana paman akan mempertanggung-jawabkan kenyataan ini? Niken mengambil keris pusaka itu dan melemparkan kepada sang adipati yang segera menangkapnya dengan tangannya. Agaknya memang dia sudah menduga bahwa dua orang muda itu tentu datang untuk membicarakan urusan itu, maka diapun telah menati dan menyambut seorang diri saja, tanpa ditemani seorangpun. Juga tidak nampak Wijaya dan Wulansari, dua orang muda,murid dan puterinya, yang paling dipercayainya. Adipati Surodiro menghunus keris pusaka itu dan memasukkannya kembali, menghela napas panjang. Lalu berkata, Tadinya kuharapkan andika tidak akan tahu akan kepalsuan benda ini, anak mas Budhi. Akan tetapi ternyata dugaanku keliru dan baiklah,akan kuceritakan semua yang telah terjadi kepada andika berdua. Harap saja cerita paman tidak dibuat-buat dan meyakinkan! kata Niken dan sang adipati menghela napas sambil tersenyum. Peristiwa ini kurahasiakan dari siapapun juga, bahkan puteriku sendiri tidak mengetahuinya. Kurang lebih sebulan yanga lalu, jauh sebelum aku mengumumkan akan mengadakan sayembara perebutan Tilam Upih, pada suatu malam, kamarku dimasuki sesosok tubuh manusia.Kukira hanya maling biasa, akan tetapi ternyata ketika hendak menangkapnya, dia seorang yanga amat sakti. Karena dia mengenakan sebuah topeng di mukanya, aku tidak mengenalnya, hanya tahu dia seorang yang bertubuh sedang dan tegap. Dialah yang mencuri Tilam Upih dan meninggalkan penggantinya, yang palsu itulah. Aku telah mengerahkan seluruh kepandaianku, akan tetapi aku tidak berdaya melawannya bahkan aku dipukulnya sampai pingsan! Apakah paman tidak berteriak mainta bantuan para pengawal? tanya Niken. Tadinya aku merasa malu untuk minta bantuan. Bagaimana mungkin aku, Adipati Nusa Kambangan, berteriak-teriak menghadapi seorang pencuri saja.Dan akhirnya aku terpukul pingsan, dia lari membawa pusaka itu dan meninggalkan yang palsu. Aku merahasiakan peristiwa yang kuanggap amat memalukan dan memukul nama besarku itu. Budhidarma lalu menghela napas dan berkata, Jadi karena pusaka itu telah hilang dan ditukar yang palsu,maka paman lalu mengadakan sayembara ini? Wajah adipati itu menjadi kemerahan. Aku merasa amat sakit hati kepada maling itu, akan tetapi tidak berdaya. Maka, aku lalu mengadakan sayembara itu. Orang yang akan dapat memenangkan aku tentu akan mampu mencari maling yang telah melarikan Tilam Upih itu. Andika yang telah mengalahkan aku, anakmas Budhi dan sekarang aku telah berterus terang . Oleh karena itu, aku berharap andika yang akan mampu menemukan maling itu dan merampas keris pusaka Tilam Upih. Tiba-tiba Niken bangkit berdiri, Aku tidak percaya omonganmu, paman. Engkau tentu telah menyembunyikan Tilam Upih yang asli dan menyerahkan yang palsu! Kalau engkau tidak mengeluarkan yang asli, jangan salahkan aku kalau aku memaksamu dengan kekerasan! Gadis itu sudah siap untuk menyerang. Hemm, aku tidak berbohong! kata Adipati Surodiro. Siapa percaya akan dongeng itu? bentak pula Niken akan tetapi Budhi segera bangkit dan berkata kepada Niken dengan suara halus. Niken, aku percaya kepada cerita paman adipati. Maka, marilah kita pergi dari sini! Dia menerima kembali keris dari surodiro. Niken cemberut, akan tetapi terpaksa ia keluar dari ruangan itu tanpa pamit seperti yang dilakukan Budhi, dan tak lama kemudian mereka telah menyeberangai pula Selat Nusa Kambangan itu dan mendarat di pantai Lautan Kidul. Setelah turun ke darat, Niken marah-marah kepada Budhi. Tadi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena tanpa bantuan Budhi, ia tahu bahwa ia tidak berdaya menghadapi Adipati Sudrodiro, apalagi di kadipaten itu terdapat banyak pasukan yang tentu akan mengeroyoknya. Budhi, aku tahu sekarang mengapa engkau begitu mengalah dan percaya kepada Surodiro. Padahal aku yakin dia pasti berbohong dan Tilam Upih tentu masih di tangannya! Tidak mungkin, Niken. Kalau Tilam Upih masih berada di tangannya, lalu mengapa dia mengadakan sayembara? Tidak, keterangannya tadi tentu benar. Lalu kemana engkau akan mencari orang aneh penuh rahasia itu? Engkau hanya tahu bahwa dia berkedok dan berkepandaian tinggi. Bagimana engkau bisa tahu atau menduga siapa adanya orang yang mencuri keris pusaka itu? Aku akan mencarinya dan akan hasilnya, terserah kepada Hyang Widhi. Akan tetapi aku yakin bahwa kejahatan akan berakhir dengan kekalahan, Niken. Hemm, kurasa engkau memang sengaja mengalah kepada Surodiro karena engkau jatuh cinta kepada puterinya! Ah,jangan menuduh yang bukan-bukan, Niken! Siapa menuduh?Engkau terang-terangan ditipu oleh Adipati Surodiro, akan tetapi engkau tidak marah bahkan membelanya. Apalagi yang menjadi sebab kalau bukan karena engkau jatuh cinta kepada Wulansari? Ia memang cantik menarik. Huh, muak aku melihatmu! Niken......! Akann tetapi gadis itu sudah melarikan diri dengan cepat tanpa menengok lagi kepada dan Budhi hanya mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang matanya sambil menghela napas panjang berkali-kali. Entah mengapa, dia merasa tiba-tiba suasana hatinya menjadi sunyi sekali setelah ditinggalkan Niken yang galak itu. Ketika Niken berada bersamanya, dia merasa segala sesuatu serba lengkap dan menyenangkan. Inilah yang dinamakan cinta? Dia menghela napas lagi dan tidak mampu menjawab. Bagus, aku masih dapat menyusulmu di sini, Budhi! tiba-tiba terdengar seruan nyaring. Budhi menengok dan melihat Wijaya telah meloncat dari perahunya dan berada di depannya. Wajah pemuda yang gagah jantan itu nampak kemerahan dan matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh kemerahan. Karena sudah mengenal pemuda ini dan dia merasa suka, Budhi tersenyum menyambutnya, bukan menghampiri sehingga mereka berdiri berhadapan dalam jarak kurang dari dua meter. Ah,kiranya engkau, Wijaya?Ada keperluan apakah engkau menyusul aku? Apakah engkau diutus oleh paman adipati? Tidak ada yang mengutusku! Aku sengaja mengejarmu karena aku mepunyai urusan pribadi yang harus diselesaikan di antara kita sekarang juga! Urusan antara kita berdua? Eh, ki sanak, urusan apakah itu? Aku merasa tidak mempunyai urusan apapun denganmu. Tidak perlu banyak cakap lagi, Budhidarma. Engkau datang dan memasuki sayembara, hndak merampas diajeng Wulansari dari tanganku! Hemm,aku akan mempertahankan dengan nyawaku! kata pemuda gagah itu dengan geram. Budhi terbelalak, akan tetapi lalu teringat betapa sang adipati pernah membujuknya untuk suka menikah dengan Wulansari.Kini tahulah dia. Pemuda ini mencintai Wulansari dan cemburu kepadanya. Tentu karena mendengar tentang maksud sang adipati mengambilnya sebagai mantu! Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada pemuda ini yang demikian gagah dan jantan. Bahkan sikapnya untuk mempertahankan Wulansari sudah menunjukkan kegagaghannya dan betapa besar cinta kasihnya pemuda itu kepada adik seperguruannya itu. Akan tetapi aku mamasuki sayembara bukan untuk merebut Wulansari, melainkan merebut Tilam Upih! dia membantah. Biarpun demikian, tetap saja engkau juga bermaksud merebut daijeng Wulansari. Buktinya, paman adipati hendak menjodohkan engkau dengan Wulansari dan sikap Wulansari terhadap diriku sama sekali berubah setelah engkau memenangkan sayembara itu! Sudahlah, Budhidarma, tidak perlu banyak cakap lagi. Sekarang kita hanya berdua di sini, kita perebutkan Wulansari dengan taruhan nyawa. Engkau atau aku yang mati dan siapa menang dia akan mendapatkan Wulansari. Gila................! kata Budhi akan tetapi ucapannya itu disambut serangan oleh Wijaya yang sudah menjadi marah bukan main. Cemburu memang suatu perasaan yang amat aneh. Dapat membuat orang yang betapa lemahpun menjadi kuat dan yang penakut menjadi pembarani, juga dapat membutakan mata pikiran sehingga dia tidak akan memperdulikan segala macam pertimbangan lagi. Diserang secara dahsyat itu, Budhi mengelak. Dia tahu bahwa bicara dengan pemuda yang kalap itu tidak akan ada gunanya lagi, maka dia terus mengelak walaupun lawan menghujankan serangan bertubi-tubi. Dia merasa kasihan kepada Wijaya, maka tidak tega untuk membalas. Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan Wulansari telah berada di situ. Kakang Wijaya, apa yang kau lakukan ini? bentaknya kepada kakak seprguruannya, akan tetapi agaknya Wijaya sudah tidak mau mendengar lagi dan bahkan menyerang semakin dahsyat. Kini Wijaya bahkan sudah mencabut sebatang keris dan menyerang dengan kerisnya! Budhi tetap hanya mengelak dan kadang menepis keris itu dengan tangannya, akan tetapi tetap saja tidak mau membalas. Kakang Wijaya, hentikan itu! teriak pula Wulansari. Dan tiba-tiba gadis itu terbelalak heran. Ia melihat Budhi terhuyung, terkena tamparan tangan kiri Wijaya! Hampir ia tidak dapat percaya! Bagaimana mungkin Wijaya dapat membuat pemuda sakti yang telah mengalahkan ayahnya itu sampai terhuyung dengan sebuah tamparannya! Agaknya bukan Wulansari saja yang terkejut dan heran. Wijaya sendiripun heran, akan tetapi dia girang sekali dan mendesak terus dengan kerisnya dan tamparan tangan kirinya. Dan kini Budhi benar-benar terdesak hebat. Pemuda ini hanya mampu mengelak dan menangkis terus mundur. Desss......! Sebuah pukulan tangan kiri mengenai dada Budhi dan pemuad itu terpelanting dan terjengkang. Melihat dia dapat merobohkan lawan, Wijaya merasa bangga sekli, dia dapat mengalahkan Budhi, di depan Wulansari lagi! Dia bertolak pinggang dan berkata dengan lagak amat gagah. Budhidharma! Bangkitlah kalau engkau laki-laki! Budhidarma bangkit merangkak,lalu berkata, Tobat, Wijaya, aku mengaku kalah....! Dan dia terus meloncat dan melarikan diri ketakutan. Melihat ini, Wulansari terbelalak dan ia lalu menghampiri Wijaya, Kakang.........engkau mampu mengalahkannya....... ! Wijaya tersenyum. Untuk mempertahankan dan memperebutkanmu, semua iblis, bahkan dewa sekalipun akan kuhadapi dan kulawan dengan taruan nyawaku, diajeng. Sementara itu, tak jauh dari situ, Budhi mengintai dari balik semak-semak dan diapun tersenyum puas. Inilah kemenangan yang paling indah baginya. Menang karena telah dapat menyatukan du hati yang nyaris terpisah. Dia memang sengaja mengalah dan dia tahu bahwa ini satu-satunya jalan untuk menyatukan dua hati kakak beradik seperguruan itu. Diapun pergi sambil tersenyum, dengan cepat meninggalkan tempat itu tanpa diketahui oleh Wijaya dan Wulansari. Di dalam kamar yang agak gelap itu, beruang kali Ki Sudibyo menghela napas panjang. Dia merasa betapa kesehatannya semakin memburuk Dan dia amat merindukan Niken. Ingin dia melihat Niken, muridnya yang terkasih itu berada di dekatnya, timbul perasaan menyesal mengapa dia memberi tugas seberat itu, mencari Tilam Upih, kepada muridnya itu. Biarpun Niken sudah menguasai aji Hasta Bajra, namun di dunia ini banyak terdapat orang-orang jahat yang amat pandai. Kini timbul kekhawatiran dalam hatinya kalau-kalau muridnya itu akan terancam bahaya dan dia sama sekali tidak berdaya. Tubuhnya sudah amat lemah dan selama muridnya itu pergi, dia hanya bersembunyi saja di dalam kamarnya, dududk bersamadhi memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar muridnya diselamatkan dari semua malapetaka, dijauhkan dari marabahaya. Dia sama sekali tidak memperdulikan lagi keadaan Gagak Seto, mempercayakan saja kepada Klabangkoro dan Mayangmurko, dua orang muridnya tertua yang sudah dipercayanya sebagai murid-murid yang setia kepadanya. Pada suatu hari, menjelang malam, Ki Sudibyo memanggil Jinten yang melayaninya selama Niken pergi! Pelayan itu selalu siap melayaninya dan berada di luar kamarnya. Jinten.......! Dia memanggil dan pelayan itu segera memasuki kamar. Baru sekarang Ki Sudibyo menyadari betapa kini sudah berubah. Mukanya yang manis itu dibedaki tebal, alisnya ditambah warna hitam dan kedua pipinya dan bibirnya juga diberi pemerah. Nampak cantik pesolek. Akan tetapi Ki Sudibyo diam saja karena menganggap bahwa hal seperti itu wajar saja dilakukan wanita muda. Jinten, buatkan aku wedang jahe. Yang pedas,ya?kata Ki Sudibyo dan diapun terbatuk-batuk. Badanku terasa tidak enak dan lemah sekali. Dia terbatuk-batuk lagi. Baik, bendara, akan saya persiapkan. kata Jinten dengan hormat dan lembut, akan tetapi setelah keluar dari kamar itu, pelayan ini bergegas lari ke tempat tinggal Klabangkoro yang tidak berada jauh dari rumah induk. Ia segera nampak berbisik-bisik dengan sikap manja kepada Klabangkoro. Ki Sudibyo kelihatan lemah sekali dan sakit, terbatuk-batuk dan minta dibuatkan wedang jahe yang pedas. ia melapor. Klabangkoro mengangguk-angguk. Bagus, kini saatnya yang baik telah tiba. Dia mengambil sebuah bungkusan dari almari lalu menyerahkannya kepada Jinten. Jinten, masukkan obat bubuk ini ke dalam wedang jahe yang akan kau hidangkan kepada Ki Sudibyo, lalu tinggalkan di kamarnya. Akan tetapi engkau harus mengintai dari luar dan melihat bahwa wedang jahe itu benar-benar telah diminumnya. Nanti aku menyusul ke sana. Dengan tangan gemetar Jinten menerima bungkusan itu. Akan tetapi.........bagaimana.... kalau dia mengetahui? Aku bisa celaka! Hushh, aku ada di sini, takut apa? Cepat laksanakan, manis! dia merangkul dan mencium wanita itu yang segera nampak tabah lalu pergi meninggalkan rumah Klabangkoro untukl membuat wedang jahe yang akan dicampur dengan obat bubuk berwarna putih itu. Sementara itu, Klabangkoro cepat menghubungi Mayangmurko di pondoknya. Adi Mayang murko, cepat engkau mambuat persiapan.Saatnya telah tiba untuk kita bertindak terhadap Ki Sudibyo.Dia lalu menceritakan pelaporan Jinten. Kau tangkap tiga orang murid untuk dibawa kepada Ki Sudibyo kalau diperlukan. Aku sekarang hendak pergi dulu ke sana. Nanti engkau menyusul segera. Baik, kakang Klabangkoro. kata Mayangmurko dengan gembira dan diapun cepat pergi berpisah dari kakak seperguruannya itu. Ketika Klabangkoro tiba di luar kamar Ki Sudibyo, dia melihat Jinten. Wanita ini segera menghampiri dan berbisik, Wedang jahe itu telah diminum sampai habis. Bagus, sekarang engkau pergilah menjauh dan jaga agar tidak ada murid dapat mendekat ke sini. Setelah Jinten pergi, Klabangkoro lalu membuka pintu kamar itu dan dia melihat Ki Sudibyo duduk bersila dengan alis berkerut dan mulut menyeringai seperti menahan rasa nyeri. Dengan jantung berdebar tegang dia mendekati lalu berlutut ketika Ki Sudibyo mambuka matanya. Klabangkoro, mau apa engkau masuk ke sini tanpa kupanggil? Ki Sudibyo menegur sambil memandang tajam. Bapa Guru, saya datang menjenguk karena mendengar bahwa keadaan Bapa Guru tidak sehat. Hem, siapa bilang aku tidak sehat? Aku.......ahhhh......Tiba-tiba Ki Sudibyo memgang dadanya dan terbatuk-batuk. Bapa sakit keras, karena itu saya kira sebaiknya kalau Bapa Guru meninggalkan pelajaran Aji Hasta Bajra kepada saya agar aji itu tidak akan lenyap dan dapat dimiliki oleh ketua baru. Juga sudah sepantasnya kalau Bapa Guru mengangkat saya sekarang juga menjadi ketua sebelum terlambat. Sepasang mata itu terbalalak marah. Klabangkoro, apa yang kaukatakan itu? Kini sikap Klabangkoro tidaklah sehormat tadi lagi. Maksud saya,Bapa harus mengangkat saya menjadi ketua Gagak Seto dan mengajarkan Hasta Bajra kepada saya. Kalau sudah tidak keburu sebaiknya Bapa Guru menuliskannya pelajaran aji itu dalam sebuah kitab. Jahanam! Berani kau berkata demikian? Mengharuskan aku? Ki Sudibyo marah sekali. Bapa Guru tidak perlu marah-marah, hal itu hanya akan mempercepat kamatian Bapa! Keparat! Ki Sudibyo meloncat bangun untuk menyerang muridnya itu, akan tetapi tiba-tiba dia terpelanting dan mengeluh, memegangi dadanya. Ha-ha-ha,andika sudah tidak berdaya, Ki Sudibyo! kata Klabangkoro dengan sikap kurang ajar. Cepat angkat aku menjadi ketua dan tuliskan Aji Hasta Bajra menjadi kitab pelajaran, atau aku terpaksa menyiksamu sampai mati! Klabangkoro! Engkau yang bertahun-tahun menjadi muridku,kupercaya dan kuberi pelajaran, begiini tega..... ? tanyanya,hampir tidak percaya. Salahmu sendiri, Ki Sudibyo. Aku yang sudah bersetia kepadamu selama bertahun-tahun, membantu menegakkan dan mambesarkan Gagak Seto, sama sekali tidak kauperhatikan bahkan engkau akan mengangkat gadis itu menjadi ketua dan mengajarkan Hasta Bajra kepadanya! Karena itu, sekarang engkau harus mengangkatku menjadi ketua dan mengajarkan Hasta Bajra kepadaku. Percuma karena tubuhmu sudah keracunan! Keracunan? Ya, dalam wedang jahe tadi! Sudah.......jadi Jinten...... ? Sudah lama ia menjadi pembantuku yang setia. Dan hampir semua murid Gagak Seto juga menjadi pendukungku. Tidak! Tidak sudi. Biar engkau akan menyiksa dan memnunuhku, tidak akan kuangkat engkau menjadi ketua, apalagi mengajarkan Hasta Bajra kepadamu! Dia kembali bangkit berdiri, mengepal kedua tinjunya. Aku akan melawanmu mati-matian! Kini Ki Sudibyo menerjang ke depan. Akan tetapi dai terhuyng dan ketika Klabangkoro menangkisnya, diapun terpelanting lagi dan jatuh terduduk. Tahulah bahwa murid durhaka itu tidak berbohong. Dia telah keracuanan.Andaikata tidak keracuanan sekalipun belum tentu dia dapat menendingi muridnya karena tubuhnya sakit-sakitan dan lemah, apalagi kini telah keracunan. Dia benar-benar tidak berdaya! Bunuhlah, aku tidak takut mati!! kata Ki Sudibyo dengan marah. Nyawaku akan mengutukmu! Ha-ha-ha, hendak kulihat apakah engkau dapat menolak permuntaanku! Klabangkoro bertepuk tangan tiga kali dan pintu itu terbuka.Masuklah Mayangmurko dan orang ini mendorong masuk tiga orang murid muda. Tiga orang itu terdorong dan berlutut di atas lantai. Nah,Ki Sudibyo,apakah engkau masih menolak menuliskan Aji Hasta Bajra untukku? Klabangkoro kini mencabut senjatanya yang ampuh, yaitu Pecut Dahono dan mengancamkan senjata itu di atas kepala tiga orang murid muda itu. Melihat itu, Ki Sudibyo memandang marah dan akhirnya dia menghela napas panjang. Bebaskan mereka, aku akan menuliskan aji itu. aakhirnya dia berkata. Bagimanapun juga tidak mungkin dia mau mengorbankan nyawa tiga orang murid muda yang tidak berdosa itu. Adi Mayamurko, bawa mereka keluar! kata Klabangkoro, dan sambil tartawa Mayangmurko mabawa tiga orang tawanan itu keluar dari dalam kamar. Klabangkoro ternyata sudah mempersiapkan segalanya. Dia sudah membawa kertas serta alat tulis dan menyerahkan semua itu kepada Ki Sudibyo. Dengan dijaga dan ditunggui Klabangkoro, Ki Sudibyo menuliskan aji Hasta Bajra di atas kertas kosong itu. Sampai pagi barulah tulisannya selesai dan setelah memeriksa tulisan itu dengan girang Klabangkoro tetawa dan memasukannya ke dalam balik sabuknya. Klabangkoro muri murtad. Sekarang jangan ganggu aku lagi. Keluarlah! Ha-ha, tidak semudah itu ,Ki Sudibyo. Biarpun engkau telah menuliskan Aji Hasta Bajra,bagimana aku dapat yakin bahwa tulisan itu tidak palsu? Aku harus menahanmu sebagai sandera sampai terbukti bahwa tulisan ini tidak palsu. Aku akan mempalajarinya lebih dulu dan engkau boleh menunggu dalam tahanan bawah tanah yang sudah kubuat untukmu,ha-ha-ha! Murid jahanam! Ki Sudibyo mengutuk akan tetapi dai tidak berdaya ketika Klabangkoro memegang dan menarik lengannya,memaksanya berdiri dan mendorongnya keluar dari rumah menuju ke bukit di kebun belakang. Di situ ternyata telah dibuatkan sebuah penjara bawah tanah dan Ki Sudibyo dimasukkan ke dalam tahanan bawah tanah ini dan dijaga secara bergiliran oleh lima orang anak buah Klabangkoro! Ki Sudibyo menderita sengsara sekali. Klabangkoro memeng memberi obat penawar untuk racun yang dicampurkan dalam wedang jahe itu. Akan tetapi tubuh orang tua ini memang sudah lemah karena tidak sehat lagi. Di dalam kamar tahanan itu, setiap hari dia hanya duduk bersila atau tiduran. Akan tetapi dia tetap bersabar dan makan hidangan yang disuguhkan agar tidak mati kelaparan. Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai harapan, yaitu menunggu kembalinya Niken Sasi. Murid tercintanya ini tentu akan mencarinya, dan dia merasa yakin bahwa akhirnya Niken Sasi yang akan dapat menolongnya keluar dari neraka itu. Harapan Ki Sudibyo memang tidak sia-sia. Kurang lebih satu bulan setelah ia dikeram ke dalam tahanan bawah tanah, pada suatu pagi datanglah Niken Sasi di perkampungan Gagak Seto di lereng Gunung Anjasmoro! Pada waktu itu semua murid Gagak Seto, baik yang menjadi anak buah Klabangkoro maupun yang setia kepada Gagak Seto, mengenggap bahwa Klabangkoro telah menggantikan Ki Sudibyo sebagai ketua, atau setidaknya mewakili Ki Sudibyo yang oleh Klabangkoro dikatakan telah pergi merantau tanpa memberitahu ke mana perginya. Tiga orang murid muda yang diapergunakan untuk memaksa Ki Sudibyo telah lenyap entah kemana. Hanya Klabangkoro yang tahu bahwa tiga orang itu telah mati dan mayat mereka dibuang ke dalam sebuah jurang. Dengan demikian, rahasia yang telah diperbuat atas diri Ki Sudibo hanya diketahui mereka bertiga, yaitu Klabangkoro, mayangkoro dan Jinten saja. Kedatangan Niken Sasi disambut gembira oleh semua murid Gagak Seto,kan tetapi tentu saja tiga orang itu berdebar tagang melihat munculnya dara perkasa itu Setelah saling bertukar salam dengan para murid Gagak Seto,Niken langsung bertanya kepada Klabangkoro ke mana gurunya. Kakang Klabangkoro, ke mana Bapa Guru? Kenapa dia tidak berada di rumahnya? Ah, kami juga bingung memikirkan Bapa Guru, Niken. Sudah sebulan ini Bapa Guru pergi tanpa memberitahu ke mana perginya, Kami juga bingung, akan tetapi tidak tahu harus mencari ke mana. Hemm, ke mana beliau pergi? Jangan-jangan beliau pergi untuk menyusul aku. kata Niken. Mungkin saja karena selama ini Bapa Guru mengharap-harap kedatanganmu. Akan tetapi, sebaiknya kita tunggu saja. Kurasa tidak lama lagi dia juga akan kembali. kata Klabangkoro. Niken menerima pendapat ini dan dia menanti dengan sabar. Sambil menati kembalinya gurunya, Niken setiap hari pergi berjalan-jalan ke dusun-dusun di sekitar Gunung Anjasmoro. Dara ini memang dikenal oleh penduduk sekeliling tempat itu dan iapundi mana-mana diterima dengan ramah oleh warga dusun. Lima hari kemudian semenjak Niken pulang, pada suatu siang muncullah seorang pemuda diperkampungan Gagak Seto. Pada siang hari itu Niken juga tidak berada di situ, sedang berjalan-jalan di sebuah dusun di kaki gunung untuk mencari durian karena waktu itu musim durian dan kaki bukit itu banyak orang menjual durian. Pemuda itu bukan lain adalah Budhidarma. Tentu saja dia segera dihadapi banyak murid Gagak Seto yang merasa heran melihat datangnya seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Ki sanak, siapalkah andika dan ada keperluan apa andika datang ke tempat kami? tanya seorang di antara para murid itu. Apakah di sini perkampungan Gagak Seto? Tanya Budhi. Benar, siapakah andika dan apa kepentingan andika? Saya bernama Budhidharma dan kedatangan saya ini untuk bertemu dengan ketua Gagak Seto. Harap laporkan kepada ketua kalian bahwa aku mohon mengahadap karena ada urusan yang penting sekali. Kau tunggulah sebentar, Ki sanak,akan kami laporkan ke dalam kepada pimpinan kami. Beberapa orang murid lalu pergi melapor kepada Klabangkoro dan mayangmurko yang sedang bercakap-cakap di ruangan dalam. Kedua orang itu sedang menyusun siasat bagimana mereka dapat mengalahkan Niken yang tentu saja merupakan ancaman bahaya bagi mereka. Untuk menggunakan kekerasan terhadap dara itu, mereka belum berani. Biarpun Klabangkoro sudah mempelajari aji Hasta Bajra dari catatan yang dia dapatkan dari Ki Sudibyo, akan tetapi dia masih belum yakin apakah benar ilmu yang dipelajarinya itu asli dan ampuh walaupun ketika dia menggerkkan kedua tangannyam, ada hawea yang dahsyat keluar dari kedua tangannya. Ketika mereka sedang berbincang-bincang itulah datang para murid yang melaporkan bahwa di luar datang seorang pemuda yang hendak bicara dengan pimpinan Gagak Seto. Mendengar ini, Klabangkoro dan Mayangmurko segara keluar dari rumah itu dan bergegas pergi ke pintu gerbang perkampungan Gagak Seto untuk menemui pemuda yang baru datang itu. Mereka melihat pemuda yang sama sekali tidak mereka kenal. Akan tetapi sebaliknya Budhi segera mengenal Klabangkoro. Biarpun sudah lewat sepuluh tahun, namun Klabangkoro masih seperti dulu. Usianya sekarang kurang lebih limapuluh tahun, tubuhnya masih tinggi besar seperti raksasa dengan sabuk kuning gading melilit pinggangnya. Kulitnya hitam dan matanya lebar.Akan tetapi yang membuat Budhi sama sekali tidak dapat melupakannya adalah sebatang pecut yang terselip di pinggangnya itulah. Orang inilah yang dulu membunuh ibunya, bahkan hampir hampir membunuhnya pula. Kalu tidak ditolong oleh Sang Bhagawan Tejolelono, tentu dia telah tewas oleh cambuk raksasa itu. Budhi menahan gejolak jantungnya yang terasa panas teringat akan kematian ibunya. Akan tetapi dia lalu teringat pula akan nasihat gurunya. Tidak, dia tidak boleh membiarkan hati akal pikirannya bergelimang dengan dendam. Pembunuh ini hanyalah seorang pesuruh, dia harus dapat bicara dengan orang yang menyuruh raksasa ini membunuh ibunya dan mengapa ibu dan ayahnya mereka bunuh. Hemm, orang muda! Siapakah andika dan mau apa ingin bertemu dengan ketua kami? Nama saya Budhidarma dan saya hanya mempunyai kepantingan dengan ketua Gagak Seto. Oleh karena itu, saya hanya mau bicara dengan ketua Gagak Seto. Harap laporkan kepada ketua andika. kata Budhi dengan tenang dan menahan kesabarannya. Klabangkoro menjadi marah. Hemm,orang muda! Ketua kami sedang tidak berada di rumah, sedang pergi dan selama dia pergi, akulah yang menjadi ketuanya. Maka, apa keperluanmu katakan saja kepadaku! Tidak, kalau ketuanya tidak ada sekarang,lebih baik lain kali saja, jawab Budhi sambil membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu. Tahan! Bentak Klabangkoro marah. Sudah kukatakan, akulah ketuanya. Akulah ketua Gagak Seto! Hayo katakan apa keperluanmu atau kami akan menghukummu karena engkau telah berani lancang memasuki tampat kami! Aku tidak ingin berurusan dengan segala macam pembunuh dan anak buah melainkan dengan ketuanya! kata Budhi yang juga marah. Keparat kurang ajar! Klabangkoro lalu membantak marah dan dia sudah menerjang dengan pukulan kilat ke arah dada budhi. Budhi yang bagaimanapun juga pernah dihajar orang ini, cepat miringkan tubuh dan ketiak kepalan tangan menyambar lewat, dia mendorong dengan tangannya ke arah pundak kanan Klabangkoro. Tubuh Klabangkoro terputar dan hampir roboh! Merah sekali wajah Klabangkoro dan alisnya berdiri, matanya semakin lebar. Dia sedemikian marahnya dipermainkan di depan anak buahnya. Rasanya ingin dia menelan pemuda itu bulat-bulat! Jahanam busuk, berani engkau melawan? Dan tiba-tiba timbul ingatannya akan aji Hasta Bajra. Kenapa tidak dia coba aji itu kepada pemuda yang nampaknya tangguh ini? Dia lalu mengeluarkan suara menggeram, mengerahkan tenaga dari Aji Hasta Bajra yang selama ini dia latih dari catatan Ki Sudibyo, lalu memukul dengan sepenuh tenaganya. Wirrrrr....... ! hawa panas sekali menyambar ke arah Budhi. Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa lawannya yang telah membunuh ibunya itu amat tangguh, sudah mengelak dengan cepat ke samping. Akan tetapi tangan kedua Klabangkoro sudah menyambar lagi ke arah kepalanya, mengeluarkan hawa panas yang sama. Budhi menagkis pukulan itu dan terasa batapa tenaga pukulan lawan tidaklah berapa hebat seperti tampaknya. Dukkk! Tubuh Klabangkoro terdorong ke belakang dan terhuyung. Klabangkoro terkejut sekali dan merasa penasaran. Benarkah aji Hasta Bajra yang dipelajarinya itu dapat ditangkis pemuda ini? Dia merasa tidak yakin dan segera menyerang lagi, sekali ini menggunakan kedua tangannya untuk menghantam dada Budhi. Akan tetapi Budhi yang sudah mengukur tenaga lawan menerima pukulan itu dengan dadanya. Bukk! Dan kini tubuh Klabangkoro terpelanting sedangkan Budhi yang dipukul tidak bergeser sedikitpun. Klabangkoro terkejut setengah mati! Kalau begitu Hasta Bajra yang dipelajarinya itu palsu. Kalau asli tidak mkungkin ada orang dapat bertahan menerima pukulan itu dengan dadanya! Dengan penasaran dia lalu mencabut pecutnya sambil berteriak kepada Mayangmurko dan kawan-kawannya. Maju, bunuh keparat ini! Tar-tar-tar............. ! Akan tetapi sebelum mereka maju mengeroyok Budhi, terdengar bantakan nyaring, Tahan! Jangan berkelahi! Mendengar bentakan itu,semua murid Gagak Seto menahan senjatanya, bahkan Klabangkoro dan Mayangmurko juga mundur, mebiarkan Niken untuk menghadapi pemuda yang ternyata digdaya itu. Niken meloncat maju ke depan Budhi. Kedua orang ini saling pandang. Keduanya terbelalak penuh keheranan. Niken.............!! Budhi.................!! Kau di sini, Niken? Tentu saja! Aku memang tinggal disini. Dan engkau ......ada keperluan apa di sini? Aku mencari ketua Gagak Seto, ada urusan penting sekali yang harus kusampaikan kepadanya! Engkau mencari Bapa Guru Ki Sudibyo? Bapa Guru? Jadi ketua Gagak Seto itu.......... Beliau bernama Ki Sudibyo dab dia guruku, Budhi. Ahhh..............! Budhi terkejut sekali sehingga dia melangkah tiga langkah ke belakang dan memandang wajah Niken dengan mata terbelalak dan wajah agak pucat. Kenapa, Budhi? Ada urusan apa engkau dengan guruku? Aku hanya mau bertemu dengannya, bicara dengannya,Niken. Nah, itulah,Niken. Dia tidak mau bertrus terang, hanya berkeras hendak bertemu dengan Bapa Guru, maka kami menerangnya. kata Klabangkoro yang diam-diam merasa terkejut bukan main melihat hubungan yang nampaknya demikian akrab antara Niken dan Budhi. Niken menatap wajah Budhi dengan penuh selidik. Budhi, kita sudah saling mengenal. Karena guruku sedang tidak berada di sini, maka engkau boleh mengatakan urusan itu kepadaku saja. Aku yang akan mewakili guruku untuk membereskan semua persoalan. Tentu engkau percaya kepadaku, bukan? Hemm, amat tidak enak kalau engkau mendengar urusan ini, Niken. Tidak mengapa. Aku siap mendengarnya! Baiklah,kalau engkau memaksa. Nah, dengarkan baik-baik. Orang yang bernama Klabangkoro ini, dialh yang membunuh ayah ibuku! Akan tetapi karena dia hanya suruhan, maka aku masih belum bertindak keras kepadanya. Aku ingin bertemu dengan orang yang menyuruhnya membunuh ayah ibuku, yaitu ketua Gagak Seto! Sepasang mata Niken terbelalak dan mukanya berubah pucat sekali. Jadi engkau.........engkau ......Putera mendiang Ni Sawitri....... ? Bagus kalau engkau sudah tahu! Nah, aku harus membuat perhitungan dengan Ki Sudibyo yang telah mengutus murid-muridnya untuk membunuh ayah ibuku! Budhi,jangan lakukan itu! Niken berseru, hatinya seperti ditusuk rasanya karena bagaimanapun ia tentu saja membela gurunya, akan tetapi di lain pihak iapun tahu bahwa gurunya itu telah merasa berdosa membunuh ibu Budhi yang dulu adalah isterinya. Pada saat itu Klabangkoro dan Mayangmurko. Juga para murid lain sudah serentak maju mengeroyok Budhi. Dia hendak mencelakai Bapa Guru. Bunuh dia! teriak Klabangkoro yang sudah menerjang dengan pecutnya. Diikuti Mayangmurko dan para murid yang lain. Karena melihat para murid sudah maju, Niken tidak dapat mencegahnya lagi. Tentu saja para murid itu menjadi marah mendengar bahwa guru mereka akan dicelakai orang. Melihat semua orang maju mengeroyoknya, Budhi lalu meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri. Dia menghendaki ketua Gagak Seto, bukan semua murid Gagak Seto. Apalagi di antara mereka terdapat Niken. Hatinya sedih bukan main dan dia mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga para murid Gagak Seto itu tidak ada yang mampu menyusulnya. Niken sendiri berdiri bengong dengan hati bingung bukan main. Bagaimana ia mampu mengalahkan Budhidarma yang hendak membalas kematian ayah ibunya? Akan tetapi kemudia ia teringat bahwa ia harus menceritakan segalanya kepada Budhi. Pemuda itu harus tahu apa yang sebenarnya yang membuat gurunya menyuruh Klabangkoro membunuh Ni Sawitri dan Margono. Dan harus memberitahu bahwa sebetulnya Budhi adalah anak kandung sendiri dari Ki Sudibyo.Begitu ingat akan hal ini, iapun cepat meloncat dan melakukan pengejaran. Melihat gadis itu berlari cepat mengejar, Klabangkoro cepat mengajak Mayangmurko berunding. Celaka, katanya setelah mereka berada berdua saja di dalam kamar. Agaknya pemuda itu adalah bocah yang dulu terlepas dari tanganku dan ditolong seorang kakek sakti. kata Klabangkoro kepada adik seperguruannya. Akan tetapi, Niken sudah mengejarnya dan mudah-mudahan saja dapat membunuhnya! kata Mayngmurko. Justeru itulah yang mengkhawatirkan hatiku. Mereka nampak begitu akrab. Bagaimana kalau mereka tidak jadi bermusuhan, dan Niken bahkan membantu pemuda itu? Kalai begitu kita harus cepat membunuh Niken! Kata Mayangmurko. Kita lihat saja nanti. Kalau Niken tidak dapat membunuh pemuda itu, kita harus cepat turun tangan. Ingat, kirim berita kepada Jinten agar ia bersembunyi terus, jangan sekali-kali keluar dari tempat persembunyiannya agar jangan sampai terlihat Niken. Demikianlah, kedua orang itu telah mengatur rencana untuk membunuh Niken andaikata Niken tidak memusuhi Budhidarma. Dan kurang lebih dua jam kemudian, Niken pulang dengan tangan Hampa. Bagaimana, Niken? Apakah engkau berhasil mengejar dan membunuh pengacau yang hendak memusuhi Bapa Guru itu? Niken menggeleng kepala. Dia telah lari jauh dan aku kehilangan jejaknya. Paman, benarkah dia itu putera dari mendiang Ni Sawitri? Klabangkoro mengangguk. Dahulu ketika aku mendapat tugas dari Bapa Guru, aku berhasil membunuh Ni Sawitri dan suaminya, Margono. Dan sekarang aku ingat, bocah itulah yang mengamuk dan menyerangku, dan dia tentu sudah kubunuh kalau saja tidak muncul seorang kakek sakti yang menolongnya. Niken menghela napas panjang. Sayang sekali Bapa Guru mengeluarkan perintah seperti itu. Kau mengenal pemuda itu, Niken? Tentu saja. Dalam perjalanku beberapa kali kami bahkan saling bantu membantu dan dia adalah seorang ksatria yang gagah perkasa. kata Niken dengan suara sedih dan iapun memasuki rumah induk Gagak Seto. Malam itu Klabangkoro dan Mayangmurko mengadakan pesta untuk menyambut kedatangan Niken. Biarpun Niken tidak ada nafsu untuk makan enak,akan tetapi tentu saja ia merasa sukar untuk menolak penghormatan yang diberikan oleh para murid Gagak Seto itu. Dalam pesta makan enak itu, Niken berpesan kepada Klabangkoro dan Mayangmurko dengan suara sungguh-sungguh, Paman Klabangkoro dan Mayangmurko, pemuda bernama Budhidarma itu adalah putera mendiang Ni Sawitri dan Margono yang telah dibunuh atas perintah Bapa Guru. Karena itu, mulai sekarang harus diatur penjagaan ketat karena aku yakin bahwa dia tentu akan berusaha membalas dendam. Sayang Bapa Guru tidak berada di sini sehingga tidak ada yang mengambil keputusan. Niken, bagaimana engkau bisa tahu tentang Ni Sawitri? tanya Klabangkoro dengan heran. Niken menghela napas panjang. Bapa Guru yang meberitahu kepadaku. jawabnya singkat. Berhati-hatilah. Budhidarma itu sakti mandraguna, jangan dilawan. Kalau dia muncul,cepat beritahu kepadaku. Setelah makan kenyang, tiba-tiba Niken merasa kepalanya pening dan pandang matanya melihat bumi di sekelilingnya seperti berputar. Ia bangkit berdiri dan terhuyung, memegangi dahi dengan tangan kirinya. Ah, celaka.........! Ia mengangkat muka memandang kepada Klabangkoro, akan tetapi ia melihat wajah Klabangkoro seolah menjadi banyak dan berputaran. Paman.........apa.....apa yang kau kauberikan padaku......? Ia tergagap. Klabangkoro tertawa bergelak dan segera suara tawanya diikuti oleh tawa Mayangmurko dan para murid yang menjadi anak buah Klabangkoro. Niken mendengar suara tawa disekellingny dan kepalanya semakin pening. Akan tetapi ia segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Ia keracunan! Orang telah memberi racun pada makanannya atau minumannya! Keparat! Kalian meracuni aku.....? Ia melompat dan hendak menyerang Klabangkoro, akan tetapi ia terpelanting karena kepalanya yang pening membuat ia tidak dapat berdiri tegak. Dan segera Klabangkoro dan Mayangmurko meringkusnya. Dalam keadaan nanar dan terbelenggu Niken yang setengah pingsan itu dibawa ke rumah tahanan bawah tanah.Para penjaga di situ memandang heran ketika melihat Klabangkoro dan Mayangmurko mendorong-dorong tubuh Niken yang terhuyung. Akan tetapi karena mereka juga orang-orang kepercayaan Klabangkoro, mereka tidak banyak bertanya. Apalagi ketika Klabangkoro berkata singkat bahwa Niken telah bersekutu dengan musuh yang datang mengacau. Pintu kamar tahanan dibuka dan gadis itu didorong masuk, terhuyung-huyung dan terjatuh di depan kaki Ki Sudibyo yang dduk bersila di lantai. Melihat bahwa Niken dalam keadaan setengah pingsan didorong masuk oleh Klabangkoro dan Mayangmurko, Ki Sudibyo terkejut sekali dan memaki, Klabangkoro, manusia laknat, murid durhaka! Apa yang kaulakukan kepada Niken? Ha-ha-ha, jangan khawatir, Ki Sudibyo. Ia tidak akan mati,akan tetapi menjadi temanmu di sini sampai kalian berdua menuliskan aji Hasta Bajra yang asli untukku! Setelah berkata demikian, Klabangkoro keluar dan menutupkan pintu besi itu, lalu berkata dari luar, Ki Suidibyo, jangan mencoba untuk melarikan diri atau kalian akan mati seperti seekor tilus tenggelam dalam lubang. Ha-ha-ah! Setelah mereka pergi, Ki Sudibyo membangunkan Niken, mengerut tengkuk dan punggungnya, lalu menekan ulu hatinya. Niken muntah-muntah,akan tetapi merasa kepalanyatidak sepening tadi, walaupun tubuhnya masih lamas. Ketika melihat Ki Sudibyo,ia menubruk dan berlutut di depan kaki gurunya. Bapa Guru....... ! Tenanglah Niken. Engkau telah terjebak, tentu telah diacuni mereka dan dijebloskan di sini. Kiranya Bapa Guru ditahan di sini! Mereka mengatakan bahwa Bapa pergi tanpa pamit. Hemm, apa saja yang terjadi, Niken? Aku setiap saat mengharap kedatanganmu, akan tetapi tidak seperti ini. Ternyata engkau juga terperangkap! Kakek itu menghela napas panjang. Niken lalu menceritakantentang bagaimana ia terperangkap oleh Klabangkoro yang pura-pura menyambutnya dengan pesta. Sama sekali ia tidak menaruh curiga sehingga makan dan minum hidangan yang disediakan untuknya. Dan Bapa Guru sendiri bagaimana sampai ditahan di tempat ini? Apa yang telah terjadi, Bapa? Ki Sudibyo menghela napas panjang. Ah, biadab-biadab durhaka itu! Mereka tahu bahwa aku sedang sakit dan lemas, lalu mereka meracuni aku sehingga aku tidak mampu melawan. Mereka bahkan memaksa aku untuk menuliskan aji Hasta Bajra untuk mereka pelajari. Hemm,tentu Bapa tidak sudi menuliskan aji itu! Mula-mulanya aku tidak sudi. Lebih baik aku disiksa atau dibunuh dari pada memenuhi permintaan mereka. Akan tetapi mereka menangkap tiga orang murid Gagak Seto muda dan mengancam untuk mebunuh mereka di depan mataku. Bagaimana aku tega mengorbankan mereka? Jadi Bapa menuliskan juga aji itu? Pantas aku melihat Klabangkoro menjadi kuat dan agaknya sudah menguasai aji itu! Ki Sudibyo mengeglengkan kepala dan tersenyu. Aku tidak sbodoh itu, Niken. Aku hanya pura-pura setuju dan yang kutuliskan itu merupakan aji Hasta Bajra yang palsu. Memang ada manfaatnya di pelajari, akan tetapi tidak menjadi sehebat aslinya. Ah, aganya mereka tahu pula akan hal itu dan sekarang tentu akan memaksa kita untuk menuliskan aji itu. Kalau tiba saatnya, kita akan mencari akal untuk menghindar.Sekarang ceritakan bagaimana pengalamanmu mencari Tilam Upih, Niken.? Niken lalu menceritakan tentang Adipati dari Nusa Kambangan yang mengadakan sayembara memperebut Tilam Upih. Dia sakti mandraguna, Bapa. Aku sendiri sudah maju menandingainya, akan tetapi aku kalah...... Hemm,tentu saja. Aku sudah mendengar tentang dia. Bukankah adipati itu dahulu seorang datuk besar bernama Koloyitmo, terkenal sakti, terutama sekali karena memiliki Aji Wijoyokusumo? Engkau tentu akan kalah pengalaman dibandingkan dia, Niken.Lalu, siapa yang akhirnya berhasil mendapatkan pusaka Tilam Upih memenangkan sayembara itu? Niken merasa jantungnya berdebar tegang. Kalau saja ia belum tahu bahwa Budhidarma adalah putera mendiang Ni Sawitri, tentu ia tidak merasa tegang. Akan tetapi ia sudah tahu bahwa Ni Sawitri dahulunya adalah isteri gurunya ini, dan sebelum melarikan diri telah mengandung sehingga Budhidarma sesungguhnya adalah putera kandung Ki Sudibyo sendiri ! Kenapa engkau diam saja, Niken? tegur Ki Sudibyo yang ingin sekali mengetahui siapa pemenang sayembara dan yang berhasil mendapatkan keris pusaka Tilam Upih. Niken seperti baru sadar dari lamunannya. Yang berhasil mengalahkan adipati Surodiro adalah seorang pemuda bernama Budhidarma, Bapa. Dia seorang pemuda yang sakti mandraguna dan kebetulan saja bebrapa kali pemuda itu bekerja sama denganku menghadapi gerombolan jahat. Bahkan pemuda itu menolongku dari ancaman bahaya. Niken lalu menceritakan pengalamannya, ketika ia singgah di temopat Jainten, kemudian ketika dijamu oleh Jinten, ia terbius tertawan orang-orang jahat. Bahkan hampir saj celaka kalau saja tidak ditolong Budhi. Tiba-tiba ia terkejut dan membelalakkan matanya. Ahhh.......... ! Baru aku teringat sekarang! Sungguh aneh sekali ketika dijamu oleh Jinten, aku keracunan, persisi seperti keadaanku sekarang ini....... ! Hemm,Tidak perlu merasa aneh, Niken. Aku dapat menduga bahwa Jinten adalah kaki tangan atau pembantu dari Klabangkoro. Niken tertegun, lalu mengepal tangannya dengan gemas. Aih, kalau begitu si kedok hitam itu adalah Klabangkoro? Akan tetapi, ketika aku roboh pingsan, aku masih melihat bahwa Jinten juga terkulai dan keracunan. Tentu saja, untuk mengelabuhimu terpaksa Jinten juga makan hidangan bercampur racun pembius. Sudahlah untung engkau terlepas dari bencana ketika itu. Lalu, bagaimana lanjutan ceritamu? Yang terakhir aku bertemu dengan Budhi yang sedang dikeroyok oleh pasukan kerajaan yang dipimpin Pangeran Panjiluwih dan Senopati Lembudigdo. Aku membantunya dan kami berdua akhirnya berhasil meloloskan diri dari pengeroyokan. Akan tetapi lalu ada terjadi hal yang merupakan kenyataan yang aneh sekali, Bapa. Hemm,apanya yang aneh? Kejadian apakah itu? Kami berdua mendapat kenyataan bahwa Tilam Upih yang diterima Budhi dari tangan Surodiro itu ternyata adalh keris pusaka palsu. Kini Ki Sudibyo yang terbelalak memandang muridnya. Palsu? Ah, Adipati Surodiro mengadakan sayembara palsu apa maksudnya? Setelah mendapat kenyataan ini, Budhi dan aku pergi ke Nusa Kambangan dan langsung menanyakan kepada Surodiro. Dan diapun mengaku. Katanya, sebulan yang alau keris pusaka itu dicuri oleh seorang berkedok yang sakti mandraguna dan ditukar dengan keris yang palsu itu. Tadinya aku ingin mengamuk,akan tetapi Budhi mencegahku dan mengatakan bahwa dia percaya akan keterangan Adipati Surodiro. Ki Sudibyo mengangguk-angguk. Bukan menjadi watak Koloyitmo untuk main-main dan menipu. Tentu dia ingin melepaskan keris pusaka yang telah dipalsu oleh pencuri itu, dari pada nanti Nusa Kambangan diganggu banyak orang yang memeperebutkan Tilam Upih. Ahh, pegalamanmu banyak dan hebat pula, Niken. Biarpun engkau tidak berhasil mendapatkan Tilam Upih, akan tetapi pengalaman-pengalaman itu merupakan pelajaran yang baik sekali bagimu. Niken menghela napas panjang. Semua itu tidak ada artinya, Bapa. Masih ada lagi peristiwa yang amat penting dan hebat belum kuceritakan kepada Bapa. Ki Sudibyo memandang kepada wajah muridnya penuh selidik. Apakah itu,Niken? Hebat sekali engkau, belum lama pergi telah mengalami hal-hal yang hebat dan bertubi-tubi. Ketika aku pulang, jahanam-jahanam itu mengatakan bahwa Bapa Guru telah pergi tanpa pamit. Aku mencari keterangan disekitar pegunungan ini samapi beberapa hari tanpa hasil dan pada suatau hari ketika aku pulan, aku melihat Klabangkoro, Mayangmurko dan para murid Gagak Seto mengeroyok seorang pemuda. Dan pemuda itu ternyata adalah Budhidharma! Hemm, tentu dia datang berkunjung untuk mencarimu. Engkau telah menjadi kawannya yang baik, bukan? Karena dalam kata-kata itu terkandung nada suara penuh arti, wajah Niken menjadi kemerahan. Kalau begitu halnya, tentu peristiwa itu tidak penting dan luar biasa, Bapa. Akan tetapi Budhidharma datang ke Gagak Seto untuk mencari Bapa dan bahkan untuk membunuh Bapa Guru. Hahhh........... ? Mengapa demikian? Aku tidak mengenalnya dan tidak mempunyai urusan dengan dia! Akan tetapi Bapa mengenal ibu dan bapanya. Tahukah Bapa siapa pemuda itu sebenarnya? Akupun baru mengetahuinya saat dia datang ke Gagak Seto itu. Dia adalah putera kandung Ni Sawitri dan hendak membalas dendam untuk kematiana Ni Sawitri dan Margono. Wajah Ki Sudibyo tiba-tiba menjadi pucat sekali dan dia memandang wajah muridnya seperti orang melihat hantu. Ya Jagad Dewa Bathara.......! Akhirnya dia berseru. Bagaimana...........bagaimana engkau tahu tentang Sawitri dan Margono? Aku telah mendengar semuanya sebelum Budhi muncul, Bapa. Karena ketika bertemu dengannya dahulu kami tidak saling menceritakan riwayat kami, maka aku tidak athu bahwa dia putera Ni Sawitri. Aku sudah mendengar bahwa Bapa menyuruh Klabangkoro untuk membunuh Ni Sawitri dan Margono! Aduhhh.......jangan ingatkan lagi itu kepadaku, Niken! Aku merasa menyesal sekali sejak itu terjadi. Aku hanya menyuruhnya membunuh Margono karena murid itu murtad dan pantas dihukum, akan tetapi Sawitri ikut membunuh diri........aku menyesal sekali.......Orang tua ini nampak berduka sekali. Akupun sudah mendengar akan hal itu, Bapa. Akan tetapi melihat watak Klabangkoro yang amat jahat, bukan tidak mungkin Ni Sawitri juga dibunuh olehnya. Dan aku mengerti pula mengapa Bapa mengeluarkan perintah yang kejam itu. Karena Margono Ni Sawitri, isteri Bapa. Dengan kepala tertunduk Ki Sudibyo mengangguk. Benar.......ah, aku menyesal sekali karena kematian Sawitri, aku berdosa besar dan kalau sekarang puteranya datang mencariku, aku siap untuk mati di tangannya untuk menebus dosa.....Orang tua itu kini memukul-mukuldadanya dengan perasaan berduka sekali. Niken merasa kasihan, akan tetapi ia tidak dapat menahan dorongan hatinya untuk bicara terus. Akan tetapi ada satu hal yang Bapa tidak ketahui, akan tetapi aku mengetahuinya. Apa itu? Budhidharma itu, dia bukanlah anak kandung Margono, melainkan anak kandung Bapa Guru sendiri! Mata yang tua itu terbelalak, mulut yang ompong itu terngaga, dan wajah yang keriputan itu kini menjadi semakin pucat. Beberapa detik lamanya dia tidak mampu mengeluarkan suara, kemudian dia memaksa diri berkata, Niken........! Apa......apa maksudmu......? Demi Sang Hyang Widhi Wasa, katakan......jangan siksa aku dengan kebingungan......! Memang benar, Bapa. Ketika Ni Sawitri melarikan diri bersama Margono meninggalkan Gagak Seto, ia sudah mengandung! Jadi, Budhidarma itu adalah anak kandung Bapa Sendiri. Tidak......tidak.......! Bagaimana engkau bisa tahu..... Aku bertemu dengan paman Ki Joyosentika dan beliau yang menceritakan semua itu kepadaku. Duhhh Gusti........ ! Tubuh Ki Sudibyo terkulai pingsan! Bapa Guru....... ! Niken lalu menekan-nekan tengkuk dan kedua pundak gurunya. Tak lama kemudian Ki Sudibyo sudah siuman dan membuka kedua matanya, Niken terkejut sekali karena melihat betapa mata itu sama sekali tidak bersinar lagi, seperti mata mayat saja. Dan rambut di kepala gurunya itu mendadak berubah putih semua! Duhai Sawitri.......ampunkan aku........aku telah buta dan kejam kepadamu. Sawitri......ampunkan aku.........! Orang tua itu lalau menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil. Niken tak dapat menahan keharuan hatinya. Ia merangkul gurunya dan juga dari kedua matanya mengalir air mata. Ia tahu bahwa gurunya telah melakukan kekejaman, akan tetapi hukuman yang diterima gurunya ini jauh lebih menyakitkan lagi. Sekarang aku rela, aku mengerti.......mengapa para dewa menghukumku seperti ini.....ah, Sawitri, bagaimana aku harus menjelaskan kepada anak kita.....? Budhidharma......betapa indahnya anama anakku......, keturunanku........tapi.....tapi dia hendak membunuhku. Ke sinilah anaku, tikam jantung ayahmu yang jahat ini.....! Dia mengeluh, merintih dan menangis, akhirnya jatuh pingsan lagi. Bapa Guru...... ! Niken mengeluh penuh perasaan iba. Kini dibiarkan gurunya karena dalam keadaan seperti itu lebih baik dibiarkan gurunya tak sadarkan diri karena justeru kesadarannya yang menyiksanya. Segala macam perasaan suka duka kecewa marah benci dan sebagainya adalah permainan pikiran. Pikiran yang mengolah semua itu sehingga orang dikuasai oleh bermacam perasaan itu. Kalau pikiran itu tidak sadar, seperti dalam tidur, pingsan, maka semua perasaan itupun lenyap. Budhi merasa penasaran sekali, sama sekali tidak disangkanya bahwa Niken, gadis yang selama ini selalu menjadi menjadi buah pikirannya, yang bayangannya tak pernah meninggalkan hatinya,ternyata adalah murid musuh besarnya! Akan tetapi bagaimanapun juga, daia harus menjelaskan kepada Niken mengapa ia mencari Ki Sudiby, pembunuh ayah bundanya. Harus dijelaskan kepada Niken betapa jahatnya Ki Sudibyo. Budhi tidak berlari jauh. Dia memang bersembunyi ketika dikejar Niken karena dalam keadaan seperti itu, dia tidak ingin bentruk dengan Niken, gadis yang diam-diam dicintainya. Ketika bersembunyi itu, dia teringat akan benda pemberian ibunya, Benda perhiasan mainan berupa burung gagak. Mengapa ibunya memberikan benda seperti itu kepadanya? Kenapa ibunya mengatakan agar dia tidak membalas dendam kepada Gagak Seto dan benda itu akan mencegah dia dibunuh oleh Gagak Seto? Apa hubungan benda ini dengan ibunya dan Gagak Seto? Semua itu pasti akan terungkap setelah dia berhadapan dengan ketua Gagak Seto. Kini dia telah tahu bahwa ketua Gagak Seto bernama Ki Sudibyo. Benarkah Ki Sudibyo meninggalkan Gagak Seto, tidak berada di rumah? Atau hanya alasan saja dari para muridnya agar diatidak menemuinya? Dia harus menyelidikilagi dan kalau mungkin bertemu secara baik-baik dengan Niken. Akan dijelaskan semuanya kepada Niken agar gadis itu dapat mempertimbangkan niatnya bertemu dengan Ki Sudibyo, bahkan membantu pertemuan itu. Pada suatu malam, beberapa hari kemudian, Budhi berkunjung ke perkampungan Gagak Seto. Sekali ini kunjungannya tidak terang-terangan karena dia tahu bahwa kalau dia berkunjung begitu saja, dia akan dihadapi pengeroyokan puluhan orang. Kalau terjadi keributanbegitu, dia tidak sempat bicara dengan Niken dan kalau Niken ikut mengeroyoknya, akan sukarlah dia untuk dapat mengalahkan mereka yang jumlahnya begitu banyak. Apalagi kalau Ki Sudibyo yang kabarnya sakti itu muncul. Budhi mempergunakan kepandaiannya untuk melompati pagar yang mengelilingi perkampungan Gagak Seto tanpa terlihat oleh para penjaga. Dia berindap-indap menghampiri rumah induk karena tahu bahwa di situlah tentu sang ketua berada, juga Niken. Jantungnya berdebar juga ketika dia berhasil memasuki ruangan belakang yang nampak sunyi saja. Dan dari ruangan belakang itu dia masuk ke ruangan dalam yang gelap. Tiba-tiba terdengar suara orang, Selamat datang orang muda. Kami telah menetimu di sini! dan nampaklah sinar lampu dinyalakan orang sehingga ruangan yang tadinya gelap itu menjadi terang. Budhi melihat di situ telah duduk dua orang yang bukan lain adalah Klabangkoro dan Mayangmurko. Budhi siap untuk menhadapi pengeroyokan, akan tetapi Klabangkoro berkata sambil menyeringai, Tenanglah, Budhidarma. Kami bukan musuh-musuhmu. Duduklah dan mari kita bicara! Akan tetapi Budhi tetap waspada walaupun dia kelihatan tenang saja dan tidak ragu untuk memnuhi permintaan Klabangkoro untuk duduk di atas bangku berhadapan dengan mereka berdua. Hemm, Klabagkoro, bicaramu tidak masuk akal. Bagaimana aku tidak menganggap engkau sebagai musuhku setelah engkau membunuh ayah dan ibuku, bahkan nyaris pula membunuhku sepeuluh tahun yang lalu? Ah, aku percaya engkau tentu sudah mengetahui bahwa aku hanyalah seorang suruhan. Sebagai murid Ki Sudibyo tentu saja aku tidak berani menentang perintahnya. Dialah yang memerintahkan aku melakukan pembunuhan itu. Tidak ada persoalan pribadi antara aku dengan orang tuamu. Oleh karena itu, semua kesalahan berada di pundak Ki Sudibyo. Dialah musuh besarmu yang sesungguhnya! Klabangkoro, apa maksudmu dengansemua kata-kata ini? Aku sama sekali tidak percaya kepadamu dan tentu semua kata-katamu ini merupakan jebakan yanga akan mencelakakan aku! Budhi menatap tajam wajah kedua orang itu. Dari wajahnya saja dia sudah dapat menduga bahwa duao orang yang duduk di depannya ini adalah orang-orang yang menjadi hamba nafsu dan yang tidak segan melakukan segala macam bentuk perbuatan jahat untuk memnuhi kehendak nafsunya. Oleh karena itu dia bersikap waspada dan hati-hati sekali. Ha-ha-ha, orang muda, agaknya andika masih curiga kepada kami. Terus terang saja, kami sendiri merasa tidak setuju ketika guru kami mengutus kami untuk membunuh Margono dan Ni Sawitri. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah saudara-saudara seperguruan kami,. Kami merasa menyesal sekali dan untuk membuktikan penyesalan kami, kami bersedia untuk memberitahu kepadamu di mana persembunyian Ki Sudibyo. Budhi terkejut dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Dia tidak percaqya begitu saja. Hemm, benarkah itu? Dan di mana dia bersembunyi? Hemm, tanpa petunjuk dari kami, tidak mungkin andika bisa menemukan tempat persembunyiannya itu. Dia bersembunyi di bawah tanah. Kalau benar semua katamu, tunjukkan padaku di mana tempat itu! Kata Budhi. Tidak mudah mendatangai tempat itu malam-malam gelap begini, Budhidarma. Besok pagi, datanglah ke belakang perkampungan ini dan kami akan menjadi petunjuk jalan. Baik,aku pergi sekarang! Kata Budhi yang hendak menguji kejujuran mereka. Dia lalu pergi dan ternyata benar saja, tidak ada yang menghalanginya meninggalkan perkampungan itu. Malam itu, di sebuah bilik pondok seorang petani di lereng bukit, Budhi tidak dapat tidur, memikirkan keanehan itu. Melihat sikap mereka yang tidak menghalanginya, agaknya mereka itu berkata benar. Akan tetapi mengapa? Mengapa mereka hendak mengkhianati guru mereka sendiri? Benarkah karena penyesalan? Ataukah karena takut akan balas dendamnya sehingga sengaja berbuat baik menolongnya agar terlepas dari pembalasan dendamnya? Dia tidak peduli. Yang penting baginya dapat bertemu dengan ketua Gagak Seto! Dengan pikiran itu akhirnya Budhi dapat tidur pulas juga. Bapa,apakah benar-benar tidak ada jalan keluar dari sini? Bagaimana kalau kita menggunakan Hasta Bajra, menjebol pintu besi itu dan menyerbu keluar? Jangan, Niken. Selain pintu besi itu kokoh kuat dan dindingnya terbuat dari batu, juga kalau kau lakukan itu kita berdua akan mati bagaikan dua ekor tikus dalam lubang. Ketahuilah, tempat ini dapat dialiri air yang besar sekali sehingga kita akan tenggelam. Bendungan itu ada di tangan mereka.Sekali kita berusah lari dan mereka membuka bendungan, tempat ini akan penuh air. Sudah kuselidiki selama berbulan-bulan ini dan jelas tidak ada jalan keluar, kecuali kalau mereka yang membuka pintu. Juga di luar tempat tahanan ini dijaga ketat. Niken mengerutkan alisnya. Kalau begitu, apakah kita harus menyerah begitu saja dan mati di tempat ini Bapa? Tentu saja tidak! Akan tetapi kita harus memakai perhitungan. Mereka masih terus mengirim makanan dan minuman, itu berarti mereka bekum menghendaki kita mati. Dan aku tahu bahwa mereka masih mengharapkan penulisan aji Hasta Bajra yang tulen. Kita tunggu saja. Kalau sewaktu mereka lengah dan berani datang ke sini, barulah engkau boleh menyergap mereka dan dengan demikian dapat memaksa mereka mengeluarkan kita. Terpaksa Niken menaati gurunya karena memang tidak ada jalan keluar lagi. Dua hari kemudian, pada malam hari mereka mendengar suara ribut-ribut di luar kamar tahanan. Dan tak lama kemudian, dalam keadaan gelap, seorang didorong masuk ke dalam kamar tahanan yang ditutup kembali. Niken tidak sempat menyerbu keluar karena selain gelap, juga ia tidak tahu siapa orang yang didorong masuk. Orang itu merintih. Ki Sudibyo meraba-raba. Ternyata dia seorang pria Siapa andika? Ki Sudibyo bertanya ketika melihat betapa orang itu luka-luka, bahkan terluka parah di bagian kepalanya yang berdarah. Dengan suara lamah, orang itu berkata, Adi Sudibyo ........,ini aku.... (Kakang Joyosentiko........! Ki Sudibyo mengenal suara itu dan merangkul. Apa yang terjadi, kakang? Aku......aku berusaha untuk membebaskan kalian......akan tetapi ketahuan dan aku......aku dihajar......terluka parah...... Ah,kakang Joyosentiko,kenapa kaulakukan ini? Ki Sudibyo meraa menyesal sekali. Dalamhal aji kanuragan,ilmu kepandaian kakak seperguruannya ini memang termasuk lemah. Aku.......aku ingin bicara denganmu.Aku mendengar bahwa anak itu telah datang, anak Sawitri......aku ingin memberitahu bahwa dia itu putera kandungmu, Sudibyo. Ketika hendak pergi, Sawitri mengatakan kepadaku bahwa ia telah mengandung. Dia anakmu.... suara itu terengah-engah dan semakin lemah. Aku sudah tahu dari Niken. Diamlah, kakang, engkau harus beristirahat, biar kuurut jalan darahmu..... Per.....percuma......! Kakek itu mengeluh. Biarpun dibanti Niken, dalam kegelapan itu Ki Sudibyo masih berusaha menolong, namun menjelang pagi, ketika matahari sudah memasuki tempat itu dari terowongan. Ki Joyosentiko menghembuskan napas terakhir. Keparat Klabangkoro, manusia iblis berhati busuk.Aku akan membunuhmu untuk ini! kata Niken dengan marah sekali. Terdengarlah langkah-langkah kaki di luar. Mula-mula mereka mengira bahwa penjaga yang seperti biasa mengantarkan makanan untuk dimasukkan melalui jeruji besi. Akan tetapi, ternyata itu suara Klabangkoro. Bapa Guru, ada orang yang hendak bertemu dengan Bapa Guru Sudibyo! Ki Sudibyo dan Niken memandang dengan heran dan melihat Klabangkoro dan Mayangmurko berada di luar kamar tahanan dan di samping mereka berdiri Budhidharma! Pemuda itu kelihatan marah sekali, matanya mencorong seperti mata naga. Budhidharma, temuilah orang yang kaucari! kata Klabangkoro sambil membuka pintu besi. Melihat ini, Niken berseru, Budhi, jangan masuk! Akan tetapi Budhi salah sangka, mengira bahwa Niken hendak membela gurunya. Pada saat itu Niken melompat ke pintu untuk menyerang Klabangkoro, akan tetapi ia bertemu dengan Budhi yang mendorongkan kedua tangannya sehingga tubuh Niken terhuyung dan kembali ke dalam kamar tahanan. Pintu itu segara ditutup oleh Klanbangkoro dan Mayangmurko dia bergegas meninggalkan tempat itu. Ki Sudibyo! bentak Budhi dengan marah sambil memandang kepada laki-laki tua yang sudah berdiri di depannya itu, tidak memperdulikan lagi kepad Niken atau kepada mayat yang mengegeletak di sudut ruangan itu. Aku adalah Budhidarma, putera dari Margono dan Ni Sawitri yang telah kaubunuh! Aku menuntut keterangan dan tanggung jawabmu. Kenapa engkau membunuh ayah ibuku? Kedua tangan Budhi sudah gemetar dan suaranya agak gemetar pula, saking tegang hatinya. Budhi, tenang dan sabarlah dulu. Dengarkan penjelasanku! kata Niken. Niken,jangan mencampuri urusan ini! Ini adalah urusan pribadi antara aku dan pembunuh orang tuaku! Budhi membentak Niken yang melangkah mundur dengan kaget karena tidak biasa Budhi bersikap sekasar itu kepadanya. Mundurlah, Niken. Biarkan aku sendiri yang menghadapinya. kata Ki Sudibyo dengan tenang dan dia melangkah maju menghampiri Budhi. Dua orang itu saling pandang sampai beberapa lamanya, kemudian Ki Sudibyo betkata, suaranya gemetar penuh keharuan akan tetapi sikapnya tenang. Budhidarma, aku merasa menyesal sekali, akan tetapi perbuatan itu telah terlanjur dan aku bersedia menerima hukumannya. Kalau engkau datang hendak membalas dendam atas kematian mereka kepadaku, Nah,lakukanlah, Budhidarama. Aku tidak akan melawan! Kakek itu memejamkan matanya, berdiri di depan Budhi. Ki Sudibyo,aku bukan seorang pengecut yang membunuh orang yang tidak melawan. Pergunakan kedigdayaanmu. Aku mendengar bahwa engkau seorang yang sakti mandraguna, mari kita selesaikan perhitungan di antara kita, akan tetapi katakan dulu kenapa engkau membunuh ayah ibuku! Tiba-tiba Niken meloncat di antara mereka dan menghadapi Budhi dengan sinar mata menyala. Budhi, dengar dulu! Niiken,sudah kukatakan, jangan engkau ikut campur! bentak Budhi. Tidak bisa! Aku harus ikut campur. Pertama karena dia guruku dan kedua kalinya karena engkau buta, tidak mau mendengar penjelasanku. Guruku tidak mau menjawab karena tidak ingin melukai hatimu,maka aku yang mewakili untuk meberi keterangan mengapa Bapa Guru membunuh kedua orang tuamu itu! Niken, jangan......... ! Ki Sudibyo berseru. Harus Bapa! Dia harus mendengarnya. Baik ataupun buruk rahasia itu, orang harus mendengar kenyataan. Budhi, dengarlah. Bapa Guru menyuruh orang membunuh Margono dfan Ni Sawitri karena Ni Sawitri itu adalah isterinya yang melarikan diri dengan Margono muridnya! Dia mengutus Klabangkoro murid murtad dan isteri yang menyeleweng itu! Budhidharma memandang Niken dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah merah sekali. Bohong! Tidak mungkin ibuku dan ayahku seperti .........seperti yang kau tuduhkan itu......!! Engkau boleh saja tidak percaya akan tetapi demi Hyang Widhi demikianlah kenyataannya. Sayang saksi utama dari kenyataan itu kini mengegletak tak bernyawa lagi di sini, dibunuh oleh Klabangkoro. Dan buka itu saja, Budhi. Ketika ibumu, Ni Sawitri melarikan diri bersama Margono meninggalkan Gagak Seto, Ibumu itu dalam keadaan mengandung. Setelah terlahir, engkaulah puteranya, jadi ayah kandungmu bukan Margono, melainkan Bapa Guru Ki Sudibyo. Budhi menjerit. Tidak mungkin! Bohong semua itu! Dia musuh besarku! Niken, jangan coba-coba untuk membela gurumu dengan segala kebohongan itu! Kini Ki Sudibyo melangkah maju mendekati Budhi. Anakku Budhidarma.......... Jangan sebut aku anakmu! Engkau musuh besarku yang telah membunuh ayah ibuku! bentak Budhi marah. Baiklah, akan tetapi sesungguhnya, Niken tidak berbohong. Akupun baru saja mendengar tentang kenyataan ini dari mulut Kakang Joyosentiko yang tewasa ini. Kalau saja aku tahu bahwa ibumu pergi dalam keadaan mengandung, demi Hyang Widhi, aku pasti tidak akan menyuruh orang mengejar meraka. Ah, semuanya telah terjadi. Aku sungguh mencintai Ni Sawitri, aku hampir gila ketika ia pergi. Sebagai tanda cintaku, aku memberikan benda pusaka peninggalan orang tuaku kepadanya, yaitu perhiasan berbentuk burung gagak yang kemudian menjadi julukanku dan juga nama perkumpulanku. Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau anakku dan ibumu itu isteriku, nah, ini dadaku. Bunuhlah aku untuk menebus dosaku. Akan tetapi Budhi membuang muka dan berkata ketus, Aku tidak sudi membunuh orang yang tidak melawan! Akan tetapi dalam suaranya mengandung keraguan. Dia masih terkesan dengan cerita Ki Sudibyo tetntang benda pusaka yang berbentuk burung gagak yang katanya diberikan ibunya. Benda itu kini tergantung di lehernya! Ibunya berkata bahwa benda itu akan melindunginya dari ketua Gagak Seto! Jadi benarkah benda itu merupakan pusaka bagi ketua Gagak Seto? Pada saat itu terdengar suara tawa bergelak. Ha-ha-ha-ha ! Kalian tidak mau saling bunuh?Baiklah, kalau begitu biarlah kalian semua mati bersama! Mendengar ini, Ki Sudibyo dan Niken meloncat ke pintu, akan tetapi mereka tidak dapat berbaut sesuatu karena Klabangkoro ternyata berteriak dari luar dan pintu itu masih tertutup rapat dan kaut. Bapa, kita harus berusaha untuk mencoba meloloskan diri, tidak bisa kita menunggu mati konyol di sini! berkata Niken dan iapun lalu mengerahkan, aji Hasta Bajra, kedua tangannya didorongkan ke pintu besi. Wuuuuuutttt.......dessss.........! Pintu besai itu terguncang keras dan batu-batuan bertebara, akan tetapi agaknya pukulan Hasta Bajra itu masih belum cukup kuat menghancurkan daun pintu baja dan dinding batu itu. Melihat ini lalu Budhi berkata, Biar aku mencobanya! dan diapun menggosok kedua telapak tangannya, kemudian menghantamkan kedua tangannya ke arah pintu baja. Wuuuuuuuuttt.......darrr........ ! Pecahlah pintu baja itu dan banyak batu dinding porak poranda! Akan tetapi sebelum mereka dapat meloloskan diri, tiba-tiba terdengar bunyi air yang hiruk pikuk dan dari terowongan itu menerjang air yang banyak sekali! Mereka bertiga terkejut dan tidak dapat melawan arus air yang demikian kuatnya. Mereka baru sampai di pintu kamar tahanan sudah disambar air dan hanyut kembali ke dalam kamar tahanan. Air demikian kuat dan banyaknya sehingga sebentar saja air sudah naik samapi ke dada mereka! Mereka tidak mungkin dapat berenang keluar kamar karena dari luar terus membanjir air yang bagaikan gelombang samudera! Kasihan sekali Ki Sudibyo yang sudah tua dan lemah tubuhnya. Dia gelagapan dan tentu sudah tenggelam kalau saja Niken tidak menyambar lengannya. Kini air naik terus dan terpaksa mereka bertiga menggerakkan kedua kaki dan tangannya untuk mencegah agar tubuh mereka tidak tenggelam. Air sudah lebih dalam dari tubuh mereka dan amsih terus menyerbu masuk. Atap kamar tahanan itu tinggal satu meter lagi, dan tak lama kemudian mereka tentu akan ditelan air yang memenuhi tempat itu, dan tewas. Niken....! Budhi......! Cepat kalian mengerahkan tenaga untuk menerjangair dari pintu itu. Cepat sebelum terlambat. Jangan perdulikan diriku! Ki Sudibyo berteriak dengan hati khawatir sekali. Akan tetapi Niken tidak mau meninggalkan dan juga Budhi yang digdaya di daratan itu ternyata tidak begitu pandai berenang sehingga diapun sudah lemas dan sudah banyak menelan air. Ketika Niken menarik lengan gurunya,kemudia bersam Budhi mencoba untuk menerjang arus air, mereka terserempet kembali dan bahkan kepala mereka terbentur dinding sehingga mereka bertiga merasa pusing dan lemah. Aduh, celaka........! Niken, Budhi, sekali ini tewaslah kita......! Ki Sudibyo berkata sedih. Jangan khawatir, Bapa. Ada aku di sini yang menemanimu sampai mati sekalipun! Budhidarma........Budhi..... Ki Sudibyo berkata terengah-engah dan berusaha agar jangan menelan air. Untuk terakhir kalinya, percayalah engkau kepadaku? Bahwa engkau ini putera kandungku? Budhi juga berusaha agar tubuhnya tidak tenggelam, namun kepalanya juga pening sekali, tubuhnya mulai menjadi lemah karena kelelahan.Akan tetapi mendengar pertanyaan Ki Sudibyo, dia mengeraskan hatinya dan berkata, Aku bukan puteramu, engkau adalah musuh besarku yang telah membunuh ayah bundaku! Budhi.........! kata Niken, suaranya mengandung kemarahan, juga kesedihan. Maaf, Niken..........! kata Budhi Mereka menggerakkan kaki mkereka terus agar jangan tenggelam, biarpun air yang sampai ke leher mereka itu kadang naik mengenai mulut dan hidung. Atap semakin dekat, hanya tinggal setengah meter lagi dan udara mulai pengap. Beberapa menit lagi mereka tentu akan tewas seperti tiga ekor tikus yang tenggelam dalam lubang. Budhi, kita bertiga sudah menghadapi maut. Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi kita. Untuk yang terakhir kalinya, tidak maukah engkau mengakui Bapa Guru sebagai ayah kandungmu? tanya Niken dengan penuh penasaran. Melihat wajah Niken, hampir saja kekerasan hati Budhi runtuh, akan tetapi dia menggigit bibirnya dan berkata, Tidak bisa, aku tidak bisa mengakui musuh besarku sebagai ayahku. Bagaimana aku dapat menghadap ayah dan ibuku di alam baka? Kepala batu! Niken memaki dan kalau saja Budhi berada di dekatnya, tentu sudah dipukulnya pemuda itu. Sudahlah Niken. Biarlah aku menderita batin yang sebesarnya, ini merupakan hukumanku. Ahh, selamat tinggal Niken, Budhi........ agaknya Ki Sudibyo sudah putus harapan dan tidak kuat lagi mempertahankan tubuhnya agar tidak tenggelam. Kelelahan dan kedinginan membuat kaki tangannya tidak mapu lagi bertahan. Bapa........ ! Jangan putus asa dulu. Kita melawan dan bertahan sampai saat terakhir! kata Niken dan ia menyambar tangan Ki Sudibyo dan menariknya kembali ke atas. Haiiiiiiiii........ ? Air menurun.........tiba-tiba Budhi berseru dan Niken juga dapat merasakannya. Atap semakin menjauh. Apakah yang telah terjadi? Di luar terowongan itu, di lambung bukit, seorang pemuda menggunakan sebatang linggis untuk membongkar batu-batu di situ. Dia bekerja keras mati-matian dan pemuda itu adalah Gajahpuro! Pemuda ini amat mencintai Niken, mencintai dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sunggu. Bahkan ketika dia disuruh ayahnya menodai Niken ketika gadis itu tertawan, dia tidak sudi melakukannya. Dia mencintai gadis itu dengan tulus. Dia tahu bahwa Niken ditahan bersama gurunya, kemudian Budhi juga ditahan.Dia tidak akan berani melawan ayahnya kalau yang ditahan atau hendak dibunuh itu Ki Sudibyo dan Budhi. Akan tetapi Niken? Niken hendak dibunuh dan dia tidak mungkin tinggal diam saja. Sudah dicarinya akal untuk membebaskan gadis itu, namaun tidak juga ditemukan dan dia hampir putus asa. Akan tetapi ketika dia mendengar dari para murid bahwa tiga orang tawanan itu akan dibunuh dengan mengalirkan air ke dalam terowongan, dia mendapat akal untuk menolong Niken. Yaitu dengan membobol punggung dekat terowongan. Setelah bekerja mati-matian akhirnya dia berhasil. Dia berhasil membobol dinding dan kini air mengalir dengan derasnya keluar dari lubang itu! Saking kuatnya tekanan air maka sebntar saja lubang itu menjadi besar dan air membanjir keluar. Akan tetapi, perbuatan itu ketahuan oleh Klabangkoro yang mendapatkan laporan dari anak buahnya. Dia lari menghampiri dan memaki, Anak durhaka! Apa yang kaulakukan ini? Ayah tidak boleh membunuh Niken! Kata Gajahpuro. Saking marahnya Klabangkoro menrjang dan menempiling kepala pemuda itu. Gajahpuro mengeluh dan terpelanting, pingsan! Buang dia ke sumur tua, biar dia rasakan hukuman itu selama tiga hari! Bentak Klabangkoro yang sudah marah sekali. Dia sudah girang karena menurut pertimbanganya, Ki Sudibyo, Niken dan juga Budhi tentu akan mati tenggelam. Siapa kira anaknya sendiri yang menggagalkannya. Empat orang mengangkat tubuh Gajahpuro yang pingsan untuk melaksanakan perintah pemimpin mereka. Di sebelah selatan perkampungan Gagak Seto memang terdapat sebuah sumur tua yang tidak berair dan kesanalah pemuda itu diturunkan dan ditinggalkan. Hayo kita serbu tempat tahanan, jangan sampai mereka meloloskan diri! kata Klabangkoro pula dan bersama Mayangmurko dan para anak buah mereka berangkatlah mereka ke tempat tahanan, di gua yang berterowongan itu. Smentara itu, dengan girang sekali Niken dan Budhi mendapat kenyataan bahwa air menurun dengan cepat. Setelah air tinggal selutut dalamnya, Budhi berkata, Mari kita keluar cepat! Mari, Bapa. kata Niken sambil menggandeng tangan Ki Sudibyo yang sudah lemas. Mereka bertiga memang merasa lelah sekali. Bahkan Budhi yang digdaya itupun merasa lemah dan lelah karena dia harus berjuang agar tidak tenggelam dalam waktu lama, padahal dia tidak begitu pandai berenang. Mereka bertiga terhuyung keluar dari pintu baja yang tadi runtuh terkena pukulan Budhi dan Niken. Mereka berjuang dalam air yang sudah setinggi lutut menuju terowongan untuk keluar dari goa itu. Akan tetapi tiba-tiba dari luar datang Klabangkoro,Mayangmurko dan para murid anak buah Gagak Seto. Hajar mereka dengan anak panah! bentak Klabangkoro yang sudah mempersiapkan segalanya. Puluan batang anak panah yang dilepas mereka itu meluncur masuk ke terowongan menyambut tiga orang yang hendak melarikan diri itu. Melihat ini, Budhi menerjang maju ke depan untuk melindungi Niken dan gurunya. Dia berhasil menangkis puluhan batang anak panah sehingga runtuh, akan tetapi karena memang dia sudah lemas dua batang anak panah masih saja menerobos dan mengenai pundak dan lambungnya! Budhi terhuyung ke belakang. Melihat ini, Ki Sudibyo yang biasanya lemah itu mendadak menjadi beringas. Melihat puteranya, putera kandungnya terluka anak panah, dia lalu menerjang ke depan sambil berteriak lantang. Murid-murid yang murtad! Berani kalian menyerangku? Dan dia melancarkan pukulan jarak jauh yang tiba-tiba menjadi demikian kuatnya sehingga belasan orang murid Gagak Seto ,terkena pukulan aji Hasta Bajra dan terpelanting keras. Yang lain menjadi jerih, apalagi ketika Klabangkoro dan Mayangmurko yang mencoba untuk maju, juga terlempar oleh pukulan ampuh itu, Klabangkoro terkejut sekali, mengira bahwa kini gurunya telah pulih kembali tenaganya. Maka iapun meneriaki para anak buahnya untuk mundur, lalu dari atas goa mereka menghujankan batu-batu besar untuk menutup goa. Kertia Ki Sudibyo mengamuk membela puteranya, Niken menolong Budhi yang terkulai lemas. Agaknya anak panah yang mengenai tubuhnya itu adalah anak panah yang dilepas oleh Klabangkoro dan Mayangmurko. Hal ini dapat diduga karena ujung anak panah itu mengandung racun, tidak seperti anak panah lain yang dilepas para murid Gagak Seto yang tidak mengandung racun. Budhi sudah dududk bersila untuk mengatur pernapasan dan melawan jalannya racun yang terasa panas itu. Setelah semua pengeroyok mundur dan goa itu ditutup banyak batu besar Ki Sudibyo tiba-tiba menjadi lemas kembali. Dia tadi telah mengerahkan tenaga diluar batas kemampuannya yang sedang lemah, dan ini membuat dia terbatuk-batuk dan keluar darah dari mulutnya. Ki Sudibyo terluka dalam! Akan tetapi dia cepat mengusap bekas darahnya dari bibirnya dan lari menghampiri budhi. Bagaiman dengan dia? Bapa, lukanya parah. Badanya panas sekali. Ki Sudibyo memeriksa lalu tiba-tiba mencabut kedua anak panah itu. Budhi mengeluh dan roboh pingsan. Ki Sudibyo melihat bekas luka dan memaki, Jahanam Klabangkoro, dia menggunakan panah beracun. Mari, bantu aku mengangkatnya kembali ke dalam, Niken. Air sudah surut kembali dan biarpun lantai masih basah, namun tidak ada lagi genangan air. Budhi direbahkan di atas lantai dan Ki Sudibyo lalu duduk bersila di dekatnya. Setelah mulutnya berkemak-kemik membaca doa, dia lalu mengerahkan sisa tenaga dalamnya kepada jari-jari tangannya, kemudian dengan sepuluh jari tangannnya dia mulai mengrut tubuh Budhi, terutama di sekitar pundak dan dada yang tadi terluka anak panah.Ki Sudibyo memang mempunyai ilmu pengobatan dengan jalan mengerut jalan darah. Niken yang tidak dapat membantu hanya menonton dengan wajah khawatir sekali, Ia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan Budhi, akan tetapi juga mengkhawatirkan keselamatan gurunya karena ia mengerti bahwa melakukan pengobatan seperti gurunya itu membutuhkan pengerahan tenaga sakti yang banyak dan keadaan gurunya lemah sekali. Ia melihat keringat membasahi seluruh wajah gurunya,bahkan dari ubun-ubun kepala gurunya mengepul tapi tipis. Dengan hati-hati Niken lalu memeras saputangan sampai kering benar, lalu mengusapnya, wajah gurunya yang basah keringat itu perlahan-lahan. Dengan terharu ia mengerti bahwa gurunya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawa putera kandungnya. Setelah berjuang keras selama satu jam, akhirnya Ki Sudibyo membuka matanya dan memandang dengan girang. Dari kedua luka dipundak dan dada itu keluar darah yang berwarna agak hijau makin lama semakin banyak sampai akhirnya yang keluar darah merah. Ki Sudibyo mengeluarkan senyuman girang, melepaskan kedua tangannya, akan tetapi dia terkulai roboh dan pingsan di samping Budhi. Niken terkejut sekali. Melihat Budhi tertolong, hatinya girang, akan tetapi melihat keadaan gurunya, ia khawatir sekali. Wajah gurunya pucat seperti mayat dan napasnya terengah-engah. Bapa Guru........ ! Bapa....... ! Ia mengguncang pundak orang tua itu, akan tetapi tidak dapat menyadarkan gurunya. Saking bingung Niken lalu menangis! Entah sampai berapa lama ia mengguguk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan ia sendiri tidak menyadari. Sebuah tangan meraba pundaknya dan suara yang lembut menyapa. Niken, kenapa engkau menangis? Niken menurunkan kedua tangannya, menoleh dan melihat bahwa Budhi rtelah siuman telah bangkit duduk dan pemuda itulah yang menyentuh pundaknya dan bertanya. Niken memandang lagi kepada gurunya. Masih seperti tadi. Pucat seperti sudah mati. Bapa Guru.......! Ia menjerit dan menangis lagi. Budhi melihat keadaan Niken itu menjadi tidak tega, akan tetapi wajahnya berubah tak senang melihat Ki Sudibyo. Niken, tidak usah ditangisi. Gurumu itu jahat sekali, maka dia menerima hukuman dari para dewa. Mendengar ucapan ini, seketika Niken menghentikan tangisnya. Mukanya masih basah air mata, kini kemerahan dan sepesang matanya seperti membara ketika ia memandang wajah Budhi. Engkau yang jahat! Engkau anak durhaka yang tidak mengenal budi orang. Kau tahu? Ketika engkau terluka tadi, Bapa Guru telah mengerahkan tenaga di luar batas kemampuannya untuk melindungimu dan mengusir mereka keluar goa. Kemudian, dengan sisa tenaganya yang masih ada, Bapa Guru telah mengerahkan tenaga saktinya untuk mengurutmu dan mengeluarkan racun dari lukamu. Dia sampai kehabisan tenaga dan sekarang menggeletak pingsan seperti ini! Dan engkau mengatkan jahat? Budhi tertegun dan terkejut. Dia memandang kepada wajah orang tua yang mengegletak di depannya itu. Kemudian dia memandang Niken dan berkata lirih, Maafkan aku, Niken. Aku tidak tahu akan hal itu. Kalau begitu, dia telah berbuat baik kepadaku. Kenapa dia berbuat baik begitu? Bodoh kau! Dia itu ayah kandungmu! Tentu saja dia rela berkorban nyawa sekalipun untukmu! Hemm,dia ......dia membunuh ayah dan ibuku! kata Budhi kukuh. Akan tetapi hal itupun dilakukan dengan ada sebabnya. Budhi, maukah engkau memaafkan ayah kandungmu sendiri yang amat mencintaimu? Budhi menggeleng kepalanya. Masih terbayang di depan mataku ketika ibu disiksa kemudian ibu membunuh diri, masih ingat aku betapa ayahku menggeletak menjadi mayat dengan tubuh luka-luka. Aku tidak dapat memaafkan dia! Budhi,kau kejam....... ! Niken menangis lagi dan memeluki tubuh gurunya yang masih belum sadar. Hatinya terasa sakit sekali. Harus diakui bahwa ia mencintai pemuda itu, akan tetapi iapun mencintai gurunya sebagai pengganti orang tuanya. Ingin ia agar Budhi berbaik kembali dengan Ki Sudibyo, dan alangkah akan bahagia hatinya kalau ayah dan anak itu berbaik kembali, dua orang yang dicintainya menjadi rukun. Akan tetapi harapanya itu ternyata gagal. Budhi tidak dapat memaafkan Ki Sudibyo, tetap memusuhinya dan karenanya sama saja dengan memusuhinya! Sakit hati atau dendam, dan perasaan suka duka atau apapun juga dalam hati manusia, timbul dari pikirannya. Dalam keadaan pikiran tidak berjalan atau tidak bekerja, segala macam perasaan hati itupun tidak akan timbul. Tidak ada suka duka. Tidak ada benci atau sayang, terasa dalam hati orang yang sedang tidur, karena pikirannya tidak bekerja. Dan pikiran sudah bergelimang dengan nafsu yang selalu hendak menguasai diri manusia. Karena itu pikiran membentuk si-aku dan semua ditujukan demi kepentingan dan kesenangan si-aku. Kalau si-aku merasa dirugikan, maka bencilah dia. Kalau si-aku merasa diuntungkan,maka sayanglah dia. Manusia dipermainkan dan diombang-ambingkan oleh pikiranya sendiri yang bergelimang nafsu. Berbahagialah orang yang tidak bertindak menurutkan pikiran yang bergelimang nafsu, melainkan menurutkan bisikan nurani yang lebih bersih, bisikan jiwa yang bebas dari pengaruh nafsu. Akan tetapi mungkinkah itu? Mungkinkah manusia menjungkir-balikan nafsu sehingga bukan nafsu lagi menguasai dia, melainkan nafsu menjadi peserta dan hamba yang baik? Tentu saja mungkin,akan tetapi bukan oleh usaha pikiran, karena pikiran sendiri sudah menjadi sarang nafsu. Yang mampu menaklukan nafsu dan mengembalikan nafsu pada tugas awal yang sebenarnya, yaitu menjadi peserta manusia, adalah Kekuasaan Tuhan! Hanya dengan penyerahan kepada Tuhan sajalah, kalau Tuhan menghendaki, maka kita akan dapat terbebas dari cengkeraman nafsu, dan akan memanfaatkan nafsu sebagai pelengkap dan peserta hidup. Sebuah perahu meluncur cepat sekali, didayung oleh seorang wanita cantik, menyeberang ke Nusa Kambangan. Wanita itu berusia kurang lebih tigapuluh tujuh tahun, cantik manis dengan wajah bulat telur, jelita dan anggun. Akan tetapi sepasang matanya amat tajam seperti burung rajawali, dan bibirnya yang manis itu tersungging senyuman yang aneh. Biarpun tangan dan lengan kecilnya saja, namun ketika ia menggerakkan dayung, perahu melesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, menandakan bahwa tangan kecil ramping itu memiliki tenaga yang dahsyat. Wanita itu bukan lain adalah Dewi Muntari yang kini han7ya menggunakan nama Dewi saja. Dewi telah tamat belajar dari Ni Durgogini, dan ia mendapat tugas untuk mencari pusaka Tilam Upih. Mendengar bahwa pusaka itu berada di tangan Adipati Nusakambangan, Dewi langsung saja menuju ke pulau itu. Begitu perhunya menepel di daratan pulau dan Dewi meloncat ke pantai, ia segera dikepung belasan orang penjaga pantai itu. Melihat seorang waita yang begitu cantik, para penjaga pantai ini bersikap ceriwis dan kurang ajar. Manis, siapakah engkau dan hendak mencari siapa? Jangan mencari orang lain, cari saja aku berada di sini! kata yang lain. Mendengar ucapan dua orang itu, yang lain tertawa riuh gembira. Dewi mengerutkan alisnya. Mulut kalian busuk, pantas dihancurkan! katanya tenang. Dua orang itu terbelalak sejenak,akan tetapi akhirnya tertawa dan dan yang lainpun tertawa.Seorang wanita cantik seperti itu, bagaimana hendak menghancurkan mulut mereka? Ha-ha-ha, biar mulutku hancur kaucium..........! Prakkk! tiba-tiba saja, secepat kilat, Dewi menggerakkan dayung yang tadinya di pegangnya, tepat mengenai mulut orang itu dan mulut itu hancur, giginya berantakan. Orang kedua terbelalak akan tetapi kembali dayung itu menyambar dan orang kedua juga terpelanting dengan mulut berdarah-darah. Melihat ini, semua orang menjadi terkejut dan marah, dan mereka segera bergerak untuk menyerang. Akan tetapi, dengan dayung di tangannya, Dewi mengamuk dan dalam waktu beberapa menit saja belasan orang itu sudah roboh dan malang melintang terkena hantaman dayungnya. Sebagian lagi lari memberi laporan kepada Adipati Surodiro. Kini para perajurit berdatangan dan jumlah mereka puluhan orang dipimpin oleh beberapa orang panglima. Akan tetapi, melihat demikian banyaknya orang, Dewi lalu berteriak marah. Aku datang untuk bertemu dan bicara dengan Adipati Surodiro! Kalau kalian semua sudah bosan hidup, boleh mengeroyok aku! Akan tetapi karena sudah banyak penjaga yang roboh,para panglima sudah menjadi marah sekali dan mereka lalu memerintahkan para perajurit untuk mengeroyok. Tiba-tiba terdengar leking yang memekakkan telinga. Banyak perajurit terhuyung dan roboh mendengar teriakan melengking itu. Itulah Aji Sardulo Krodo ( Harimau Marah). Aji seperti ini merupakan pekiki yang mengandung getaran penuh wibawa, seperti auman harimau yang dapat melumpuhkan calon korbannya. Banyak perajurit yang tidak kuat mendengar jerit yang mengegtarkan jantung ini dan pekik itu terdengar sampai seluruh pulau! Dewi lalu mengamuk, menggunakan dayung di tangannya. Dengan gerakan seprti burung walet, tubuhnya menyambar-nyambar dan kemanapun dayungnya bergerak, tentu ada perajurit yang roboh. Ia memang mengendalikan tenaganya dan tidak melakukan pembunuhan karena kedatangannya ke Nusakambangan bukan untuk membunuh orang, melainkan untuk mencari Tilam Upih. Tiba-tiba terdengar seruan lantang. Tahan semua senjata! Yang berseru ini adalah Surodiro sendiri. Mendengar ada wanita mengamuk diasegera datang ke tempat itu dan melihat para anak buahnya banyak yang roboh,dia menjadi marah dan menghentikan perkelahian itu. Semua anak buahnya mundur mendengar bentakan sang adipati ini dan kini Dewi berhadapan dengan Adipati Surodir. Mereka berdiri saling pandang bagaikan dua ekor harimau yang saling berlagak hendak mengadu kuatnya taring tebalnya kulit. Heh, wanita,siapakah andika dan mengapa andika datang mengamuk di Nusa Kambangan? Bentak Surodiro dengan angkuh. Bagaimanapun juga, dia tidak akan menunjukkan kelemahan di depan seorang wanita, apalagi wanita yang demikian cantiknya. Dewi mengamati pria yang berdiri di depannya itu penuh perhatian. Dari pakaiannya dia dapat menduga siapa pria yang nampak gagah perkasa, berusia limapuluh tahun ini. Hemm, apakah aku berhadapan dengan Adipati Surodiro sendiri? Benar,akulah Adipati Surodiro? Bagus andika keluar sendiri, Sang Adipati. Aku bernama Dewi dan aku sengaja datang untuk bertemu dan berbicara denganmu. Akan tetapi anak buahmu yang tidak tahu diri ini mencegah aku bertemu dengan andika,maka terjadi perkelahian ini! Babo-babo,Dewi! Andika datang-datang memperlihatkan kesaktian seolah tidak memandang kepadaku. Sekarang kita sudah saling berhadapan,nah, katakan,apa kehendakmu? Tidak banyak, Adipati Surodiro.Aku datang untuk minta kepadamu agar pusaka Tilam Upih diberikan kepadaku. Kalau tidak kuberikan? tantang Adipati Surodiro. Nusa kambangan akan kubikin karang-abang ( Lautan Api )! Babo-babo,sumbarmu seperti dapat memecahkan gunung Mahameru! Sebelum kita bicara lebih lanjut mengenai Tilam Upih,aku hendak mencoba dulu kedigdayaanmu.Nah, bersiaplah andika melawan aku! Bagus,kalau andika juga ingin bertanding, silakan! Dan karena andika tidak menggunakan senjata, akupun akan bertangan kosong saja! Dewi lalu mengayun dayungnya dan dayung itu menancap di atas tanah sampai setengahnya.Dari ini saja dapat dibuktikan bahwa wanita itu ternyata memiliki tenaga sakti yang dahsyat! Ki Surodiro agaknya juga maklum bahwa lawannya bukan orang lemah, maka begitu menerjang dia sudah mengerahkan Aji Kembang Wijoyokusumo yang mengeluarkan hawa yang mengandung getaran hebat.Tangan kanannya menampar dengan jari terbuka dan ada hawa yang menggetarkan keadaansekeliling menerpa ke arah Dewi. Akan tetapi, Dewi sudah bersikap waspada. Yang dikhawatirkan hanya kalau sang adipati menggunakan keris Tilam Upih yang menurut gurunya amat ampuh menggiriskan. Kalau hanya pukulan tangan kosong saja ia tidak takut dan cepat iapun mengerahkan Aji Trenggiling Wesi yang membuat tubuhnya kebal. Ia mengangkat tangan menangkis sambil menggerakkan tenaga. Desssss.......! Dua lengan bertemu dan akibatnya, Adipati Surodiro melangjkah mundur tiga langkah sedangkan tubuh Dewi hanya terguncang saja. Dalam pertemuan tenaga ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa dalam hal kekuatan tenaga sakti, Dewi masih menang setingkat! Dewi tidak berhenti sampai di situ saja, ia lalu membalas dan kini ia menggunakan Aji Jaladi Geni ( Lautan Api), menampar dengan kanan kirinya. Serangkum hawa panas yang panas seperti api menyambar ke arah Adipati Surodiro. Orang ini terkejut dan cepat menangkis. Dessss.......!! Untuk kedua kalinya lengan mereka bertemu dan sekali ini Ki Surodiro terhuyung sampai lima langkah. Tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar sakti dan kalau dilanjutkan, dia tentu akan kalah. Biarpun dia merasa penasaran sekali, akan tetapi dia tidak mau melanjutkan karena kalau samapi dia dirobohkan oleh seorang wanita di depan semua anak buahnya, hal itu akan mendatangkan malu besar baginya. Elhadalah! Andika memang seorang wanita skti, Dewi. Sudah sepatutnya kalau menjadi tamuku. Mari ikut bersamaku ke kadipaten di mana kita dapat bercakap dengan leluasa! Dewi yang pemberani itu tidak takut akan jebakan atau perangkap. Baik, Adipati! katanya dan mereka berdua lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kadipaten. Para anak buah itu menuju ke kadipaten. Para anak buah Nusa Kambangan tentu saja ramai membicarakan wanita sakti itu yang bukan saja amukannya telah mereka rasakan, akan tetapi juga telah sanggup menandingi Sang Adipati, hal itu sudah merupakan hal yang amat mengagumkan. Sementara itu, Dewi sudah duduk berhadapan terhalang meja dengan Adipati Surodiro. Seorang pelayan menyuguhkan minuman dan dengan berani Dewi meminumnya ketika dipersilakan. Dari gurunya ia sudah mempelajari tentang racun dan andaikata minuman itu beracun, ia sudah dapat mencium dengan hidungnya dan merasakan dengan lidahnya. Nah,engkau memang seorang wanita yang gagah sejati, Dewi. Katakan, apa sebetulnya kehendakmu. Engkau menghendaki Tilam Upih, untuk siapakah? Hemm,hal itu tidak perlu andika tanyakan, Adipati. Aku ingin agar engkau menyerahkan Tilam Upih kepadaku,habis perkara. Apa yang akan kuperbuat dengan keris pusaka itu, adalah urusanku sendiri. Engkau datang terlambat, Dewi ketahuilah bahwa Tilam Upih tidak berada di tanganku lag. Apakah andika tidak mendengar bahwa aku telah mengadakan sayembara tentang Tilam Upih?? Siapa yang dapat mengalahkan aku, memperoleh Tilam Upih! Ada juga aku mendengar. Lalu,bagaimana hasilnya? Tilam upih sudah kuserahkan kepada seorang pemuda yang bernama Budhidarma dan telah dibawa pergi. Andika kalah olehnya? Benar, dalam sayembara itu aku dikalahkan oleh Budhidharma. Karena itu, keris pusaka Tilam Upih kuserahkan kepadanya dan telah dia bawa pergi, katanya akn diserahkan kepada Sang Parbu Jayabaya. Dewi mengangguk-angguk. Aku percaya keteranganmu, Adipati. Akan tetapi hati-hatilah. Kalau kelak aku mendapat kenyataan bahwa andika telah membohongiku,aku akan kembali dan tidak akan memberi ampun! Wajah Adipati Surodiro berubah agak pucat mendengar ancaman ini dan dia cepat berkata, Ada suatu rahasia yang perlu andika ketahui, Dewi. Keris pusaka Tilam Upih yang kuserahkan kepada Budhidarma itu bukanlah keris yang asli! Dewi terbelalak. Ehh? Apa maksudmu? Engkau menipunya? Tidak, dia juga sudah mengetahuinya! Persolannya begini.Sekira duabulan yang lalu aku kedatangan seorang yang berkedok. Dialah yang mengambil Tilam Upih dan menukarnya dengan yang palsu. Aku berusaha menghalanginya dan aku dipukulnya sampai pingsan.Orang itu tangguh bukan main. Hal itu terjadi dalam kamarku dan tidak diketahui orang lain. Aku malu untuk bercerita kepada orang lain. Maka aku mengadakan sayembara agar orang yang dapat mengalahkan diriku kelak dapat mencari si pencuri dan merampas Tilam Upih yang asli. Nah, begitulah persoalannya dan aku berani bersumpah bahwa memang demikian keadaannya. Andika tidak menyembunyikan yang asli dan berpura-pura saja? Mana aku berani? Kalau aku berpura-pura tentu Budhidarma tentu tidak akan melepaskan aku. Hemm, kita lihat saja nanti perkembangannya. Engkau tahu sendiri bahwa aku tidak akan tinggal diam seandainya engkau membohongiku! Setelah meninggalkan ancaman itu, Dewi lalu pergi dari pulau Nusa Kambangan, diantar oleh Adipati Surodiro sampai ke pantai. Dewi lalu mendayung perahunya dengan cepat dan mendarat di pantai Selatan. Kalau keris pusaka itu dicuri orang, kelak ia harus mencoba untuk mencari pencuri itu. Akan tetapi di mana jejaknya? Bahkan Ki Surodiro sendiri yang menghadapi pencuri itu hanya tahu bahwa dia seorang yang berkedok, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ia mengesampingkan urusan Tilam Upih dan kini ia kembali ke kota raja! Masih ada dua hal penting yang harus ia kerjakan. Pertama, menyelidiki Pangeran Panjiluwih yang menurut Ki Blendu mengutus Ki Blendu untuk mebunuh ia dan suaminya. Dan kedua, untuk mencari puterinya, Niken Sasi, yang terpisah dengannya ketika Klabngkoro dan kawan-kawannya menyerangnya. Iatidak tahu bagaimana dengan nasib Niken Sasi dan kalau ia teringat akan puterinya itu, hatinya menjadi sedih sekali, menambah kesedihannya kehilangan suaminya. Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan seorang diri dengan tujuan kembali ke kota raja, Tiba-tiba ia melihat beberapa orang penunggang kuda datang dari depan. Ia cepat menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak karena ia tidak ingin mendapat gangguan kalau bertemu dengan orang-orang asing. Ketika rombongan terdiri dari belasan orang itu lewat, jantungnya berdebar tegang dan iapun cepat bangkit berdiri dan berlari cepat mengejar dan membayangi robongan Pangeran Panjiluwih sebagai penunggang kuda terdepan! Penggang kuda terdepan itu memang Pangeran Panjiluwih, seperti kita ketahui, diam-diam pangeran ini meninggalkan rombongan Senopati Lembudigdo yang kembali ke kediri dari Nusa Kambangan. Pangeran Panjiluwih diikuti belasan orang pengawal dan ditengah perjalanan dia bertemu dengan Joko Kolomurti yang sudah dikenalnya karena Joko Kolomurti dan mendiang ayahnya, Wiku Syiwakirana juga menjadi anak buah pangeran ini dalam persekutuan dengan perkumpulan Jambuka Sakti dan Gagak Seto yang dipimpin secara rahasia oleh seorang yang mereka sebut Kanjeng Gusti. Kini mereka bersama bersatu setelah Joko Kolomurti bercerita bahwa ayahnya telah tewas dan perkumpulan Durgomontro di Bukit Girimanik telah dihancurkan oleh seorang gadis bernama Budhidarma. Keduanya lalu meneruskan perjalanan menuju ke Gunung Anjasmoro untuk mengadakan perundingan dengan Klabangkoro dan kawan-kawannya. Sama sekali Pangeran Panjiluwih tidak pernah menduga bahwa ada seseorang yang membayanginya. Karena ingin tahu apa yang dilakukan oleh Pangeran Panjiluwih di Bukit Anjasmoro, Dewi tidak segera menghadapi pangeran itu, melainkan terus membayangi sampai mereka tiba di perkampungan Gagak Seto. Pangeran Panjiluwih dan Joko Kolomurti diterima dengan hormat dan ramah oleh Klabankoro dan Mayangmurko, lalu dipersilakan memasuki rumah induk dan mereka bercakap-cakap di ruangan dalam. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Dewi terus membayangi ke dalam perkampungan dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi Dewi dapat mengintai ke dalam ruangan itu dan mendengarkan apa yang mereka percakapan. Bagamana, Gusti Pangeran, apakah paduja berhasil mendapatkan Tilam Upih? tanya Klabangkoro yang sudah tahu bahwa pangeran ini ditugaskan untuk mencari Tilam Upih. Wah,celaka,paman Klabangkoro. Tilam Upih itu telah terjatuh ke tangan seorang pemuda bernama Budhidarma dan seorang gadis bernama Niken. Dewi yang mendengarkan di luar merasa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Siapakah yang meraka bicarakansebagai Niken? Apakah puterinya, Niken Sasi? Ia menahan napas dan mendengarkan terus. Ha-ha-ha-ha-ha......... ! Klabangkoro tertawa bergelak sehingga Pangeran Panjiluwih mengerutkan alisnya tak senang. Dia menceritakan kegagalannya dan Klabangkoro berani menertawakannya! Kenapa andika tertawa, paman? Berani andika menertawakan kegagalanku? Dia membentak marah. Klabangkoro masih tertawa, akhirnya dapat juga bicara. Maaf, Gusti Pangeran. Bukan kegagalan paduka yang saya tertawakan, akan tetapi saya mempunyai berita teramat baik dan tentu paduka akan senag sekali mendengarnya. Ketahuilah, yang namanya Budhidarma dan Niken itu sekarang sudah berada di tangan kami! Eh,apa maksudmu? Mereka sudah terjebak, bersama Ki Sudibyo, di dalam Goa yang sudah kami tutup dan dijaga ketata. Mereka tidak akan mampu keluar lagi dan akan mati kelaparan di dalam. Akan tetapi mereka itu tangguh sekali! Bagaimana kalian dapat menagkap mereka? Ha-ha-ha, kami menggunakan siasat yang cerdik. Mereka bertiga itu seperti tiga ekor tikus yang sudah terjebak dan kita hanya tinggal menanti kematian mereka saja. Kalau sudah begitu, tentu Tilam Upih yang berada di tangan mereka akan dapat paduka miliki. Benarkah,paman? Ah, bagus sekali kalau begitu! kata Pangeran Panjiluwih. Bagus! Kalau begitu dendam kematian ayahku dan hancurnya perkumpulan kami juga ajkan terbalas impas! Gadis bernama Niken itu yang telah membunuh ayah, dan bersama Budhidharma menghancurkan perkumpulan kami! kata pula Joko Kolomurtidengan girang sekali. Cuma sayang sekali kalau gadis bernama Niken itu mati kelaparan begitu saja. Ia cantik jelita sekali, dan kalau bisa terjatuh ke tanganku........ Pangeran Panjiluwih tertawa. Joko,engkau jangan hanya memikirkan kecantikanya saja,akan tetapi juga harus kau ingat kesaktiannya. Kalau ia dibebaskan, dengan kesaktiannya ia dapat membuat kita semua kewalahan. Benar sekali, kata Klabangkoro. Gadis itu telah menguasai Aji Hasta Bajra yang berbahaya sekali. Karena itu kami menjaga tempat itu dengan ketat,khawatir kalau-kalau dengan Hasta Bajra ia akan mampu lolos! Dewi tidak mau mendngarkan lagi. Ia segera meninggalkan tempat persembunyiannya dan cepat ia mencari ke bagian belakang perkampungan itu. Ketika ada seorang anggota Gagak Seto lewat ia menangkapnya dan mencekik lehernya. Hayao katakan, di mana tiga orang itu di sekap ? Di goa mana? Katakan atau akan kusiksa kau! Orang itu hampir tidak mampu bernapas, berkelonjotan dan berkata dengan susah payah. Di.......di belakang perkampungan......di.....dibukit itu......Diapun terkulai dan telah tewas karena Dewi telah memperkuat cekikannya. Kemudian ia lari menuju ke balakang perkampungan, mendaki anak bukit itu dan tak lama kemudian iapun dapat melihat sebuah goa yang tertutup banyak batu besar. Dan di depan goa itu nampak puluhan anak buah Gagak Seto melakukan penjagaan! Melihat ini, Dewi menjadi marah sekali ia meloncat danmenyerbu ke arah para penjaga itu. Gegerlah mereka! Sepak terjang Dewi memang hebat sekali. Biarpun ia hanya bertangan kosong, akan tetapi sekali tangannya bergerak, tentu ada satu dua orang penjaga yang terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali! Setelah semua penjaga kewalahan dan jerih, lalu mundur, ia segera mulai membongkar batu-batu di dalam goa itu. Kita melihat di dalam goa. Niken sudah tidak menangisi gurunya lagi, melainkan duduk diam di sampingnya. Gurunya yang masih pingsan sepeti orang tertidur. Budhi juga duduk di dekatnya, merasa tidak enak sekali. Dia harus mengakui bahwa orang tua itu telah menyelamatkanny, bahkan telah menguras tenaganya untuk menyembuhkannya dan mengusir racun dari tubuhnya. Padahal Ki Sudibyo sendiri menderita luka yang sangat parah. Akan tetapi bagaimana dia dapat menghilangkan rasa benci terhadap orang yang telah menyuruh bunuh ayah ibunya? Dia mulai berpikir. Iabunya dikatakan menyeleweng, dengan ayahnya, Margono. Katanya ibunya adalah isteri dari Ki Sudibyo ini, bahkan dia adalah putera Ki Sidibyo yang ketika Ni Sawitri melarikan diri bersama kekasihnya Margono, dia telah berada dalam kandungan ibunya. Budhi menghela napas. Kalau memang demikian, ibunya juga bersalah! Juga ayahnya atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang bernama Margono itu. Biarpun Ki Sudibyo juga bersalah, telah menyuruh orang membunuh mereka berdua,akan tetapi tindakan Ki Sudibyo bukan tanpa alasan. Karena sakit hati ditinggal pergi isterinya tersayang! Dia merasa bingung dan ragu. Ayah ibunya, Margono dan Ni Sawitri, bagaimanapun telah tewas, dan orang ini, ayah kandungnya yang sejati, masih hidup dan mengharapkan dia dapat memaafkannya! Sawitri........ ! Ki Sudibyo berbisik. Dia telah sadar dan dalam keadaan masih pening dia mengingau, memanggil-manggil isterinya. Sawitri......ke sinilah, isteriku.......kenapa engkau begitu tega meninggalkan aku......Sawitri..... Dan kakek itu dengan mata masih terpejam lalu menangis! Air matanya jatuh berlinang dari matanya yang terpejam. Niken yang memandang gurunya ikut pula berlinang air mata. Budhi memandang terharu. Sawitri.......mana anakkita......Sawitri mana......anakku? Anakku.....mendekatlah.....anakku....ha,maafkanlah aku, anakku......anakku.... Orang tua itu semakin mengguguk dan dia menggerakkan tangan kanannya ke atas seperti hendak meraba-raba. Tergetarlah hati Budhi. Orang tua ini keadaanya sudah payah sekali. Kalau permintaan terakhir itu tidak dilaksanakan,mungkin dia akan mati penasaran! Orang tau ini agaknya telah memaafkan kesalahan Sawitri ibunya, bahkan merindukannya, kenapa dia tidak dapat memaafkan kesalahannya. Niken memandangnya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya dan gadis itu sesenggukan.Budhi tidak tahu lagi. Dia lalu mengeser duduknya, mendekati kakek itu dan mengulurkan tangannya,memegang tangan kanan yang seperti hendak meraba-raba itu. Kakek itu nampak terkejut, tangannya memegang kuat-kuat, lalu perlahan-lahan dia melalui air matanya melihat sipa yang memegang tangannya, dia menghela napas panjang. Duh Gusti terima kasih......kau.....kau anakku.......Budhidarma......kau memaafkan ayahmu ini, nak.... ? Budhidarma tidak mampu menjawab. Kedua matanya juga basah dan dia mengangguk. Terima kasih.......terima kasih Gustiku.... Dan pegangan tangan itu terlepas, kakek itu terkula. Niken menubru gurunya,akan tetapi Budhidharma berkata, Jangan khawatir, dia tertidur. Pada saat itu dia mendengar suara gaduh dan batu-batu yang dibongkar orang. Ada yang membongkar batu yang menutupi goa!kata Niken sambil melompat berdiri. Budhidharma juga melompat berdiri dan mereka berdua lalu menggerakkan tenaga mendorong batu beasar yang menutupi goa. Dengan tenaga mereka berdua, mereka berhasil membongkar bata-batu itu yang mengelinding ke luar. Melihat ini Dewi menjadi Girang sekali dan iapun melompat ke dalam goa itu. Pertama-tama yang dilihatnya adalah Niken dan sejenak kedua orang wanita itu tertegun dan saling pandang seperti terpesona, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Kemudian, seperti tertarik oleh besi semberani, keduanya lari saling merangkul. Niken........ ! Ibu......... ! mereka berciuman dan bertangisan dalam rangkulan masing-masing. Niken Sasi, kiranya benar engkau....... ! Dewi Muntari membelai kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu,kiranya ibu yang menolong kami....... ! Pada saat itu Ki Sudbyo sadar dari tidurnya. Karena tadi hatinya merasa lega dan gembira penuh kebahagiaan, kini kesehatannya agak membaik dan tenaganya agak kuat. Dia bangkit duduk mendengar Niken menyebut ibu kepada wanita cantik itu, dia lalu cepat menghaturkan sembah. Gusti Puteri,hamba Ki Sudibyo menghaturkan sembah dan ikut bergembira atas pertemuan yang membahagikan ini. Dewi memandang kepada Ki Sudibyo dan bertanya kepada puterinya, Niken Sasi, Siapakah paman ini? Ibu inilah Ki Sudibyo, ketua Gagak Seto yang telah menyelamatkan aku dan kemudian menjadi guruku. Ah, terima kasih atas budhi yang andikalimpahkan kepada puteri kami paman Sudibyo. Kata Dewi. Dan pemuda ini, apakah ini yang bernama Budhidharma? Sejak Budhi melihat ayahnya memberi hormat tadi, dia sudah menjadi terheran-heran. Ayahnya memberi hormat kepada wanita itu dan menyebutnya Gusti Puteri! Siapakah wanita yang menjadi ibu kandung Niken itu? Melihat Budhi berdiri bengong saja, Ki Sudibyo yang menjawab, Budhi anakku, berilah hormat kepada Gusti Puteri ini. Beliau adalah Gusti Puteri Dewi Muntari, puteri dari Sang Prabu Jayabaya di Kediri. Ahhh.............. ! Budhidharma lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Dewi. Hamba Budhidharma mengahatukan sembah kepada, Gusti Puteri. Sudahlah, tidak perlu memakai banyak aturan, lihat siapa yang berdatangan itu! kata Dewi. Niken Sasi memandang ke depan dan wajahnya berubah merah saking marahnya. Ibu, mati kita basmi jahanam-jahanam busuk itu! Ternyata para anak buah Gagak Seto tadi sudah berlarian melapor dan kini muncullah Klabangkoro. Mayangmurko, Pangeran Panjiluwih, Joko Kolomurti,belasan orang yang pengawal dan nak buah Klabangkoro, juga banyak anak buah Jambuka Sakti. Nelihat ini, Ki Sudibyo yang sudah lemah badannya itu menguatkan diri untuk berdiri, dibantu oleh Budhidarma dan kakek ini berdiri dengan gagahnya di depan goa. Dia memandang kepada para anggota Gagak Seto dan suaranya terdengar lantang dan garang. Para warga Gagak Seto dengarlah baik-baik! Selama ini aku dijebak dan dikurung oleh Klabangkoro dan Mayangmurko yang memberontak dan jahat! Karena itu, aku perintahkan kalian untuk tidak lagi menurut dan tunduk kepadaperintah mereka yang murtad! Ingat, akulah ketua kalian yang belum diganti oleh siapapun! Para anggota Gagak Seto yang melihat kakek ini terkejut dan baru menyadari bahwa mereka telah dibawa menyeleweng oleh Klabangkoro. Mereka menyambut ucapan Ki Sudibyo dengan aorak-sorai. Klabangkoro menjadi marah sekali. Dia mengandalkan orang-orang Jambika Sakti dan juga para pengawal Pangeran Panjiluwih. Haiii, kalian semua! Ingat dan lihat baik-baik siapa yang berdiri disisiku ini! Ini adalah Pangeran Panjiluwih, utusan Sang Prabu Jayabaya dan juga Puteranya! Kalau kalian berani melawan, kalian semua akan dicap pemberontak dan menerima hukuman! Pangeran Panjiluwih lalu mencabut Kyai Gliyeng, yaitu keris yang dia terima dari Sang Parbu Jayabaya ketika dia di utus mencari Kyai Tilam Upih. Sambil menodongkan kerisnya ke atas diapun berteriak. Aku adalah Pangeran Panjiluwih dan aku mewakili Kanjeng Rama Prabu Jayabaya. Siapa berani melawan aku? Tentu saja para anggota Gagak Seto menjadi gentar,bahkan Ki Sudibyo sendiri surut dua langkah. Akan tetapi tiba-tiba Dewi Muntari yang meloncat ke depan dan membentak, Adimas Pangeran Panjiluwih, masih kenalkah engkau kepadaku? Melihat seorang wanita cantik meloncat ke depannya, Panjiluwih memandang dan mukanya seketika menjadi pucat, Engkau......ayunda Dewi Muntari......! Akan tetapi engkau.....engkau telah mati! Tentuengkau orang yang menyamar sebagai ayunda Dewi. Kau harus mati! Cobalah adimas Pangeran! kata Dewi Muntari dan segera wanita ini menerjang ke depan,sama sekali tidak takut menghadapi keris pusaka Kyai Gliyen. Segera kedua kakak beradik ini sudah bertanding dengan hebatnya, akan tetapi segera dapat diketahui bahwa Pangeran Panjiluwih sama sekali bukan lawan Dewi Muntari. Sementaraitu, Niken sudah meloncat jauh ke depan menghadapi Joko Kolomurti. Joko Kolomurti manusia jahanam danmesum! Pernah andika menolongku, akan tetapi sekarang aku tidak hutang budi lagi dan aku kini tidak akanmengampuni! Ia segera menyerang,akan tetapi dikeroyok oleh Joko Kolomurti dan para pengawal pangeran yang sebagian besar juga membantu pangeran mengeroyok Dewi Muntari. Budhi juga sudah maju menghadapi Klabangkoro dan Mayangmurko. Klabangkoro dan Mayangmurko, ingatkah kalian ketka membunuh ayah dan ibuku? Bentak Budhidarm. Klabngkoro dan Mayangmurko tidak menjawab, melainkan meneriakan perintah agar orang-orang Jambuka Sakti membantunya mengeroyok pemuda itu. Terjadilah pertandingan yang hebat. Ki Sudibyo yang melihat keadaan ini, meliaht betapa Dewi, Nikan dan Budhi dikeroyok banyak orang , segera berseru kepada anak bauhnya, yaitu para anggota Gagak Seto. Semua warga Gagak Seto, kuperintahkan maju menghajar para pengkhianat dan orang-orang Jambuka Sakti! Anak buah Gagak Seto yang sebagian besar masih setia kepada sang ketua segera bersorak dan terjun ke dalam pertempuran,membantu tiga orang yang dikeroyok itu. Terjadilah pertempuran yang amat hebat, dan Ki Sudibyo tiba-tiba seperti memperoleh kembali tenaganya. Dia mengamuk hebat dan menjatuhkan banyak anak buah Jambuka Sakti. Pertandingan antara Pangeran Panjiluwih dengan Dewi Muntari terjadi berat sebalah. Biarpun pangeran itu dibantu sepuluh orang pengawalnya, tetap saja dia sibuk sekali mengahadapi Dewi Muntari. Wanita ini mengamuk dan semua pengeroyok yang terdiri dari pengawal-pengawal jagoan itu telah terkena tamparan semua. Mereka itu bergelimpangan dan biarpun Dewi Muntari tidak membunuh mereka. Akan tetapi tamparan itu bagaikan api membakar tubuh mereka. Bekas tamparan menjadi gosong dan rasanya panas sekali. Pangeran Panjiluwih sendiri terus melawan, akan tetapi ketika Dewi Muntari dapat merempasa keris Kyai Gluyeng dari tangannya, diapun tanpa malu-malu lagi segera melarikan diri, diikuti oleh para pengawalnya yang semua telah menderitapukulan wanita sakti itu. Setelah tidak lagi melihat adanya lawan, Dewi Muntari lalu membantu puterinya yang dikeroyok benyak orang. Dia melihat Joko Kolomurti itu sudah terdesak hebat oleh puterinya yang memiliki pukulan ampuh dan yang menggunakan keris pusaka Megantoro.Banyak pengeroyok sudah roboh bergelimpangan. Ketika Dewi Muntari melompat dan mengamuk, para pengeroyok semakin kacau dan tiba-tiba keris di tangan Niken Sasi sudah bersarang di dada Joko Kolomurti sehingga pemuda itu roboh terjengkang dengan dada berlumuran darah dan tewas seketika. Melihat ini, para anak buah Jambuka Sakti menjadi gentar sekali. Mereka mundur dan tidak lagi berani mendekati kedua orang wanita yang tangguh itu. Niken Sasi melihat gurunya yang mengamuk dan tiba-tiba terhuyung. Ki Sudibyo bukan terkena senjata lawan, melainkan terlampau banyak mengeluarkan tenaga dalam amukannya sehingga dia tidak luat lagi. Untung Niken melihatnya dan sebelum tubuh gurunya terpelanting, gadis ini sudah merangkul gurunya dan memapahnya ke pinggir, keluar dari medan pertempuran. Sementara itu, Dewi Muntari melihat betapa Budhidarma juga mengamuk dengan hebatnya. Dia dikeroyok oleh Klabangkoro dan Mayangmurko, juga dikeroyok oleh banyak orang Jambuka Sakti, akan tetapi semua pengeroyoknya kocar-kacir. Hanya yang membuat Dewi Muntari heran adalah ketika ia melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mau membunuh para pengeroyoknya. Inilah yang membuat para pengeroyoknya menjadi semakin nekat. Melihat ini, Dewi Muntari lalu memungut sebatang golok yang tercecer,kemudian meloncat maju dan sekali ia menyerang Klabangkoro yang memang sudah kewalahan itu, Klabangkoro tidak mampu mengelak dan lehernya nyaris putus terbabat golok di tangan Dewi Muntari! Melihat ini, Mayangmurko menjadi terkejut akan tetapi juga ketakutan. Dia membalikkan diri dan siap untuk lari, akan tetapi Dewi Muntari menyabitkan golok di tangannya yang masih berlumuran darah. Singgg.......auuughhh.........! Mayangmurko mengangkat kedua tangan ke atas ketika golok itu menusuk punggungnya dan tembus sampai ke dadanya, kemudian roboh melnelungkup. Tewaslah Klabangkoro dan Mayangmurko di tangan Dewi Muntari. Anak buah Jambuka Sakti yang sudah kocar-kacir kini banyak yang tewas di tangan anak buah Gagak Seto, sisanya melarikan diri cerai berai.Ketika Budhidarma melihat kedua orang lawannya tewas di tangan puteri raja itu, dia hanya memandang dengan alis berkerut. Dewi Muntari agaknya tahu bahwa pemuda itu tidak setuju dengan pembunuhan, maka ia berkata dengan tegas. Membunuh memang tidak baik, akan tetapi membiarkan penjahat keji hidup lebih tidak baik lagi! Kalau begitu, mengapa Gusti Puteri membarkan lawannya tadi meloloskan diri? tanya Budhi. Dia lain lagi. Dia adalah adikku sendiri. Putera Kanjeng Rama Prabu Jayabaya. Pada saat itu terdengarlah seruan Niken, Budhi, ke sinilah! Budhi menengok dan melihat Niken berlutut di dekat tubuh Ki Sudibyo yang rebah, Dia terkejut dan melompat mendekati. Budhi,ayahmu terluka parah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga! kata Niken dengan suara gemetar penuh kekhawatiran. Melihat Budhi, Ki Sudibyo menjulurkan tangannya. Anakku........,maukah engkau menyebut ayah kepadaku? Budhi menjatuhkan diri berlutut. Dengan terharu dia memegang tangan ayahnya dan berkata, Bapak .............. ! Ki Sudibyo tersenyum girang. Kumpulkan.........anak buah Gagak Seto.........! katanya kepada Niken. Niken bangkit berdiri, dengan lantang berteriak agar semua anak buah Gagak Seto datang berkumpul. Tidak kurang dari empatpuluh orang anak buah Gagak Seto yang masih setia kepada Ki Sudibyo berlarian menghampiri dan mengepung Ki Sudibyo yang rebah di atas anah dengan napas terengah-engah. Semua warga Gagak Seto, dengar baik-baik pesanku. Ini adalah anakku,Budhidarma! Mulai saat ini, dialah yang menjadi ketua kalian! Budhidharma menggantikan aku menjadi ketua perkumpulan Gagak Seto dan dalam pimpinannya aku yakin Gagak Seto akn menjadi besar...... Setelah bicara demikian, orang tua ini terengah-engah berat, napasnya tinggal satu-satu. Bapak......... ! Budhi berseru. Bapa Guru............ ! Niken menangis. Ki Sudibyo yang sudah memejamkan matanya, membuka lagi matanya memandang kepada Niken dan Dewi Muntari. Ampunkan hamba yang berani mengajar Gusti Puteri Niken Sasi.......mohonkan ampun kepada Gusti Prabu Jayabaya...... Ah,tidak mengapa,paman. Kami bahkan berterima kasih! kata Dewi Muntari. Ki Sudibyo kini menoleh kepada puteranya. Budhidharma, engkau..... rela benar memaafkan bapakmu ini.......... ? Tentu saja,Bapak. Semua peristiwa yang lalu sudah terlupakan olehku! Ki Sudibyo tersenyum dan menghela napas panjang sekali. Aahhhh puas hatiku.....Sawitri, tinggal engkau......kuharap engkau suka memaafkan aku........ Kembali dia menghela napas panjang akan tetapi napasanya berhenti dan Ki Sudibyo mengehembuskan napas terakhir. Bapa Guru........! Niken menangis. Semua anggota Gagak Seto juga berlutut dan banyak yang menangis, akan tetapi Budhi tidak menangis. Dia memondong tubuh ayahnya yang telah menjadi jenazah dan masih hangat itu dan dibawanya masuk ke dalam bangunan induk. Dewi Muntari dan Niken tinggal di Gagak Seto sampai pemakaman Ki Sudibyo selesai dilakukan. Mereka mendapat kesempatan untuk saling menceritakan pengalaman masing-masing dan keduanya merasa gembira dan juga kagum mendengar pengalaman masing-masing yang hebat. Mereka menemukan jenazah Jinten di bagian belakang bangunan induk dan ternyata Jinten terbunuh mati oleh Klabangkoro sendiri kertika terjadi keributan. Klabangkoro menganggap Jinten terlalu banyak mengetahui rahasianya dan juga wanita itu kini sudah tidak ada gunanya lagi baginya, maka dengan sekali pukul dia membunuh Jinten agar kalau Jinten terjatuh ke tangan musuh tidak akan membocorkan rahasianya. Dia tidak mengira bahwa dia sendiri juga tewas dalam pertempuran itu. Setelah mengurus pemakaman ayahnya, Budhidharma berunding dengan Dewi Muntari dan Niken Sasi. Melihat adanya orang-orang Jambuka Sakti yang membantu Gagak Seto, kurasa pimpinan Jambuka Sakti banyak tahu akan persekutuan ini. Aku harus mengetahui siapa yang memimpin persekutuan busuk ini dan apa sebetulnya niat mereka. Seingatku, yang dulu membunuh suamiku dan menyerangku juga orang-orang Jambuka Sakti,aku ingat akan senjata mereka, yaitu golok dengan gagang kepala Srigala. Ibu,kalau begitu kita harus menyelidiki keadaan Jambuka Sakti! kata Niken. Gusti Puteri Niken benar, kita harus menyelidiki ke sana. Akupun menduga bahwa kesengsaraan ayah adalah karena ulah orang-orang Jambuka Sakti. Kalau tidak ada mereka yang membantu, kiranya Klabangkoro dan Mayangmurko tidak akan berani berkhianat. Kakangmas Budhidharma! kata Niken sehingga mengejutkan Budhi karena biasanya gadis itu memanggil namanya begitu saja. Aku tidak suka kausebut gusti puteri! Bukankah kita biasanya saling memanggil nama begitu saja? Kenapa engkau berubah? Paduka......paduka adalah cucu Gusti Prabu, dan........paduka juga berubah, memanggil saya dengan kakangmas. Sudah sepatutnya aku menaggilmu kaangmas karena engkau engkau memang lebih tua dariku. Erngkau putera Bapa Guru, dan aku muridnya, bererti kita masih kakak beradik seperguruan. Jangan sebut aku gusti puteri, atau aku tidak akan menjawab! Habis bagaimana saya harus memanggil......... ? Dewi Muntari tersenyum. Ia dapat mengerti akan isi hati puterinya. Kedua orang muda itu agaknya mempunyai hubungan akrab dan saling jatuh hati! Kau lebih tua,sudah selayaknya kalau engkau menyebutnya diajeng, Budhi. Dan juga kepadaku jangan menyebut Gusti Puteri,akan tetapi sebut saja Kanjeng Bibi. Wajah Budhi berubah kemerahan akan tetapi hatinya meresa girang karena ucapan ini menunjukkan bahwa dia diterima sebagai anggota keluarga atau juga sahabat yang sudah akrab sekali. Baiklah, diajeng Niken Sasi dan Kanjeng Bibi. Sebelum berngkat ke sarang Jambuka Sakti di Gunung Bromo, saya akan lebih dulu memesan kepada anggota Gagak Seto agar melakukan penjagaan dengan ketat, melarang orang luar memasuki daerah kami dan jangan melakukan gerakan apapun sebelum saya kembali. Budi lalu mengumpulkan para anggota Gagak Seto. Atas petunjuk Niken yang mengenal mereka dan tahu siapa yang paling dapat dipercaya di antara mereka, Budhi lalu mengangkat Waskita sebagai wakilnya untuk memimpin para anak buah Gagak Seto selama dia pergi. Setelah itu, berangkatlah Budhi bersama Niken dan Dewi Muntari menuju ke Gunung Bromo. Seperti yang mereka dengar dari para anak buah Gagak Seto, Jambuka Sakti bersarang di lereng Gunung Bromo. Ketika Niken bertanya di mana Gajahpuro, oleh para anak buah Gagak Seto dikatakan bahwa Gajahpuro yang berusaha menyelamatkan Ki Sudibyo yang terendam air bersama Niken dan Budhi telah dipukul pingsan oleh Klabangkoro dan kemudian dilempar ke dalam sumur tua, tentu sudah tewas pula. Niken yang mendengar ini hanya menghela napas panjang. Ia tahu bahwa Gajahpuro benar-benar mencintainya. Mari kita ikuti pengalaman Gajahpuro yang dilempar ke dalam sumur tua oleh ayahnya sendiri! Benarkah dia sudah mati seperti dugaan para murid dan anggota Gagak Seto? Kehendak tuhan terjadilah, kapanpun dan di manapun, dalam keadaan bagaimanapun. Kalau tuhan menghendaki seseorang mati, maka tidak ada kekuasaan di dunia ini yang mampu menentangnya,tidak ada kesaktian apapun yang mampu membantahnya dan orang itu pasti mati pada saat yang telah dikehendaki Tuhan. Akan tetapi sebaliknya, kalau Tuhan menghendaki seseorang hidup, biar orang itu diancam seribu satu bahaya maut, tetap saja dia akan dapat selamat dan hidup, sesuai dengan kehendak Tuhan! Ini merupakan kebenaran mutlak yang tidak dapat diperbantahkan atau diperdebatkan lagi. Banyak sudah contoh-contohnya dalam pengalaman di antara manusia. Dalam sebuah peristiwa kecelakaan besar, orang dewasa yang mampu berusaha mempertahankan dan melindungi dirinya, tetap saja tewas. Sebaliknya seorang bayi yang tidak berdaya, tidak mampu melindungi dirinya sendiri, malah hidup! Mengapa begini? Karena Tuhan menghendaki demikian! Demikian pula dengan Gajahpuro. Dia pingsan ketika dilempar ke dalam sumur karena secara kebetulan saja yang menimpa dasar sumur lebih dulu bukan kepalanya, melainkan pinggulnya dan itupun menimpa dasar yang berlumpur, luput dari batu-batu yang berserakan di situ. Kita sebut saja kebetulan, akan tetapi sesungguhnya memang sudah diatur begitu. Sudah diatur sesuai dengan kehendak Tuhan bahwa belum tiba saatnya Gajahpuro tewas di dalam sumur. Begitu terjatuh, Gajahpuro siuman dari pingsannya. Dia agak nanar sedikit, akan tetapi segera menyadari keadaannya. Dia telah dilempar ke dalam sumur tua! Ketika dia menengadah, dia melihat lubang sumur itu tinggi sekali. Akan tetapi ketika dia menoleh ke kiri, dia melihat bahwa sumur itu merupakan sebuah terowongan yang cukup lebar. Dia segera memasuki terowongan itu dan tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang lebar. Dan di situ duduk seorang kakek berambut panjang dengan kuku-kuku tangan yang panjang pula. Dia terkejut sekali, mengira bahwa kakek itu bukan manusia, melainkan setan penjaga sumur. Akan tetapi agaknya kakek itu juga mendengar kedatangannya. Kakek itu membuka matanya dan kembali Gajahpuro terkejut. Mata itu seprti mata kucing dalam gelap. Keadaannya yang remang-remang itu membuat mata itu seperti bernyala. Tiba-tiba tubuh kakek yang seperti duduk itu meloncat ke atas dan tiba-tiba saja Gajahpuro sudah diserang secara aneh. Gajahpuro menangkis,akan tetapi tetap saja dia terpental dan terpelanting keras. Dia bangkit lagi dan melihat kakek itu kini berdiri dengan kedua kaki yang pendek sekali. Ketika dia perhatikan, ternyata kaki kakek itu telah buntung keduanya, buntung di atas lutut sehingga dia berdiri di atas kedua pahanya! Haaaaah,engkau sudah bosan hidup.Mampuslah! kakek itu berseru dengan suara aneh, lalu kembali tubuhnya mencelat ke depan dengan sigapnya,menyerang bagaikan sebutir peluru meriam! Gajahpuro lalu memasang kuda-kuda dan memainkan ilmu silat Gagak Seto seperti yang dipelajarinya dari ayahnya.Akan tetapi kembali dia terdorong dan terjengkang keras. Hah,kau mainkan ilmu Gagak Seto? Apakah engkau murid Gagak Seto? kakek itu yang kini tubuhnya menjadi cebol pendek sekali bertanya. Biarpun ketakutan, Gajahpuro menjawab, Benar sekali, kakek yang sakti. Saya adalah seorang murid Gagak Seto. Hemmm,bagus.Sudah lama aku tidak mendengar tentang Gagak Seto. Kesinilah, jangan takut. Duduk di sini dan ceritakan tentang Gagak Seto. Biarpun takut,Gajahpuro memberanikan diri. Dia tahu bahwa dia tidak akan mampu lari dari kakek yang sakti ini, maka yang terbaik adalah menaati perintahnya. Dia lalu berjalan menghampiri dan ternyata tempat itu dasarnya kering, tidak lembab seperti dasar sumur di mana dia jatuh tadi. Apa yang harus saya ceritakan, Eyang? Gajahpuro yang cerdik itu segera menyebut eyang[kakek] untuk menghormati orang tua yang rambutnya panjang dan hampir semua sudah putih itu. Siapa yang sekarang menjadi ketua Gagak Seto? Yang menjadi ketua adalah Ki Sudibyo. Ah,dia? Hemm,bagus. Sudibyo memang pantas menjadi ketua. Dia baik. Dan siapa engkau, orang muda? Nama saya Gajahpuro,eyang. Saya putera dari ayah Klabangkoro. Hemm,Klabangkoro? Dia masih hidup? Dan kenapa engkau terjatuh ke dalam sumur ini? Gajahpuro tidak berani berbohong. Saya tidak jatuh eyang. Saya memang dilempar ke dalam sumur........ Ehh? Kau juga dilempar ke dalam sumur? Siapa yang melemparmu ke dalam sumur? Bukan lain adalah ayah saya sendiri,eyang. Saya dipukul pingsan dan tahu-tahu saya berada di dalam sumur. Dipukul pingsan dan dilempar ke dalam sumur oleh bapamu sendiri? Akan tetapi kenapa? Gajahpuro mengambil keputusan untuk berterus terang saja. Tidak ada yang perlu disembunyikan dari kakek sakti ini, karena kalau diketahui dia berbohong, tentu dia akan dibunuh. Ayah dan Paman Mayangmurko berkhianat,eyang. Mereka menagkap Ki Sudibyo bersamaseorang pemuda dan seorang gadis di dalam goa, lalu mengalirkan air ke dalam goa untuk membunuh mereka. Saya.......saya mencintai gadis itu yang bernama Niken dan saya berusaha untuk membebaskan mereka dengan jalan membobol gunung untuk mengalirkan air itu keluar.Ayah mengetahui, saya lalu dipukul pungsan dan tahu-tahu dibuang ke dalam sumur ini. Ah,heh-heh-heh,sampai sekarang Klabangkoro dan Mayangmurko masih saja menjadi orang yang curang dan jahat. Mereka tentu akan menebus kejahatannya dengan kesengsaraan,seperti yang telah kualami.Ah,aku sekarang tidak lagi mau berbuat kejahatan karena akibatnya sungguh tidak enak sekali! Dan tiba-tiba saja kakek itu menangis sesenggukan dengan sedih sekali, penuh penyesalan. Gajahpuro merasa bulu tengkuknyameremang. Kakek itu seperti bukan manusia lagi,atau kalau manusia tentu sudah miring otaknya. Dengan hati-hati sekali,untuk menghentikan tangis yang mengrikan hatinya itu, dia bertanya, Eyang,mengapaeyang berada di sini? Benar saja,pertanyaan itu menghentikan tangisnya dan dengan kedua mata merah kakek itu memandang kepadanya. Engkau mau tahu? Aku telah melakukan dosa yang besar sekali.Aku menodai kakak iparku bahkan nyaris membunuh kakakku sendiri untuk merampas kedudukannya sebagi ketua. Kakakku itu adalah ayah dari Ki Sudibyo. Sudibyo itu keponakanku.Aku dikalahkan oleh kakakku, kedua kakiku dibuntungi dan aku lalu dilempar kedalam sumur ini.Sudah lebih dari dua puluh tahun aku berada di sini. Gajahpuro bergidik. Duapuluh tahun? Dia membayangkan diri sendiri harus tinggal di situ sampai puluhan tahun! Kenapa eyang tidak berusaha untuk naik dan meloloskan diri? Eyang memiliki kesaktian hebat. Hemm,butakah matamu? Tiba-tiba kakek itu berkata marah. Apa engkau tidak melihat bahwa kedua kakiku buntung? Kalau tidak buntung, tentu aku sudah keluar. Dengan kedua kaki buntung, betapapun pandainya aku, tidak mungkin aku keluar dari sumur yang dalam ini. Lalu bagaimana eyang dapat bertahan hidup selama itu di sini? Apa yang eyang makan selama ini? Ada seorang keponakanku yang amat baik hati. Namanya Joyosentiko...... Ahh........ ! Gajahpuro berseru. Kenapa? Paman Joyosentiko juga sudah dibunuh oleh ayah dan dilempar masuk pula ke dalam goa! Keparat! Celaka sekali! Pantas dia tidak datang mengirim makanan. Biasanya, Joyosentiko yang menurunkan makanan ke dalam sumur ini. Selama duapuluh tahun, Joyosentiko mengirim makanan sehingga aku dapat makan dengan wajar. Kalau tidak, aku harus makan jamur dan kerokot setiap hari. Banyak jamur dan kerokot tumbuh di sini. Biarpun dengan itu aku dapat hidup,akan tetapi tentu membosankan sekali. Ah,bagus,engkau sekarang telah berada di sini.Engkau dapat menggantikan Joyosentiko mengirim makanan kepadaku. Ah,tidak! Engkau bahkan dapat menggendongku keluar dari sumur ini! Akan tetapi,eyang.Mana mungkin saya mendaki tebing yang begini curam dan licin? Tidak mungkin sama sekali! Tolol! Bodoh! Kaki tanganmu masih lengkap,mengapa tidak bisa? Kau akan kuajari ilmu-ilmuku sehingga engkau akan dapat naik,menggendong aku dan kalau engkau sudah mempelajari ilmu-ilmuku, dengan mudah engkau akan mebunuh Klabangkoro dan Mayangmurko. Gajahpuro terkejut.Biarpun dia diperlakukan kejam oleh Klabangkoro sama sekali tidak pernah terpikirkan di benaknya untuk membunuh ayahnya sendiri itu. Eyang! Dia adalah ayah kandung saya! Ayah kandung hidungmu itu! Siapa bilang dia ayah kandungmu? Klabangkoro bukan ayah kandungmu,bukan apa-apamu! Eyang.........! Suara Gajahpuro gemetar. Apa.........apa maksud eyang..... ? Tolol! Dengarlah. Ketika Klabangkoro masih muda, dia tergila-gila kepada ibumu. Ketika itu engkau masih bayi,Klabangkoro membunuh ayah kandungmu dan merampas ibumu.Tentu saja engkau diakui sebagai puteranya. Akan tetapi kalau engkau benar anak kandungnya sendiri,mana mungkin dia memukulmu dan melemparmu ke dalam sumur ini? Dia bukan ayahmu, bahkan membunuh ayah kandungm, juga pembunuh ibumu karena aku mendengar dari Joyosentiko bahwa ibumu juga sudah tewas secara tidak wajar ketika engkau masih kecil. Gajahpuro meloncat bangun dan mengepal tinjunya,diacungkan ke atas sumur. Klabangkoro keparat! Sekarang aku tahu! Awas kau.Akan kuhancurkan kepalamu! Heh-heh-heh,bagus. Niatmu itu tentu akan tercapai. Nah,mendekatlah ke sini, duduk bersila di depanku membelakangi aku. Gajahpuro sudah pasrah.Kalau kakek itu hendak membunuhnya,dipun tidak akan mampu melarikan diri. Dia lalu duduk bersila di depan kakek itu, membelakanginya. Brettt.......... ! Kakek itu merobek baju dipunggungnya sehingga punggungnya telanjang. Kakek itu lalu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung yang telanjang itu. Kendurkan semua uratmu,jangan mengang dan jangan melawan. Aku akan menyalurkan tenaga sakti kedalam tubuhmu! Kakek itu lalu membaca mantera dan kedua tangannya tergetar,lalu Gajahpuro merasa betapa dari kedua telapak tangan itu keluar hawa yang panas sekali memasuki tubuhnya. Dia merasa tersiksa,seperti dibakar dari dalam akan tetapi dia mempertahankan sambil menggigit giginya erat-erat. Makin lama hawa panas itu menjadi hangat dan hahkan terasa nyaman sekali. Kurang lebih sejam kemudian kakek itu melepaskan kedua tangannya dan terengah-engah. Sekarang coba kerahkan tenagamu dari pusar kepada kedua lenganmu dan pergunakan tanganmu untuk memukul batu di sana itu. Sambil tetap duduk bersila, Gajahpuro menaati perintah itu. Dari pusarnya timbul hawa panas dan disalukannya kepada kedua lengannya,sampai keujung jari-jari tangannya, kemudian dia mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke arah sebongkah batu di depannya. Wuuuuttt.........darrrrrr........! Batu itu pecah berantakan! Tentu saja Gajahpuro menjadi terkejut dan girang sekali. Dia lalu membalik, berlutut dan menyembah kepada kakek itu. Terima kasih,Eyang.Saya mohon petunjuk selanjutnya! Engkau baru menerima limpahan tenaga sakti saja dariku. Harus diimbangi dengan aji yang tangguh. Untuk mengimbangi tenagamu itu aku akan mengajarkan Aji Lahar Sewu sehingga tenaga sakti Ranu Geni di tubuhmu dapat tersalur dalam ilmu bela diri yang sukar dicari bandingannya! Bukan main girangnya hati Gajahpuro. Mulai hari itu dia berlatih dengan tekun sekali. Karena memang dia sudah memiliki dasar ilmu silat dan berbakat baik, dalam beberapa hari saja dia sudah dapat menguasai Aji Lahar Sewu itu. Setiap hari dia hanya makan jamur dan kerokot,dimakan mentah begitu saja dan minum air sumber kecil di dasar sumur. Tentu saja dia tersiksa sekali, akan tetapi harus diakui bahwa makanan itu bahkan dapat memberi tambahan tenaga kepadanya. Setelah tamat mempelajari Aji Lahar Sewu yang membuat tubuhnya merasa ringan dan dia dapat menguasai tenaga sakti Ranu Geni itu sepenuhnya, kakek itu memanggilnya menghadap. Gajahpuro maju berlutut di depan kakek itu. Gajahpuro,ketahuilah bahwa dahulu,ketika aku masih malang melintang di dunia ramai,namaku Anjar Banu terkenal di seluruh Nusantara. Sekarang aku ingin mengajakmu keluar dan kita berdua akan menggegerkan dunia ramai, ha-ha-ha-ha! Sekali lagi nama Anjar Banu akan menjadi buah bibir orang banyak. Gajahpuro,cobalah kau gendong aku. Di dalam hatinya Gajahpuro tidak setuju untuk hidup di dunia ramai bersama kakek ini. Akan tetapi dia tahu bahwa kakekitu kejam sekali dan kalau dia tidak menuruti perintahnya, sekali pukul saja dia akan tewas. Kakek ini sakti sekali dan agaknya dahulu merupakan seorang datuk sesat yang ditakuti orang.Akan tetapi biarpun hatinya tidak setuju,bagaimana dia berani membantah. Baiklah,Eyang. katanya dan diapun berlutut membelakangi kakek itu Kakek Anjar Banu lalu meloncat ke atas punggungnya dan merangkulkan kedua lengannya ke pundak dan leher Gajahpuro. Sekarang, naiklah dan keluar dari dalam sumur ini. Gajahpuro menengadah dan memandang ke arah mulutsumur yang tingga dan bundar itu dengan ngeri. Ah,bagaimana saya dapat, Eyang? Hushh,kaukira engkau masih tolol seperti tempo hari ketika terjatuh ke sini? Salurkan tenaga Ranu Geni ke dalam kedua telapak tanganmu dan kedua kakimu, lalu memanjatlah naik. Engkau akan mampu melakukanya! Awas,jangan macam-macam kau.Bawa aku keluar dari sini. Kalau engkau mebantah,akan kucekik mampus engkau sekarang juga. Aku Anjar Banu,harus keluar dan menggegerkan dunia ramai lagi. Namaku akan menjulang tinggi lagi, dan engkau menjadi pembantuku yang setia, ha-ha-ha! Suara tawa itu berbunyi di dekat telinga Gajahpuro,terdengar seperti suara setan dan mengancam dirinya, Gajahpuro semakin khawatir. Celaka, sekarang aku terjatuh ke tangan iblis, pikirnya! Aku harus dapat terbebas dari orang gila ini. Akan tetapi dipun tertarik mendengar bahwa dengan ilmunya yang baru dia akan mampu memanjat naik. Dia lalu mengerahkan Aji Ranu Geni ke arah kedua telapak tangan dan kakinya sampai kedua tangan kaki terasa panas. Lalu dicobanya untuk meraba dinding sumur. Dan........telapak tangannya mampu menempel dinding. Kakinya juga dapat menempel seperti kaki cecak. Dia lalu mulai merayap naik! Diam-diam hatinya merasa girang bukan main,akan tetapi berbareng juga khawatir.Kalau dia dapat membawa orang ini naik ke atas sana, lalu apa yang terjadi dengan dirinya? Dia akan dikuasainya dan harus mentaati semua perintahnya.Bagaimana kalau orang ini melakukan hal-hal yang amat jahat dan dia disuruh menurut saja? Tidak,dia harus mampu melepaskan dirinya dari tekanan dan pengaruh orang ini! Setelah merayap sampai kurang lebih tujuh meter, tiba-tiba kakinya terpeleset dan tubuh Gajahpuro meluncur kembali ke bawah! Dan karena dia menggendong Anjar Banu,dengan sendirinya, Anjar banu yang menimpa dasar sumur lebih dulu,ditimpa lagi oleh tubuh Gajahpuro! Ngek.........! Rangkulan Anjar Banu terlepas dari leher Gajahpuro. Kakek yang buntung kedua kakinya itu menyumpah-nyumpah. Tolol! Bodoh! Kenapa engkau bisa jatuh? Akan tetapi Gajahpuro tidak segera bangkit melainkan mengerang kesakitan.Melihat ini, kemarahan kakek itu mereda dan dia menghampiri,lalu menyentuh dan mengguncang pundak Gajahpuro. Ada apakah dengan engkau? Engkau terluka......... ? Pada saat itulah Gajahpuro melancarkan pukulan Lahar Sewu ke arah dada kakek itu. Karena sama sekali tidak menyangka, kakek itu tentu saja tidak sempat mengelak atau menangkis lagi. Desssss........!! Tubuh kakek itu terlempar seperti bola dan menabrak dinding ruangan bawah tanah. Gajahpuro tidak melihat lagi bagaimana keadaannya. Dia segera melompat dan sekali lagi dia memanjat dinding sumur dengan cepat sekali. Dia mendengar suara bergaung dari bawah,akan tetapi dia tidak menengok lagi dan terus memanjat mengerahkan seluruh tenaganya. Dengan cepat dia berhasil keluar dari dalam sumur itu. Dia menengok ke bawah dan tidak melihat apa-apa saking dalamnya sumur itu. Begitu keluar dari dalam sumur,dia mendengar suara ribut-ribut di sebelah barat perkampungan Gagak Seto. Dia lalu berlari dan begitu kakinya meloncat,dia sendiri terkejut karena kini tubuhnya menjadi sedemikian ringan sehingga dia dapat meloncat jauh dan ketika laripun larinya cepat bukan main. Ketika tiba di tempat itu, dia melihat belasan orang nak buah Gagak Seto sedang mengeroyok seorang pria berpakaian seperti petani.Akan tetapi dia segera mengenal pria itu yang bukan lain adalah Pangeran Panjiluwih! Kiranya pangeran itu yang tadinya melarikan diri, dapat bersembunyi di pedusunan dan kini menyamar sebagai seorang petani hendak melanjutkan larinya. Akan tetapi agaknya para anak buah Gagak Seto mengenalnya dan mengeroyoknya. Karena pada saat itu, Budhidharma sedang pergi bersama Niken Sasi dan Dewi Muntari, maka yang mengeroyok hanya anak buah Gagak Seto yang kini tunduk kepada Budhi dan menganggap pangeran itu sebagai musuh. Gajahpuro merasa heran melihat betapa anak buah Gagak Seto memusuhi pangeran itu yang dia tahu telah bersekutu dengan Klabangkoro. Akan tetapi karena sekarang dia membenci labangkoro,membenci Gagak Seto maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerbu dan mengamuk, menyerang anak buah Gagak Seto membantu Pangeran Panjiluwih! Sepak terjang Gajahpuro luar biasa hebatnya. Tamparan dan tendangannya membuat para anak buah Gagak Seto terlempar seperti diamuk badai. Sebentar saja semua pengeroyok sudah jatuh bangun dan mereka melarikan diri. Pangeran Panjiluwih memandang kepada Gajahpuro,girang dan juga heran. Gajahpuro, engkau membantuku? Bagus sekali, engkau ternyata seorang yang setia, tidak seperti orang-orang Gagak Seto tadi yang kini telah berubah! Tentu saja hambamembantu paduka, Pangeran. Hamba hukan lagi anggota Gagak Seto,bukan lagi putera Klabangkoro.Bahkan hamba akan membunuh Klabangkoro dan Mayangmurko! Tentu saja Pangeran Panjiluwih semakin heran mendengar ini. Akan tetapi, bukankah Klabangkoro itu bapakmu sendiri? Bukan! Dia malah hendak membunuh hamba. Permisi dulu, Pangeran. Hamba akan mencari dan membunuh mereka! Sabar dulu, Gajahpuro. Engkau tidak bisa membunuh mereka lagi. Eh, apa maksud paduka, Gusti Pangeran? Ke mana saja engkau selama ini? Apakah engkau tidak tahu bahwa Klabangkoro dan Mayangmurko sudah tewas? Mereka telah terbunuh oleh Budhidharma, bahkan kini Gagak Seto dikuasai oleh Budhidarma. Aku baru saja keluar dari tempat sembunyiku dan menyamar sebagai petani untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi anak buah Gagak Seto itu masih menganalku. Untung engkau datang membantu, Gajahpuro. Ah, jahanam itu telah mati? Gajahpuro berseru dengan kecewa karena tadinya dia ingin membalas dendam sendiri kepada Klabangkoro yang telah membunuh ayah kandungnya, ibu kandungnya, dan nyaris dia sendiri. Yang lain-lain juga sudah tewas. Anak buah Jambuka Sakti juga sudah kocar-kacir dan lari pulang. Sebaiknya engkau ikut denganku, mengawal aku sampai kembali ke kota raja. Engkau akan kuhadapkan kepada Kanjeng Gusti dan engkau akan memperoleh kedudukan tinggi di kota raja, Gajahpuro. Pemuda itu tertarik. Musuh besarnya telah tewas dan dia sudah kehilangan segala-galanya. Tidak dapat mengharapkan Gagak Seto yang kini telah dikuasai Budhidarma. Lebih baik dia ikut pangeran ini untuk mencari kedudukan dan kemulian di kota raja. Baiklah, Gusti Pangeran. Hamba akan mengawal paduka. jawabnya dan mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu. lereng Bromo yang menjadi sarang perkumpulan Jambuka Sakti menjadi geger! Budhidharma,Niken Sasi, dan Dewi Muntari datang dan mereka disambut oleh puluhan orang anak buah Jambuko Sakti. Para anak buah Jambuko Sakti sudah mengenal tiga orang ini yang mengamuk di Gagak Seto tempo hari. Di antara mereka yang lari pulang ke Gunung Bromo sudah memberi laporan kepada Ki Brotokeling, ketua Jambuko Sakti. Ketika tiga orang ini muncul, para anak buah Jambuko Sakti itu seperti sekumpulan laron menyerang api. Begitu tiga orang itu menggerakkan kaki tangan, mereka berpelantingan jatuh bangun. Keadaan menjadi gempar dan Ki Brotokeling sendiri lalu maju.Melihat ketua mereka maju,para anak buahnya kini hanya mengepung dengan senjata terhunus. Ki Brotokeling adalah seorang kakek berusia limapuluh delapan tahun yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya kemerahan, penuh brewok. Jenggotnya sekepal sebelah dan wajahnya menyeramkan. Sebatang golok besar bergagang kepala srigala tergantung di pinggangnya. Babo-babo..........! Serunya sambil memandang kepada tiga orang yang sudah berhadapan dengannya itu. Andika bertiga ini siapakah,berani datang membikin ribut di perkampungan kami? Budhidarma melangkah maju dan menjawab. Andika tentu Ki Brotokeling ketua Jambuko Sakti, bukan? Benar,akulah Ki Brotokeling. Siapa andika,orang muda? Namaku Budhidharma dan tentu sebagian dari anak buahmu sudah melapor siapa adanya aku. Mereka tadi begitu kami datang sudah mengeroyok kami. Aku adalah ketua Gagak Seto yang baru. Hemm, bagus. Jadi andika pengacau itu? Lalu sekarang andika bertiga datang ke sini mau apa? Tiba-tiba Dewi Muntari melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke muka brewokan itu. Dengar, Brotokeling! Kurang lebih delapan tahun yang lalu anak buahmu menyerang dan membunuh Raden Mas Rangsang di pegunungan Anjasmoro! Siapakah yang menyuruhmu mengirim anak buahmu membunuh Raden Mas Rangsang? Brotokeling terkejut. Memang pada waktu itu dia menyuruh anak buahnya menghadang dan membunuh Raden Mas Rangsang dan isterinya yang sedang bertamasya ke pegunungan Anjasmoro. Yang memberi perintah untuk itu adalah,Pangeran Panjiluwih yang bertindak atas nama Kanjeng Gusti! Kalau aku tidak mau menjawab pertanyaan itu, andika mau apa? tantangnya. Jahanam keparat! Apa engkau minta mati? bentak Dewi Muntari. Babo-babo,kalahkan aku dulu,baru aku akan menjawab! kata Brotokeling, merasa penasaran diancam oleh seorang wanita cantik. Bagus, majulah kalau engkau ingin dihajar, Brotokeling! bentak Dewi Muntari. Ibu,biar aku yang menghajar lutung buruk ini! kata Niken Sasi, hendak mewakili ibunya. Jangan,Niken. Aku sendiri ingin menghajarnya untuk membalas kematian ramamu. Dewi Muntari sudah maju mendekati Ki Brotokeling. Dari keadaan anak buahnya yang kocar-kacir ketika menyerang tadi saja Brotokeling suxdah dapat menduga bahwa lawan-lawannya tentu merupakan orang yang tangguh. Maka, begitu berhadapan dengan Dewi Muntari,tanpa malu-malu lagi dia sudah mencabut golok besarnya yang berkilauan saking tajamnya. Wanita nekat, keluarkan senjatamu! bentaknya sambil mengelebatkan goloknya. Dewi Muntari tersenyum mengejek. Untuk melawan golok tumpulmu itu tidak perlu aku menggunakan senjata, cukup dengan kaki tanganku saja,Brotokeling! Ki Brotokeling menjadi semakin marah, merasa dipandang rendah sekali. Beritahukan namamu, jangan mati tanpa nama! kembali dia membentak untuk menyembunyikan rasa gentarnya. Melihat sikap wanita itu hendak menghadapi goloknya dengan tangan kosong saja, di dalam hatinya telah menjadi gentar. Mau tahu namaku? Akulah Dewi Muntari, isteri Raden Mas Rangsang yang dibunuh anak buahmu! bentak Dewi Muntari. Brotokeling terkejut dan terbelalak, teringat akan cerita anak buahnya betapa Ki Blendu, wakilnya, telah berhasil membunuh Raden Mas Rangsang. Akan tetapi wanita itu ditolong seorang kakek yang buruk sekali,akan tetapi yang memiliki kesaktian hebat sehingga Ki Blendu dan hampir seluruh anak buahnya tewas oleh kakek itu. Kiranya wanita ini isteri Raden Masa Rngsang yang ditolong oleh kakek itu! Kalau begitu,sekarang engkau mampus! Bentaknya dan dia sudah mengayunkan goloknya membacok dengan tenaga yang besar. Akan tetapi dengan lincahnya Dewi Muntari mengelak dan meloncat ke samping ia mengirim tendangan yang cepat. Kaki kanannya mencuat dan meluncur ke arah perut Brotokeling. Akan tetapi, biarpun terkejut karena hampir saja kakinya tertendang, Brotokeling dapat menghindar sambil menarik kakinya ke belakang. Kemudian dia menyerang lagi dengan lebih ganas. Dewi Muntari menggunakan kegesitannya. Sebetulnya,dengan Aji Kekebalan Trenggiling Wesi ysng dimilikinya, ia tidak takut terbabat golok,akan tetapi ia khawatir kalau-kalau pakaiannya akan terobek,maka ia mengelak kesana-sini sambil mengirim temparan atau tendangan yang tidak kalah hebatnya dibandingkan sambaran golok. Niken yang menonton pertandingan itu terbelalak kagum. Ibunya memang hebat sekali, bahkan Budhidharma juga kagum dan sama sekali tidak merasa khawatir akan keselamatan puteri itu. Dia yakin bahwa Dewi Muntari pasti akan dapat mengalahkan Ki Brotokeling. Yaaaaaaahhhh ...... ! Ki Brotokeling yang merasa penasaran karena perutnya kena serempet kaki Dewi Muntari sehingga merasa mulas,kini mengayunkan goloknya sambil menggerakkan seluruh tenaganya. Dia kaget dan girang sekali melihat wanita itu kini tidak mengelak bahkan menangkis sabetan golok itu dengan tangan kanannya! Buntung lenganmu,pikirnya dengan girang. Takkk..........! Golok itu tertahan, seolah tertangkis tongkat baja yang amat kuat dan selagi Brotokeling terbelalak kaget, tangan kiri Dewi Muntari menyambar dengan tamparan Aji Jaladi Geni. Plakkk......... ! Aduhhhh,tobaaat ......... ! Ki Brotokeling terpelanting dan goloknya terlepas dari tangannya. Dia roboh dan memegangi pipinya yang terkena tamparan tadi. Rasa panas yang menusuk sampai membuat kepalanya seperti dibakar. Bagaimana,Brotokeling? Kita lanjutkan? tantang Dewi Muntari. Ampun........saya mengaku kalah.........! kata Brotokeling tanpa malu-malu lagi. Tamparan itu sedemikian hebatnya sehingga membuat dia merasa kepalanya dibakar dan setengah mati. Kalau begitu cepat katakan, siapa yang menyuruh engkau membunuh suamiku? Kami......kami diperintah oleh Gusti Pangeran Panjiluwih........ akhirnya dia mengaku. Pengakuan ini tidak mengejutkan hati Dewi Muntari. Memang ia sudah mengetahui akan hal itu. Ketika ia ditangkap oleh Ki Blendu dahulu, Ki Blendu juga mengaku bahwa Pangeran Panjiluwih yang menyuruhnya. Ia menghendaki keterangan yang lain. Jambuka sakti bersekutu dengan Gagak Seto yang dipimpin Klabangkoro dan dengan Pangeran Panjiluwih. Apa maksudnya dan siapakah pemimpinnya? Apakah Pangeran Panjiluwih pemimpinnya? Kami hanya disuruh bersiap-siap, dan menanti perintah. Pemimpinnya adalah Kanjeng Gusti,kami tidak mengenalnya,bahkan tidak pernah bertemu. Akan tetapi kalau perintah beliau dilanggar hukumannya amat berat. Yang menjadi perantara adalah Pangeran Panjiluwih...... Dimana Kanjeng Gusti itu tinggal? Kabarnya di kota raja, entah di mana. Kami belum boleh mengetahuinya. Yang tahu hanya Pangeran Panjiluwih seorang. Hemm,kami percaya keteranganmu. Akan tetapi, mulai sekarang engkau harus memimpin Jambuko Sakti ke arah jalan yang baik. Awas kalau lain kali aku mendengar kelompokmu melakukan kejahatan,kami akan datang lagi untuk membasmi kalian! kata Dewi Muntari sambil menendang dan tubuh Ki Brotokeling terlempar dan terguling-guling sampai jauh. Kepala perkumpulan yang terkenal ganas ini sekarang menjadi ketakutan dan berlutut minta ampun. Dewi Muntari mengajak Niken dan Budhi meninggalkan sarang Jambuka Sakti dan menuruni Lereng Gunung Bromo. Di tengah perjalanan menuju ke kota raja itu, Budhi minta agar kedua orang wanita berhenti berjalan karena dia hendak bicara. Ada apakah,Budhi? tanya Dewi Muntari yang sekarang sudah merasa akrab dengan pemuda ini. Kanjeng Bibi,saya merasa tidak berhak untuk ikut pergi menghadap Gusti Prabu di istana.Oleh karena itu, sebaiknya saya tidak ikut saja pergi ke sana. Eh,kenapa begitu, Budhi? tanya Dewi Muntari dengan heran. Pertama,saya tidak mendapatkan Tilam Upih seperti yang dipesankan Bapa Guru, yang saya dapatkan Tilam Upih palsu. Tidak mungkin saya menghaturkan keris palsu ini kepada Gusti Prabu. Dan kedua, Kanjeng Bibi berdua Diajeng Niken akan mengadakan pertemuan keluarga besar di istana,bagaimana saya dapat menghadirinya? Saya adalah orang biasa dan tidak mempunyai kepentingan apapun di istana........Berkata demikian, Budhi mengerling kepada Niken dan merasa rendah diri. Kakangmas Budhi,apa yang kaukatakan ini? Mengapa tiba-tiba saja sikapmu berubah seperti ini? Kita sudah mengalami banyak hal bersama,bahkan sudah menghadapi maut bersama, kenapa sekarang andika bersikap seolah-olah seorang asing di antara kami? Diajeng Niken........aku.......aku...... Budhi tidak melanjutkan ucapannya, melainkan memandang kepada Dewi Muntari merasa rikuh dan canggung sekali. Dewi Muntari tersenyum. Ia tahu bahwa ada urusan pribadi di antara mereka sebaiknya kalau ia menyingkir. Ah,sudahlah. Urusan itu kalian bicarakan berdua saja. Aku sudah lapar. Aku akan mendahului kalian pergi ke dusun di depan itu, mencari makanan. Nanti kalian menyusul. Tanpa menanti jawaban, puteri ini segera pergi meninggalkan mereka. Mereka berdiri saling berhadapan saling pandang. Nah, kakangmas Budhidharma. Sekarang kita hanya berdua. Sebetulnya apakah yang menyebabkan engkau bersikap seperti ini? Budhi menghela napas panjang. Selama berdua dengan Niken, dia merasakan kehidupan ini demikian gemilang dan lengkap.Bahkan ketika mereka berdua menghadapi ancaman maut di goa dia tidak merasa nelangsa dan putus asa karena di sana ada Niken. Sekarang, dia seolah merasa ada ancaman yang akan merenggut gadis itu pergi darinya! Niken adalah cucu Sang Prabu Jayabaya, tentu setelah masuk istana keadaannya lain lagi, menjadi puteri istana dan bukan orang biasa. Bagaimana dia dapat menemuinya lagi,apa lagi bergaul seperti biasa dengannya? Tentu tidak mungkin. Membayangkan perpisahan yang dihalangi tembok istana ini,hatinya menjadi sedih dan inilah yang menyebabkandia bermaksud tidak ikut agar jangan menghadapi perpisahan yang akan menghancurkan hatinya itu. Lebih baik berpisah sekarang, selagi mereka masih bergaul sebagai sahabat! Diajeng Niken Sasi,apa yang dapat kukatakan? Makin kubayangkan, makin meresahkan hatiku. Andika adalah cucu Sang Prabu Jayabaya, seorang puteri istana. Sedangkan aku.....aku seorang pemuda biasa,miskin papa, yatim piatu pula. Aku seharusnya menyembah-nyembah kepadamu, bahkan bicara seperti sekarangpun sudah tidak pada tempatnya. Karena itu aku......aku sebaiknya mengundurkan diri dan tidak mengganggumu lagi........ Kakangmas Budhi! Apa yang kau ucapkan ini? Apakah selama ini aku pernah bersikap tinggi dan tidak wajar kepadamu? Bukankah kita telah bergaul sebagai sahabat yang baik, yang sama-sama menghadapi ancaman maut berulang kali? Kakangmas Budhi. Bagiku,andika adalah seorang yang pantas kuhormati seorang budiman yang agung, dan aku merasa terhormat sekali menjadi sahabatmu. Kakangmas Budhi,apakah engkau tidak senang bersahabat denganku maka sekarang hendak meninggalkan aku? Demi para dewata yang agung! Sama sekali tidak begitu, diajeng. Aku bahkan senang sekali, bangga dapat berdekatan denganmu. Akan tetapi justeru itulah yang membuat aku merasa ngeri. Kalau sudah sampai ke istana,engkau menjadi puteri istana dan sepantasnya engkau berdiam di istana. Sedangkan aku........bagaimana aku dapat bertemu denganmu lagi, dapat bergaul denganmu lagi? Aku.......aku takut kehilangan engkau diajeng....... Suara Budhidharma menggetar penuh perasaan dan ini terasa sekali oleh Niken Sasi. Gadis ini menghampiri lebih dekat dan berkata dengan wajah kemerahan dan suara lirih gemetar, Kakangmas Budhi! Katakan sekali lagi........ Budhi tidak dapat lagi menahan gelora hatinya dan dia memegang kedua tangan gadis itu, digenggamnya erat-erat seolah dia tidak ingin melepaskannya lagi. Aku takut kehilangan engkau diajeng! Niken mengangkat mukanya dan menatap pemuda itu. Dua pasang mata bertemu, bertaut mewakili hati mereka dan dengan suara lirih Niken berkata. Aku juga tidak ingin kehilangan engkau, kakangmas. Kata-kata itu terdengar begitu merdu bagi telinga Budhi sehingga dia memejamkan matanya dan merasa seperti mimpi. Dia merangkul gadis itu dan seolah hendak membenamkan kepala itu ke dalam dadanya. Diajeng Niken,katakanlah apakah aku tidak sedang bermimpi? Tidak, kakangmas. Kita dalm keadaan sadar. Akan tetapi betapa mungkin? Engkau,cucu Sang Prabu,dan aku, Joko Lola( yatim piatu) yang papa,mungkinkah kita saling mencinta? Kenapa tidak mungkin,kakangmas. Aku tidak pernah merasa menjadi seorang puteri istana. Sejak aku masih kecil orang-orang dalam istana mencemoohku sebagai keturunan biasa, keturunan orang dusun. Tidak,aku tidak ingin menjadi puteri istana,aku ingin menjadi orang dusun saja asalkan selalu berada di sampingmu. Diajeng....... ! Kakangmas......... ! Keduanya berangkulan dan merasa hati mereka bersatu padu. Sampai lama mereka dalam keadaan mesra seperti itu. Akan tetapi Budhi segera menyadari keadaan dan dengan lembut dia melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Niken,diajak duduk di atas batu. Diajeng Niken Sasi, kata Budhi setelah mereka duduk di atas batu. Marilah kita kesampingkan dulu gelora perasaan hati dan mari kita sadar sepenuhnya melihat dan membicarakan kenyataan yang ada. Kita saling mencinta, dan aku berterima kasih sekali, merasa berbahagia sekali bahwa engkau juga mencintaiku seperti aku mencintaimu. Akan tetapi, diajeng. Bagaimana kasih sayang kita ini dapat diujudkan menjadi perjodohan? Perjodohan bukan hanya urusan dua orang manusia seperti engkau dan aku, melainkan menyangkut pula keluarga dan menjadi urusan yang yang harus disetujui pula oleh keluarga. Bagiku sendiri tidak ada masalah,diajeng,karena aku adalah yatim piatu,tidak ada orang lain yang akan memuuskan kecuali aku sendiri. Akan tetapi engkau....... Ibuku pasti menyetujui, kakangmas. Ingat, biarpun kami ini tadinya tinggal di istana, akan tetapi sudah bertahun-tahun kami menjadi orang biasa. Aku menjadi anggota Gagak Seto,dan ibu menjadi murid seorang sakti. Aku percaya bahwa ibumu bijaksana dan akan menyetujui. Akan tetapi keluargamu bukan hanya ibumu saja. Seluruh penghuni istana adalah keluargamu. Bagaimana mereka dapat menerima seorang dusun biasa seperti aku menjadi anggota keluarga? Budhi berkata dengan nada sedih. Sudahlah, kakangmas, jangan pikirkan yang tidak-tidak. Bagaimana nanti sajalah. Pendeknya,aku akan tetap setia kepadamu walaupun apa yang akan terjadi. Kalau perlu, aku akan meninggalkan istana dan ikut denganmu. Sepasang mata Budhi bersinar-sinar. Saking bahagianya dia kembali mendekap gadis itu dan menciumnya. Niken pasrah dan mendah saja sambil memejamkan mata dan dengan hati yang berbunga-bunga. Akan tetapi tidak lama mereka terbuai suasana yang asyik-asyik itu karena mereka teringat akan Dewi Muntari. Wah,kita harus cepat menyusul kanjeng bibi ke dusun itu. Jangan sampai terlalu lama ia menunggu! kata Budhi dan sambil bergandengan tangan mereka lalu pergi ke dusun di depan. Ternyata Dewi Muntari telah dapat membeli ayam,telur,dan sayur-sayuran dan mereka lalu menumpang memasak semua itu di rumah seorang keluarga petani sederhana yang menerima mereka dengan senang hati. Dewi Muntari tersenyum gembira melihat perubahan sikap Budhidharma. Anakmas Budhi, engkau tidak jadi pergi, Bukan? Wajah Budhi kemerahan dan dia melirik kepada Niken. Tidak,kanjeng bibi. Saya ingin ikut, mengantarkan kanjeng bibi berdua sampai ke kota raja. Bukan hanya mengantarkan, Budhi. Engkau harus membantu kami membongkar rahasia ini. Suamiku dibunuh penjahat yang katanya disuruh oleh Pangeran Panjiluwih, akan tetapi ternyata di belakang pangeran itu masih ada yang menjadi pemimpinnya, yang disebut Kanjeng Gusti. Kita harus dapat mengetahui siapa sebenarnya Kanjeng Gusti itu dan apa niat busuknya dengan persekutuan itu. Saya juga penasaran tentang hilangnya Tilam Upih, kanjeng bibi. Pencuri yang dengan mudah mampu mengalahkan Ki Surodiro adipati Nusa Kambangan tentu seorang yang sakti. Saya ingin mencari Tilam Upih sampai dapat untuk dihaturkan kembali kepada Gusti Prabu. Bagus, tekadmu itu baik sekali. Mudah-mudahan kita semua akan berhasil. Mereka lalu makan minum dengan gembira, Budhidharma makan dengan lahapnya. Hatinya penuh kebahagian karena hubungannya dengan Niken Sasi. Gadis itu mencintainya bahkan menyatakan akan setia kepadanya, apapun yang akan terjadi dan akan meninggalkan istana ikut dengannya! Cinta memang amat berkuasa atas batin seseorang dan setiap orang manusia tidak akan pernah bebas dari godaan cinta. Cinta dapat membuat seseorang menjadi bahagia,akan tetapi sebaliknya dapat pula membuat seseorang menjadi sengsara. Demikianlah sifat cinta manusia. Cinta manusia berpamrih. Cinta manusia ingin selau mendapatkan, ingin menguasai, ingin memiliki, ingin disenangkan. Itulah pamrihnya. Seperti juga cinta Budhidharma terhadap Niken Sasi atau sebaliknya. Mereka saling mencinta karena saling membutuhkan,saling tertarik. Mereka ingin menikmati kesenangan dari masing-masing. Tentu saja cinta seperti ini dapat mendatangkan kesenangan dan juga kesengsaraan. Senang apabila keinginan hati terpenuhi, sebaliknya kecewa sengsara kalau keinginan hati tidak terpenuhi. Budhidharma merasa berbahagia karena cintanya terbalas. Dia tentu akan merasa sengsara andaikata cintanya tidak terbalas! Dan cinta seperti yang kita kenal selama dalam kehidupan ini adalah cinta seperti itulah. Cinta berpamrih. Seperti jual beli. Baik cinta terhadap kekasih, terhadap sahabat, terhadap anak,atau terhadap siapapun. Masih adakah cinta kita terhadap kekasih kalau sang kekasih itu tidak membalas cinta kita, kalau kekasih itu berpaling kepada orang lain? Masih adakah cinta kita kepada sahabat kalau sahabat itu melakukan hal yang merugikan kita? Masih adakah cinta kita kepada anak kalau si anak itu tidak menurut dan bahkan durhaka terhadap kita ? Dan masih banyak contohnya lagi. Kita mencintai seseorang karena kebaikannya, karena kepandaiannya,karena kecantikan atau ketampanannya,karena kedudukan atau hartanya. Kita bukan mencinta karena ORANGNYA. Kalau kita mencinta orangnya, mencinta dengan sepenuhnya, maka segala kekurangan dan cacat-celanya juga akan kita terima dengan hati terbuka. Cinta Tuhan adalah cinta suci yang tidak berpamrih. Melalui alam ciptaNya, Tuhan melimpahkan kasih sayangnya kepada kita semua. Tuhan itu memberi, memberi dan memberi. Tidak pernah minta, namun segala sesuatu, tanpa kecuali, akhirnya akan kembali juga kepadaNya. Seperti cinta Tuhan melalui bumi. Bumi itu hanya memberi dan memberi tidak pernah minta,akan tetapi akhirnya semua akan kembali kepada Bumi. Demikianlah Kasih Tuhan. Tidak memilih, tidak bersyarat. Setangkai bunga mawar sama harumnya dalm penciuman seorang pendeta atau seorang penjahat,dalam penciuman seorang raja atau seorang pengemis. Kicau burung sama merdunya dalam pendengaran seorang pandai maupun seorang bodoh, seorang bangsawan maupun seorang dusun. Kalau sudah merenungkan semua itu dan membuka mata melihat cinta kita terhadap siapa saja, akan nampak betapa dangkalnya cinta yang tadinya kita agung-agungkan. Dan berbahagialah orang yang setelah menyadari akan hal ini dapat berubah. Selama cinta kita tidak berubah, masih berpamrih, selama itupula cinta kita terumbang-ambingkan kebahagian akan tetapi dapat pula mendatangkan penderitaan. Sepasang mata Dewi Muntari kemerahan dan ia menahan tangisnya ketika mereka bertiga memasuki kota raja. Karena dandanannya, tidak ada orang yang mengenal puteri raja ini. Dewi Muntari merasa amat terharu melihat kota raja. Telah bertahun-tahun kota raja ditinggalkannya. Semenjak meninggalkan kota raja untuk bertamasya ke pegunungan Anjasmoro bersama suaminya, ia tidak pernah lagi kembali, sampai delapan tahun lebih. Dan kini ia kembali tanpa suaminya yang tewas dibunuh orang. Kita langsung saja ke istana. Aku harus lebih dulu menghadap Kanjeng Rama Parbu untuk menceritakan tentang kepergianku selama ini. kata Dewi Muntari kepada Niken Sasi dan Budhidarma. Mereka lalu menuju ke alun-alun di depan istana. Sementara itu, kedatangan mereka sejak di pintu gapuro sudah diketahui orang. Panjiluwih sudah memasang banyak mata-mata dan begitu dia mengetahiu akan kedatangan tiga orang ini, dia terkejut dan cepat memberitahu kepada Senopati Lembudigdo. Pemuda yang merampas Tilam Upih berada di kota raja. Cepat tangkap. Dia datang bersama kakang-mbok Dewi Muntari dan Niken Sasi yang sudah bertahun-tahun minggat dari istana! Mendengar ini, Senopati Lembudigdo terkejut juga. Jangan-jangan mereka mempunyai niat jahat terhadap Sang Prabu. Maka, senopati yang setia ini lalu mengerahkan perajurit dan menghadang di alun-alun. Begitu mereka bertiga muncul, Lembudigdo sudah memapakinya bersama pasukannya. Kakang Senopati Lembudigdo! kata Dewi Muntari. Tidak kenalkah andika dengan aku? Aku Dewi Muntari,ingin menghadap Kanjeng Rama Prabu. Harap memberi jalan. Lembudigdo memberi hormat. Harap paduka memaafkan saya. Akan tetapi karena sudah bertahun-tahun paduka meninggalkan istana dan kini kembali bersama pemuda ini, terpaksa saya menahan paduka. Bukankah pemuda ini yang bernama Budhidharma dan yang telah merampas Tilam Upih dari Adipati Nusa Kambangan? Budhidharma menjawab, Benar, sayalah Budhidharma. Kalau begitu serahkan dulu Tilam Upih kepada kami kemudian andika sekalian akan saya hadapkan kepada Gusti Prabu. Tidak dapat saya menghaturkan Tilam Upih, karena yang saya terima dari Adipati Nusa Kambangan hanyalah Tilam Upih palsu. kata Budhidharma. Tentu saja Senopati Lembudigdo tidak mau menerima begitu saja keterangan Budhi. Kalau begitu, terpaksa andika bertiga kami tawan dan kami hadapkan kepada Gusti Prabu! Niken Sasi sudah bertolak pinggang dengan marah. Coba tawan kami kalau dapat! serunya sambil memasang kuda-kuda untuk mengamuk. Akan tetapi Dewi Muntari membentak puterinya. Niken,diam kau! Lalu ia menghadapi Lembudigdo dan berkata dengan lembut, Kakang Senopati Lembudigdo, kalau kami hendak dihadapkan kepada Kanjeng Rama Prabu, silakan! Dengan sikap hormat namun waspada, Senopati Lembudigdo lalu mengirim laporan ke dalam untuk minta menghadap Sang Prabu Jayabaya karena keperluan yang amat penting mengenai keris pusaka Kyai Tilam Upih. Dia sudah melapor kepada Sang Prabu Jayabaya bahwa menurut keterangan Adipati Nusa Kambangan, Kyai Tilam Upih telah diserahkan kepada Budhidharma. Sang Prabu menerima permohonannya dan sudah siap menerima mereka di balai persidangan. Kebetulan pada saat itu dia sedang menerima Pangeran Sepuh Wijayanto menasihatkan Sang Prabu Jayabaya agar mengutus para senopati mencari dan menangkap pemuda bernama Budhidharma itu yang telah memiliki keris pusaka Tilam Upih. Ketika menerima laporan dari pengawal bahwa Senopati Lembudigdo mohon menghadap sambil membawa tawanan tiga orang, yaitu seorang pemuda bernama Budhidarma bersama puterinya, Dewi Muntari dan cucunya, Niken Sasi, Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya dan cepat memerintahkan agar Senopati itu membawa para tawanan masuk. Begitu tawanan itu digiring masuk Dewi Muntari sudah maju berlutut di depan ayahnya, demikian pula Niken Sasi sedangkan Budhidarma juga berlutut dan menyembah dari jarak agak jauh karena dia dilarang mendekat oleh senopati Lembudigdo yang mencurigainya. Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya. Hemm,nini Dewi Muntari. Engkaukah ini? Ke mana saja engkau selama bertahun-tahun ini, bersama puterimu? Dan di mana pula suamimu? Kenapa tidak ada berita sama sekali yang kausampaikan kepada kami? teguran ini mengandung kemarahan. Dan kini engkau datang bersama pemuda yang kabarnya telah menguasai Tilam Upih! Tanpa menanti jawaban Sang Prabu sudah menegur Budhidharma. Heh,pemuda, benarkah engkau yang bernama Budhidarma dan engkau sudah mendapatkan Tilam Upih? Kenapa tidak engkau haturkan kepada kami? Hamba hanya mendapatkan yang palsu, Kanjeng Gusti.Maka tidak dapat hamba haturkan kepada paduka. jawab Budhidharma. Pada saat itu,Pangeran Sepuh Wijayanto cepat berkata. Adimas Prabu,demi nama baik keluarga,saya mohon agar Dewi Muntari jangan dulu diperiksa dan diadili di depan banyak ponggawa. Kalau paduka berkenan,biarlah saya yang akan menanyai mereka,demikian pula dengan pemuda bernama Budhidharma ini. Perkenankan saya yang memeriksanya di rumah saya. Kalau memang mereka tidak bersalah, seyogianya diampuni. Akan tetapi kalau memang bersalah, tentu saja keputusan hukumannya berada di tangan paduka. Dengan demikian, maka tidak ada orang lain menyaksikan pemeriksaan saya demi menjaga nama baik keluarga sendiri. Sang Prabu Jayabaya mengerutkan alisnya, sinar matanya yang tajam itu sejenak memandang kepada Dewi Muntari dan Niken Sasi,lalu kepada Budhidharma. Sesudah itu dia memandang kepada Pangeran Sepuh Wijayanto, mengangguk-angguk sambil tersenyum dan berkata. Baik sekali,kakangmas pangeran. Biarlah kuserahkan mereka kepada kakangmas untuk memeriksa mereka sampai tuntas. Wajah Pangeran Sepuh menjadi gembira dan cepat dia memerintahkan Senopati Lembudigdo untuk membawa tiga tawanan itu ke rumahnya. Gedung tempat tinggal pangeran ini tidak jauh dari istana karena masih ternasuk daerah istana, dan tiga orang tawanan itu dibawa pergi dari depan Sang Prabu Jayabaya. Ketika hendak dibawa pergi, Dewi Muntari menyembah kaki ramandanya dan memandang dengan penuh harapan seolah membayangkan kegelisahan dan Sang Prabu Jayabaya berkata lirih, Pergilah, nini Dewi dan beri keterangan yang sebenarnya kepada paman tuamu. Akan tetapi tetap saja jantung Dewi Muntari berdebar penuh ketegangan ketika ia dan puterinya, juga Budhidharma di bawa pergi ke gedung tempat tinggal Pangeran Sepuh Wijayanto. Di gedung itu, mereka dibawa masuk ke ruangan yang paling dalam, kemudian Pangeran Sepuh menyuruh Lembudigdo mengundurkan diri bersama anak buahnya. Ini pemeriksaan antara keluarga, tidak boleh ada orang luar ikut mendengarkan. kilahnya dan tentu saja Lembudigdo tidak berani membantah dan dia pun segera keluar dari gedung itu. Ternyata ruangan pemeriksaan itu dijaga ketat,dikepung oleh perajurit-perajurit pengawal Sang Pangeran Sepuh sendiri, dan setelah tiga orang tawanan itu memasuki ruangan, mereka melihat bahwa Pangeran Panjiluwih dan juga Gajahpuro telah berada di ruangan itu. Pangeran Panjiluwih tersenyum menyambut mereka dan berkata kepada Dewi Muntari dengan suara mengejek, Ah, Kakang Mbok Dewi, akhirnya andika menjadi tawanan juga. Sudah sepatutnya karena andika membantu para pemberontak Gagak Seto! Gagak Seto bukan pemberontak! Niken Sasi membentak marah mendengar tuduhan itu. Adimas Pangeran Panjiluwih, Paman Pangeran Sepuh akan mendengar penjelasan kami dan akan mengetahui siapa yang melakukan kejahatan dalam semua peristiwa ini! kata Dewi Muntari. Diam semua! tiba-tiba Pangeran Sepuh membentak. Ini merupakan persidangan dan pemeriksaan, yang tidak ditanya tidak boleh bicara! Pangeran Sepuh Wijayanto duduk di atas kursi dan dia membiarkan Dewi Muntari, Niken Sasi, dan juga Budhidharma bersimpuh di bawah seperti tiga orang pesakitan. Padahal, Dewi Muntari adalah keponakanny, puteri Sang Prabu, yang derajatnya sebetulnya tidak di bawah tingkatnya! Pertama kami akan memriksa Dewi Muntari. Andika adalah puteri raja, akan tetapi andika telah melakukan dosa besar, minggat dari istana bersama suami dan anak dan sampai bertahun-tahun tidak pulang, juga tidak ada beritanya. Kenapa? Jawab! Paman Pangeran, ketika itu kami sekeluarga sedang bertamasya ke pegunungan Anjasmoro, akan tetapi kami di serang perampok dan suami saya dibunuh. Saya sendiri akan dibunuh kalau tidak ditolong oleh seorang sakti dan menurut pimpinan perampok, yang mengutus mereka melakukan pembunuhan adalah ........... Cukup! Tidak ada artinya semua itu! Kalau memang kalian dirampok, dan andika masih hidup, kenapa selama delapan tahun tidak kembali ke istana dan melapor? Bahkan kini tahu-tahu pulang bersama pemuda yang telah menguasai Tilam Upih dan dan tidak mau menyerahkan pusaka itu! Tidak perlu banyak membantah karena ada saksinya di sini. Saya menjadi saksinya betapa Kakang Mbok Dewi Muntari telah bersekongkol dengan kami dan pasukan pengawal. kata Pangeran Pnjiluwih. (Nah, sudah jelas sekali itu. Bukan iti saja, Kanjeng Paman. Kakang Mbok Dewi malah menuduh saya menyuruh orang-orang melakukan pembunuhan terhadap suaminya. Hah, fitnah keji sekali. Apa yang dapat kaukatakan sekarang untuk menyangkal semua itu, Dewi Muntari? Dengan muka merah Dewi Muntari berkata,Hemm, agaknya semua telah diatur! Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi,hanya percaya akan kebijaksanaan Kanjeng Rama yang tentu akan memberi keputusan seadil-adilnya! Sekarang Niken Sasi. Benarkah apa yang diceritakan ibumu tadi? Semuanya benar, Kanjeng Eyang. Kami diserang orang-orang jahat dan kanjeng rama terbunuh. Saya sendiri terpisah dari kanjeng ibu dan baru-baru ini saja kami saling bertemu kembali. Hemm,aneh! Kalau andika selamat mengapa selama bertahun-tahun bersembunyi dan tidak pulang ke istana? Kemana saja selama ini andika bersembunyi? Saya tidak bersembunyi, Kanjeng Eyang, melainkan ditolong oleh Ki Sudibyo ketua Gagak Seto dan dijadikan muridnya. Gajahpuro menjadi saksi tentang keberaaanmu di perkumpulan pemberontak Gagak Seto. Gajahpuro ceritakan kesaksianmu! Gajahpuro menyembah. Sesungguhnyalah, diajeng Niken menjdi murid Ki Sudibyo, murid terkasih bahkan dicalonkan menjadi ketua Gagak Seto! Nah,semua sudah jelas. Andika dan ibu andika telah membantu Gagak Seto yang hendak memberontak, bukan? Gagak Seto adalah sebuah perkumpulan orang gagah, sama sekali bukan pemberontak biarpun pernah diselewengkan oleh mendiang Klabangkoro dan Mayangmurko! kata Niken dengan suara lantang. Dosamu juga telah jelas, Niken Sasi. Andika bersama ibumu minggat dari istana, bertahun-tahun tidak pulang dan hendak menyusun kekuatan di perkampungan Gagak Seto untuk memberontak. Sekarang giliran Budhidharma. Orang muda,andika yang bernama Budhidharma? Benar,Kanjeng Pangeran. jawab Budhi dengan tenang. Engkau sudah mendapatkan Tilam Upih,agaknya akan kaupergunakan sendiri,tidak ingin engkau menyerahkannya kepada Sang Prabu. Engkau bahkan menyeret Dewi Muntari dan Niken Sasi untuk bersekutu dengan pemberontak Gagak Seto. Hayo, mengakulah dan kembalikan Tilam Upih kepada kami! Pangeran, apa gunanya semua pemeriksaan ini? Kami semua sudah mengetahui dengan jelas siapa sebenarnya paduka! Padukalah pemimpin persekutuan antara Jambuko Sakti dan Gagak Seto yang dipimpin Klabangkoro, andika yang mengutus orang-orang Jambuko Sakti untuk membunuh suami Dewi Muntari. Andika juga yang mencuri Tilam Upih yang asli dan menukarnya dengan yang palsu. Andikalah yang disebut-sebut Kanjeng Gusti. Kami bertiga telah dapat menduganya! kata Budidharma dengan lantang. Benar semua itu! teriak Niken Sasi. Kami mengerti mengapa paduka melakukan semua ini, Kanjeng Eyang. Tentu untuk menyusun pemberontakan terhadap Kanjeng Eyang Prabu. Paduka menyingkirkan orang-orang yang dapat menjadi penghalang bagi paduka! Mendengar tuduhan ini, Pangeran Sepuh Wijayanto bahkan tertawa bergelak. Ha-ha-ha, tentu saja aku ini Kanjeng Gusti bagi semua bawahanku. Kalian mengada-ada saja. Dosa kalian sudah jelas dan kalian bertiga layak menerima hukuman mati! Mendengar ini, tiga orang itu meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda, bahkan Niken Sasi menghunus keris Megantoro pemberian gurunya. Kanjeng Paman tidak berhak mengadili kami, yang berhak mengadili hanyalah Kanjeng Rama Prabu. Kanjeng Paman hanyalah bertugas memeriksa dan menanyai kami saja! kata Dewi Muntari marah. Kalau hendak menjatuhi hukuman kami patuh menerima hukuman dari Kanjeng Rama Prabu, akan tetapi kalau Kanjeng Paman yang menghukum kami, kami akan melawan! Ha-ha-ha-ha! Pangeran Sepuh yang usianya sudah enampuluh tahun itu tertawa bergelak. Tempat ini sudah terkepung ketat! Kalian bertiga tidak akan mungkin dapat melarikan diri. Akan tetapi aku memberi kesempatan kepada kalian untuk melakukan perlawanan. Hayo, siapa yang berani maju? Paduka hendak mengandalkan pasukan untuk mengeroyok, sungguh licik dan curang! kata Dewi Muntari marah. Ha-ha-ha,kalian ini kanak-kanak yang besar mulut. Untuk menghadapi kalian saja, perlu apa menggunakan pasukan? Hayo, siapa berani majulah! Aku yang akan maju! bentak Niken Sasi sambil melompat ke depan. Baik satu lawan satu ataupun dikeroyok aku tidak akan mundur! Kanjeng Gusti Pangeran, perkenankan saya untuk menghadapi diajeng Niken. kata Gajagpuro kepada Pangeran Sepuh. Sang Pangeran yang sudah tahu akan kesaktian pemuda itu tersenyum dan mengangguk-angguk. Niken Sasi, bocah sombong. Gajahpuro itulah itulah lawanmu, engkau belum pantas untuk melawan aku, ha-ha-ha! Gajahpuro sudah maju dan bersiap melawan Niken Sasi. Mereka berdiri saling berhadapan dan Gajahpuro berkata dengan sikap lembut, Diajeng Niken, harap andika menyerah saja dan aku yang akan mintakan ampun untukmu kepada Kanjeng Gusti Pangeran Sepuh. Niken Sasi memandang pemuda itu dengan alis berkerut. Ia tidak mebenci pemuda ini, bahkan ia berterima kasih karena sudah berulang kali Gajahpuro menolongnya, tidak menaati kejahatan ayahnya, Klabangkoro. Akan tetapi ia merasa heran sekali. Tiba-tiba Gajahpuro menyebut diajeng kepadanya dan akan melawannya, bahkan menganjurkan agar ia menyerah saja untuk dimintakan ampun. Kakang Gajahpuro, aku heran, sekali mengapa tiba-tiba engkau dapat berada di sini dan agaknya menghambakan diri kepada Kanjeng Eyang Pangeran Sepuh. Kakang Gajahpuro, mengingat akan pertalian persaudaraan kita yang lalu kuharap engkau tidak menentangku, bahkan sudah selayaknya kalau engkau membantu aku. Tidak,diajeng. Aku telah menjadi pembantu Kanjeng Gusti Pangeran Sepuh, dan kalau engkau hendak melawan, terpaksa aku akan menghadapimu. Dan ingatlah diajeng, pernah dahulu kaukatakan bahwa engkau hanya akan berjodoh dengan seorang laki-laki yang mampu mengalahkanmu. Nah, sekarang aku akan berusaha untuk menandingi dan mengalahkanmu. Kakang Gajahpuro,engkau tahu aku menguasai Hasta Bajra dan aku tidak ingin membunuhmu. Mundurlah! kata Niken Sasi sambil menyimpan keris Megantoro yang tadi telah dihunusnya. Niken, jangan lemah! bentak ibunya. Siapa saja yang menjadi kaki tangan pengkhianat dan hendak melawanmu, lawanlah sekuat tenaga! Nah, kau dengar itu, kakang Gajahpuro? Sekali lagi kuharap engkau suka mundur. kata Niken Sasi yang bagaimanapun juga masih ingat akan kebaikan pemuda itu. Kalau Gajahpuro tidak baik kepadanya, dahulu ketika ditangkap oleh Klabangkoro, tentu ia telah diperkosa oleh pemuda ini seperti yang dikehendaki Klabangkoro. Akan tetapi Gajahpuro tidak melakukannya bahkan membebaskannya! Marilah, diajeng Niken, kita bertanding dan kita melihat siapa di antara kita yang lebih unggul. Gajahpuro menantang dan terpaksa Niken Sasi melayaninya. Bahkan gadis itu yang membuka serangan lebih dulu. Akan tetapi Niken Sasi masih tidak tega untuk mengeluarkan Aji Hasta Bajra. Ia mengira bahwa Gajahpuro hanya memiliki ilmu silat Gagak Seto yang biasa saja, dan itupun tingkatnya masih jauh lebih rendah daripada tingkatnya. Maka iapun menyerang dengan ilmu silat yang biasa dipelajari oleh semua anak buah Gagak Seto. Ia memukul dengan kepalan kanannya mengarah dada pemuda itu. Ia merasa yakin bahwa dengan ilmu silat yang sama Gajahpuro dapat menandinginya, akan tetapi akhirnya ia akan dapat memenangkan pertandingan itu. Ia masih menang dalam hal kecepatan dan juga tenaga dalam. Gajahpuro juga memainkan ilmu silat Gagak Seto, dan dia memutar lengan kirinya menangkis pukulan itu. Niken mengira bahwa tangkisan yang berarti adu tenaga itu tentu akan membuat Gajahpuro terdorong mundur. Dukkk.......! Dua lengan bertemu dan terkejutlah Niken. Dia dapat merasakan hawa panas keluar dari tangkisan itu dan merasa betapa kuatnya tangkisan itu sehingga kalau dia tidak cepat menggeser kakinya, tentu ia telah terhuyung! Mulailah Niken Sasi merasa penasaran dan ia menyerang lagi dengan lebih hebat. Menyerang dengan ilmu silat Gagak Seto, akan tetapi dengan cepat sekali dan dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat. Dan kembali ia terkejut. Bukan saja pemuda itu mampu mengimbangi kecepatannya, bahkan dalam hal mengadu tenaga sakti, Gajahpuro tidak pernah terdesak olehnya dan setiap kali lengannya bergetar hebat. Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu dapat bergerak secepat dan sekuat itu. Haiiiiiiittt...... ! Ia memukul lagi kini dengan tangan kirinya mengarah leher lawan dan kaki kanannya menyusul meluncurkan tendangan kilat ke arah perut. Niken percaya bahwa sekali ini ia pasti akan berhasil karena jurus itu merupakan jurus terampuh dari ilmu silat Gagak Seto dan ia melakukannya dengan cepat dan kuat sekali. Gajahpuro agaknya maklum akan bahaya serangan ini. Akan tetapi dengan sigapnya dia sudah berhasil mengelak, bahkan membalas dengan tamparan yang tidak kalah beratnya ke arah pundak gadis itu. Niken Sasi terkejut dan cepat menangkis dan kembali ia merasa getaran hawa panas keluar dari tangan pemuda itu, yang membuat ia agak terhuyung. Niken mulai merasa penasaran dan ia sudah menggeser kakinya maju lagi sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Itulah pertanda bahwa ia telah mengerahkan Aji Hasta Bajra! Akan tetapi gadis itu masih ragu-ragu apakah perlu ia mengeluarkan aji yang hebat itu, yang mungkin akan membahayakan nyawa Gajahpuro. Melihat keraguan gadis itu, Gajahpuro berkata, Kalau hendak menggunakan Aji Hasta Bajra, silakan, diajeng Niken. Aku siap menyambutnya! Ucapan itu memang lembut,akan tetapi tetap saja merupakan tantangan. Niken tidak ragu lagi dan ia lalu membentak, Awas, lihat serenganku! Gajahpuro maklum sepenuhnya akan kedahsyatan aji Hasta Bajra itu, maka diam-diam dipun sudah mengerahkan tenaga sakti Ranu Geni yang panas dan menyambut dengan Aji Lahar Sewu. Dua pasang tangan yang mengandung hawa sakti meluncur ke depan dan bertemulah dua kekuatan dahsyat di udara. Wuuuuuttt...........dessss.........!! Hebat sekali pertemuan antara kedua tenaga itu. Akan tetapi Gajahpuro membatasi tenaganya sehingga dia terdorong ke belakang. Juga Niken terdorong kebelakang dan terhuyung. Melihat ini, Dewi Muntari cepat melompat dan menahan tubuh puterinya agar tidak sampai roboh. Wajah Niken pucat sekali dan tentu saja ia terheran-heran. Bagaimana mungkinGajahpuro mampu menahan pukulan Hasta Bajra, bahkan menandinginya dengan pukulan panas yang tidak kalah hebatnya? Bagus Gajahpuro! Pangeran sepuh memuji jagonya dan tertawa memandang kepada Dewi Muntari. Dewi Muntari, puterimu telah kalah! Puteriku mungkin kalah, akan tetapi aku belum, Kanjeng Paman! Dewi Muntari meloncat ke depan. Akan tetapi Pangeran Sepuh masih menoleh kepada Gajahpuro sambil berkata. Engkau majulah sekali lagi, Gajahpuro, mewakili aku. Aku agak segan kalau harus melawan seorang wanita, dan ia masih keponakanku sendiri lagi! Akan tetapi berhati-hatilah dan jangan pandang ringan. Baik, Kanjeng Gusti Pangeran! kata Gajahpuro sambil maju mengahadi Dewi Muntari. Kanjeng Ibu, dia itu putera Klabangkoro! kata Niken kepada ibunya. Ah, begitu? Kalau begitu aku akan membunuhnya. Puteranya tentu sama jahat seperti bapaknya! kata Dewi Muntari. Tidak, ibu. Dia tidak sejahat bapaknya. Dia telah berulang kali membela dan menolongku. kata Niken Sasi yang tidak dapat melupakan budi pertolongan Gajahpuro. Aku bukan putera Klabangkoro! Gajahpuro berseru dengan penasaran sehingga mengherankan hati Niken Sasi karena tahu benar Niken bahwa pemuda itu memang putera Klabangkoro. Dewi Muntari sudah maju dan berkata, Orang muda, bersiaplah untuk menyambut seranganku! Aku sudah siap sejak tadi. jawab Gajahpuro dengan tenang dan diapun sudah memasang kuda-kuda dan mengarahkan kekuatannya karena dia maklum bahwa wanita ini tentu lebih tangguh daripada Niken. Dewi Muntari lalu bergerak dengan cepat sekali. Gerakanya seperti burung sikatan saja, cepat dan kuat menyerang dengan tamparan tangannya. Akan tetapi Gajahpuro mampu mengelak dan pemuda inipun membalas dengan tamparan tangannya. Terjadilah perkelahian yang seru. Gajahpuro harus mengerahkan seluruh tenaganya dan diapun menggerakkan kaki tangannya memainkan Aji Lahar Sewu yang ampuh. Akan tetapi sekali ini yang dihadapinya adalah Dewi Muntari yang memiliki aji kekebalan Trenggiling Wesi dan aji pukulan Jaladi Geni yang ampuh sekali. Setelah saling pukul dan saling tangkis selama belasan jurus, mulailah Gajahpuro terdesak oleh serangan Dewi Muntari. Sebetulnya, Gajahpuro telah mendapat gemblengan orang sakti dan telah mempelajari ilmu yang amat hebat. Akan tetapi dai kurang penagalaman dan ilmu-ilmunya itu belum dikuasai dengan baik. Seolah dia baru mendapatkan kulitnya saja belum benar-benar meresapi isinya. Mana mungkin dia menandingi Dewi Muntari yang telah digembleng orang sakti selama delapan tahun? Dewi Muntari terus mendesak dengan tamparan-tamparan yang amat kuat, didahului bentakan-bentakannya yang amat berwibawa karena wanita ini menggunakan aji Sardulo Kroda yang membuat bentakannya mengandung getaran kuat sekali yang dapat melumpuhkan lawan yang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat. Akhirnya, sebuah tamparan mengenai pundak Gajahpuro dan pemuda ini terpelanting dan bergulingan. Masih untung bagi Gajahpuro bahwa Dewi Muntari teringat akan ucapan Niken Sasi bahwa Gajahpuro tidak jahat bahkan pernah menolong puterinya itu, maka pukulannya tadi ia selewengkan dan hanya melukai pundak saja yang tidak membahayakan nyawanya. Bagus! Andika memang digdaya, Dewi Muntari. Akan tetapi yang kauhadapi hanyalah seorang bocah. Kalau andika mampu menandingiku, barulah andika benar-benar digdaya. Melihat pangeran itu maju sendiri Budhidharma segera melangkah maju. Kanjeng Bibi, biarlah saya yang maju menghadapi Pangeran Sepuh! Dewi Muntari yang sudah maklum betapa saktinya Pangeran Sepuh yang seperguruan dengan kanjeng ramanya itu memang sudah merasa gentar menghadapinya. Dan iapun maklum akan ketangguhan Budhidarma seperti yang diceritakan puterinya kepadanya, maka iapun mengangguk dan mundur. Pangeran,apakah masih akan paduka lanjutkan menghukum mati kami bertiga? Masih belum terlabat bagi paduka untuk mengubah keputusan itu dan membebaskan kami, dan biar Kanjeng Gusti Prabu sendiri yang akan mengadili kami. Bocah sombong bermulut lancang. Sudah tentu keputusan kami tidak dapat diubah lagi. Kami memutuskan untuk menghukum mati andika bertiga, akan tetapi kami memberi kesempatan kepada kalian untuk membela diri. Sekarang, karena andika dengan lancang dan sombong berani melawan aku, maka engkaulah yang akan mati lebih dulu! Pangeran,kami tidak melawan. Akan tetapi kami tidak dapat menerima hukuman yang tidak dijatuhkan sendiri oleh Gusti Prabu. Pula, kami sama sekali tidak merasa bersalah dan sama sekali tidak bermaksud memberontak seperti yang paduka tuduhkan. Karena itulah kami tidak menrima begitu saja dihukum mati! kembali Budhi membantah. Babo-babo........! Engkau bocah kemarin sore berani menentang Pangeran Sepuh Wijayanto? Saya hanya berani menentang siapa yang bersalah,Pangeran! Keparat, terimalah aji-ajiku ini! Pangeran Sepuh membentak dan tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tangan kanannya menyambar ke arah kepala Budhidharma seperti sambaran kilat. Cepat dan kuat sekali pukulan itu menyambar, akan tetapi Budhi masih dapat mengelak dengan cepatnya. Wuuuuuuttt........blarrr.......!! Sebuah pot bunga yang berada di sudut ruangan itu hancur berantakan terkena sambaran pukulan yang luput dari kepala Budhi itu. Pangeran Sepuh Wijayanto menjadi semakin marah karena penasaran. Dia adalah seorang yang sakti mandraguna, akan tetapi serangannya dapat dielakkan oleh pemuda ini. Dia menyerang lagi bertubi-tubi,akan tetapi dengan amat gesitnya Budhi mengelak beberapa kali, kemudian ketika tangan kiri pangeran itu menyambar dengan dahsyatnya ke arah kepalanya, terpaksa dia menangkis dengan tangan kanan. Kerena maklum betapa dahsyatnyapukulan lawan, Budhi mengerahkan Aji Tapak Sapujagat, menangkis sambil mengerahkan tenaga. Dessss.......!! Hebat sekali pertemuan antara kedua lengan itu, sampai terasa oleh semua orang yang berada di situ karena mereka semua tergetar. Dan akibat dari benturan dua tenaga sakti itu, tubuh Budhidharma terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi sebaliknya, tubuh Pangeran Sepuh juga terdorong mundur sampai terhuyung ke balakang! Bukan main kagetnya Pangeran Sepuh melihat kenyataan ini. Pemuda itu memiliki tenaga sakti yang lebih kuat dari padanya! Dia merasa penasaran sekali dan belum mau percaya. Dengan geram dia lalu menekuk kedua lututnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan kemampuannya, lalu memukulkan kedua tangannya yang terbuka, mendorong ke arah Budhi. Dia mengeluarkan teriakan melengking untuk menambah daya tolakan kedua tangannya. Haiiiiiiiiiiiiitttt............!! Maklum bahwa lawannya hendak mengadu kesaktian lewat tenaga, Budhi menyambut dengan kedua tangannya didorongkan ke depan sambil menggerahkan tenaga dan mulutnya mengeluarkan teriakan dahsayat. Yaaaaaaattt......!! Desssss........ ! Kembali tenaga mereka bertemu di udara dan kini akibanya leih hebat lagi. Kalau Budhi terhuyung ke belakang, Pangeran Sepuh itu terjengkang dan roboh terbanting! Akan tetapi pangeran ini memang sakti dan kebal. Dia sudah meloncat bangun lagi dan ditangannya sudah tergenggam sebatang keris yang mengeluarkan wibawa menyeramkan. Tilam Upih...............!! Dewi Muntari dan Niken Sasi berseru dengan berbareng melihat keris itu di tangan sang pangeran tua. Budhi juga merasakan getaran hebat dari wibawa keris itu dan tahulah dia bahwa keris itu memang sangat ampuh. Kepung mereka! Bunuh!! bentak Pangeran Sepuh Wijayanto dengan kemarahan meluap. Dia telah dikalahkan pemuda itu di depan banyak orang dan hal ini dianggap amat menghina dan merendahkan martabatnya. Kanjeng Gusti Pangeran, saya mohon jangan bunuh diajeng Niken dan ibunya seperti yang paduka janjikan kepada saya! kata Gajahpuro. Janga banyak cakap! bentak Pangeran Sepuh Wijayanto lalu dia mengulang perintahnya kepada pasukan pengawalnya yang sudah memenuhi ruangan itu mengepung Budhi, Niken Sasi, dan Dewi Muntari, Serang dan bunuh mereka bertiga! Kalau begitu saya tidak sudi membantu paduka lagi! teriak Gajahpuro. Bagus, agaknya engkau juga sudah bosan hidup! bentak Pangeran Sepuh sambil mengamangkan keris pusaka Tilam Upih. Bunuh jug bocah ini! Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gaduh di luar dan para perajurit pengawal Pangeran Sepuh yang berada di dekat pintu ruangan bergelimpangan roboh. Terdengar bentakan yang lembut namun penuh wibawa. Semua perajurit mundur! Para anak buah Pangeran Sepuh terkejut dan menengok. Ketika mereka melihat Sang Prabu Jayabaya yang diiringkan para pengawal yang dipimpin senopati Lembudigdo dan para senopeti lainnya, mereka menjadi pucat ketakutan dan segera mundur meninggalkan ruangan itu. Di luar telah menanti pasukan pengawal kerajaan yang segera melucuti senjata mereka. Semua terjadi tanpa keributan, karena para anak buah Pangeran Sepuh maklum bahwa melawanpun tidak akan ada gunanya. Sementara itu, ketika melihat munculnya Sang Prabu Jayabaya, wajah Pangeran Sepuh berubah pucat pula dan dengan senyum dibuat-buat dia menegur. Yayi Prabu......, paduka datang.....? Dia sampai lupa bahwa dia masih memegang keris pusaka Tilam Upih di tangannya. Kakangmas Pangeran,andika membawa keris pusaka Tilam Upih terhunus, apakah untuk membunuh puteriku Dewi Muntari dan cucuku Niken Sasi? Ahh, tidak.......tidak....... ! Pusaka ini.......saya baru rampas dari tangan Budhidharma! Hemm,kakangmas Pangeran, tidak ada gunanya berbohong lagi. Kami telah mengetahui semuanya. Sudah lama kami mendengar laporan para penyelidik bahwa diam-diam kakangmas Pangeran menghimpun kekuatan di luar istana. Kakangmas hendak mencalonkan Pangeran Panjiluwih dan menyingkirkan pangeran mahkota. Juga menyingkirkan semua pangeran dan anggota keluarga yang kiranya akan menentang rencana andika! Akan tetapi karena kami belum memperoleh bukti, kami masih belum bertindak. Dan tadi, Kakangmas Pangeran, kami telah mendengar semuanya! Ternyata kakangmas yang menjadi pemimpin persekutuan dengan sebutan Kanjeng Gusti, dan kakangmas pula yang telah merampas Tilam Upih secara diam-diam saja dari adipati Nusa Kambangan. Jelas kakangmas hendak memberontak! Dan kakangmas memilih Pangeran Panjiluwih karena ibunya adalah puteri Blambangan yang kakangmas jagokan untuk mendukung gerakan kakangmas. Kami telah mengetahui semua! Ketika Sang Prabu Jayabaya bicara Pangeran Sepuh mendengarkan dengan mata liar dan muka semakin pucat. Lalu dia memandang kepada Tilam Upih di tangannya, lalu berkata lantang, Yayi Prabu! Dahulu aku yang mendambakan kedudukan raja,akan tetapi mendiang kanjeng rama bersikap tidak adil, memilih andika yang lebih muda menjadi pangeran mahkota. Sekarang, andika juga pilih kasih, memilih Pangeran Arya Iswara menjadi putera mahkota, padahal masih banyak pangeran lain yang lebih tua. Benar! Memang aku tidak amau menerima ketidak-adilan ini, aku ingin mengangkat Pangeran Panjiluwih menjadi putera mahkota. Akan tetapi kami telah gagal, dan karena andika sendiri yang telah mengetahui semua rahasiaku, maka andika yang lebih dulu harus mati di tanganku! Setelah berkata demikian, Pangeran Sepuh siap uantuk menyerang dengan keris pusaka Tilam Upih. Kanjeng Rama Prabu, perkenankan hamba yang maju menghadapinya! seru Dewi Muntari yang merasa khawatir. Perkenankan hamba yang maju, gusti. kata Budhidharma pula. Juga Senopati Lembudigdo sudah siap bersama pasukannya untuk mengepung Pangeran Sepuh Wijayanto yang agaknya hendak mengamuk dengan keris pusakaTilam Upih di tangan. Akan tetapi sambil tersenyum Sang Prabu Jayabaya mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberi isarat kepada semua orang untuk mundur. Kemudian dengan sikapnya yang tenang sekali, raja yang bijaksana dan sakti mandraguna itu melangkah maju menghadapi kakaknya. Kakangmas Pangeran Wijayanto, andika hendak menggunakan Kyai Tilam Upih untuk memberontak, mengamuk dan membunuhku? Andika tidak akan berhasil. Sebaiknya andika menyadari kesalahan, cepat menyerah dan mungkin kami masih akan memperingan hukumanmu. Tidak perlu banyak cakap lagi. Engkau atau aku yang harus mati! bentak Pangeran Sepuh dan bagaikan seekor harimau marah, dia sudah menerjang ke depan, menubruk dan menyerang dengan keris pusaka Tilam Upih yang sakti itu. Sang Prabu Jayabaya tetap tenang saja. Ketika keris itu sudah meluncur dekat, dia melompat ke kiri menghindarkan diri, kemudian kakinya mencuat dan menendang dengan kecepatan kilat. Wuuuuuuuttt..........desss......... ! Tubuh Pangeran Sepuh terlempar dan dia jatuh bergulingan oleh tendangan yang dahsyat itu. Akan tetapi dia dengan cepat sudah meloncat bangkit kembali dan menyerang untuk kedua kalinya, lebih cepat dan lebih dahsyat. Sang Prabu Jayabaya kembali mengelak dan untuk ke dua kalinya, kakinya menendang dan kembali tubuh Pangeran Sepuh terlempar dan terbanting keras. Sebetulnya, dengan dua kali terbanting itu saja, Pangeran Sepuh sudah menyadari bahwa dia tidak akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi dia sudah putus asa dan menjadi nekat. Biarpun tubuhnya sudah merasa sakit-sakit karena dua kali terlempar dan terbanting, dia bangkit lagi dan memasang kuda-kuda, mengerahkan seluruh tenaganya. Engkau atau aku yang harus mati! bentaknya. Sang Prabu Jayabaya memandang dengan sinar mata mencorong seperti mengeluarkan api da suaranya terdengar tegas. Jagat Dewa Batara, engkau menggapai taringnyaSang Batara Kala, kakangmas! Pangeran Sepuh sudah berlari menerjang maju dengan keris siap menusuk. Akan tetapi sekali ini, Sang Prabu Jayabaya sudah mengerahkan aji kesaktian dan kekebalannya, berdiri tegak seperti sebuah arca yang kokoh. Keris pusaka Tilam Upih di tangan Pangeran Sepuh datang menyambar ke arah dada, diterima oleh dada itu tanpa mengelak sedikitpun. Wuuuttt......Takk.......!! Tangan Pangeran Sepuh yang memegang keris tergetar hebat. Kerisnya seperti mengenai benteng baja yang kokoh kuat, sama sekali tidak mampu menembus kulit yang sudah dilindungi aji kekebalan yang disebut Aji Ontokusumo. Pangeran Sepuh Wijayanto seperti tidak percaya. Kerisnya adalah Tilam Upih! Tidak mungkin dapat ditolak aji kekebalan. Dia menusuk lagi. Takkk....... ! Dengan penuh kegeraman dan keputusasaan kembali dia menusukkan keris ke arah perut Sang Prabu Jayabaya. Takk............!! Kini Sang Prabu Jayabaya menggerakkan tangan kiriny, menampar ke arah kepala Pangeran Sepuh. Wuuuuttt............desss......... ! Tubuh pangeran itu seperti daun kering tertiup angin, melayang dan jatuh berdebuk,terbanting keras! Akan tetapi memang pangeran itupun seorang yang kebal, tamparan itu hanya membuat dai pusing sejenak. Lalu dia bangkit berdiri mengamati keris di tangannya seolah tidak percaya akan keaslian pusaka itu, kemudian dia mengayun keris itu ke ulu hatinya sendiri. Cappp..........! Keris menembus kulit dada dengan mudah dan robohlah sang pangeran, tewas seketika saking ampuhnya Tilam Upih. Semua orang lalu berlutut menyembah kepada Sang Prabu Jayabaya. Raja yang sakti mandraguna ini menghela napas panjang, menghampiri jenazah kakaknya, mencabut keris Tilam Upih dari dadanya lalu menyerahkannya kepada Senopati Lembudgdo. Lembudigdo, suruh cuci dan gosok pusaka ini sampai bersih betul dari noda, baru haturkan kepadaku. Sendiko, Gusti. jawab Senopati Lembudigdo sambil menerima keris pusaka itu dan menyimpannya. Dalam peristiwa ini, Sang Prabu Jayabaya memperlihatkan kebijaksaannya. Dia mengampuni seluruh keluarga Pangeran Sepuh. Bahkan hanya menggur keras kepada Pangeran Panjiluwih yang dianggap terkena hasutan Pangeran Sepuh. Bekas pasukan Pangeran Sepuh dibubarkan dan tentu saja Gajahpuro juga dibebaskan karena Niken Sasi mintakan ampun untuk pemuda yang pada terakhirya kembali memperlihatkan sikap membelanya itu. Budhidharma, Dewi Muntari dan Niken Sasi dipanggil menghadap ke istana. Budhidharma, kami sudah banyak mendengar akan sepak terjangmu dari para penyelidik, dan kami berterima kasih atas pembelaanmu sehingga puteri dan cucu kami dapat diselamatkan. kata Sang Prabu memujinya. Gusti Prabu Jayabaya tersenyum. Mendiang kakangmas Pangeran Wijayanto memang cerdik. Dia telah mendahuluimu mencuri keris pusaka itu. Akan tetapi, sudahlah, keris pusaka itu sudah kembali kepada kami. Sekarang kami ingin mendengar ceritamu, nini Dewi Muntari, dan andika, cucuku Niken Sasi. Apa yang telah kalian alami setelah kalian dirampok dan Rangsang dibunuh? Dewi Muntari menceritakan pengalamannya. Ketika mendengar bahwa puterinya itu ditolong kemudian diambil murid oleh Ni Durgogini, Sang Prabu Jayabaya berseru, Ah, jadi ia yang menolongmu dan kemudian menjadi gurumu? Kanjeng Rama, Ni Durgogini sudah minta kepada hamba agar paduka sudi mengampuni kelancangannya, berani mengambil murid kepada hamba. kata Dewi Muntari. Sang Prabu tersenyum, Tentu saja. Ia tidak bersalah, bahkan berjasa besar. Pantas engkau berani menentang paman-tuamu,kiranya engkau sudah digembleng oleh Ni Durgogini! Dan bagaimana dengan pengalamanmu selama ini, cucuda Niken Sasi? Agaknya engkau telah menjadi seorang gadis yang trengginas dan digdaya. Apakah engkau juga memperoleh seorang guru yang sakti? Sesungguhnyalah, Kanjeng Eyang Prabu. Ketika kanjeng ibu menyuruh hamba melarikan diri, hamba terjatuh ke dalam telaga kecil. Hamba diselamatkan oleh Ki Sudibyo, ketua Gagak Seto dan hamba menjadi muridnya. Niken lalu menceritakan tentang gurunya, betapa gurunya itu dikhianati oleh Klabangkoro dan Mayangmurko yang kemudian telah terbunuh oleh ibunya, Dewi Muntari. Juga diceritakan tentang Budhidharma yang menolongnya berulang kali sampai pengalaman mereka yang hebat di Gagak Seto ketika mereka dijebak oleh Klabangkoro. Gadis itu menonjolkan budi pertologan yang dilakukan Budhidharma dan agaknya hal ini diketahui pula oleh kakeknya sehingga Sang Prabu Jayabaya hanya tersenyum mendengarkan. Setelah gadis itu selesai bercerita, Sang Prabu Jayabaya berkata kepada Budhidharma, Budhidharma,jasamu amat besar. Oleh karena itu,kami mengangkatmu menjadi seorang senopati muda di kerajaan Kediri! Budhidharma terkejut dan demikian girangnya mendengar ini sehingga dia hanya memandang bengong. Melihat ini, Niken Sasi cepat menyentuh lengannya. Cepat haturkan terima kasih kepada Kanjeng Eyang. Budhidharma menyembah dan menghaturkan terima kasihnya. Dewi Muntari kembali ke tempat tinggalnya yang dahulu, yang delapan tahun yang lalu ditinggali bersama suaminya dan yang sampai sekarang masih dipelihara baik-baik atas perintah Sang Prabu Jayabaya. Budhidharma juga mengikuti ibu dan anak itu. Di rumah mereka, Dewi Muntari lalu membicarakan urusan perjodohan antara puterinya dan Budhidharma. Sebagai seorang ibu yang waspada, tanpa bertanya sekalipun ia sudah lama tahu bahwa terdapat hubungan kasih sayang di antara kedua orang muda itu. Sepasang orang muda itu tersipu malu ketika Dewi Muntari terang-terangan mengajak mereka bicara tentang perjodohan mereka. Bagaimanakah kalian ini? Urusan ini tentu selalu mendesak dihati kalian, akan tetapi setelah diajak bicara tentang hal ini, kalian malah diam saja. Apakah kalian tidak setuju? Ah, ibu.......! Niken Sasi tersipu dan menundukkan mukanya. Sebetulnya, Kanjeng Bibi,kami berdua selalu khawatir dan ragu kalau-kalau Kanjeng Gusti Prabu tidak menyetujui, karena saya hanyalah seorang pemuda dusun yang yatim piatu dan papa........... Hemm,kaukira Kanjeng Rama itu bagaimana? Beliau seorang raja yang adil dan arif bijaksana. Bukankah aku sendiri juga dijodohkan dengan seorang senopati yang berkedudukan rendah dan dari rakyat biasa? Aku tanggung bahwa Kanjeng Rama Prabu pasti akan menyetujui perjodohan kalian. Terima kasih, Kanjeng Bibi...... Hemm, sudah tiba waktunya engkau mengubah sebutan bibi itu dengan sebutan ibu. Bukankah engkau calon mantuku? Wajah Budhi menjadi kemerahan. Terima kasih, Kanjeng Ibu...... dia mengulang. Akan tetapi saya dan diajeng Niken Sasi mohon ijin untuk pergi ke Anjasmoro dulu, karena kami harusmenyelesaikan urusan Gagak Seto Engkau tidak boleh lagi menjadi ketua Gagak Seto setelah menjadi senopati! Memang saya tidak pernah ingin melanjutkan kedudukan mendiang ayah saya. Oleh karena itu, tadi ketika berpisah dari Gajahpuro, saya memesan agar dia suka pergi ke Gagak Seto menemui saya. Gajahpuro adalah seorang pemuda yang baik dan gagah, sudah sepatutnya kalau dia yang menjadi ketua Gagak Seto. Ah, pemuda itu? Kalian mengatakan bahwa dia putera Klabangkoro, akan tetapi di depan Pangeran Sepuh dia menyangkal bahwa dia bukan putera Klabangkoro. Siapa sebetulnya anak itu? Kami juga heran,kanjeng ibu. Kalau bertemu dengannya tentu akan kupertanyakan hal itu. kata Niken Sasi. Demikianlah, setelah tinggal di rumah Dewi Muntari, di komplek istana, selama beberapa hari, pada suatu hari Budhidharma bersama Niken Sasi meninggalkan isana menuju ke pegunungan Anjasmoro. Kedatangan Budhi dan Niken disambut dengan hormat oleh Waskita yang oleh Budhi diserahi tugas mewakilinya memimpin Gagak Seto selagi dia pergi. Juga semua anak buah Gagak Seto yang masih setia, berjumlah kurang lebih empatpuluh orang, ikut menyambut dengan gembira. Paman Waskita, apakah Gajahpuro tidak datang ke sini? tanya Budhi kepada Waskita. Ah, ada,anak mas. Dia datang ke sini kemarin dulu, katanya hendak menemuimu, akan tetapi kami semua minta agar dia pergi dari sini. jawab Waskita. Eh,kenapa, paman? Kenapa? Bukankah dia putera Klabangkoro yang telah menyesatkan kami semua? Akan tetapi paman sendiri tentu tahu betapa Gajahpuro selalu menentang kejahatan Klabangkoro,bahkan samapi dilempar ke dalam sumur tua. Gajahpuro bukan seorang pemuda jahat, Sebaliknya dia seorang pemuda gagah perkasa dan baik sekali. Waskita nampak ragu. Hal itu kami mengerti, akan tetapi karena dia putera Klabangkoro, kami merasa tidak enak kalau menerimanya, maka dia kami usir...... Keliru sekali, paman. Baik dia putera Klabangkoro maupun bukan, pada kenyatannya dia seorang anggota Gagak Seto yang baik dan aku yakin bahwa tidak ada anggota lain yang memiliki ilmu kepandaian setinggi dia. Tidak, anak mas. Kurasa kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan kepandaian Gusti Puteri Nikan....... karena sudah mendengar bahwa Niken Sasi adalah cucu Sang Prabu, maka kini Waskita menyebutnya gusti puteri! Ah,andika tidak tahu, Paman Waskita. Sekarang Kakang Gajahpuro memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuiku. Dia telah menjadi pemuda sakti. kata Niken dan bukan hanya Waskita yang merasa heran mendengar ini, bahkan para anggota lain juga memandang heran. Mereka semua sudah mendengar betapa Niken telah mewarisi Aji Hasta Bajra dari mendiang Ki Sudibyo. Akan tetapi gadis itu mengakui bahwa ia masih kalah dibandingkan kesaktian Gajahpuro. Demikianlah sesungguhnya, kata pula Budhi. Dan karena itu, kami hendak menemuinya, karena kami bermaksud mengangkatnya menjadi ketua Gagak Seto yang baru. Semua anggota terkejut mendengar ini, juga merasa heran. Harap kalian semua dapat mengerti. Aku tidak cocok untuk menjadi ketua Gagak Seto. Pertama, biarpun aku putera Ki Sudibyo, akan tetapi aku bukan murid Gagak Seto. Kedua, aku telah diangkat menjadi seorang senopati muda oleh Kanjeng Gusti Prabu sehingga tidak mungkin lagi aku tinggal di sini menjadi ketua. Itulah sebabnya kami melihat bahwa yang paling tepat menjadi ketua adalah Gajahpurodan kami yang bertanggung-jawab atas pengangkatan ini. Pada saat itu terdengar seruan orang, Kakangmas Budhi.......! dan nampaklah Gajahpuro memasuki rumah induk itu. Adimas Gajahpuro,kebetulan andika datang. Maafkan Paman Waskita dan para anggota yang tidak berani menerimamu berkunjung ke sini. kata Budhi. Ah,tidak mengapa, kakangmas. Akupun tahu diri dan menanti saja sampai andika datang. Gajahpuro dipersilakan duduk. Pemuda ini memandang kepada Niken dan kini pandang matanya berbeda dari biasanya. Biasanya, kalau dia memandang gadis itu, pasti terpancar sinar kasih sayang dari pandang matanya itu kepada gadis ini. Akan tetapi sekarang tidak lagi. Dia sudah mengetahui bahwa di antara Budhi dan Niken terjalin hubungan yang akrab dan mesra. Dia dapat menduga bahwa kedua orang muda itu saling mencinta dan dia sudah melepaskan harapannya atas diri Niken Sasi. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Niken Sasi adalah cucu Sang Prabu! Maafkan kami, Gajahpuro. Karena kemarin dulu anakmas Budhi belum datang, terpaksa kami menolak kunjungan andika. Tidak mengapa, Paman Waskita. Perbuatanmu itu bahkan menunjukkan bahwa andika seorang wakil yang baik sekali dan memenuhi kewajiban. jawab Gajahpuro. Diam-diam Budhi merasa suka kepada pemuda ini. Niken Sasi yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu berkata, Kakang Gajahpuro,andika tentu haran mengapa kakangmas Budhidharma mengundangmu ke sini? Ada banyak hal perlu kita bicarakan, akan tetapi yang pertama membuat kami merasa heran sekali adalah penyangkalanmu bahwa andika bukan putera Klabangkoro. Benarkah itu kakang Gajahpuro? Benar sekali, Gusti Puteri. Ah,kakang Gajahpuro, bagimu aku tetap Niken yang dulu. Paduka adalah cucu Kanjeng Gusti Prabu. Memang saya bukan putera Klabangkoro, bahkan dialah yang membunuh ayah kandung saya dan kemudian ibu saya. Ketika saya masih kecil, Klabangkoro membunuh ayah saya dan memaksa ibu saya menjadi istrinya. Hemm, betapa jahatnya Klabangkoro! kata Budhi. Akan tetapi, sudahlah. Adimas Gajahpuro. Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi ayahmu yang menyayang dan kini dia sudah mati. Sekarang yang lebih penting lagi. Aku mengundangmu ke sini untuk mengangkatmu, menjadi ketua Gagak Seto. Tentu engkau mau, bukan? Gajahpuro nampak terkejut dan heran. Aku? Menjadi ketua Gagak Seto? Akan tetapi Gusti Puteri Niken......... Hemm,tidak mungkin aku menjadi ketua Gagak Seto, kakang Gajahpuro! kata gadis itu. Dan ada andika di sini, kakangmas Budhidarma. bantah pula Gajahpuro. Aku tidak mungkin menjadi ketua Gagak Seto, adimas. Pertama, aku diangkat menjadi senopati muda oleh Kanjeng Gusti Prabu sehingga aku harus bertugas di kota raja. Dan kedua, aku sama sekali bukan murid Gagak Seto, tidak mengenal ilmu silat Gagak Seto. Engkaulah orangnya yang paling tepat menjadi ketua Gagak Seto, adimas Gajahpuro dan kuharap engkau tidak menolak lagi. Karena dibujuk oleh Budhi dan Niken, dan melihat semua anggota Gagak Seto juga sudah setuju, akhirnya Gajahpuro menerima kedudukan sebagai ketua Gagak Seto. Dengan gembira peristiwa itu lalu dirayakan oleh Budhidharma, dan setelah tinggal di Gagak Seto selama dua hari, Budhidharma lalu berangkat bersama Niken Sasi meninggalkan pegunungan Anjasmoro. Niken Sasi sengaja mengajak kekasihnya melewati Grojokan Kluwung dan ketika mereka lewat di situ, kebetulan sekali nampak pelangi melengkung indah di atas gerojokan. Di sanalah aku ditolong mendiang Bapa Guru Sudibyo, kakangmas Budhi. kata Niken Sasi sambil menuding ke arah gerojokan ( air mancur ). Bukan main indahnya tempat itu, diajeng. Dan kalau kuingat betapa aku datang ke pegunungan Anjasmoro ini dengan demdam yang membara........ Kasihan Bapa Guru. Dia seorang yang baik, kakangmas. Seorang yang gagah perkasa, namun gagal dalam asmara. Semoga asmara yang kutemukan di balik dendam membara ini tidak akan gagal, diajeng. kata Budhidharma. Niken mengangkat muka, saling pandang kemudian mereka berangkulan dengan mesra, di bawah lengkungan Kluwung indah itu. Sampai disini selesailah sudah kisah Asmara di Balik Dendam Membara ini dan harapan pengarang semoga kisah ini ada manfaatnya bagi kita semua. Sampai jumpa di kisah yang lain. TAMAT